dokter-aman.v2 (1).jpg

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Aman Bhakti Pulungan, menambahkan “Obesitas adalah penyakit terkait faktor genetik, lingkungan, pola makan, dan aktivitas.”

Dalam riset yang dilakukan oleh Dr. dr. Aman B Pulungan, SpA (K) tahun 2013, dari 92 orang remaja dengan obesitas di Jakarta, 38% di antara nya ada ciri resisten insulin yang bisa menjadi Diabetes karena pola asuh salah.

Dikutip dari Kompas, 11 April 2019



Jenis DM.jpg

 

WASPADA DIABETES MELITUS

Diabetes Melitus (DM) adalah suatu kondisi gangguan metabolik tubuh dimana gula darah yang beredar di tubuh melebihi normal. Penyakit ini bersifat kronik dan berpotensi menyebabkan komplikasi yang berbahaya.

dokter-aman.jpg

Diabetes Melitus (DM) lebih dikenal sebagai penyakit yang banyak terjadi pada orang dewasa. Namun, pada kenyataannya DM dapat terjadi pada anak – anak dan kondisi DM dapat mengganggu tumbuh kembang anak.

Berdasarkan data, jumlah anak yang menderita DM pada tahun 1980 sebanyak kurang dari 100 anak.   Jumlah ini terus bertambah hingga tercatat sekitar 1000 anak menderita DM pada tahun 2014. Hal ini terjadi karena lebih terpaparnya awam tentang kondisi DM pada anak.

1.jpg

Pada dasarnya, ada 2 jenis DM yang paling banyak terjadi pada anak – anak, yaitu Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2. Diabetes Tipe 1 terjadi karena sel beta pankreas tubuh yang tidak mampu berfungsi secara baik untuk memproduksi insulin yang bertugas mengatur gula darah dalam tubuh. Oleh karena itu, DM Tipe 1 dikontrol dengan pemberian insulin.

Sedangkan, pada DM Tipe 2, kadar insulin yang diproduksi tubuh normal namun terjadi resistensi insulin. Hal ini biasanya disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat dan kondisi obesitas. Oleh karena itu, pengaturan pola hidup yang sehat dan seimbang dapat membantu mengontrol kondisi DM Tipe 2.


tata-laksana-dbd.jpg

February 1, 2019 ArtikelKesehatan Anak

Setelah mengetahui tentang demam berdarah dengue serta tanda bahayanya, Ayah Bunda juga perlu mengetahui bagaimana pertolongan pertama yang dapat diberikan jika buah hati Anda terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Berikut pertolongan pertama yang dapat Anda berikan, antara lain :

  • Cukupi kebutuhan cairan tubuh anak Anda
  • Berikan paracetamol untuk menurunkan demam dan nyeri tubuh
  • Jangan berikan obat-obatan seperti Ibuproven/AINS (obat anti-peradangan non steroid lainnya) karena dapat meningkatkan risiko gangguan lambung dan perdarahan
  • Kompres dengan air hangat

Jika telah melalukan pertolongan pertama tersebut, akan tetapi tidak ada perubahan atau kondisi Anak semakin memburuk. Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis


dbd-1200x1309.jpg

January 29, 2019 ArtikelKesehatan Anak

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Iklim tropis dan peningkatan curah hujan merupakan salah satu faktor yang mendukung kehidupan virus dengue dan vektor nyamuk, oleh karena itu bulan Januari-Maret 2019 rentan terjadi peningkatan angka kejadian DBD.

 


25.01.19-1.jpg

January 25, 2019 ArtikelKesehatan Anak

Prevalensi penduduk dengan berat badan berlebih dan obesitas terus meningkat. Jika tak segera ditangani secara komprehensif, hal itu akan membebani pembangunan dan ekonomi bangsa.

 

Kegemukan dan obesitas terjadi akibat tak seimbangnya jumlah asupan kalori ke tubuh dengan kalori yang dibakar lewat aktivitas fisik. Hal itu membuat pencegahan obesitas pada anak menjadi penting. Meski Pemerintah berhasil menekan prevalensi kegemukan anak balita, obesitas pada orang dewasa naik.

 

Pada anak, obesitas banyak muncul saat anak duduk di bangku sekolah dasar. Menginjak remaja yaitu SMP-SMA, mereka mulai memperhatikan bentuk tubuh sehingga prevalensi obesitasnya turun. Namun, tak jarang remaja terjebak dalam diet yang membahayakan diri.

 

“Selain akibat kalori dari karbohidrat dan lemak berlebih, anak umumnya mengalami obesitas karena kurang gerak,” ujar Ketua Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Damayanti Rusli Sjarif di Jakarta, Rabu (23/1/2019).

 

Hari Gizi Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 Januari bisa jadi momentum mencegah diabetes pada anak lewat diet dan aktivitas fisik memadai. Dalam keseharian, anak Indonesia banyak mengonsumsi makanan tinggi lemak dan garam serta minuman tinggi gula. Disaat bersamaan, kemajuan teknologi digital dan gawai membuat anak minim aktivitas fisik.

 

“Aktivitas fisik jadi komponen utama energy expenditure (pengeluaran energi), yakni 20-50%,” tulis Ayu Aprilia dalam, “Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar” di Majority, jurnal kedokteran Universitas Lampung, Juni 2015.

 

Penting sekali untuk melakukan pencegahan obesitas pada anak dikarenakan 75% anak gemuk akan jadi obesitas saat dewasa serta berisiko tinggi terkena penyakit, bahkan sampai dengan kematian yang diakibatkan penyakit kardiovaskular dan diabetes. Kegemukan pada anak memicu kian besarnya beban pada otot dan tulang rangka.

 

Saat ini, Pemerintah bisa menekan prevalensi gemuk pada anak balita dari 11,9% di tahun 2013 menjadi 8% pada tahun 2018. Namun hal itu jauh dari batas yang ditetapkan WHO pada 2010 bahwa suatu negara tak memiliki soal gizi jika anak balita gemuknya kurang dari 5%. Sehingga dibutuhkan kerja keras dari banyak pihak, baik itu dari Pemerintah maupun warga. Kini ada Surat Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah guna mendorong mutu kesehatan siswa di sekolah. Kenyataannya, hanya sekolah yang bisa menyediakan jajanan sehat di sekolah dan aktivitas fisik luar ruang.

Penurunan angka stunting atau anak balita bertubuh pendek akibat kurang gizi kronis yang digarap banyak kementrian beberapa tahun terakhir dapat menjadi contoh. Dengan penanganan komprehensif, obesitas pada anak bisa diatasi.

 

Diringkas dari Artikel berjudul “Obesitas Jadi Ancaman” pada harian Kompas, Kamis, 24 Januari 2019


Anggita-Hapsari.jpg

January 3, 2019 Kesehatan Anak

Anggita Hapsari, yang akrab disapa  Ghea, lahir di Jakarta. Beliau menyelesaikan pendidikannya dalam bidang psikologi di Massey University, Auckland, Selandia Baru. Kemudian  mendapatkan gelar Magister Psikologi khususnya Psikologi Klinis Anak dari Universitas Indonesia (UI). Untuk menajamkan dan meningkatkan kemampuannya, Ibu Ghea mengikuti banyak pelatihan diantaranya adalah DIR Floor Time, Therapeutic Listening, Symposium Child Health & Mental Institution, Training for Trainers Sex Education, Emotional Movement Desentization Regulation, Play Therapy, Theraplay.

 

Sebagai psikolog anak, Ibu Ghea memberikan konsultasi dan pendampingan pada anak dan remaja pada umumnya, maupun pada anak yang mengalami Autistic Spectrum Disorder, Asperger Syndrome, Learning Disorder, Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD), gangguan perilaku, masalah perilaku, masalah emosi, masalah depresi dan kecemasan, dan masih banyak lagi masalah psikologis lainnya.

 

Pengalaman beliau sebagai klinisi, konsultan, pengajar, pembicara, narasumber di berbagai institusi dan kegiatan, telah membentuk ibu Ghea menjadi psikolog anak yang memiliki kekuatan pada pemberian bimbingan & konseling yang menenangkan, dan mendidik anak-anak, sekaligus memberikan edukasi kepada orang tua tentang cara-cara mendidik  dari aspek psikologis. Ayah Bunda dapat berkonsultasi seputar permasalahan psikologi anak kepada Ibu Ghea dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu di Klinik AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center setiap hari Rabu.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami melalui nomer telepon (021) 22057020/22 atau Hp/Whatsapp 0857 1566 3038.


IMG_4902-Copy-1200x1235.jpg

Memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan dokter sebelum pergi berlibur akan memberikan banyak manfaat.

Pertama, Bunda dapat memeriksakan kondisi fisik dan mengetahui kesiapan fisik untuk bepergian. Utarakanlah pada dokter bahwa Bunda dan keluarga akan berlibur, jelaskan rencana kegiatan yang akan dilakukan dan konsultasikan apakah kondisi kesehatan Bunda dan sekeluarga kira-kira akan menjadi masalah atau tidak.

Kedua, setelah mengetahui keadaan kesehatan secara persis, mintalah petunjuk apa yang perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya gangguan kesehatan selama bepergian. Bila perlu minta dokter untuk memberikan resep obat-obatan cadangan yang kiranya dapat berguna bila masalah kesehatan muncul. Minta pula penjelasan mengenai tindakan pertolongan pertama apa saja yang harus dilakukan jika hal itu terjadi.

Ketiga, bila Bunda atau anggota keluarga yang ikut bepergian memiliki penyakit khusus yang cukup serius dan mungkin kambuh, Bunda harus mendiskusikannya dengan dokter. Penyakit yang perlu mendapat perhatian antara lain penyakit asma, epilepsi, alergi yang hebat, darah tinggi, kelainan jantung, gangguan pernapasan kronik, kelainan darah dan sebagainya.

Informasikan pula mengenai lokasi berlibur. Perlu diingat, beberapa daerah memiliki risiko penyakit yang berbeda-beda. Bepergian ke beberapa daerah di Indonesia bagian timur memiliki risiko terkena penyakit malaria. Demikian pula bila bepergian ke luar negeri, khususnya ke benua Afrika dan beberapa wilayah Asia yang masih memiliki beberapa penyakit berbahaya. Konsultasikanlah cara pencegahannya dan bila perlu minta dilakukan vaksinasi khusus jika memang telah ada.

Diskusikan juga tentang informasi alamat dan nomor telepon fasilitas medis yang ada di sekitar lokasi berlibur yang dituju. Bila sang dokter tidak keberatan, minta nomor teleponnya yang bisa dihubungi sewaktu-waktu. Ini akan sangat berguna bila Ayah Bunda perlu berkonsultasi masalah kesehatan yang darurat dan tidak menemukan fasilitas kesehatan disekitar lokasi berlibur

Ke mana sebaiknya memeriksakan diri ?

Idealnya Bunda pergi ke travel clinic, yaitu klinik yang memberikan pelayanan kedokteran wisata (travel medicine). Di klinik ini, Bunda dapat berkonsultasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan perjalanan yang direncanakan. Sayangnya, saat ini di Indonesia belum banyak klinik semacam ini, berbeda dari negara maju yah sudah memiliki banyak travel clinic. Sebagai alternatif, Bunda dapat mencari dan berkonsultasi pada dokter yang memiliki kompetensi dalam bidang kedokteran wisata. Jika hal ini juga masih sulit, Bunda juga dapat berkonsultasi dengan dokter keluarga langganan.

Apakah semua rencana bepergian perlu dikonsultasikan?

Jika Bunda hanya pergi 1-2 hari ke daerah yang tidak terlalu jauh, kemungkinan besar tidak perlu berkonsultasi. Lain halnya bila Bunda hendak pergi dalam waktu yang cukup lama dan ke lokasi yang cukup jauh pula, apalagi bila sampai ke negeri orang. Walau bagaimanapun, mencegah lebih mudah dan lebih baik. Lebih baik repot sedikit diawal bepergian daripada rencana liburan menejadi berantakan.

Obat-obatan apa saja yang perlu dipersiapkan ?

Bila si kecil memiliki penyakit khusus atau sedang dalam pengobatan tertentu, Bunda harus meminta kepada dokter untuk meresepkan obat tersebut. Bila perlu, mintalah surat keterangan dari dokter mengenai penyakitnya. Hal ini dapat berguna bila bepergian dengan pesawat atau jika si kecil perlu berkonsultasi dengan dokter di tempat tujuan.

Bila si kecil sehat-sehat saja dan tidak sedang dalam pengobatan tertentu, namun akan bepergian dalam waktu cukup lama, apa yang harus diperhatikan ?

Bawalah perlengkapan kesehatan dan obat-obatan, seperti termometer digital, obat demam, obat antimual-muntah, obat anti alergi, obat anti-diare, serta obat anti-batuk pilek. Bila si kecil memiliki riwayat kejang demam bawalah obat anti-kejang. Hal ini akan sangat membantu untuk pertolongan pertama seandainya si kecil mengalami salah satu gejala diatas.

Bila si kecil sudah menginjak balita bawa juga cairan desinfeksi, kapas, dan plester. Pada usia ini, anak cenderung berlari ke sana kemari untuk mengeksplorasi sekitarnya dan cenderung terjatuh serta mengalami luka pada kulit.

Untuk obat-obatan khusus, perlu dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter. Misal, Bunda akan bepergian ke daerah yang masih endemis malaria, mintalah dokter untuk meresepkan obat pencegahan terhadap malaria. Tentunya Bunda akan diajari cara penggunaan obat tersebut.

Bagaimana jika anak mengalami sakit berkepanjangan di tempat berlibur ?

Jangan ragu untuk membawanya berkonsultasi dengan dokter di tempat tersebut. Kadang, karena terlalu excited, anak bermain berlebihan sehingga ia tidak sadar bahwa dirinya terlalu capai. Keadaan ini dapat menyebabkan anak menjadi mudah sakit.

Bagaimana cara mempersiapkan mental anak sebelum bepergian ?

Pada anak balita, sebelum pergi, ajak ia ikut membereskan koper dan barang-barang yang akan dibawa. Si kecil akan mengerti dan senang. Terangkan juga mengenai hal-hal yang akan ia alami, misalnya saat bepergian dengan mobil, Bunda dapat menceritakan bahwa anak akan berada di mobil dalam waktu lama, atau saat akan bepergian dengan pesawat, Bunda dapat menceritakan tentang kondisi di pesawat dan bahwa ia tidak boleh berteriak-teriak di dalam pesawat. Hal ini dapat membantu anak untuk mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Barang-barang apa saja yang perlu dibawa ?

Pakaian dan perlengkapan lain yang sesuai dengan tempat tujuan harus dipersiapkan matang-matang. Selain perlengkapan tersebut, ingatlah juga untuk membawa hal-hal berikut ini : mainan anak, lagu anak, snack, bantal travel untuk anak, kantong muntah, permen pedas, minyak kayu putih atau minyak lainnya yang berbau segar, dan car seat bila Bunda bepergian dengan mobil dan membawa bayi atau balita. Pertimbangkan pula untuk membawa stroller bila melakukan perjalanan jauh.

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi,Sp.A


dr.-Marissa-1200x854.jpg

Apakah benar anak yang sedang menderita penyakit infeksi tidak boleh bersekolah?
Memang benar bersekolah itu penting, namun kesehatan anak jauh lebih penting dibandingkan bersekolah dalam keadaan sakit. Saat sakit tubuh anak sebenarnya sedang berjuang melawan penyakitnya, sehingga sebaiknya anak beristirahat di rumah agar tubuh dapat berjuang secara maksimal melawan penyakit dikarenakan ketahanan tubuh anak masih rentan. Anak yang sedang sakit tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar. Anak yang sedang mengalami penyakit infeksi dapat menularkan penyakitnya ke anak lain sehingga dapat terjadi wabah di sekolah sebab anak-anak belum memiliki sistem daya tahan tubuh yang kuat
Berikut beberapa penyakit menular pada anak beserta penularannya :
Varisela / cacar air
Menular melalui udara atau kontak langsung. Isolasi dilakukan kira-kira sampai 5 hari, sejak kelainan kulit timbul atau sampai vesikel (bintil di kulit) mengering. Vaksina varisela sudah tersedia dan masuk dalam rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Pencegahan
Cegah dengan vaksinasi. Untuk mencegah kemungkinan terkena atau tertular cacar air dapat diberikan vaksinasi. Kalaupun terkena setelah vaksinasi, biasanya tidak sampai parah.

Vaksinasi biasanya diberkan pada usia satu tahun ke atas. Karena pada usia ini bayi sudah tidak lagi memiliki kekebalan tubuh dari ibunya. Daya lindung vaksin ini bisa mancapai 97% dan dapat diulang saat balita berumur 5 tahun.

Hepatitis B dan C
Sumber penularannya adalah cairan tubuh. Tidak perlu melakukan isolasi total pada penderita Hepatitis B dan C, cukup menghindari kontak dengan cairan tubuh. Pencegahan yang paling penting adalah dengan melakukan vaksinasi Hepatitis B, sementara untuk Hepatitis C belum ada vaksinasinya.
Hepatitis A
Sumber penularannya adalah kontaminasi dari kotoran (feses) penderita, yang kemudian masuk ke dalam saluran cerna, jadi tidak perlu isolasi. Yang perlu dilakukan adalah menjaga kebersihan makanan dan minuman.
Campak
Penularan terjadi melalui udara dan isolasi dilakukan sejak timbul rash (kelainan di kulit) sampai 4 hari setelahnya.
Gondongan atau mumps
Penularan terjadi melalui droplet atau cipatran ludah. Isolasi sebaiknya dilakukan 5 hari sejak munculnya gejala pembengkakan kelenjar ludah. Gondongan biasanya diikuti oleh gejala lain seperti demam, lemas, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, dan nyeri otot. Penyakit menular yang biasa terjadi di sekolah ini tidak membutuhkan pengobatan khusus dan bisa sembuh dalam beberapa minggu. Gondongan dapat dicegah dengan vaksinasi MMR.

Cara Mencegah Terkena Penyakit Menular di Sekolah

Anak-anak lebih rentan tertular karena mereka cenderung melakukan kontak fisik yang dekat satu sama lain dan berbagi barang-barang pribadi dengan teman-temannya. Agar Si Kecil tidak mudah sakit, lakukan pencegahan dan kebiasaan sehat berikut:

  • Ajarkan Si Kecil kebiasaan cuci tangan yang benar
  • Berikan vaksinasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh IDAI
  • Ajarkan anak agar tidak berbagi barang pribadi dengan teman-temannya. Jika anak tinggal di asrama, bekali dia dengan barang pribadi yang cukup, seperti seprai, alat makan, dan handuk, agar tidak perlu meminjam pada anak lain.
  • Jaga kebersihan lingkungan rumah dan sekolah, terutama kebersihan makanan dan toilet.

Berikan Si Kecil makanan bergizi seimbang, termasuk sayuran dan buah-buahan. Menu makanan sehat dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah mengalami penyakit menular yang sering terjadi di sekolah. Jika perlu, konsultasikan kondisi kesehatan Si Kecil pada dokter anak

 

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A

alodokter.com


IMG_4884-1200x835.jpg

December 11, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Kejang demam selalu menjadi momok bagi ayah bunda. Fenomena yang terjadi pada saat anak kejang, yaitu mata mendelik, kaku-kelojotan, dan lidah tergigit, tak ayal membuat orangtua panik. Namun benarkah kejang demam berbahaya? Apa saja yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang demam?

Kejang atau yang sering disebut oleh awam sebagai stuip sering menyebabkan kepanikan orangtua. Defini kejang demam adalah kejang yang terjadi pada anak usia di atas 1 bulan akibat demam (tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut, dan anak tidak pernah mengalami kejang tanpa demam sebelumnya). Dapat dikatakan kejang ini terjadi semata-mata karena proses demam itu sendiri.

Kapan kejang demam dapat terjadi ?

Kejang demam dapat terjadi pada anak usia 1 bulan hingga 5 tahun. Namun tidak semua anak mengalaminya. Adanya riwayat kejang demam dalam keluarga akan meningkatkan risiko terjadinya kejang demam pada anak. Anak yang pernah mengalami kejang demam sebelumnya juga memiliki risiko mengalami kejang kembali di kemudian hari saat demam.

Apa yang harus dilakukan saat anak mengalami kejang ?

  • Letakkan anak di tempat aman (jauhkan dari barang-barang yang berbahaya)
  • Longgarkan pakaian anak. Bila menggunakan jaket lepaskan
  • Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut (termasuk sendok, jari tangan, minuman atau kopi)
  • Berikan diazepam supposutoria (obat antikejang yang diberikan lewat dubur) sesuai dosis. (Lihat cara pemberian supposutoria di halaman 93)
  • Tunggu 5 menit
  • Bila kejang masih berlangsung berikan diazepam supposutoria 1 kali lagi
  • Bila kejang masih juga berlangsung segera bawa ke rumah sakit

Bagaimana cara memberikan obat kejang di rumah ?

Ingat,  diazepam supposutoria hanya boleh diberikan 2x selama di rumah. Bila sudah 2 kali pemberian dan anak masih kejang kemungkinan anak memerlukan obat anti kejang melalui jalur suntikan intravena. Dosis pemberian diazepam supposutoria adalah 5 mg untuk anak berbobot 5-10 kg dan 10 mg untuk anak dengan bobot >10kg, atau dosis lain yang diberikan oleh dokter anak,

Apa yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang ?

  • Suhu anak sebelum kejang
  • Berapa lama kejang berlangsung
  • Kejang yang terjadi seperti apa. Apakah seluruh tubuhnya atau hanya gerakan tangan/kaki yang berulang-ulang saja, ataukah gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Apakah kejang terjadi berulang dalam 24 jam? Bila berulang apakah diantara kejang anak bangun seperti biasa atau lebih cenderung tidur ?
  • Apakah terdapat kelainan setelah kejang, mulut anak menjadi mencong, misalnya

Kapan sebaiknya anak dibawa ke rumah sakit pada keadaan kejang demam ?

  • Bila kejang terjadi pada anak < 6 bulan
  • Bila anak baru pertama kalinya mengalami kejang
  • Kejang berlangsung >10 menit
  • Kejang didahului dengan gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Kejang berulang dalam 24 jam
  • Bila diantara kejang anak cenderung tidur terus
  • Bila terdapat kelainan setelah kejang, seperti mulut anak menjadi mencong

Apakah si kecil yang mengalami kejang demam perlu dirawat inap ?

Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam. Apabila terjadi kejang disertai demam di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, maka perlu disingkirkan penyebab kejang lainnya, misalnya epilepsi atau radang otak. Jika sesudah kejang anak tidak segera sadar kembali, lebih banyak tidur, atau tidak dapat mengadakan kontak dengan baik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab kejang lain, terutama radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis). Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan apabila anak pernah kejang tanpa demam. Keputusan perlu tidaknya perawatan inap akan diberikan oleh dokter spesialis anak yang menilai langsung keadaan anak.

 

Klinik AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center yang merupakan salah klinik anak di Jakarta. Konsultasikan kesehatan anak anda dengan dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu setiap hari Sabtu jam 10.00-12.00 WIB

 

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A


WhatsApp-Image-2018-12-03-at-19.17.21.jpeg

October 29, 2018 Kesehatan Anak

 


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2019. Website oleh Equitiga.