tata-laksana-dbd.jpg

February 1, 2019 ArtikelKesehatan Anak

Setelah mengetahui tentang demam berdarah dengue serta tanda bahayanya, Ayah Bunda juga perlu mengetahui bagaimana pertolongan pertama yang dapat diberikan jika buah hati Anda terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Berikut pertolongan pertama yang dapat Anda berikan, antara lain :

  • Cukupi kebutuhan cairan tubuh anak Anda
  • Berikan paracetamol untuk menurunkan demam dan nyeri tubuh
  • Jangan berikan obat-obatan seperti Ibuproven/AINS (obat anti-peradangan non steroid lainnya) karena dapat meningkatkan risiko gangguan lambung dan perdarahan
  • Kompres dengan air hangat

Jika telah melalukan pertolongan pertama tersebut, akan tetapi tidak ada perubahan atau kondisi Anak semakin memburuk. Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis


dbd-1200x1309.jpg

January 29, 2019 ArtikelKesehatan Anak

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Iklim tropis dan peningkatan curah hujan merupakan salah satu faktor yang mendukung kehidupan virus dengue dan vektor nyamuk, oleh karena itu bulan Januari-Maret 2019 rentan terjadi peningkatan angka kejadian DBD.

 


25.01.19-1.jpg

January 25, 2019 ArtikelKesehatan Anak

Prevalensi penduduk dengan berat badan berlebih dan obesitas terus meningkat. Jika tak segera ditangani secara komprehensif, hal itu akan membebani pembangunan dan ekonomi bangsa.

 

Kegemukan dan obesitas terjadi akibat tak seimbangnya jumlah asupan kalori ke tubuh dengan kalori yang dibakar lewat aktivitas fisik. Hal itu membuat pencegahan obesitas pada anak menjadi penting. Meski Pemerintah berhasil menekan prevalensi kegemukan anak balita, obesitas pada orang dewasa naik.

 

Pada anak, obesitas banyak muncul saat anak duduk di bangku sekolah dasar. Menginjak remaja yaitu SMP-SMA, mereka mulai memperhatikan bentuk tubuh sehingga prevalensi obesitasnya turun. Namun, tak jarang remaja terjebak dalam diet yang membahayakan diri.

 

“Selain akibat kalori dari karbohidrat dan lemak berlebih, anak umumnya mengalami obesitas karena kurang gerak,” ujar Ketua Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Damayanti Rusli Sjarif di Jakarta, Rabu (23/1/2019).

 

Hari Gizi Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 Januari bisa jadi momentum mencegah diabetes pada anak lewat diet dan aktivitas fisik memadai. Dalam keseharian, anak Indonesia banyak mengonsumsi makanan tinggi lemak dan garam serta minuman tinggi gula. Disaat bersamaan, kemajuan teknologi digital dan gawai membuat anak minim aktivitas fisik.

 

“Aktivitas fisik jadi komponen utama energy expenditure (pengeluaran energi), yakni 20-50%,” tulis Ayu Aprilia dalam, “Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar” di Majority, jurnal kedokteran Universitas Lampung, Juni 2015.

 

Penting sekali untuk melakukan pencegahan obesitas pada anak dikarenakan 75% anak gemuk akan jadi obesitas saat dewasa serta berisiko tinggi terkena penyakit, bahkan sampai dengan kematian yang diakibatkan penyakit kardiovaskular dan diabetes. Kegemukan pada anak memicu kian besarnya beban pada otot dan tulang rangka.

 

Saat ini, Pemerintah bisa menekan prevalensi gemuk pada anak balita dari 11,9% di tahun 2013 menjadi 8% pada tahun 2018. Namun hal itu jauh dari batas yang ditetapkan WHO pada 2010 bahwa suatu negara tak memiliki soal gizi jika anak balita gemuknya kurang dari 5%. Sehingga dibutuhkan kerja keras dari banyak pihak, baik itu dari Pemerintah maupun warga. Kini ada Surat Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah guna mendorong mutu kesehatan siswa di sekolah. Kenyataannya, hanya sekolah yang bisa menyediakan jajanan sehat di sekolah dan aktivitas fisik luar ruang.

Penurunan angka stunting atau anak balita bertubuh pendek akibat kurang gizi kronis yang digarap banyak kementrian beberapa tahun terakhir dapat menjadi contoh. Dengan penanganan komprehensif, obesitas pada anak bisa diatasi.

 

Diringkas dari Artikel berjudul “Obesitas Jadi Ancaman” pada harian Kompas, Kamis, 24 Januari 2019


10.01.2019.jpg

January 10, 2019 Artikel

‘Readiness for school’ atau yang biasa dikenal sebagai ‘Kesiapan Sekolah’. ‘Apakah itu kesiapan sekolah?’ atau ‘apakah anak saya sudah siap masuk sekolah?’ Terutama bagi anda yang memiliki anak menjelang usia 6 tahun. ‘Apakah sebenarnya yang termasuk dalam kesiapan sekolah?’ Banyak sekali orang tua yang bertanya-tanya dan mencari tau apakah anaknya sudah siap masuk sekolah. Sebenarnya apakah kesiapan sekolah itu?

 

Menurut Berk (2012), kesiapan sekolah seorang anak dapat dilihat melalui pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku dalam mengikuti kegiatan di sekolah (terutama jenjang Sekolah Dasar). Kesiapan sekolah mencakup perkembangan holistik dari seorang anak, yang meliputi kemampuan social emosi, perkembangan fisik, kognitif dan komunikasi. Kemampuan tersebut digunakan oleh anak untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan anak lain, memahami instruksi dan mengutarakan keinginan mereka di dalam kelas. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa seorang anak lebih berhasil saat ia memiliki criteria kesiapan sekolah tersebut, dibandingkan dengan anak yang belum memiliki criteria kesiapan sekolah. Anak yang tergolong memiliki kriteria kesiapan sekolah juga menjadi anak yang percaya diri.

 

Perilaku dan kemampuan anak yang menunjukkan kesiapannya untuk masuk sekolah dasar, antara lain:

  • Fisik – memiliki kesehatan yang baik, serta memiliki perkembangan motorik halus dan kasar sesuai dengan
  • Sosial Emosi – anak mampu berinteraksi dan bermain dengan anak lain, memiliki perilaku yang baik (tidak agresif atau tidak memiliki perilaku yang tidak sesuai atau tidak beralasan). Dari aspekemosi, anak mampu menyesuaikan diri dengan suasana kelas yang berbeda, mampu memahami instruksi dan mengutarakan keinginannya pada guru, serta mampu mengikuti peraturan dan mengatasi perasaan kecewa yang dialaminya.
  • Bahasa – memiliki komunikasi dua arah yang baik pada teman dan guru. Memahami cerita (storytelling) dengan baik dan mampu mengenali
  • Kognitif – anak mampu memahami angka, logika sederhana, dan menunggu giliran
  • Kemandirian – mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru secara mandiri, menguasai toilet training, mampu memakai baju, sepatu, dan barang-barang milikinya secara

 

Ditulis oleh: Anggita Hapsari, MPsi, Psikolog

IMG_4884-1200x835.jpg

December 11, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Kejang demam selalu menjadi momok bagi ayah bunda. Fenomena yang terjadi pada saat anak kejang, yaitu mata mendelik, kaku-kelojotan, dan lidah tergigit, tak ayal membuat orangtua panik. Namun benarkah kejang demam berbahaya? Apa saja yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang demam?

Kejang atau yang sering disebut oleh awam sebagai stuip sering menyebabkan kepanikan orangtua. Defini kejang demam adalah kejang yang terjadi pada anak usia di atas 1 bulan akibat demam (tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut, dan anak tidak pernah mengalami kejang tanpa demam sebelumnya). Dapat dikatakan kejang ini terjadi semata-mata karena proses demam itu sendiri.

Kapan kejang demam dapat terjadi ?

Kejang demam dapat terjadi pada anak usia 1 bulan hingga 5 tahun. Namun tidak semua anak mengalaminya. Adanya riwayat kejang demam dalam keluarga akan meningkatkan risiko terjadinya kejang demam pada anak. Anak yang pernah mengalami kejang demam sebelumnya juga memiliki risiko mengalami kejang kembali di kemudian hari saat demam.

Apa yang harus dilakukan saat anak mengalami kejang ?

  • Letakkan anak di tempat aman (jauhkan dari barang-barang yang berbahaya)
  • Longgarkan pakaian anak. Bila menggunakan jaket lepaskan
  • Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut (termasuk sendok, jari tangan, minuman atau kopi)
  • Berikan diazepam supposutoria (obat antikejang yang diberikan lewat dubur) sesuai dosis. (Lihat cara pemberian supposutoria di halaman 93)
  • Tunggu 5 menit
  • Bila kejang masih berlangsung berikan diazepam supposutoria 1 kali lagi
  • Bila kejang masih juga berlangsung segera bawa ke rumah sakit

Bagaimana cara memberikan obat kejang di rumah ?

Ingat,  diazepam supposutoria hanya boleh diberikan 2x selama di rumah. Bila sudah 2 kali pemberian dan anak masih kejang kemungkinan anak memerlukan obat anti kejang melalui jalur suntikan intravena. Dosis pemberian diazepam supposutoria adalah 5 mg untuk anak berbobot 5-10 kg dan 10 mg untuk anak dengan bobot >10kg, atau dosis lain yang diberikan oleh dokter anak,

Apa yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang ?

  • Suhu anak sebelum kejang
  • Berapa lama kejang berlangsung
  • Kejang yang terjadi seperti apa. Apakah seluruh tubuhnya atau hanya gerakan tangan/kaki yang berulang-ulang saja, ataukah gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Apakah kejang terjadi berulang dalam 24 jam? Bila berulang apakah diantara kejang anak bangun seperti biasa atau lebih cenderung tidur ?
  • Apakah terdapat kelainan setelah kejang, mulut anak menjadi mencong, misalnya

Kapan sebaiknya anak dibawa ke rumah sakit pada keadaan kejang demam ?

  • Bila kejang terjadi pada anak < 6 bulan
  • Bila anak baru pertama kalinya mengalami kejang
  • Kejang berlangsung >10 menit
  • Kejang didahului dengan gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Kejang berulang dalam 24 jam
  • Bila diantara kejang anak cenderung tidur terus
  • Bila terdapat kelainan setelah kejang, seperti mulut anak menjadi mencong

Apakah si kecil yang mengalami kejang demam perlu dirawat inap ?

Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam. Apabila terjadi kejang disertai demam di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, maka perlu disingkirkan penyebab kejang lainnya, misalnya epilepsi atau radang otak. Jika sesudah kejang anak tidak segera sadar kembali, lebih banyak tidur, atau tidak dapat mengadakan kontak dengan baik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab kejang lain, terutama radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis). Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan apabila anak pernah kejang tanpa demam. Keputusan perlu tidaknya perawatan inap akan diberikan oleh dokter spesialis anak yang menilai langsung keadaan anak.

 

Klinik AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center yang merupakan salah klinik anak di Jakarta. Konsultasikan kesehatan anak anda dengan dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu setiap hari Sabtu jam 10.00-12.00 WIB

 

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A


IMG_4933-Copy-2-1200x1366.jpg

November 30, 2018 ArtikelLiputan

dr. Marissa adalah dokter spesialis anak lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta. Gelar dokter umum diperoleh sebelumnya dari Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Jakarta. Setelah lulus menjadi dokter spesialis anak, dr. Marissa sempat menjadi Gastaerztin (dokter tamu) di Hannover Medical School, Germany.

Tak hanya membagikan ilmunya kepada pasien yang datang, dokter cantik dengan nama lengkap dr. Marissa T.S Pudjiadi, Sp.A ini juga berbagi ilmu lewat tulisan-tulisannya. Berbekal ilmu dan pengalamannya, ia telah menerbitkan buku yang kini menjadi pegangan bagi para orangtua saat menghadapi masalah kesehatan pada anaknya. Buku berjudul ‘250 Tanya Jawab Kesehatan Anak’ yang diterbitkan pada tahun 2013 ini diharapkan menjadi panduan sekaligus informasi agar para orangtua menjadi lebih pintar dan bisa mencari jawaban sendiri jika tidak ada akses langsung ke dokter saat harus menghadapi masalah kesehatan anak. Meski demikian, ia juga berpesan walau buku ini telah menjawab masalah kesehatan anak, namun bila ada keraguan, orangtua disarankan untuk tetap bertanya pada dokter. Sebab setiap anak memiliki keadaan klinis yang berbeda-beda satu sama lain.  Dr. Marissa juga aktif dalam berbagai seminar ataupun talkshow seputar kesehatan anak.

Untuk dapat bertemu dengan dr. Marissa T.S. Pudjiadi, Sp.A di Klinik Anak AP&AP Jakarta, Ayah Bunda dapat datang setiap hari Sabtu jam 09.00 – 12.00 WIB atau bisa melakukan appointment terlebih dahulu melalui no.tlp (021) 2205 7020.22 atau Hp: 0857 1566 3038


22.10.2018.jpg

October 22, 2018 Artikel

Pubertas adalah tanda dimana seorang anak sudah mulai memasuki masa remaja. Tanda – tanda pubertas dimulai dengan anak mengalami perubahan terutama pada fisiknya. Perubahan fisik pada anak laki – laki dan perempuan tentunya sangat berbeda. Usia pubertas seorang anak sangat berbeda-beda. Sebagian anak laki-laki mengalami pubertas pada usia 9 tahun tetapi ada juga yang baru mengalami pada usia 14 tahun.

Penyebab munculnya pubertas ini adalah hormon yang dipengaruhi oleh hipofisis (pusat dari seluruh sistem kelenjar penghasil hormon tubuh). Berkat kerja hormon ini, remaja memasuki masa pubertas sehingga mulai muncul ciri-ciri kelamin sekunder yang dapat membedakan antara perempuan dan laki-laki.

 

Secara umum gangguan pubertas dibagi menjadi dua yaitu: pubertas prekoks (prematur)  dan  gangguan pubertas tarda (delayed).

  1. Pubertas prekoks adalah timbulnya ciri-ciri seksual sekunder sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan dan sebelum usia 9 tahun pada anak laki-laki.
  2. Pubertas tarda atau pubertas terlambat adalah tidak ditemukannya ciri-ciri seksual sekunder pada anak perempuan berusia 13 tahun dan anak laki-laki berusia 16 tahun.

 

  1. Pubertas Prekoks (Pubertas Dini Pada Anak)

suatu keadaan dimana masa pubertas anak terjadi lebih awal pada umumnya, yaitu sekitar umur 9-14 tahun pada anak perempuan dan usia 10-17 tahun pada anak laki-laki. Kondisi ini terjadi dipicu oleh otak secara spontan atau dikarenakan pengaruh bahan kimia dari luar tubuh dan biasanya proses ini dimulai diakhir-akhir masa kanak-kanak (kurang dari umur 9 tahun) dengan ditandai munculnya tanda-tanda kematangan organ reproduksi lebih awal dan telah berakhirnya masa pertumbuhan. Pubertas yang lebih awal ini bisa merupakan bagian dari variasi perkembangan normal seseorang, namun bisa pula merupakan penyakit atau paparan hormon pertumbuhan yang tidak normal. Dan penyebabnya masih belum diketahui secara pasti sampai dengan saat ini.

Pubertas Prekoks dominan terjadi pada anak-anak perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini dimungkinkan karena Pubertas Prekoks membawa sifat genetik yang autosomal dominan dan lebih sering akibat paparan hormon estrogen dini pada usia bayi. Untuk anak perempuan sering diakibatkan etiologi yang idiopatik dan sebaliknya pada anak laki-laki secara signifikan terbanyak diakibatkan adanya penyakit pada otak.

Faktor yang dapat meningkatkan kejadian pubertas prekoks meliputi :

  • Jenis kelamin perempuan.
  • Umumnya pada ras Afrika-Amerika.
  • Seseorang yang mengalami Obesitas (Kegemukan).
  • Terpapar hormon seksual (kosmetik ataupun makanan).
  • Sedang mengidap suatu penyakit genetik ataupun gangguan metabolik. Pubertas prekoks banyak ditemui pada pasien dengan sindrom McCune-Albright atau Hiperplasia Adrenal Kongenital, yaitu suatu kondisi perkembangan abnormal dari produksi hormon androgen pada laki-laki. Pada kasus yang jarang, Pubertas Prekoks memiliki hubungan dengan kejadian hipotiroidism.

Gejala klinis yang terjadi pada anak perempuan apabila dialami pada usia kurang dari 9 tahun :

  • Payudara membesar.
  • Tumbuhnya rambut pubis dan rambut tipis pada lengan bawah.
  • Bertambah tinggi dengan cepat.
  • Mulainya menstruasi.
  • Tumbuh jerawat.
  • Munculnya bau badan.

 

Sedangkan pada anak laki-laki, tanda-tanda terjadinya Pubertas Prekoks akan muncul saat umur kurang dari 10 tahun meliputi :

  • Pembesaran testis dan penis.
  • Tumbuhnya rambut pubis, lengan bawah dan wajah.
  • Peningkatan tinggi dengan cepat.
  • Suara memberat
  • Tumbuh jerawat
  • Munculnya bau badan

 

Pubertas dini dikenal memiliki dua jenis perkembangan yang berbeda, yaitu:

  1. Pubertas dini sentral– merupakan jenis pubertas dini yang umum terjadi dan ditandai dengan sekresi hormon gonad oleh kelenjar pituitari di otak yang terlalu cepat, sehingga memicu aktivitas testis dan ovarium untuk memproduksi hormon seks dan menyebabkan proses pubertas terjadi lebih awal.
  2. Pubertas dini perifer– merupakan jenis pubertas dini yang jarang terjadi. Hal ini ditandai dengan produksi hormon seks oleh organ reproduksi namun tanpa aktivitas kelenjar otak. Hal ini merupakan pertanda adanya masalah pada organ reproduksi, kelenjar adrenal, atau kelenjar tiroid yang tidak aktif.

Ketidaksiapan tubuh untuk mengalami pubertas dapat menyebabkan ketidakseimbangan pertumbuhan pada anak, akibatnya pertumbuhan fisik dan mentalnya menjadi tidak optimal. Dampak pubertas dini secara fisik adalah pertumbuhan badan yang cenderung pendek. Anak yang mengalami pubertas dini mungkin mengalami pertambahan tinggi badan yang cepat pada awalnya, namun saat dewasa ia memiliki tinggi badan di bawah normal untuk individu seusianya. Penanganan dini dibutuhkan untuk mengatasi perkembangan tinggi badan pada anak yang mengalami pubertas dini.

Pubertas dini juga akan menyebabkan anak sulit beradaptasi secara emosional dan sosial. Masalah kepercayaan diri atau merasa kebingungan paling sering dialami oleh anak perempuan yang mengalami pubertas dini karena perubahan fisiknya. Selain itu, perubahan perilaku dapat terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan akibat perubahan mood, dan cenderung lebih cepat marah. Anak laki-laki dapat cenderung menjadi agresif dan memiliki dorongan seks yang tidak sesuai dengan usianya.

Berbagai kemungkinan penyakit serius merupakan penyebab anak Anda mengalami pubertas dini, dampak perkembangan pada anak juga masih dapat dirasakan saat anak beranjak dewasa. Oleh karena itu, penanganan sedini mungkin diperlukan untuk menangani efek dari pubertas dini pada anak. Jika Anda menemukan berbagai tanda pubertas dini pada anak Anda, segera konsultasikan ke dokter endokrin anak untuk diagnosis dan penanganan lebih lanjut.

 

 

 

Sumber :

  1. Haslam RHA. Endokrine System. Dalam : Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi Internasional ke-17. Philadelphia : Saunders Elsevier Science. 2004 ; p.1926-1935
  2. Diakses : 28 April 2009. Diunduh dari : http://en.wikipedia.org/wiki/precociouspuberty. April 9th 2009.
  3. Klapowitz PB. Medscape Team Of Emedicine. Precocious Puberty. (Diakses : 28 April 2009). Diunduh dari : http://emedicine.medscape.com/article/987886-overview. March 28th 
  4. Mayo Clinic Staff. Mayo Foundation. Precocious Puberty. (Diakses : 28 April 2009). Diunduh dari : http://mayoclinic.com/article/precociouspuberty-definition. Februari 5th 2009

18.10.2018.jpg

October 18, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Remaja merupakan periode terakhir dari masa anak-anak. Pada tahap ini seorang anak akan memasuki masa pubertas yang menyebabkan perubahan, baik fisik mau pun mental. Akan tetapi perubahan tersebut berlangsung bertahap.
Pada anak perempuan, pubertas terjadi sejak usia 8 sampai 13 tahun. Sementara anak laki-laki mengalami pubertas sejak usia 9 sampai 14 tahun. Selama pubertas, ukuran dan bentuk badan berubah dari ciri khas anak ke bentuk dewasa.
Selama pubertas, ukuran dan bentuk badan berubah dari ciri khas anak ke bentuk dewasa.

 

Ciri tubuh anak sudah mulai memasuki usia puber

Puber atau pubertas merupakan tanda anak sudah mulai memasuki usia remaja. Pada saat ini, anak mengalami berbagai perubahan, terutama perubahan fisiknya. Perubahan fisik anak laki-laki dan perempuan saat memasuki usia pubertas berbeda, usia mulai pubertas juga berbeda antar keduanya. Biasanya, anak perempuan lebih cepat memasuki usia pubertas dibandingkan dengan laki-laki.

Pubertas pada anak perempuan

Tanda pertama pubertas

Tanda pertama pada anak perempuan pubertas biasanya adalah puting payudara yang mulai muncul. Bagian payudara biasanya menjadi sangat lembut dan mulai membesar setelah beberapa bulan. Selain itu, rambut pada kemaluan juga sudah mulai tumbuh, diikuti dengan pertumbuhan rambut pada ketiak.

Jika anak sudah mengalami pertumbuhan payudara dan pertumbuhan rambut pada kemaluan dan ketiak, tandanya sebentar lagi anak akan mencapai puncak pertumbuhannya dan juga akan mengalami menarche.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Kurang lebih setelah 1-2 tahun tanda-tanda pertama pubertas tersebut muncul, kemudian tubuh anak akan mulai membangun lemak, terutama di dada dan sekitar pinggul dan paha, mengarah seperti perempuan dewasa. Tubuh anak akan mulai membesar, terutama pada lengan, paha, tangan, dan kaki anak. Pada saat ini, berat badan anak perempuan akan bertambah.

Selain tubuh anak yang mulai besar karena terjadi peningkatan lemak dan berat badan, tinggi anak juga bertambah. Ingat, puncak pertumbuhan tinggi badan pada perempuan terjadi sebelum anak perempuan mendapatkan menarche. Oleh karena itu, sebelum anak perempuan mendapatkan menarche, penting bagi Anda untuk selalu mencukupi kebutuhan nutrisinya untuk membantu memaksimalkan pertumbuhan tinggi badan anak.

Banyak orang berpikir bahwa tanda anak perempuan sudah memasuki usia pubertas adalah pada saat ia sudah mendapatkan menstruasi pertamanya (menarche). Namun, jauh sebelum itu, ketika tubuh anak sudah menunjukkan berbagai perubahan menuju ke bentuk tubuh seperti perempuan dewasa, sebenarnya anak sudah memasuki usia puber.

Menarche biasanya dimulai sekitar 18 bulan sampai 2 tahun setelah anak menunjukkan tanda-tanda pubertas pertamanya. Pada umumnya, anak perempuan mendapatkan menstruasi pertamanya pada usia 13 tahun, tapi ini sangat bervariasi.

 

Pubertas pada anak laki-laki

Berbeda dengan anak perempuan, pubertas pada anak laki-laki biasanya mulai lebih lambat. Pada umumnya, anak laki-laki akan menunjukkan tanda-tanda pubertas pertamanya pada usia 10-16 tahun, usia ini juga sangat bervariasi antar anak.

Tanda pertama pubertas

Pada laki-laki, tanda pertama yang menunjukkan bahwa ia sudah mulai memasuki masa pubertas adalah pembesaran ukuran testis. Umumnya,  hal ini terjadi rata-rata pada usia 11 tahun. Setelah itu, diikuti dengan pembesaran ukuran penis. Berikutnya, rambut keriting pada kemaluan mulai tumbuh, juga pada ketiak anak.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Testis dan penis akan terus membesar sampai mencapai ukuran dewasa. Saat proses ini, anak laki-laki sudah bisa mengalami ereksi dan juga ejakulasi. Ejakulasi pertama kali atau spermarche biasanya menjadi tanda pubertas pada laki-laki yang paling mudah dikenali. Hal ini biasanya terjadi antara usia 12-16 tahun, tapi juga bervariasi antar anak. Ejakulasi ini biasanya ditandai dengan mimpi basah, tapi ereksi sendiri bisa secara spontan terjadi saat anak bangun tidur tanpa alasan yang jelas.

Pada anak laki-laki, puncak pertumbuhan akan terjadi sekitar 2 tahun setelah tanda-tanda pertama pubertas muncul. Pada saat ini, anak laki-laki akan mengalami puncak pertumbuhan tinggi badan dan berat badannya secara bersama-sama. Jika perempuan akan memiliki massa lemak yang lebih besar, maka laki-laki akan memiliki massa otot yang lebih besar. Bentuk dada laki-laki juga akan lebih lebar, mengarah seperti lelaki dewasa.

Beberapa anak mungkin mengalami pembesaran jaringan payudara atau biasa disebut dengan ginekomastia. Namun, jangan khawatir, biasanya hal tersebut akan hilang dalam waktu 6 bulan atau lebih dan ini hal yang normal terjadi.

Kumis atau jenggot mungkin akan tumbuh pada beberapa anak. Selain itu, juga terjadi perubahan pada suara laki-laki menjadi lebih berat. Jerawat juga bisa bermunculan di wajah, ini adalah hal yang umum, tidak hanya pada anak laki-laki tetapi juga pada anak perempuan. Jerawat bisa disebabkan oleh hormon pubertas yang memicu kelenjar di bawah kulit untuk memproduksi minyak/ sebum lebih banyak, sehingga bisa menyumbat pori-pori.

 

 

 

dikutip dari beberapa sumber

Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2019. Website oleh Equitiga.