Hari-Kartini-2.jpg

December 7, 2018 Uncategorized

Kapan seorang anak disebut demam?

normal manusia adalah 36,5 – 37,5°C. Diatas suhu normal anak disebut demam.


Apa saja gejala yang menyertai demam ?

Saat suhu mulai naik, sering kali anak merasa kedinginan dan menggigil. Ini merupakan suatu proses normal. Yang terjadi saat itu adalah peningkatan set point suhu di otak sehingga tubuh merasa kedinginan dan tubuh berusaha menghangatkan kembali dengan cara menggigil. Saat demam, anak seringkali merasa lemas, tidak aktif, gelisah, dan cenderung ingin tidur. Anak yang sedang mengalami demam biasanya tidak memiliki nafsu makan. Jumlah pernapasan juga meningkat sehingga anak terlihat bernapas lebih cepat.


Apa yang dapat terjadi saat anak mengalami demam tinggi ?

Saat demam tinggi, sebagian anak dapat mengalami kejang demam. Namun tidak semua anak mengalaminya. Demam tinggi juga dapat membuat anak mengalami lemas dan dehidrasi karena jumlah asupan yang berkurang disertai penguapan tubuh yang meningkat lebih banyak.


Kapan anak memerlukan obat panas ?

Pada suhu diatas 38°C. Jenis obat panas yang dapat diberikan antara lain parasetamol atau ibuprofen. Dosis pemberian parasetamol adalah 10-15 mg/kg berat badan/kali sedangkan ibuprofen 5-10 mg/kg berat badan/kali, atau sesuai anjuran dokter.Pemberian parasetamol dapat diulang setiap 4 jam bila suhu masih di atas 38°C. Obat dapat diberikan baik sebelum maupun sesudah makan/minum susu. Obat-obat jenis ini tersedia dalam bentuk drop, sirop, tablet, dan suppositoria. Setelah memberikan obat pada anak, tunggulah 30 menit – 1 jam baru kemudian cek ulang suhu anak karena obat memerlukan waktu untuk bekerja menurunkan panas anak. Sementara itu, bantu dengan mengompres anak.


Apa itu obat supposituria ?

Obat suppositoria adalah sediaan obat yang diberikan melalui anus (dubur). Umumnya diberikan bila suhu anak mencapai 39,5°C dan pemberian dan pemberian secara oral sulit dilakukan (misal anak tidur atau muntah). Pemberian obat supposituria memiliki kecepatan menurunkan demam lebih cepat dibandingkan pemberian secara oral. Obat supposituria ada 2 jenis, yang berbentuk seperti peluru dan bentuk cair seperti kemasan.

Bagaimana cara pemberian obat supposituria berbentuk peluru ?

  • Buka tutup kemasan
  • Masukkan ke dalam dubur anak sesuai dosis
  • Tutup dubur anak (dengan merapatkan kedua bokong) dan tahan 1 menit agar obat tidak keluar kembali

Bagaimana cara pemberian obat suppositoria berbentuk cair dalam kemasan ?

  • Buka tutup kemasan 
  • Masukkan ke dalam dubur anak sesuai dosis
  • Pencet badan kemasan agar cairan obat keluar
  • Tarik kemasan dalam posisi kemasan masih terpencet
  • Tutup dubur anak (dengan merapatkan kedua bokong) dan tahan 1 menit agar obat tidak mengalir keluar
  • Lepaskan pencetan pada kemasan dan buang kemasan tersebut

Bagaimana cara menyimpan obat suppositoria ?

Obat-obat suppositoria harus disimpan di dalam lemari es tetapi bukan di dalam freezer.

Bagaimana cara mengompres yang benar ?

  • Rendam kain pembasuh atau handuk dalam air hangat
  • Gunakan kain pembasuh yang masih hangat tersebut untuk mengompres tempat-tempat yang dilalui pembuluh darah besar seperti leher, ketiak, dan selangkangan atau bisa juga dengan membasuh seluruh tubuh anak
  • Bila kain sudah mulai dingin, segeralah angkat dan ganti dengan kain lain yang masih hangat. Jangan biarkan kain pembasuh yang sudah dingin menempel pada tubuh anak
  • Bila sudah selesai, keringkan tubuh anak dan ganti pakaian atau seprei yang basah

Penulis dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A


download-1.jpg

November 16, 2018 Uncategorized

Tahukah Mom? Bahwa Klinik AP&AP Pediatric, Growth and Diabetes Center bekerjasama dengan sekolah – sekolah dalam program Medical Check Up (MCU) Skrining Perkembangan Anak dan Pemeriksaan Kesehatan.

Klinik AP&AP sebagai salah satu Klinik Anak di Jakarta menjadi salah satu tempat yang dipilih dari Proklamasi School and Daycare untuk dilakukannya skrining perkembangan anak dan pemeriksaan kesehatan. Acara ini dilaksanakan selama 2 hari tanggal 6 & 7 November 2018.

        

Lalu apa aja sih yang dilakukan selama anak – anak Proklamasi School di  Klinik AP&AP ?

Pertama-tama murid-murid akan dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan oleh tim medis kami. Lalu kemudian akan dilakukan pemeriksaan oleh dr. Wiranty Ramadhani juga dr. Maria Gita Merisa. Medical Check up yang dilakukan di Klinik AP&AP Jakarta ini, pastinya sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Pelayanan Kesehatan lainnya, karena bukan hanya pemeriksaan fisik tetapi juga ada tim medis kami akan melakukan Skrining Perkembangan Anak, sehinggan sesuai dengan usia anak tersebut.

        

        

Selain dilakukan pemeriksaan, Klinik juga menyediakan arena bermain untuk anak-anak dan pemutaran film untuk anak. Terlihat antusiasme yang sangat besar dari murid-murid dan mereka juga tidak takut saat bertemu dengan dokter.

       

Jika anda tertarik menjadikan sekolah si kecil menjadi sekolah partner kami. Anda dapat menghubungi kami melalui email : apap_pediatric@yahoo.com. Tim kami siap membantu untuk memberikan informasi lebih lanjut.


1200px-World_Diabetes_Day_logo.svg_-1200x834.png

November 9, 2018 Uncategorized


WhatsApp-Image-2018-12-03-at-19.26.57.jpeg

November 2, 2018 Uncategorized


02.10.2018.jpg

October 2, 2018 Uncategorized

Tinggi badan merupakan salah satu parameter penting dalam menilai pertumbuhan – bahkan dapat menjadi penanda adanya suatu penyakit pada anak. Akan tetapi, anak dengan perawakan pendek tidak selalu berarti anak tidak sehat. Hal ini dikarenakan tinggi badan seorang anak ditentukan oleh berbagai faktor, termasuk di antaranya genetik atau keturunan. Pada perawakan pendek akibat faktor keturunan, biasanya kurva pertumbuhan anak berjalan normal mengikuti garis secara linier (walaupun berada di bawah persentil 3), umur tulang normal, serta tidak ditemukan adanya kelainan yang menyebabkan gangguan pertumbuhan.

Tinggi potensi genetik adalah perkiraan tinggi badan seorang anak saat dewasa yang dihitung berdasarkan tinggi badan kedua orangtua. Seorang anak yang dilahirkan dari orangtua dengan tinggi badan kurang dari 150 cm tentu memiliki tinggi potensi genetik yang lebih pendek dibanding yang dilahirkan dari orangtua dengan tinggi badan lebih dari 170 cm.

Rumus untuk menghitung tinggi potensi genetik seorang anak dapat dilihat di bawah ini:

  • TPG anak laki-laki = ( (TB ibu (cm) + 13 cm) + TB ayah (cm) )/2 ± 8,5 cm
  • TPG anak perempuan = ( (TB ayah (cm) – 13 cm) + TB ibu (cm) )/2 ± 8,5 cm

Selain itu, variasi normal perawakan pendek anak juga dapat dijumpai pada kondisi Constitutional Delay of Growth and Puberty. Anak dengan kondisi ini biasanya ditandai dengan laju pertumbuhan yang lambat dan di bawah persentil 3 saat masa pra-pubertas namun akan mengalami percepatan setelah melewati masa pubertas – sehingga tinggi akhir saat dewasa pada umumnya akan normal. Pada pemeriksaan dapat dijumpai umur tulang cenderung terlambat dibanding usia anak, serta perkembangan organ seksual anak cenderung lebih lambat. Seringkali kita dapat menjumpai riwayat serupa (pubertas terlambat) dalam keluarga – terutama orangtua.

Terkadang kita juga dapat menjumpai keadaan dimana seorang anak memiliki perawakan pendek tanpa dijumpai faktor keturunan orangtua pendek, tidak adanya suatu kelainan/penyakit, serta tidak ada tanda-tanda pubertas terlambat. Hal ini disebut dengan istilah “idiopatik”.

Untuk dapat menentukan apakah perawakan pendek seorang anak termasuk dalam variasi normal atau ternyata merupakan tanda penyakit, tentu sebaiknya orangtua perlu berkonsultasi dengan tenaga medis yang ahli di bidangnya seperti dokter spesialis endokrinologi anak.

 

 

 

Sumber : dr. Wiranty Ramadhani


21.09.2018.jpg

September 21, 2018 Uncategorized

Pengukuran tinggi badan menjadi salah satu poin penting dalam skrining kesehatan anak. Anak bertubuh pendek bisa menjadi tanda adanya penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan. Salah satu penyebab gangguan pertumbuhan anak yang harus diwaspadai adalah kelainan hormonal, seperti kekurangan hormon pertumbuhan, kekurangan hormon tiroid, kelebihan hormon steroid, dan diabetes melitus.

  1. Kekurangan Hormon Pertumbuhan

Hormon Pertumbuhan (growth hormone)  adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis yang terdapat di otak. Hormon ini berperan dalam menghasilkan zat-zat yang membantu pertumbuhan tulang, mengatur metabolisme, serta menyusun komposisi tubuh. Kekurangan hormon ini dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat. Kekurangan hormon pertumbuhan bisa terjadi akibat bawaan (kongenital) maupun didapat (akibat tumor, radiasi, dsb). Sebagian besar kasus kekurangan hormone ini belum dapat ditemukan/dijelaskan penyebabnya secara pasti (idiopatik).

2. Kekurangan Hormon Tiroid

Hipotiroid (istilah bagi kekurangan hormon tiroid) adalah kondisi dimana kelenjar tiroid/kelenjar gondok yang terdapat di leher tidak mampu menghasilkan hormon tiroid yang cukup bagi tubuh. Hormon tiroid merupakan hormon yang berperan penting dalam metabolisme tubuh. Kekurangan hormon ini dapat menimbulkan gangguan intelektual maupun gangguan pertumbuhan pada anak. Adanya riwayat hipotiroid dalam keluarga meningkatkan risiko seorang anak menderita hipotiroid. Walaupun demikian, hipotiroid dapat dijumpai pula akibat kekurangan yodium, konsumsi obat tertentu, riwayat operasi atau radiasi pada kelenjar tiroid, serta pada penyakit autoimun.

3. Kelebihan Hormon Kortisol

Kortisol adalah suatu hormon steroid yang secara alamiah dapat dihasilkan oleh kelenjar adrenal tubuh. Hormon kortisol dapat mempengaruhi kerja jantung, sistem saraf, maupun ginjal. Hormon ini juga berperan penting dalam pengaturan metabolisme, tekanan darah, kekebalan tubuh, dan respon stress. Cushing Syndrome adalah penyakit yang disebabkan oleh kelebihan hormon kortisol dalam tubuh. Penyakit ini dapat terjadi akibat terlalu banyak mengonsumsi obat golongan kortikosteroid maupun adanya tumor di hipofisis yang berperan dalam mengatur hormon tubuh.  Kadar kortikosteroid yang terlalu tinggi dalam darah menyebabkan peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar gula darah, pengeroposan tulang, kehilangan massa otot, dan mudah terkena infeksi. Pertumbuhan anak dapat terhambat sehingga perawakan tampak pendek.

4. Diabetes Melitus

Gangguan pertumbuhan dapat dijumpai pada pasien diabetes melitus dengan kadar gula darah yang tidak terkontrol. Pada beberapa kasus, diabetes melitus juga dapat diiringi dengan kelainan autoimun lain seperti hipotiroid. Seperti yang telah dijelaskan pada poin sebelumnya, hipotiroid dapat menghambat pertumbuhan seorang anak.

Diagnosis kelainan hormonal dapat ditegakkan melalui pemeriksaan dokter yang ditunjang oleh hasil laboratorium dan radiologi. Saat ini sudah tersedia pengobatan bagi anak yang menderita gangguan pertumbuhan akibat kelainan hormonal, dengan catatan semakin awal diagnosis ditegakkan akan semakin baik bagi keberhasilan pengobatan. Untuk itu, lakukan skrining atau pemeriksaan pertumbuhan secara berkala pada anak. Apabila didapatkan keluhan tubuh pendek, berkonsultasilah dengan dokter spesialis anak untuk menentukan diagnosis dan menentukan apakah diperlukan rujukan ke dokter ahli endokrin anak.

 

Sumber : dr. Wiranty Ramadhani


23_Juli_2018_03-1200x1199.png

September 7, 2018 Uncategorized

Salah satu ciri bangsa maju adalah bangsa yang memiliki tingkat kesehatan, kecerdasan, dan produktifitas kerja yang tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh asupan gizi, agar dapat menikmati hidup dalam keadaan sehat. Orang tua bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak melalui pola makanan gizi seimbang. Namun, pentingnya pola makan gizi seimbang juga perlu dipahami oleh para guru di lingkungan sekolah. Mengingat sebagian besar anak-anak kita merupakan peserta didik yang sebagian besar waktunya berada di Sekolah. Dengan kata lain kita semua baik itu guru dan orang tua bertanggung jawab atas pentingnya gizi seimbang bagi anak.

Pola makan merupakan perilaku paling penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi. Keadaan gizi yang baik dapat meningkatkan kesehatan individu dan masyarakat. Pola makan yang baik adalah berpedoman pada Gizi Seimbang.

Konsep Empat Sehat Lima Sempurna yang dipopulerkan Bapak Gizi Indonesia, Prof. Poerwo Soedarmo sekitar tahun 1952 sudah tidak lagi digunakan, kini sudah berkembang dan disempurnakan menjadi Pedoman Gizi Seimbang (PGS).

 

Pedoman tersebut menggantikan slogan “4 Sehat 5 Sempurna” yang telah diperkenalkan sejak tahun 1952 dan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam bidang gizi serta masalah dan tantangan yang dihadapi. Tahun 1990 an kita sudah punya Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). Lebih dari 15 tahun lalu Pedoman Gizi Seimbang telah dikenalkan dan disosialisasikan kepada masyarakat, namun masih banyak masalah dan kendala dalam sosialisasi Gizi Seimbang sehingga harapan untuk merubah perilaku gizi masyarakat ke arah perilaku gizi seimbang belum sepenuhya tercapai. Konsumsi pangan belum seimbang baik kuantitas maupun kualitasnya, dan perilaku hidup bersih dan sehat belum memadai. Memperhatikan hal diatas telah tersusun Pedoman Gizi Seimbang yang baru, pada tanggal 27 Januari 2014 lalu telah diselenggarakan workshop untuk mendapat masukan dari para pakar pemerintah serta non pemerintah, lintas sektor, lintas program dan organisasi profesi.

Pedoman Gizi Seimbang baru ini sebagai penyempurnaan pedoman-pedoman yang lama, bila diibaratkan rumah maka ada 4 (empat) pilar prinsip yang harus dipenuhi agar rumah tersebut dapat berdiri, yaitu :

 

Memantauan BB normal merupakan hal yang harus menjadi bagian dari ‘Pola Hidup’ dengan ‘Gizi Seimbang’, sehingga dapat mencegah penyimpangan BB dari BB normal, dan apabila terjadi penyimpangan maka dapat segera dilakukan langkah-langkah pencegahan dan penanganannya.

Pesan-pesan PGS, baru

1.    Syukuri dan nikmati anekaragam makanan;

2.    Banyak makan sayuran dan cukup buah-buahan;

3.    Biasakan mengonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi;

4.    Biasakan mengonsumsi anekaragam  makanan pokok;

5.    Batasi konsumsi pangan manis, asin dan berlemak;

6.    Biasakan Sarapan;

7.    Biasakan minum air putih yang cukup dan aman;

8.    Biasakan membaca label pada kemasan pangan;

9.     Cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir;

10.  Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan pertahankan berat badan normal

Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa “stunting” pada Balita dan prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) makin meningkat. Perhatian terhadap masalah gizi ganda juga perlu lebih ditingkatkan, disamping masih banyak yang kekurangan gizi, masalah gizi lebih juga meningkat. laporan Riskesdas 2013 sejumlah 32,9% wanita dewasa dan 19,7% pria dewasa mengalami obesitas (IMT >25,0) yang berisiko terhadap berbagai gangguan kesehatan atau penyakit.

Apakah kita sudah menerapkan Gizi Seimbang hari ini…? Makan beranekaragam, Hidup bersih dan sehat, lakukan aktifitas fisik dan pantau Berat Badan anda secara berkala agar tubuh sehat dan hidup kita akan lebih produktif. PGS yang baru ini dilengkapi pula dengan pesan visualisasi untuk konsumsi kita sehari-hari yang digambarkan “Tumpeng”, dan konsumsi makanan untuk sekali makan digambarkan “Piring makanku” panduan sekali makan.

Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.

 

Sumber : Kemenkes RI

 


23.08.2018.jpg

August 23, 2018 Uncategorized

Sindrom Turner adalah penyakit akibat kelainan genetik yang hanya terjadi pada wanita. Kelainan ini dapat dijumpai sekitar 1 diantara 2.500 kelahiran bayi perempuan. Pada Sindrom Turner, kromosom X hilang sebagian atau seluruhnya (monosomi). Setiap orang dilahirkan dengan 23 pasang kromosom, di mana sepasang di antaranya merupakan kromosom seks. Seorang ibu akan selalu menyumbangkan kromosom X kepada anaknya, sedangkan seorang ayah menyumbangkan kromosom X atau Y kepada anaknya. Kromosom seks inilah yang menentukan jenis kelamin seseorang.

Anak dengan jenis kelamin laki-laki mendapatkan kromosom X dari Ibu dan Y dari Ayah, sedangkan anak perempuan mendapatkan kromosom X dari Ibu dan Ayahnya. Perempuan dengan Sindrom Turner hanya memiliki satu buah kromosom X yang normal. Kromosom X pasangannya bisa jadi rusak atau hilang sama sekali.

Penyakit ini dilaporkan pertama kali oleh seorang dokter yang bernama Henry Turner pada tahun 1938, karena itu kondisi ini disebut dengan nama sindrom Turner.

Sindrom Turner dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:

  • Sindrom Turner klasik. Ini adalah kondisi ketika satu dari dua kromosom X hilang sepenuhnya.
  • Sindrom Turner mosaik. Ini adalah kondisi ketika kromosom X lengkap pada sebagian besar sel, tapi pada sel lainnya ada sebagian yang hilang atau terjadi kelainan. Pada beberapa sel terkadang terdapat sepasang atau dua pasang kromosom X yang lengkap, tapi ini jarang terjadi.

Sindrom ini bisa menyebabkan berbagai gangguan medis maupun gangguan dalam perkembangan fisik, misalnya berpostur pendek, gagal memulai masa puber, kemandulan, kelainan jantung, susah beradaptasi secara sosial, dan kesulitan dalam mempelajari sebagian hal.

Gejala yang muncul antara penderita yang satu dengan yang lainnya dapat berbeda-beda , tergantung usia penderita. Gejala Sindrom Turner dapat muncul sejak masa kehamilan, seperti :

  • Pembengkakan pada tangan dan kaki. Hal ini disebabkan oleh penimbunan cairan pada jaringan di sekitarnya. Gejala ini akan menghilang setelah kelahiran.
  • Kelainan jantung.
  • Leher yang bengkak atau terlihat tebal.
  • Tubuhnya berukuran lebih kecil dari bayi normal.
  • Kelainan ginjal.
  • Pada usia remaja / dewasa, gejala yang paling sering dikeluhkan adalah postur pendek dan gangguan pubertas.

Gejala lain yang dapat dialami oleh penderita Sindrom Turner, antara lain :

  • Leher yang lebar.
  • Langit-langit mulut tinggi dan sempit.
  • Dada yang lebih bidang dan puting berjarak lebih jauh.
  • Rahang bawah mengecil.
  • Memiliki banyak tahi lalat.
  • Kelainan pada mata seperti mata juling (strabismus), mata malas (ambliopia), katarak, dan rabun jauh (miopi).
  • Kedua telinga dengan posisi lebih rendah.
  • Jari kaki dan tangan lebih pendek.
  • Lengan bengkok keluar pada bagian siku.
  • Kehilangan indera pendengaran.
  • Gangguan perhatian dan hiperaktif.
  • Pemahaman letak dan angka.
  • Kemampuan sosial.

Diagnosis Sindrom Turner dapat dilakukan sejak masa kehamilan dengan menggunakan USG. Pada USG dapat tampak gejala-gejala Sindrom Turner seperti: pembengkakan kaki dan tangan, gangguan jantung dan ukuran badan yang lebih kecil dari pada normal. Selain dengan USG, kelainan genetik pada janin juga dapat diperiksa melalui Amniocentesis (pengambilan sampel air ketuban).

Pada masa kanak-kanak, kecurigaan terhadap Sindrom Turner muncul berdasarkan kelainan fisik yang ada. Penderita Sindrom Turner memiliki tinggi badan rendah, leher yang lebar, dada yang bidang, jarak antas puting jauh, dan gangguan menstruasi akibat ovarium yang tidak berkembang.

Selain dengan mengenali gejala yang ada, cara pasti untuk mendiagnosis Sindrom Turner adalah dengan analisa kromosom untuk menganalisi komposisi kromosom.

 

 

Sumber:
Ikatan Dokter Anak Indonesia
www.alodokter.com

 


promo-difteri-agt-1200x865.jpg

August 7, 2018 Uncategorized

Penyakit Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium, ditandai dengan adanya peradangan pada tempat infeksi, terutama pada selaput bagian dalam saluran pernapasan bagian atas, hidung dan juga kulit. Penyakit ini sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada 5-10% penderita.

ORI (outbreak response immunization) adalah kegiatan imunisasi tambahan yang khusus dilakukan di daerah yang mengalami kejadian luar biasa (KLB), sebanyak 3 putaran dengan jarak antara dosis pertama – kedua adalah 1 bulan, dan antara dosis kedua – ketiga adalah 6 bulan, dengan ketentuan sebagai berikut :

  • Imunisasi DPT-HB-Hib untuk anak usia < 5 tahun
  • Imunisasi DT untuk anak usia 5 sampai < 7 tahun
  • Imunisasi Td untuk anak usia > 7 tahun

Lalu apakah pentingnya imunisasi tahap 3 ? ORI difteri perlu dilakukan selama 3 kali untuk membentuk kekebalan tubuh dari bakteri Corynebacterium diptheriae. Imunisasi dilakukan agar balita dan anak-anak kebal terhadap penyakit difteri, tapi bukan kebal seumur hidupnya melainkan harus diulang dalam 10 tahun sekali.

Dengan mendapatkan imunisasi ulang difteri, antibodi anak meningkat, risiko terkena penyakit yang bisa mematikan ini pun menurun.

 


05072018.jpg

July 5, 2018 Uncategorized

Masa liburan sekolah merupakan masa yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Para orang tua biasanya sudah merencanakan liburan yang mengesankan bagi anak-anak. Namun, tahukah Anda bahwa setiap berkunjung ke suatu tempat yang baru, maka Anda berisiko terkena berbagai penyakit baru? Untuk itu diperlukan persiapan yang matang, terutama bagi Anda yang berniat untuk merencanakan berlibur ke daerah endemis. Salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi adalah Japanese Encephalitis.

 

Apakah itu Japanese Encephalitis ?

penyakit JE merupakan suatu penyakit akibat infeksi virus Japanese Encephalitis. Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini merupakan penyebab radang otak tersering di sebagian besar Asia dan sebagian Pasifik Barat, termasuk di Indonesia. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1871 dengan sebutan “summer encephalitis”.

 

Virus ini ditularkan melalui hewan (seperti babi dan burung rawa) ke Manusia melalui perantara nyamuk  Culex tritaeniorhynchus yang sudah terinfeksi. Biasanya nyamuk ini lebih aktif pada malam hari. Nyamuk golongan Culex ini banyak terdapat di persawahan dan area irigasi. Angka kejadian penyakit JE pada manusia biasanya meningkat pada musim hujan. Peningkatan penularan penyakit ini disebabkan beberapa faktor risiko, antara lain: 1) Peningkatan populasi nyamuk pada musim hujan; 2) Tidak adanya antibodi spesifik JE baik yang didapat secara alamiah maupun melalui imunisasi; 3) Tinggal di daerah endemik JE; serta 4) Perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan digigit oleh nyamuk misalnya tidur tanpa menggunakan kelambu.

 

Infeksi virus JE ini dapat menimbulkan gejala ringan, seperti demam, mual, dan sakit kepala, ataupun gejala berat seperti kejang, koma, dan penurunan kesadaran, hingga kematian. Gejala berat ini dikenal sebagai ensefalitis. Sekitar 1 dari 4 penderita ensefalitis JE mengalami kematian, sedangkan setengah penderita yang mampu bertahan mengalami cacat permanen.

 

Penyakit yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan ini dapat dicegah dengan pemberian vaksin Japanese Encephalitis. Pemberian vaksin ini sudah terbukti sangat efektif dalam mencegah dan menurunkan beban akibat dari penyakit ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian vaksin JE di daerah endemis termasuk di Indonesia. Vaksin yang digunakan merupakan virus hidup yang dilemahkan. Vaksin ini direkomendasikan untuk anak usia >12 bulan. Pada Anak usia 12 bulan hingga 18 tahun diberikan 1 dosis vaksin dan perlu mendapatkan dosis booster pada 1-2 tahun kemudian.


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2018. Website oleh Equitiga.

Free WordPress Themes