CAMPAK PADA ANAK

February 28, 2018
01.03.18-1200x608.jpg

Ada banyak infeksi ditandai dengan gejala demam dan bercak kemerahan pada tubuh. Diantaranya campak (measles), rubela (campak Jerman), eksantema subitum (roseola infantum), eritema infeksiosa, dan cacar air. Meskipun memiliki kesamaan gejala demam dan adanya ruam, tapi masing-masing memiliki karakteristik berbeda-beda.

Pada penyakit campak, selain demam, biasanya diawali gejala mata berair, batuk, dan muncul bercak putih di sisi dalam pipi (bercak Koplik). Meski demikian bercak Koplik sulit ditemukan karena hanya timbul sebentar. Setelah 3-4 hari mengalami gejala demam, mata berair dan kemerahan, akan muncul ruam kemerahan di daerah kepala (di bawah garis rambut). Ruam akan menyebar semakin luas, ke seluruh tubuh dalam 24 jam. Selama penyebaran ruam, demam tetap berlangsung. Setelah demam reda, lesi kulit akan tampak menghitam dan kering seperti bersisik baru setelahnya akan kembali ke kulit normal. Nah, kalau gejala-gejalanya tidak seperti di atas, kemungkinan besar bukanlah campak. Yang cukup sering dikira campak adalah rubela.

Kalau memang dipastikan anak sudah terkena campak, ia tidak perlu imunisasi campak. “Seringkali terjadi, sakit yang diduga “campak” ternyata bukan campak, melainkan penyakit lain (misal campak Jerman). Untuk itulah dianjurkan imunisasi tetap diberikan,” ujar dr. Marissa T.S. Pudjiadi, Sp. A yang juga berpraktek di Klinik AP&AP Pediatric, Growth, and Diabetes Center.

Sering ditemukan kejadian anak dianggap sudah terkena campak (berdasarkan cerita orangtuanya), namun setelah ditelusuri ulang gejala yang pernah dialami ternyata bukan campak yang sesungguhnya. Di sisi lain, bila anak memang benar sudah terkena campak, lalu diberikan imunisasi campak lagi, sebenarnya tidak menjadi masalah. Menurut dr. Marissa, “Imunisasi campak idealnya diberikan saat anak berumur 9 bulan. Namun bila jadwal itu terlewat (misal anak sudah berusia 12-14 bulan), si kecil dapat diberikan imunisasi MMR (mumps-measles-rubela), yaitu imunisasi campak-campak Jerman-dan gondongan.”

Perlu diingat, tidak ada imunisasi yang bisa menjamin 100% anak tidak akan terkena penyakitnya. Prinsip imunisasi adalah membangkitkan sistem kekebalan tubuh terhadap suatu jenis infeksi tertentu sebelum ia terkena infeksi yang sesungguhnya. Dengan pemberian imunisasi tubuh akan memiliki antibodi khusus terhadap penyakit tersebut, sehingga bila anak terkena infeksi yang sesungguhnya, tubuhnya sudah siap melawan.

Pada sebagian besar pasien, imunisasi memang dapat mencegah munculnya penyakit. Namun pada sebagian pasien lain, penyakit tetap terjadi namun dalam derajat keparahan yang jauh lebih rendah. Contoh, pada anak yang tidak mendapat imunisasi campak, saat terkena virus campak akan terjadi infeksi yang berat, misal, sampai terjadi radang paru (pneumonia) atau radang otak (ensefalitis) yang dapat menyebabkan kecacatan berat, bahkan mengancam jiwa. Sedangkan anak yang sudah terimunisasi campak, ketika terkena campak, ia hanya mengalami ruam-ruam yang relatif ringan serta cepat hilang dan tidak terjadi komplikasi berat.

 

Sumber : dr. Marissa T.S. Pudjiadi, Sp.A

Comments

comments

Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2019. Website oleh Equitiga.