10.01.2019.jpg

January 10, 2019 Artikel

‘Readiness for school’ atau yang biasa dikenal sebagai ‘Kesiapan Sekolah’. ‘Apakah itu kesiapan sekolah?’ atau ‘apakah anak saya sudah siap masuk sekolah?’ Terutama bagi anda yang memiliki anak menjelang usia 6 tahun. ‘Apakah sebenarnya yang termasuk dalam kesiapan sekolah?’ Banyak sekali orang tua yang bertanya-tanya dan mencari tau apakah anaknya sudah siap masuk sekolah. Sebenarnya apakah kesiapan sekolah itu?

 

Menurut Berk (2012), kesiapan sekolah seorang anak dapat dilihat melalui pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku dalam mengikuti kegiatan di sekolah (terutama jenjang Sekolah Dasar). Kesiapan sekolah mencakup perkembangan holistik dari seorang anak, yang meliputi kemampuan social emosi, perkembangan fisik, kognitif dan komunikasi. Kemampuan tersebut digunakan oleh anak untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan anak lain, memahami instruksi dan mengutarakan keinginan mereka di dalam kelas. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa seorang anak lebih berhasil saat ia memiliki criteria kesiapan sekolah tersebut, dibandingkan dengan anak yang belum memiliki criteria kesiapan sekolah. Anak yang tergolong memiliki kriteria kesiapan sekolah juga menjadi anak yang percaya diri.

 

Perilaku dan kemampuan anak yang menunjukkan kesiapannya untuk masuk sekolah dasar, antara lain:

  • Fisik – memiliki kesehatan yang baik, serta memiliki perkembangan motorik halus dan kasar sesuai dengan
  • Sosial Emosi – anak mampu berinteraksi dan bermain dengan anak lain, memiliki perilaku yang baik (tidak agresif atau tidak memiliki perilaku yang tidak sesuai atau tidak beralasan). Dari aspekemosi, anak mampu menyesuaikan diri dengan suasana kelas yang berbeda, mampu memahami instruksi dan mengutarakan keinginannya pada guru, serta mampu mengikuti peraturan dan mengatasi perasaan kecewa yang dialaminya.
  • Bahasa – memiliki komunikasi dua arah yang baik pada teman dan guru. Memahami cerita (storytelling) dengan baik dan mampu mengenali
  • Kognitif – anak mampu memahami angka, logika sederhana, dan menunggu giliran
  • Kemandirian – mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru secara mandiri, menguasai toilet training, mampu memakai baju, sepatu, dan barang-barang milikinya secara

 

Ditulis oleh: Anggita Hapsari, MPsi, Psikolog

IMG_4884-1200x835.jpg

December 11, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Kejang demam selalu menjadi momok bagi ayah bunda. Fenomena yang terjadi pada saat anak kejang, yaitu mata mendelik, kaku-kelojotan, dan lidah tergigit, tak ayal membuat orangtua panik. Namun benarkah kejang demam berbahaya? Apa saja yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang demam?

Kejang atau yang sering disebut oleh awam sebagai stuip sering menyebabkan kepanikan orangtua. Defini kejang demam adalah kejang yang terjadi pada anak usia di atas 1 bulan akibat demam (tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut, dan anak tidak pernah mengalami kejang tanpa demam sebelumnya). Dapat dikatakan kejang ini terjadi semata-mata karena proses demam itu sendiri.

Kapan kejang demam dapat terjadi ?

Kejang demam dapat terjadi pada anak usia 1 bulan hingga 5 tahun. Namun tidak semua anak mengalaminya. Adanya riwayat kejang demam dalam keluarga akan meningkatkan risiko terjadinya kejang demam pada anak. Anak yang pernah mengalami kejang demam sebelumnya juga memiliki risiko mengalami kejang kembali di kemudian hari saat demam.

Apa yang harus dilakukan saat anak mengalami kejang ?

  • Letakkan anak di tempat aman (jauhkan dari barang-barang yang berbahaya)
  • Longgarkan pakaian anak. Bila menggunakan jaket lepaskan
  • Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut (termasuk sendok, jari tangan, minuman atau kopi)
  • Berikan diazepam supposutoria (obat antikejang yang diberikan lewat dubur) sesuai dosis. (Lihat cara pemberian supposutoria di halaman 93)
  • Tunggu 5 menit
  • Bila kejang masih berlangsung berikan diazepam supposutoria 1 kali lagi
  • Bila kejang masih juga berlangsung segera bawa ke rumah sakit

Bagaimana cara memberikan obat kejang di rumah ?

Ingat,  diazepam supposutoria hanya boleh diberikan 2x selama di rumah. Bila sudah 2 kali pemberian dan anak masih kejang kemungkinan anak memerlukan obat anti kejang melalui jalur suntikan intravena. Dosis pemberian diazepam supposutoria adalah 5 mg untuk anak berbobot 5-10 kg dan 10 mg untuk anak dengan bobot >10kg, atau dosis lain yang diberikan oleh dokter anak,

Apa yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang ?

  • Suhu anak sebelum kejang
  • Berapa lama kejang berlangsung
  • Kejang yang terjadi seperti apa. Apakah seluruh tubuhnya atau hanya gerakan tangan/kaki yang berulang-ulang saja, ataukah gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Apakah kejang terjadi berulang dalam 24 jam? Bila berulang apakah diantara kejang anak bangun seperti biasa atau lebih cenderung tidur ?
  • Apakah terdapat kelainan setelah kejang, mulut anak menjadi mencong, misalnya

Kapan sebaiknya anak dibawa ke rumah sakit pada keadaan kejang demam ?

  • Bila kejang terjadi pada anak < 6 bulan
  • Bila anak baru pertama kalinya mengalami kejang
  • Kejang berlangsung >10 menit
  • Kejang didahului dengan gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Kejang berulang dalam 24 jam
  • Bila diantara kejang anak cenderung tidur terus
  • Bila terdapat kelainan setelah kejang, seperti mulut anak menjadi mencong

Apakah si kecil yang mengalami kejang demam perlu dirawat inap ?

Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam. Apabila terjadi kejang disertai demam di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, maka perlu disingkirkan penyebab kejang lainnya, misalnya epilepsi atau radang otak. Jika sesudah kejang anak tidak segera sadar kembali, lebih banyak tidur, atau tidak dapat mengadakan kontak dengan baik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab kejang lain, terutama radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis). Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan apabila anak pernah kejang tanpa demam. Keputusan perlu tidaknya perawatan inap akan diberikan oleh dokter spesialis anak yang menilai langsung keadaan anak.

 

Klinik AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center yang merupakan salah klinik anak di Jakarta. Konsultasikan kesehatan anak anda dengan dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu setiap hari Sabtu jam 10.00-12.00 WIB

 

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A


IMG_4933-Copy-2-1200x1366.jpg

November 30, 2018 ArtikelLiputan

dr. Marissa adalah dokter spesialis anak lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta. Gelar dokter umum diperoleh sebelumnya dari Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Jakarta. Setelah lulus menjadi dokter spesialis anak, dr. Marissa sempat menjadi Gastaerztin (dokter tamu) di Hannover Medical School, Germany.

Tak hanya membagikan ilmunya kepada pasien yang datang, dokter cantik dengan nama lengkap dr. Marissa T.S Pudjiadi, Sp.A ini juga berbagi ilmu lewat tulisan-tulisannya. Berbekal ilmu dan pengalamannya, ia telah menerbitkan buku yang kini menjadi pegangan bagi para orangtua saat menghadapi masalah kesehatan pada anaknya. Buku berjudul ‘250 Tanya Jawab Kesehatan Anak’ yang diterbitkan pada tahun 2013 ini diharapkan menjadi panduan sekaligus informasi agar para orangtua menjadi lebih pintar dan bisa mencari jawaban sendiri jika tidak ada akses langsung ke dokter saat harus menghadapi masalah kesehatan anak. Meski demikian, ia juga berpesan walau buku ini telah menjawab masalah kesehatan anak, namun bila ada keraguan, orangtua disarankan untuk tetap bertanya pada dokter. Sebab setiap anak memiliki keadaan klinis yang berbeda-beda satu sama lain.  Dr. Marissa juga aktif dalam berbagai seminar ataupun talkshow seputar kesehatan anak.

Untuk dapat bertemu dengan dr. Marissa T.S. Pudjiadi, Sp.A di Klinik Anak AP&AP Jakarta, Ayah Bunda dapat datang setiap hari Sabtu jam 09.00 – 12.00 WIB atau bisa melakukan appointment terlebih dahulu melalui no.tlp (021) 2205 7020.22 atau Hp: 0857 1566 3038


22.10.2018.jpg

October 22, 2018 Artikel

Pubertas adalah tanda dimana seorang anak sudah mulai memasuki masa remaja. Tanda – tanda pubertas dimulai dengan anak mengalami perubahan terutama pada fisiknya. Perubahan fisik pada anak laki – laki dan perempuan tentunya sangat berbeda. Usia pubertas seorang anak sangat berbeda-beda. Sebagian anak laki-laki mengalami pubertas pada usia 9 tahun tetapi ada juga yang baru mengalami pada usia 14 tahun.

Penyebab munculnya pubertas ini adalah hormon yang dipengaruhi oleh hipofisis (pusat dari seluruh sistem kelenjar penghasil hormon tubuh). Berkat kerja hormon ini, remaja memasuki masa pubertas sehingga mulai muncul ciri-ciri kelamin sekunder yang dapat membedakan antara perempuan dan laki-laki.

 

Secara umum gangguan pubertas dibagi menjadi dua yaitu: pubertas prekoks (prematur)  dan  gangguan pubertas tarda (delayed).

  1. Pubertas prekoks adalah timbulnya ciri-ciri seksual sekunder sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan dan sebelum usia 9 tahun pada anak laki-laki.
  2. Pubertas tarda atau pubertas terlambat adalah tidak ditemukannya ciri-ciri seksual sekunder pada anak perempuan berusia 13 tahun dan anak laki-laki berusia 16 tahun.

 

  1. Pubertas Prekoks (Pubertas Dini Pada Anak)

suatu keadaan dimana masa pubertas anak terjadi lebih awal pada umumnya, yaitu sekitar umur 9-14 tahun pada anak perempuan dan usia 10-17 tahun pada anak laki-laki. Kondisi ini terjadi dipicu oleh otak secara spontan atau dikarenakan pengaruh bahan kimia dari luar tubuh dan biasanya proses ini dimulai diakhir-akhir masa kanak-kanak (kurang dari umur 9 tahun) dengan ditandai munculnya tanda-tanda kematangan organ reproduksi lebih awal dan telah berakhirnya masa pertumbuhan. Pubertas yang lebih awal ini bisa merupakan bagian dari variasi perkembangan normal seseorang, namun bisa pula merupakan penyakit atau paparan hormon pertumbuhan yang tidak normal. Dan penyebabnya masih belum diketahui secara pasti sampai dengan saat ini.

Pubertas Prekoks dominan terjadi pada anak-anak perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini dimungkinkan karena Pubertas Prekoks membawa sifat genetik yang autosomal dominan dan lebih sering akibat paparan hormon estrogen dini pada usia bayi. Untuk anak perempuan sering diakibatkan etiologi yang idiopatik dan sebaliknya pada anak laki-laki secara signifikan terbanyak diakibatkan adanya penyakit pada otak.

Faktor yang dapat meningkatkan kejadian pubertas prekoks meliputi :

  • Jenis kelamin perempuan.
  • Umumnya pada ras Afrika-Amerika.
  • Seseorang yang mengalami Obesitas (Kegemukan).
  • Terpapar hormon seksual (kosmetik ataupun makanan).
  • Sedang mengidap suatu penyakit genetik ataupun gangguan metabolik. Pubertas prekoks banyak ditemui pada pasien dengan sindrom McCune-Albright atau Hiperplasia Adrenal Kongenital, yaitu suatu kondisi perkembangan abnormal dari produksi hormon androgen pada laki-laki. Pada kasus yang jarang, Pubertas Prekoks memiliki hubungan dengan kejadian hipotiroidism.

Gejala klinis yang terjadi pada anak perempuan apabila dialami pada usia kurang dari 9 tahun :

  • Payudara membesar.
  • Tumbuhnya rambut pubis dan rambut tipis pada lengan bawah.
  • Bertambah tinggi dengan cepat.
  • Mulainya menstruasi.
  • Tumbuh jerawat.
  • Munculnya bau badan.

 

Sedangkan pada anak laki-laki, tanda-tanda terjadinya Pubertas Prekoks akan muncul saat umur kurang dari 10 tahun meliputi :

  • Pembesaran testis dan penis.
  • Tumbuhnya rambut pubis, lengan bawah dan wajah.
  • Peningkatan tinggi dengan cepat.
  • Suara memberat
  • Tumbuh jerawat
  • Munculnya bau badan

 

Pubertas dini dikenal memiliki dua jenis perkembangan yang berbeda, yaitu:

  1. Pubertas dini sentral– merupakan jenis pubertas dini yang umum terjadi dan ditandai dengan sekresi hormon gonad oleh kelenjar pituitari di otak yang terlalu cepat, sehingga memicu aktivitas testis dan ovarium untuk memproduksi hormon seks dan menyebabkan proses pubertas terjadi lebih awal.
  2. Pubertas dini perifer– merupakan jenis pubertas dini yang jarang terjadi. Hal ini ditandai dengan produksi hormon seks oleh organ reproduksi namun tanpa aktivitas kelenjar otak. Hal ini merupakan pertanda adanya masalah pada organ reproduksi, kelenjar adrenal, atau kelenjar tiroid yang tidak aktif.

Ketidaksiapan tubuh untuk mengalami pubertas dapat menyebabkan ketidakseimbangan pertumbuhan pada anak, akibatnya pertumbuhan fisik dan mentalnya menjadi tidak optimal. Dampak pubertas dini secara fisik adalah pertumbuhan badan yang cenderung pendek. Anak yang mengalami pubertas dini mungkin mengalami pertambahan tinggi badan yang cepat pada awalnya, namun saat dewasa ia memiliki tinggi badan di bawah normal untuk individu seusianya. Penanganan dini dibutuhkan untuk mengatasi perkembangan tinggi badan pada anak yang mengalami pubertas dini.

Pubertas dini juga akan menyebabkan anak sulit beradaptasi secara emosional dan sosial. Masalah kepercayaan diri atau merasa kebingungan paling sering dialami oleh anak perempuan yang mengalami pubertas dini karena perubahan fisiknya. Selain itu, perubahan perilaku dapat terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan akibat perubahan mood, dan cenderung lebih cepat marah. Anak laki-laki dapat cenderung menjadi agresif dan memiliki dorongan seks yang tidak sesuai dengan usianya.

Berbagai kemungkinan penyakit serius merupakan penyebab anak Anda mengalami pubertas dini, dampak perkembangan pada anak juga masih dapat dirasakan saat anak beranjak dewasa. Oleh karena itu, penanganan sedini mungkin diperlukan untuk menangani efek dari pubertas dini pada anak. Jika Anda menemukan berbagai tanda pubertas dini pada anak Anda, segera konsultasikan ke dokter endokrin anak untuk diagnosis dan penanganan lebih lanjut.

 

 

 

Sumber :

  1. Haslam RHA. Endokrine System. Dalam : Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi Internasional ke-17. Philadelphia : Saunders Elsevier Science. 2004 ; p.1926-1935
  2. Diakses : 28 April 2009. Diunduh dari : http://en.wikipedia.org/wiki/precociouspuberty. April 9th 2009.
  3. Klapowitz PB. Medscape Team Of Emedicine. Precocious Puberty. (Diakses : 28 April 2009). Diunduh dari : http://emedicine.medscape.com/article/987886-overview. March 28th 
  4. Mayo Clinic Staff. Mayo Foundation. Precocious Puberty. (Diakses : 28 April 2009). Diunduh dari : http://mayoclinic.com/article/precociouspuberty-definition. Februari 5th 2009

18.10.2018.jpg

October 18, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Remaja merupakan periode terakhir dari masa anak-anak. Pada tahap ini seorang anak akan memasuki masa pubertas yang menyebabkan perubahan, baik fisik mau pun mental. Akan tetapi perubahan tersebut berlangsung bertahap.
Pada anak perempuan, pubertas terjadi sejak usia 8 sampai 13 tahun. Sementara anak laki-laki mengalami pubertas sejak usia 9 sampai 14 tahun. Selama pubertas, ukuran dan bentuk badan berubah dari ciri khas anak ke bentuk dewasa.
Selama pubertas, ukuran dan bentuk badan berubah dari ciri khas anak ke bentuk dewasa.

 

Ciri tubuh anak sudah mulai memasuki usia puber

Puber atau pubertas merupakan tanda anak sudah mulai memasuki usia remaja. Pada saat ini, anak mengalami berbagai perubahan, terutama perubahan fisiknya. Perubahan fisik anak laki-laki dan perempuan saat memasuki usia pubertas berbeda, usia mulai pubertas juga berbeda antar keduanya. Biasanya, anak perempuan lebih cepat memasuki usia pubertas dibandingkan dengan laki-laki.

Pubertas pada anak perempuan

Tanda pertama pubertas

Tanda pertama pada anak perempuan pubertas biasanya adalah puting payudara yang mulai muncul. Bagian payudara biasanya menjadi sangat lembut dan mulai membesar setelah beberapa bulan. Selain itu, rambut pada kemaluan juga sudah mulai tumbuh, diikuti dengan pertumbuhan rambut pada ketiak.

Jika anak sudah mengalami pertumbuhan payudara dan pertumbuhan rambut pada kemaluan dan ketiak, tandanya sebentar lagi anak akan mencapai puncak pertumbuhannya dan juga akan mengalami menarche.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Kurang lebih setelah 1-2 tahun tanda-tanda pertama pubertas tersebut muncul, kemudian tubuh anak akan mulai membangun lemak, terutama di dada dan sekitar pinggul dan paha, mengarah seperti perempuan dewasa. Tubuh anak akan mulai membesar, terutama pada lengan, paha, tangan, dan kaki anak. Pada saat ini, berat badan anak perempuan akan bertambah.

Selain tubuh anak yang mulai besar karena terjadi peningkatan lemak dan berat badan, tinggi anak juga bertambah. Ingat, puncak pertumbuhan tinggi badan pada perempuan terjadi sebelum anak perempuan mendapatkan menarche. Oleh karena itu, sebelum anak perempuan mendapatkan menarche, penting bagi Anda untuk selalu mencukupi kebutuhan nutrisinya untuk membantu memaksimalkan pertumbuhan tinggi badan anak.

Banyak orang berpikir bahwa tanda anak perempuan sudah memasuki usia pubertas adalah pada saat ia sudah mendapatkan menstruasi pertamanya (menarche). Namun, jauh sebelum itu, ketika tubuh anak sudah menunjukkan berbagai perubahan menuju ke bentuk tubuh seperti perempuan dewasa, sebenarnya anak sudah memasuki usia puber.

Menarche biasanya dimulai sekitar 18 bulan sampai 2 tahun setelah anak menunjukkan tanda-tanda pubertas pertamanya. Pada umumnya, anak perempuan mendapatkan menstruasi pertamanya pada usia 13 tahun, tapi ini sangat bervariasi.

 

Pubertas pada anak laki-laki

Berbeda dengan anak perempuan, pubertas pada anak laki-laki biasanya mulai lebih lambat. Pada umumnya, anak laki-laki akan menunjukkan tanda-tanda pubertas pertamanya pada usia 10-16 tahun, usia ini juga sangat bervariasi antar anak.

Tanda pertama pubertas

Pada laki-laki, tanda pertama yang menunjukkan bahwa ia sudah mulai memasuki masa pubertas adalah pembesaran ukuran testis. Umumnya,  hal ini terjadi rata-rata pada usia 11 tahun. Setelah itu, diikuti dengan pembesaran ukuran penis. Berikutnya, rambut keriting pada kemaluan mulai tumbuh, juga pada ketiak anak.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Testis dan penis akan terus membesar sampai mencapai ukuran dewasa. Saat proses ini, anak laki-laki sudah bisa mengalami ereksi dan juga ejakulasi. Ejakulasi pertama kali atau spermarche biasanya menjadi tanda pubertas pada laki-laki yang paling mudah dikenali. Hal ini biasanya terjadi antara usia 12-16 tahun, tapi juga bervariasi antar anak. Ejakulasi ini biasanya ditandai dengan mimpi basah, tapi ereksi sendiri bisa secara spontan terjadi saat anak bangun tidur tanpa alasan yang jelas.

Pada anak laki-laki, puncak pertumbuhan akan terjadi sekitar 2 tahun setelah tanda-tanda pertama pubertas muncul. Pada saat ini, anak laki-laki akan mengalami puncak pertumbuhan tinggi badan dan berat badannya secara bersama-sama. Jika perempuan akan memiliki massa lemak yang lebih besar, maka laki-laki akan memiliki massa otot yang lebih besar. Bentuk dada laki-laki juga akan lebih lebar, mengarah seperti lelaki dewasa.

Beberapa anak mungkin mengalami pembesaran jaringan payudara atau biasa disebut dengan ginekomastia. Namun, jangan khawatir, biasanya hal tersebut akan hilang dalam waktu 6 bulan atau lebih dan ini hal yang normal terjadi.

Kumis atau jenggot mungkin akan tumbuh pada beberapa anak. Selain itu, juga terjadi perubahan pada suara laki-laki menjadi lebih berat. Jerawat juga bisa bermunculan di wajah, ini adalah hal yang umum, tidak hanya pada anak laki-laki tetapi juga pada anak perempuan. Jerawat bisa disebabkan oleh hormon pubertas yang memicu kelenjar di bawah kulit untuk memproduksi minyak/ sebum lebih banyak, sehingga bisa menyumbat pori-pori.

 

 

 

dikutip dari beberapa sumber

28.09.2018-1.jpg

September 28, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Dalam beberapa literatur ilmiah maupun populer kita dapat menemukan informasi mengenai begitu banyaknya kemungkinan penyebab dari suatu gangguan pertumbuhan pada seorang anak.  Untuk memudahkan, ada yang membagi ke dalam istilah penyebab gangguan pertumbuhan primer dan sekunder. Apakah yang membedakan keduanya? Gangguan pertumbuhan primer terjadi pada tingkat genetik, dan berlangsung sejak seorang anak masih dalam kandungan. Termasuk di antaranya adalah kelainan kromosom, kelainan tulang, dan pertumbuhan janin terhambat. Sementara itu, gangguan pertumbuhan sekunder terjadi akibat adanya faktor dari luar yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan dan fungsi tubuh anak. Termasuk di antaranya adalah faktor gizi (malnutrisi), kelainan hormonal, penyakit kronik, dan penyebab lain yang telah disebutkan dalam artikel sebelumnya.

Berikut ini merupakan beberapa contoh yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan primer pada anak:

1. Kelainan kromosom

a. Sindrom Down

Merupakan kelainan genetik pada kromosom 21. Tanda dan gejala sindrom ini dapat terlihat dari tubuh yang relatif pendek, bentuk kepala relatif kecil (mikrosefali), dengan bentuk wajah menyerupai orang Mongoloid (hidung datar, mata menyipit, sudut tengah mata membentuk lipatan). Bentuk mulut kecil dan lidah seringkali seperti terjulur keluar (lebih tampak pada bayi). Pada pasien dengan sindrom ini dapat terjadi gangguan mental, kecerdasan, jantung maupun pencernaan.

b. Sindrom Turner

Merupakan kelainan pada wanita akibat kehilangan satu kromosom X (normalnya terdapat sepasang: XX). Tanda dan gejala yang sering dijumpai adalah tubuh pendek dan organ reproduksi yang tidak berkembang sempurna. Terkadang dapat pula dijumpai adanya kelainan jantung, ginjal, kelenjar tiroid, telinga, dan tulang.

c. Sindrom Noonan

Merupakan penyakit yang dapat diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Adanya mutasi genetik yang menyebabkan protein terus aktif, sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembelahan sel tubuh. Sindrom ini ditandai dengan abnormalitas (ketidaknormalan) bentuk wajah, perawakan pendek (50-70% kasus), gangguan jantung, kelainan darah, serta kelainan bentuk tulang. Secara fisik terlihat dahi lebar dan menonjol, jarak antar mata lebar, rahang kecil, posisi telinga rendah, serta leher pendek (dan tampak ada lipatan-lipatan kulit).

d. Sindrom Prader-Willi

Merupakan kelainan pada kromosom 15 yang menyebabkan gangguan pada hipotalamus – bagian otak yang berfungsi mengatur pelepasan hormon dan nafsu makan. Ditandai dengan otot yang lemah, bentuk wajah khas (bibir seperti orang cemberut), tubuh pendek, perkembangan organ seksual terhambat, IQ rendah, gangguan tingkah laku dan gangguan tidur.

e. Sindrom Silver-Russell

Diduga berkaitan dengan kelainan pada kromosom 7 dan 11. Pada sindrom ini dapat ditemukan riwayat pertumbuhan janin terhambat (berat badan lahir rendah), bentuk wajah seperti segitiga terbalik (meruncing ke dagu yang kecil), terdapat perbedaan panjang antara sisi kiri-kanan tangan dan kaki, jari melengkung, tubuh pendek (gagal tumbuh), serta masalah ginjal dan pencernaan.

2. Berat badan lahir lebih rendah atau kecil dibanding masa kehamilan dan gagal catch up pertumbuhan.

3. Gangguan pertumbuhan tulang congenital (bawaan): tubuh kerdil (dwarfism) pada akondroplasia dan hipokondroplasia

 

Pada beberapa kasus, gangguan pertumbuhan primer dapat dideteksi dini segera setelah bayi lahir (atau bahkan dapat ditemukan pada pemeriksaan kehamilan). Untuk menegakkan diagnosis, diperlukan pemeriksaan oleh tenaga medis yang ahli di bidangnya. Semakin cepat penanganan tentu akan memberikan hasil yang lebih baik.

 

 

Sumber : dr. Wiranty Ramadhani


13.09.2018.jpg

September 13, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Penyakit  CAMPAK dan RUBELLA sangat menular Imunisasi MR melindungi kita dari penularan penyakit CAMPAK dan RUBELLA

1. Apakah penyakit Campak dan Rubella

Campak dan Rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran nafas yang disebabkan oleh virus. Anak dan orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi Campak dan Rubella atau yang belum pernah mengalami penyakit ini beresiko tinggi tertular.

2. Apa bahaya dari penyakit ini ?

Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti diare, radang paru pneumonia, radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk dan bahkan kematian. Rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak, akan tetapi bila menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan.

3. Seperti apa gejala penyakit Campak dan Rubella ?

Gejala penyakit Campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit disertai dengan batuk, pilek dan mata merah (konjungtivitis). Gejala penyakit Rubella tidak spesifik bahkan bisa tanpa gejala. Gejala umum berupa demam ringan, pusing, pilek, mata merah, dan nyeri di persendian. Mirip gejala flu.

4. Bagaimana agar terlindung dari penyakit Campak dan Rubella ?

Tidak ada pengobatan untuk penyakit Campak dan Rubella namun penyakit ini dapat dicegah. Imunisasi dengan vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk penyakit Campak dan Rubella. Satu vaksin mencegah dua penyakit sekaligus.

5. Apakah vaksin MR ?

Vaksin MR adalah kombinasi vaksin Campak atau Measles (M) dan Rubella (R) untuk perlindungan terhadap penyakit Campak dan Rubella.

6. Apakah vaksin MR aman ?

Vaksin yang digunakan telah mendapat rekomendasi dari WHO dan izin edar dari Badan POM. Vaksin MR efektif untuk mencegah penyakit Campak dan Rubella. Vaksin ini aman dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia.

7. Siapa saja yang harus mendapatkan Imunisasi MR ?

Imunisasi MR diberikan untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama kampanye Imunisasi MR. Selanjutnya, imunisasi MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat menggantikan imunisasi Campak.

8. Apakah imunisasi MR memiliki efek samping ?

Tidak ada efek samping dalam imunisasi. Demam ringan, ruam merah, bengkak ringan dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi adalah reaksi normal yang akan menghilang dalam 2-3 hari. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi yang serius sangat jarang terjadi.

9. Apabila anak telah diimunisasi Campak, apakah perlu mendapat imunisasi MR ?

Ya, untuk mendapat kekebalan terhadap Rubella. Imunisasi MR aman bagi anak yang telah mendapat 2 dosis imunisasi Campak.

10. Apakah perbedaan vaksin MR dan MMR ?

Vaksin MR mencegah penyakit Campak dan Rubella.

Vaksin MMR mencegah penyakit Campak, Rubella, dan Gondongan.

11. Mengapa yang diberikan adalah vaksin MR bukan MMR ?

Saat ini pemerintah memprioritaskan pengendalian Campak dan Rubella karena bahaya komplikasinya yang berat dan mematikan.

12. Apabila anak telah mendapat imunisasi MMR, apakah masih perlu mendapat imunisasi MR ?

Ya, untuk memastikan kekebalan penuh terhadap penyakit Campak dan Rubella. Imunisasi MR aman diberikan kepada anak yang sudah mendapat vaksin MMR.

13. Apakah benar vaksin MR dapat menyebabkan autisme ?

Tidak benar. Sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung bahwa imunisasi jenis apapun dapat menyebabkan autisme.

14. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 tahun 2016.

Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya penyakit tertentu. Dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.

 

 

 

 

Sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia


19.07.18.jpg

July 19, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Campak atau yang biasa disebut dengan Morbili atau Rubeola merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Seperti hal nya sifat virus pada umumnya, campak sangat mudah menular dan dapat ditularkan melalui batuk dan bersin. Gejala awal dari campak adalah demam tinggi, batuk dan/atau pilek, serta mata merah (konjungtivitis).  Setelah beberapa hari, akan mulai muncul bercak merah yang biasanya muncul pertama kali di sekitar wajah dan leher lalu menyebar ke seluruh tubuh. Selain tu, dapat muncul pula bercak putih di dalam mulut yang disebut bercak Koplik. Komplikasi yang dpat terjadi akibat campak, antara lain pneumonia, diare, meningitis, kebutaan, dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Awitan penyakit campak dapat terjadi hingga 10-12 hari. Penyakit ini sangat berpotensi menjadi wabah apabila cakupan imunisasi rendah dan kekebalan kelompok/herd immunity tidak terbentuk. Ketika seseorang terkena campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum kebal terhadap campak. Seseorang dapat kebal jika telah diimunisasi atau terinfeksi virus campak.

 

Pada tahun 2000, lebih dari 562.000 anak per tahun meninggal di seluruh dunia karena komplikasi penyakit campak. Dengan pemberian imunisasi campak dan berbagai upaya yang telah dilakukan, maka pada tahun 2014 kematian akibat campak menurun menjadi 115.000 per tahun, dengan perkiraan 314 anak per hari atau 13 kematian setiap jamnya.

 

Sama seperti campak, Rubella juga merupakan penyakit akibat infeksi virus. Rubella biasa disebut dengan campak Jerman. Berbeda dengan campak yang dapat menginfeksi dalam jangka waktu panjang dan menimbulkan komplikasi, Rubella cenderung lebih ringan dan bersifat akut. Biasanya awitan Rubella kurang lebih sekitar 3 hari, oleh karena itu sering juga disebut dengan campak tiga hari. Rubella sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Akan tetapi yang menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah efek teratogenik apabila rubella ini menyerang pada wanita hamil pada trimester pertama. Infeksi rubella yang terjadi sebelum konsepsi dan selama awal kehamilan dapat menyebabkan abortus, kematian janin atau sindrom rubella kongenital (Congenital Rubella Syndrome/CRS) pada bayi yang dilahirkan. Sebelum dilakukan imunisasi rubella, insidens CRS bervariasi antara 0,1-0,2/1000 kelahiran hidup pada periode endemik dan antara 0,8-4/1000 kelahiran hidup selama periode epidemi rubella. Angka kejadian CRS pada negara yang belum mengintroduksi vaksin rubella diperkirakan cukup tinggi. Pada tahun 1996 diperkirakan sekitar 22.000 anak lahir dengan CRS di regio Afrika, sekitar 46.000 di regio Asia Tenggara dan 12.634 di regio Pasifik Barat. Insiden CRS pada regio yang telah mengintroduksi vaksin rubella selama tahun 1996-2008 telah menurun. Di Indonesia, rubella merupakah salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan upaya pencegahan efektif. Data surveilans selama lima tahun terakhir menunjukan 70% kasus rubella terjadi pada kelompok usia <15 tahun. Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella/Congenital Rubella Syndrome (CRS) pada tahun 2020. Strategi yang dilakukan untuk mencapai target tersebut adalah:

  1. Penguatan imunisasi rutin untuk mencapai cakupan imunisasi campak ≥95% merata di semua tingkatan
  2. Pelaksanaan Crash program Campak pada anak usia 9 – 59 bulan di 185 kabupaten/kota pada bulan Agustus – September 2016
  3. Pelaksanaan kampanye vaksin MR pada anak usia 9 bulan hingga 15 tahun secara bertahap dalam 2 fase sebagai berikut :
  • Fase 1 à bulan Agustus-September 2017 di seluruh Pulau Jawa
  • Fase 2 à bulan Agustus-September 2018 di seluruh Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua
  1. Introduksi vaksin MR ke dalam program imunisasi rutin pada bulan Oktober 2017 dan 2018
  2. Surveilans Campak Rubella berbasis kasus individu/ Case Based Measles Surveillance (CBMS)
  3. Surveilance sentinel CRS di 13 RS
  4. KLB campak diinvestigasi secara penuh (fully investigated)

 

Berdasarkan data surveilans dan cakupan imunisasi, maka imunisasi campak rutin saja belum cukup untuk mencapai target eliminasi campak. Sedangkan untuk akselerasi pengendalian rubella/CRS maka perlu dilakukan kampanye imunisasi tambahan sebelum introduksi vaksin MR ke dalam KAMPANYE IMUNISASI MEASLES RUBELLA MR 5 imunisasi rutin. Untuk itu diperlukan kampanye pemberian imunisasi MR pada anak usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun dengan cakupan tinggi (minimal 95%) dan merata diharapkan akan membentuk imunitas kelompok (herd immunity), sehingga dapat mengurangi transmisi virus ke usia yang lebih dewasa dan melindungi kelompok tersebut ketika memasuk usia reproduksi.

 

 

 

Sumber : Kementrian Kesehatan & Ikatan Dokter Anak Indonesia



February 9, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Bayi yang baru lahir sudah diberkahi antibodi yang berasal dari sang ibu yang didapat saat masih di dalam kandungan, tapi sayangnya antibodi ini hanya bertahan dalam waktu singkat yakni beberapa minggu atau bulan sajaSetelah itu, bayi akan menjadi mudah terserang berbagai penyakit dan mulai memproduksi antibodi sendiri.

Untuk mencegah kemungkinan si bayi terserang  berbagai penyakit, maka orang tua wajib memberikan imunisasi. Program imunisasi merupakan langkah untuk mencegah penyakit menular dengan cara memberikan vaksin pada seseorang sehingga tubuhnya resisten terhadap penyakit tertentu.

Imunisasi adalah pemberian vaksin (antigen) yang merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh. Manfaat imunisasi bagi anak adalah sebagai upaya untuk menghindari terjadinya sakit atau kejadian yang mengakibatkan seseorang sakit atau menderita cedera dan cacat. Adapun manfaat lainnya yang dirasakan seorang anak adalah sebagai kekebalan atau imunitas tubuh terhadap ancaman penyakit dan pertahanan tubuh yang terbentuk oleh beberapa vaksin akan dibawa seumur hidupnya.

Secara tidak langsung, manfaat imunisasi juga bisa menekan pengeluaran atau menghemat biaya kesehatan. Pemberian imunisasi dimulai sejak usia bayi.

             Lewat imunisasi bayi akan diberikan vaksin yang diisi dengan jenis bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dinonaktifkan untuk membentuk antibodi dan merangsang  sistem imun di dalam tubuh si anak. Cara untuk memberikan vaksin dalam imunisasi bervariasi, mulai dari disuntikkan, ditetesi ke dalam mulut. Ada vaksin yang hanya diberikan satu kali seumur hidup dan ada pula yang yang diberikan secara rutin agar kekebalan tubuh si anak terbentuk dengan baik dan siap menghadapi berbagai serangan penyakit. Reaksi yang serius sangat jarang terjadi, jauh lebih jarang dari pada komplikasi yang timbul apabila terserang penyakit tersebut secara alami. Reaksi yang ditimbulkan setelah imunisasi biasanya masih termasuk ringan seperti demam, pusing, hilang nafsu makan, mual, nyeri atau berbekas kemerahan dibagian yang disuntik.

Bagi para orang tua ada baiknya mempertimbangkan kembali manfaat imunisasi yang efeknya lebih berjangka panjang dari pada hanya melihat efek sampingnya.

Terdapat beberapa jenis vaksin yang wajib diberikan untuk anak Anda sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia yaitu Hepatitis B, Polio, BCG, DTP, Hib, PCV, Rotavirus, Influenza, Campak, MMR, Tifoid, Hepatitis A, Varisela, HPV dan Japanese Enchepalitis.


 


23.11.17-1200x1200.jpg

November 23, 2017 ArtikelKesehatan Anak

Bagi anak dengan Diabetes Mellitus yang menggunakan insulin eksternal, seluruh kecanggihan teknologi RT-CGM yang sudah kita bahas sebelumnya akan memberi manfaat maksimal apabila dipadukan dengan insulin pump. Dua teknologi yang saling mendukung satu sama lain ini memiliki cara kerja menyerupai fungsi fisiologis pankreas pada tubuh manusia, sehingga pasien dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

Cara kerjanya tetap sama, sensor yang disisipkan pada jaringan lemak di bawah kulit mendeteksi konsentrasi glukosa pada tubuh setiap 5 menit, lalu mengirimkan data glukosa tersebut melalui transmitter menggunakan gelombang frekuensi radio atau Bluetooth ke insulin pump. Pasien dapat melihat data glukosa ini pada layar display monitor insulin pump setiap saat dibutuhkan, bahkan mendapat alarm peringatan ketika terdeteksi glukosa tubuh mencapai batas level maksimum dan minimum yang sudah ditentukan sebelumnya. Disinilah peranan terpenting RT-CGM pada manajemen diabetes seorang anak dengan Diabetes Mellitus.

Pada umumnya anak dengan Diabetes Mellitus tidak menyadari ketika gula darahnya menurun dan baru merasakan gejala-gejala hipoglikemi ketika level gula darahnya sudah melewati batas aman terendah. Dengan RT-CGM anak tersebut dapat mengatur batas terendah dan tertinggi level glukosa yang diinginkan sehingga dapat bereaksi lebih cepat dan terhindar dari resiko hipoglikemi.

Teknologi terbaru dari Insulin Pump dengan RT-CGM telah dirilis di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 2017 ini oleh Medtronic dan diberi nama Hybrid Closed Loop. Insulin pump dan RT-CGM pada insulin pump ini bekerja secara berkesinambungan menjaga level glukosa pemakainya pada batas yang ditentukan. Ketika sensor CGM mendeteksi peningkatan glukosa, pump akan secara otomatis mengeluarkan dosis insulin basal lebih banyak untuk mengoreksinya. Demikian pula sebaliknya, ketika sensor mendeteksi penurunan glukosa, pump akan secara otomatis mengurangi atau bahkan menghentikan dosis pemberian insulinnya agar level glukosa si pengguna pump tidak turun lebih jauh lagi dan tetap berada pada level yang aman. Namun hal ini tidak berlaku untuk pemberian dosis insulin prandial/makan. Pengguna masih harus meng-input estimasi jumlah karbohidrat yang akan dikonsumsi dan memberikan dosis insulin bolus secara manual. Karena itulah teknologi ini disebut hybrid, yang artinya campuran, karena cara kerjanya masih memerlukan input manual dari penggunanya. Tapi teknologi ini sudah satu langkah lebih dekat pada teknologi artificial pancreas yang kita impikan. (KN)


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2018. Website oleh Equitiga.

Free WordPress Themes