June 26, 2019 AcaraArtikelLiputan

 

Dr. dr. Aman B. Pulungan, MD., Ph.D, FAAP, FRCPI (Hon.) is a pediatrc Endocrinolosist in AP & AP Pediatric, Growth, and Diabetes Center .

dr. Aman together with another 5 honorary fellows received Honorary fellowships from Royal College of Physicians of Ireland and Faculty of Paediatrics on the evening of 13 June 2019 as part of this year’s Europaediatrics Congress held at the Convention Centre, Dublin.

 

The Europaediatrics Congress takes place every two years and this flagship event brings together paediatricians and child health professionals from all around the world. This year the Congress is hosted by the Faculty of Paediatrics of the Royal College of Physicians of Ireland with the theme of ‘Prevention and therapeutic innovations in the management of child health’.

RCPI President Professor Mary Horgan paid tribute to the Honorary Fellows, acknowledging their contributions to the fields of paediatric medicine, advocacy and research.

“We are delighted to welcome our new Honorary Fellows this evening, and it is wonderful to have an international audience here at Europaediatrics to celebrate these honours for their immense contribution to child health, to medicine and to research. Europaediatrics has given us a unique opportunity to connect with our friends and colleagues and to learn from the experiences of other countries and work towards new and innovative approaches in child health.”

Professor Mary Horgan

President, Royal College of Physicians of Ireland


tata-laksana-dbd.jpg

February 1, 2019 ArtikelKesehatan Anak

Setelah mengetahui tentang demam berdarah dengue serta tanda bahayanya, Ayah Bunda juga perlu mengetahui bagaimana pertolongan pertama yang dapat diberikan jika buah hati Anda terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Berikut pertolongan pertama yang dapat Anda berikan, antara lain :

  • Cukupi kebutuhan cairan tubuh anak Anda
  • Berikan paracetamol untuk menurunkan demam dan nyeri tubuh
  • Jangan berikan obat-obatan seperti Ibuproven/AINS (obat anti-peradangan non steroid lainnya) karena dapat meningkatkan risiko gangguan lambung dan perdarahan
  • Kompres dengan air hangat

Jika telah melalukan pertolongan pertama tersebut, akan tetapi tidak ada perubahan atau kondisi Anak semakin memburuk. Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis


dbd-1200x1309.jpg

January 29, 2019 ArtikelKesehatan Anak

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Iklim tropis dan peningkatan curah hujan merupakan salah satu faktor yang mendukung kehidupan virus dengue dan vektor nyamuk, oleh karena itu bulan Januari-Maret 2019 rentan terjadi peningkatan angka kejadian DBD.

 


25.01.19-1.jpg

January 25, 2019 ArtikelKesehatan Anak

Prevalensi penduduk dengan berat badan berlebih dan obesitas terus meningkat. Jika tak segera ditangani secara komprehensif, hal itu akan membebani pembangunan dan ekonomi bangsa.

 

Kegemukan dan obesitas terjadi akibat tak seimbangnya jumlah asupan kalori ke tubuh dengan kalori yang dibakar lewat aktivitas fisik. Hal itu membuat pencegahan obesitas pada anak menjadi penting. Meski Pemerintah berhasil menekan prevalensi kegemukan anak balita, obesitas pada orang dewasa naik.

 

Pada anak, obesitas banyak muncul saat anak duduk di bangku sekolah dasar. Menginjak remaja yaitu SMP-SMA, mereka mulai memperhatikan bentuk tubuh sehingga prevalensi obesitasnya turun. Namun, tak jarang remaja terjebak dalam diet yang membahayakan diri.

 

“Selain akibat kalori dari karbohidrat dan lemak berlebih, anak umumnya mengalami obesitas karena kurang gerak,” ujar Ketua Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Damayanti Rusli Sjarif di Jakarta, Rabu (23/1/2019).

 

Hari Gizi Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 Januari bisa jadi momentum mencegah diabetes pada anak lewat diet dan aktivitas fisik memadai. Dalam keseharian, anak Indonesia banyak mengonsumsi makanan tinggi lemak dan garam serta minuman tinggi gula. Disaat bersamaan, kemajuan teknologi digital dan gawai membuat anak minim aktivitas fisik.

 

“Aktivitas fisik jadi komponen utama energy expenditure (pengeluaran energi), yakni 20-50%,” tulis Ayu Aprilia dalam, “Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar” di Majority, jurnal kedokteran Universitas Lampung, Juni 2015.

 

Penting sekali untuk melakukan pencegahan obesitas pada anak dikarenakan 75% anak gemuk akan jadi obesitas saat dewasa serta berisiko tinggi terkena penyakit, bahkan sampai dengan kematian yang diakibatkan penyakit kardiovaskular dan diabetes. Kegemukan pada anak memicu kian besarnya beban pada otot dan tulang rangka.

 

Saat ini, Pemerintah bisa menekan prevalensi gemuk pada anak balita dari 11,9% di tahun 2013 menjadi 8% pada tahun 2018. Namun hal itu jauh dari batas yang ditetapkan WHO pada 2010 bahwa suatu negara tak memiliki soal gizi jika anak balita gemuknya kurang dari 5%. Sehingga dibutuhkan kerja keras dari banyak pihak, baik itu dari Pemerintah maupun warga. Kini ada Surat Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah guna mendorong mutu kesehatan siswa di sekolah. Kenyataannya, hanya sekolah yang bisa menyediakan jajanan sehat di sekolah dan aktivitas fisik luar ruang.

Penurunan angka stunting atau anak balita bertubuh pendek akibat kurang gizi kronis yang digarap banyak kementrian beberapa tahun terakhir dapat menjadi contoh. Dengan penanganan komprehensif, obesitas pada anak bisa diatasi.

 

Diringkas dari Artikel berjudul “Obesitas Jadi Ancaman” pada harian Kompas, Kamis, 24 Januari 2019


10.01.2019.jpg

January 10, 2019 Artikel

‘Readiness for school’ atau yang biasa dikenal sebagai ‘Kesiapan Sekolah’. ‘Apakah itu kesiapan sekolah?’ atau ‘apakah anak saya sudah siap masuk sekolah?’ Terutama bagi anda yang memiliki anak menjelang usia 6 tahun. ‘Apakah sebenarnya yang termasuk dalam kesiapan sekolah?’ Banyak sekali orang tua yang bertanya-tanya dan mencari tau apakah anaknya sudah siap masuk sekolah. Sebenarnya apakah kesiapan sekolah itu?

 

Menurut Berk (2012), kesiapan sekolah seorang anak dapat dilihat melalui pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku dalam mengikuti kegiatan di sekolah (terutama jenjang Sekolah Dasar). Kesiapan sekolah mencakup perkembangan holistik dari seorang anak, yang meliputi kemampuan social emosi, perkembangan fisik, kognitif dan komunikasi. Kemampuan tersebut digunakan oleh anak untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan anak lain, memahami instruksi dan mengutarakan keinginan mereka di dalam kelas. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa seorang anak lebih berhasil saat ia memiliki criteria kesiapan sekolah tersebut, dibandingkan dengan anak yang belum memiliki criteria kesiapan sekolah. Anak yang tergolong memiliki kriteria kesiapan sekolah juga menjadi anak yang percaya diri.

 

Perilaku dan kemampuan anak yang menunjukkan kesiapannya untuk masuk sekolah dasar, antara lain:

  • Fisik – memiliki kesehatan yang baik, serta memiliki perkembangan motorik halus dan kasar sesuai dengan
  • Sosial Emosi – anak mampu berinteraksi dan bermain dengan anak lain, memiliki perilaku yang baik (tidak agresif atau tidak memiliki perilaku yang tidak sesuai atau tidak beralasan). Dari aspekemosi, anak mampu menyesuaikan diri dengan suasana kelas yang berbeda, mampu memahami instruksi dan mengutarakan keinginannya pada guru, serta mampu mengikuti peraturan dan mengatasi perasaan kecewa yang dialaminya.
  • Bahasa – memiliki komunikasi dua arah yang baik pada teman dan guru. Memahami cerita (storytelling) dengan baik dan mampu mengenali
  • Kognitif – anak mampu memahami angka, logika sederhana, dan menunggu giliran
  • Kemandirian – mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru secara mandiri, menguasai toilet training, mampu memakai baju, sepatu, dan barang-barang milikinya secara

 

Ditulis oleh: Anggita Hapsari, MPsi, Psikolog

IMG_4884-1200x835.jpg

December 11, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Kejang demam selalu menjadi momok bagi ayah bunda. Fenomena yang terjadi pada saat anak kejang, yaitu mata mendelik, kaku-kelojotan, dan lidah tergigit, tak ayal membuat orangtua panik. Namun benarkah kejang demam berbahaya? Apa saja yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang demam?

Kejang atau yang sering disebut oleh awam sebagai stuip sering menyebabkan kepanikan orangtua. Defini kejang demam adalah kejang yang terjadi pada anak usia di atas 1 bulan akibat demam (tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut, dan anak tidak pernah mengalami kejang tanpa demam sebelumnya). Dapat dikatakan kejang ini terjadi semata-mata karena proses demam itu sendiri.

Kapan kejang demam dapat terjadi ?

Kejang demam dapat terjadi pada anak usia 1 bulan hingga 5 tahun. Namun tidak semua anak mengalaminya. Adanya riwayat kejang demam dalam keluarga akan meningkatkan risiko terjadinya kejang demam pada anak. Anak yang pernah mengalami kejang demam sebelumnya juga memiliki risiko mengalami kejang kembali di kemudian hari saat demam.

Apa yang harus dilakukan saat anak mengalami kejang ?

  • Letakkan anak di tempat aman (jauhkan dari barang-barang yang berbahaya)
  • Longgarkan pakaian anak. Bila menggunakan jaket lepaskan
  • Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut (termasuk sendok, jari tangan, minuman atau kopi)
  • Berikan diazepam supposutoria (obat antikejang yang diberikan lewat dubur) sesuai dosis. (Lihat cara pemberian supposutoria di halaman 93)
  • Tunggu 5 menit
  • Bila kejang masih berlangsung berikan diazepam supposutoria 1 kali lagi
  • Bila kejang masih juga berlangsung segera bawa ke rumah sakit

Bagaimana cara memberikan obat kejang di rumah ?

Ingat,  diazepam supposutoria hanya boleh diberikan 2x selama di rumah. Bila sudah 2 kali pemberian dan anak masih kejang kemungkinan anak memerlukan obat anti kejang melalui jalur suntikan intravena. Dosis pemberian diazepam supposutoria adalah 5 mg untuk anak berbobot 5-10 kg dan 10 mg untuk anak dengan bobot >10kg, atau dosis lain yang diberikan oleh dokter anak,

Apa yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang ?

  • Suhu anak sebelum kejang
  • Berapa lama kejang berlangsung
  • Kejang yang terjadi seperti apa. Apakah seluruh tubuhnya atau hanya gerakan tangan/kaki yang berulang-ulang saja, ataukah gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Apakah kejang terjadi berulang dalam 24 jam? Bila berulang apakah diantara kejang anak bangun seperti biasa atau lebih cenderung tidur ?
  • Apakah terdapat kelainan setelah kejang, mulut anak menjadi mencong, misalnya

Kapan sebaiknya anak dibawa ke rumah sakit pada keadaan kejang demam ?

  • Bila kejang terjadi pada anak < 6 bulan
  • Bila anak baru pertama kalinya mengalami kejang
  • Kejang berlangsung >10 menit
  • Kejang didahului dengan gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Kejang berulang dalam 24 jam
  • Bila diantara kejang anak cenderung tidur terus
  • Bila terdapat kelainan setelah kejang, seperti mulut anak menjadi mencong

Apakah si kecil yang mengalami kejang demam perlu dirawat inap ?

Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam. Apabila terjadi kejang disertai demam di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, maka perlu disingkirkan penyebab kejang lainnya, misalnya epilepsi atau radang otak. Jika sesudah kejang anak tidak segera sadar kembali, lebih banyak tidur, atau tidak dapat mengadakan kontak dengan baik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab kejang lain, terutama radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis). Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan apabila anak pernah kejang tanpa demam. Keputusan perlu tidaknya perawatan inap akan diberikan oleh dokter spesialis anak yang menilai langsung keadaan anak.

 

Klinik AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center yang merupakan salah klinik anak di Jakarta. Konsultasikan kesehatan anak anda dengan dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu setiap hari Sabtu jam 10.00-12.00 WIB

 

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A


IMG_4933-Copy-2-1200x1366.jpg

November 30, 2018 ArtikelLiputan

dr. Marissa adalah dokter spesialis anak lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta. Gelar dokter umum diperoleh sebelumnya dari Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Jakarta. Setelah lulus menjadi dokter spesialis anak, dr. Marissa sempat menjadi Gastaerztin (dokter tamu) di Hannover Medical School, Germany.

Tak hanya membagikan ilmunya kepada pasien yang datang, dokter cantik dengan nama lengkap dr. Marissa T.S Pudjiadi, Sp.A ini juga berbagi ilmu lewat tulisan-tulisannya. Berbekal ilmu dan pengalamannya, ia telah menerbitkan buku yang kini menjadi pegangan bagi para orangtua saat menghadapi masalah kesehatan pada anaknya. Buku berjudul ‘250 Tanya Jawab Kesehatan Anak’ yang diterbitkan pada tahun 2013 ini diharapkan menjadi panduan sekaligus informasi agar para orangtua menjadi lebih pintar dan bisa mencari jawaban sendiri jika tidak ada akses langsung ke dokter saat harus menghadapi masalah kesehatan anak. Meski demikian, ia juga berpesan walau buku ini telah menjawab masalah kesehatan anak, namun bila ada keraguan, orangtua disarankan untuk tetap bertanya pada dokter. Sebab setiap anak memiliki keadaan klinis yang berbeda-beda satu sama lain.  Dr. Marissa juga aktif dalam berbagai seminar ataupun talkshow seputar kesehatan anak.

Untuk dapat bertemu dengan dr. Marissa T.S. Pudjiadi, Sp.A di Klinik Anak AP&AP Jakarta, Ayah Bunda dapat datang setiap hari Sabtu jam 09.00 – 12.00 WIB atau bisa melakukan appointment terlebih dahulu melalui no.tlp (021) 2205 7020.22 atau Hp: 0857 1566 3038


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2019. Website oleh Equitiga.