Pantau Pertumbuhan Anak Guna Diagnosis Dini Kesehatannya

September 19, 2016
pantau-pertumbuhan-anak.jpg

2 tahun pertama pertumbuhan Si Kecil, atau kerap disebut golden age, merupakan masa di mana pertumbuhan anak sangat pesat, sehingga perhatian orangtua pada periode itu sangatlah dibutuhkan. Namun bukan berarti setelah masa 2 tahun terlewati lalu perhatian Anda pada anak jadi berkurang ya, Mamas. Karena pertumbuhan anak tak berhenti sampai disitu saja. Setidaknya Anda harus tetap memantau masa pertumbuhan anak hingga usia pubertas.

Dalam rangka memperingati International Children’s Growth Awareness Day (Hari Kesadaran Pertumbuhan Anak Internasional), AP&AP Pediatric, Growth and Diabetes Center bekerja sama dengan PT Novo Nordisk Indonesia, mengingatkan masyarakat akan pentingnya pemantauan dan perencanaan pertumbuhan anak secara rutin. Hal ini penting dilakukan untuk membantu diagnosis dini apabila ditemukan potensi masalah kesehatan pada anak. Diharapkan para orang tua selalu melakukan check up rutin, termasuk mengukur dan menargetkan milestone pertumbuhan anak selama masa tumbuh kembangnya, dan segera meminta bantuan medis jika pertumbuhan anak menunjukkan tanda-tanda gangguan atau kemunduran.

Hal ini dilandasi karena seringkali terjadi masalah kesehatan pada anak yang sulit teridentifikasi. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar praktisi kesehatan hanya memantau pertumbuhan anak secara rutin hingga usia dua tahun. Dengan melakukan diagnosis dini dan memulai pengobatan yang tepat sedini mungkin, orangtua dapat memberikan anak-anak mereka kesempatan terbaik untuk menjalankan hidup sehat dan normal.

Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA(K) selaku dokter spesialis anak konsultan endokrinologi dari AP&AP Pediatric, Growth and Diabetes Center menjelaskan, “Pertumbuhan tinggi dan berat badan adalah salah satu indikator terpenting untuk menilai kesehatan, status nutrisi dan latar belakang genetik anak. Anak berperawakan pendek berisiko tumbuh dewasa dengan tubuh pendek, selain itu perlu diwaspadai kemungkinan adanya gangguan pada perkembangan otak, kemampuan kognitif (kecerdasan) dan gangguan metabolisme tubuh lainnya.”

Dan Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan jumlah balita pendek di dunia pada tahun 2012 mencapai 162 juta, dan 56% diantaranya terdapat di wilayah Asia. Dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, prevalensi balita pendek di Indonesia adalah yang tertinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2013 menunjukkan 37,2% balita termasuk kategori pendek dan sangat pendek. Sementara data DKI Jakarta menunjukkan terdapat sekitar 27,5% balita yang masuk dalam kategori ini.

Sebenarnya, beberapa masalah kesehatan terkait pertumbuhan anak dapat didiagnosis sejak lahir, namun dalam beberapa kasus diagnosis baru akan ditegakkan setelah orangtua, dokter spesialis anak atau guru mengamati bahwa seorang anak mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan teman sebayanya. Pada umumnya, anak-anak yang berperawakan kecil sebenarnya memiliki pola tumbuh kembang yang normal dan tetap dalam kondisi bugar dan juga sehat lho, Mamas. Namun, pertumbuhannya mengalami gangguan atau kemunduran sehingga diperlukan konsultasi dengan pakar kesehatan untuk mengatasi masalah ini.

Kondisi yang memengaruhi pertumbuhan anak ini juga dapat memengaruhi penglihatan, pendengaran, hati, paru-paru dan tulang anak. Dan jika tidak diatasi bahkan dapat mengurangi tingkat harapan hidup. Pertumbuhan yang terhambat juga dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis dan emosional anak. Seperti contohnya, anak-anak yang  pendek lebih sering menjadi korban bullying dan cenderung kurang percaya diri di sekolah.

Untuk mengatasi masalah atau gangguan pertumbuhan, caranya bervariasi tergantung pada penyebabnya, mulai dari memperbaiki pola makan anak hingga memberikan pengobatan untuk penyakit yang mendasarinya. “Diagnosis yang terlambat akan memberikan beban fisik dan psikologis pada anak dan keluarganya. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memantau pertumbuhan anak secara rutin dan berkelanjutan serta merencanakan milestone pertumbuhan anak hingga usia pubertas. Orang tua dan pengasuh memiliki peran penting dalam mengenali perubahan pola pertumbuhan anak, sehingga bila ada gangguan pertumbuhan dapat segera dilakukan diagnosis dan pengobatan tepat secara dini oleh praktisi kesehatan,” tutup Dr. dr. Aman.

Klinik AP&AP Pediatric, Growth, Diabetes Center sendiri merupakan klinik dengan fasilitas pelayanan yang mendukung deteksi dan intervensi kelainan pertumbuhan. Untuk info lebih lanjut mengenai gangguan pertumbuhan anak, Anda dapat mengunjungi AP&AP di Main Lobby Gedung Tempo Pavilion 2, Jl. H.R. RAsuna Said Kav. 10, Kuningan Timur Jakarta Selatan atau melalui telepon di 021-29667797/98.

 

Sumber: smartmama.com

Comments

comments

Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2019. Website oleh Equitiga.

×

Pelayanan via WhatsApp didalam jam kerja:
Senin sd Jumat pkl. 10.00 - 17.00 WIB
Sabtu pkl. 10.00 - 12.00 WIB
Minggu dan hari libur tutup.

× klik disini untuk chat