Anggita-Hapsari.jpg

January 3, 2019 Kesehatan Anak

Anggita Hapsari, yang akrab disapa  Ghea, lahir di Jakarta. Beliau menyelesaikan pendidikannya dalam bidang psikologi di Massey University, Auckland, Selandia Baru. Kemudian  mendapatkan gelar Magister Psikologi khususnya Psikologi Klinis Anak dari Universitas Indonesia (UI). Untuk menajamkan dan meningkatkan kemampuannya, Ibu Ghea mengikuti banyak pelatihan diantaranya adalah DIR Floor Time, Therapeutic Listening, Symposium Child Health & Mental Institution, Training for Trainers Sex Education, Emotional Movement Desentization Regulation, Play Therapy, Theraplay.

 

Sebagai psikolog anak, Ibu Ghea memberikan konsultasi dan pendampingan pada anak dan remaja pada umumnya, maupun pada anak yang mengalami Autistic Spectrum Disorder, Asperger Syndrome, Learning Disorder, Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD), gangguan perilaku, masalah perilaku, masalah emosi, masalah depresi dan kecemasan, dan masih banyak lagi masalah psikologis lainnya.

 

Pengalaman beliau sebagai klinisi, konsultan, pengajar, pembicara, narasumber di berbagai institusi dan kegiatan, telah membentuk ibu Ghea menjadi psikolog anak yang memiliki kekuatan pada pemberian bimbingan & konseling yang menenangkan, dan mendidik anak-anak, sekaligus memberikan edukasi kepada orang tua tentang cara-cara mendidik  dari aspek psikologis. Ayah Bunda dapat berkonsultasi seputar permasalahan psikologi anak kepada Ibu Ghea dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu di Klinik AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center setiap hari Rabu.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami melalui nomer telepon (021) 22057020/22 atau Hp/Whatsapp 0857 1566 3038.


IMG_4902-Copy-1200x1235.jpg

Memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan dokter sebelum pergi berlibur akan memberikan banyak manfaat.

Pertama, Bunda dapat memeriksakan kondisi fisik dan mengetahui kesiapan fisik untuk bepergian. Utarakanlah pada dokter bahwa Bunda dan keluarga akan berlibur, jelaskan rencana kegiatan yang akan dilakukan dan konsultasikan apakah kondisi kesehatan Bunda dan sekeluarga kira-kira akan menjadi masalah atau tidak.

Kedua, setelah mengetahui keadaan kesehatan secara persis, mintalah petunjuk apa yang perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya gangguan kesehatan selama bepergian. Bila perlu minta dokter untuk memberikan resep obat-obatan cadangan yang kiranya dapat berguna bila masalah kesehatan muncul. Minta pula penjelasan mengenai tindakan pertolongan pertama apa saja yang harus dilakukan jika hal itu terjadi.

Ketiga, bila Bunda atau anggota keluarga yang ikut bepergian memiliki penyakit khusus yang cukup serius dan mungkin kambuh, Bunda harus mendiskusikannya dengan dokter. Penyakit yang perlu mendapat perhatian antara lain penyakit asma, epilepsi, alergi yang hebat, darah tinggi, kelainan jantung, gangguan pernapasan kronik, kelainan darah dan sebagainya.

Informasikan pula mengenai lokasi berlibur. Perlu diingat, beberapa daerah memiliki risiko penyakit yang berbeda-beda. Bepergian ke beberapa daerah di Indonesia bagian timur memiliki risiko terkena penyakit malaria. Demikian pula bila bepergian ke luar negeri, khususnya ke benua Afrika dan beberapa wilayah Asia yang masih memiliki beberapa penyakit berbahaya. Konsultasikanlah cara pencegahannya dan bila perlu minta dilakukan vaksinasi khusus jika memang telah ada.

Diskusikan juga tentang informasi alamat dan nomor telepon fasilitas medis yang ada di sekitar lokasi berlibur yang dituju. Bila sang dokter tidak keberatan, minta nomor teleponnya yang bisa dihubungi sewaktu-waktu. Ini akan sangat berguna bila Ayah Bunda perlu berkonsultasi masalah kesehatan yang darurat dan tidak menemukan fasilitas kesehatan disekitar lokasi berlibur

Ke mana sebaiknya memeriksakan diri ?

Idealnya Bunda pergi ke travel clinic, yaitu klinik yang memberikan pelayanan kedokteran wisata (travel medicine). Di klinik ini, Bunda dapat berkonsultasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan perjalanan yang direncanakan. Sayangnya, saat ini di Indonesia belum banyak klinik semacam ini, berbeda dari negara maju yah sudah memiliki banyak travel clinic. Sebagai alternatif, Bunda dapat mencari dan berkonsultasi pada dokter yang memiliki kompetensi dalam bidang kedokteran wisata. Jika hal ini juga masih sulit, Bunda juga dapat berkonsultasi dengan dokter keluarga langganan.

Apakah semua rencana bepergian perlu dikonsultasikan?

Jika Bunda hanya pergi 1-2 hari ke daerah yang tidak terlalu jauh, kemungkinan besar tidak perlu berkonsultasi. Lain halnya bila Bunda hendak pergi dalam waktu yang cukup lama dan ke lokasi yang cukup jauh pula, apalagi bila sampai ke negeri orang. Walau bagaimanapun, mencegah lebih mudah dan lebih baik. Lebih baik repot sedikit diawal bepergian daripada rencana liburan menejadi berantakan.

Obat-obatan apa saja yang perlu dipersiapkan ?

Bila si kecil memiliki penyakit khusus atau sedang dalam pengobatan tertentu, Bunda harus meminta kepada dokter untuk meresepkan obat tersebut. Bila perlu, mintalah surat keterangan dari dokter mengenai penyakitnya. Hal ini dapat berguna bila bepergian dengan pesawat atau jika si kecil perlu berkonsultasi dengan dokter di tempat tujuan.

Bila si kecil sehat-sehat saja dan tidak sedang dalam pengobatan tertentu, namun akan bepergian dalam waktu cukup lama, apa yang harus diperhatikan ?

Bawalah perlengkapan kesehatan dan obat-obatan, seperti termometer digital, obat demam, obat antimual-muntah, obat anti alergi, obat anti-diare, serta obat anti-batuk pilek. Bila si kecil memiliki riwayat kejang demam bawalah obat anti-kejang. Hal ini akan sangat membantu untuk pertolongan pertama seandainya si kecil mengalami salah satu gejala diatas.

Bila si kecil sudah menginjak balita bawa juga cairan desinfeksi, kapas, dan plester. Pada usia ini, anak cenderung berlari ke sana kemari untuk mengeksplorasi sekitarnya dan cenderung terjatuh serta mengalami luka pada kulit.

Untuk obat-obatan khusus, perlu dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter. Misal, Bunda akan bepergian ke daerah yang masih endemis malaria, mintalah dokter untuk meresepkan obat pencegahan terhadap malaria. Tentunya Bunda akan diajari cara penggunaan obat tersebut.

Bagaimana jika anak mengalami sakit berkepanjangan di tempat berlibur ?

Jangan ragu untuk membawanya berkonsultasi dengan dokter di tempat tersebut. Kadang, karena terlalu excited, anak bermain berlebihan sehingga ia tidak sadar bahwa dirinya terlalu capai. Keadaan ini dapat menyebabkan anak menjadi mudah sakit.

Bagaimana cara mempersiapkan mental anak sebelum bepergian ?

Pada anak balita, sebelum pergi, ajak ia ikut membereskan koper dan barang-barang yang akan dibawa. Si kecil akan mengerti dan senang. Terangkan juga mengenai hal-hal yang akan ia alami, misalnya saat bepergian dengan mobil, Bunda dapat menceritakan bahwa anak akan berada di mobil dalam waktu lama, atau saat akan bepergian dengan pesawat, Bunda dapat menceritakan tentang kondisi di pesawat dan bahwa ia tidak boleh berteriak-teriak di dalam pesawat. Hal ini dapat membantu anak untuk mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Barang-barang apa saja yang perlu dibawa ?

Pakaian dan perlengkapan lain yang sesuai dengan tempat tujuan harus dipersiapkan matang-matang. Selain perlengkapan tersebut, ingatlah juga untuk membawa hal-hal berikut ini : mainan anak, lagu anak, snack, bantal travel untuk anak, kantong muntah, permen pedas, minyak kayu putih atau minyak lainnya yang berbau segar, dan car seat bila Bunda bepergian dengan mobil dan membawa bayi atau balita. Pertimbangkan pula untuk membawa stroller bila melakukan perjalanan jauh.

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi,Sp.A


dr.-Marissa-1200x854.jpg

Apakah benar anak yang sedang menderita penyakit infeksi tidak boleh bersekolah?
Memang benar bersekolah itu penting, namun kesehatan anak jauh lebih penting dibandingkan bersekolah dalam keadaan sakit. Saat sakit tubuh anak sebenarnya sedang berjuang melawan penyakitnya, sehingga sebaiknya anak beristirahat di rumah agar tubuh dapat berjuang secara maksimal melawan penyakit dikarenakan ketahanan tubuh anak masih rentan. Anak yang sedang sakit tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar. Anak yang sedang mengalami penyakit infeksi dapat menularkan penyakitnya ke anak lain sehingga dapat terjadi wabah di sekolah sebab anak-anak belum memiliki sistem daya tahan tubuh yang kuat
Berikut beberapa penyakit menular pada anak beserta penularannya :
Varisela / cacar air
Menular melalui udara atau kontak langsung. Isolasi dilakukan kira-kira sampai 5 hari, sejak kelainan kulit timbul atau sampai vesikel (bintil di kulit) mengering. Vaksina varisela sudah tersedia dan masuk dalam rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Pencegahan
Cegah dengan vaksinasi. Untuk mencegah kemungkinan terkena atau tertular cacar air dapat diberikan vaksinasi. Kalaupun terkena setelah vaksinasi, biasanya tidak sampai parah.

Vaksinasi biasanya diberkan pada usia satu tahun ke atas. Karena pada usia ini bayi sudah tidak lagi memiliki kekebalan tubuh dari ibunya. Daya lindung vaksin ini bisa mancapai 97% dan dapat diulang saat balita berumur 5 tahun.

Hepatitis B dan C
Sumber penularannya adalah cairan tubuh. Tidak perlu melakukan isolasi total pada penderita Hepatitis B dan C, cukup menghindari kontak dengan cairan tubuh. Pencegahan yang paling penting adalah dengan melakukan vaksinasi Hepatitis B, sementara untuk Hepatitis C belum ada vaksinasinya.
Hepatitis A
Sumber penularannya adalah kontaminasi dari kotoran (feses) penderita, yang kemudian masuk ke dalam saluran cerna, jadi tidak perlu isolasi. Yang perlu dilakukan adalah menjaga kebersihan makanan dan minuman.
Campak
Penularan terjadi melalui udara dan isolasi dilakukan sejak timbul rash (kelainan di kulit) sampai 4 hari setelahnya.
Gondongan atau mumps
Penularan terjadi melalui droplet atau cipatran ludah. Isolasi sebaiknya dilakukan 5 hari sejak munculnya gejala pembengkakan kelenjar ludah. Gondongan biasanya diikuti oleh gejala lain seperti demam, lemas, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, dan nyeri otot. Penyakit menular yang biasa terjadi di sekolah ini tidak membutuhkan pengobatan khusus dan bisa sembuh dalam beberapa minggu. Gondongan dapat dicegah dengan vaksinasi MMR.

Cara Mencegah Terkena Penyakit Menular di Sekolah

Anak-anak lebih rentan tertular karena mereka cenderung melakukan kontak fisik yang dekat satu sama lain dan berbagi barang-barang pribadi dengan teman-temannya. Agar Si Kecil tidak mudah sakit, lakukan pencegahan dan kebiasaan sehat berikut:

  • Ajarkan Si Kecil kebiasaan cuci tangan yang benar
  • Berikan vaksinasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh IDAI
  • Ajarkan anak agar tidak berbagi barang pribadi dengan teman-temannya. Jika anak tinggal di asrama, bekali dia dengan barang pribadi yang cukup, seperti seprai, alat makan, dan handuk, agar tidak perlu meminjam pada anak lain.
  • Jaga kebersihan lingkungan rumah dan sekolah, terutama kebersihan makanan dan toilet.

Berikan Si Kecil makanan bergizi seimbang, termasuk sayuran dan buah-buahan. Menu makanan sehat dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah mengalami penyakit menular yang sering terjadi di sekolah. Jika perlu, konsultasikan kondisi kesehatan Si Kecil pada dokter anak

 

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A

alodokter.com


IMG_4884-1200x835.jpg

December 11, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Kejang demam selalu menjadi momok bagi ayah bunda. Fenomena yang terjadi pada saat anak kejang, yaitu mata mendelik, kaku-kelojotan, dan lidah tergigit, tak ayal membuat orangtua panik. Namun benarkah kejang demam berbahaya? Apa saja yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang demam?

Kejang atau yang sering disebut oleh awam sebagai stuip sering menyebabkan kepanikan orangtua. Defini kejang demam adalah kejang yang terjadi pada anak usia di atas 1 bulan akibat demam (tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut, dan anak tidak pernah mengalami kejang tanpa demam sebelumnya). Dapat dikatakan kejang ini terjadi semata-mata karena proses demam itu sendiri.

Kapan kejang demam dapat terjadi ?

Kejang demam dapat terjadi pada anak usia 1 bulan hingga 5 tahun. Namun tidak semua anak mengalaminya. Adanya riwayat kejang demam dalam keluarga akan meningkatkan risiko terjadinya kejang demam pada anak. Anak yang pernah mengalami kejang demam sebelumnya juga memiliki risiko mengalami kejang kembali di kemudian hari saat demam.

Apa yang harus dilakukan saat anak mengalami kejang ?

  • Letakkan anak di tempat aman (jauhkan dari barang-barang yang berbahaya)
  • Longgarkan pakaian anak. Bila menggunakan jaket lepaskan
  • Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut (termasuk sendok, jari tangan, minuman atau kopi)
  • Berikan diazepam supposutoria (obat antikejang yang diberikan lewat dubur) sesuai dosis. (Lihat cara pemberian supposutoria di halaman 93)
  • Tunggu 5 menit
  • Bila kejang masih berlangsung berikan diazepam supposutoria 1 kali lagi
  • Bila kejang masih juga berlangsung segera bawa ke rumah sakit

Bagaimana cara memberikan obat kejang di rumah ?

Ingat,  diazepam supposutoria hanya boleh diberikan 2x selama di rumah. Bila sudah 2 kali pemberian dan anak masih kejang kemungkinan anak memerlukan obat anti kejang melalui jalur suntikan intravena. Dosis pemberian diazepam supposutoria adalah 5 mg untuk anak berbobot 5-10 kg dan 10 mg untuk anak dengan bobot >10kg, atau dosis lain yang diberikan oleh dokter anak,

Apa yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang ?

  • Suhu anak sebelum kejang
  • Berapa lama kejang berlangsung
  • Kejang yang terjadi seperti apa. Apakah seluruh tubuhnya atau hanya gerakan tangan/kaki yang berulang-ulang saja, ataukah gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Apakah kejang terjadi berulang dalam 24 jam? Bila berulang apakah diantara kejang anak bangun seperti biasa atau lebih cenderung tidur ?
  • Apakah terdapat kelainan setelah kejang, mulut anak menjadi mencong, misalnya

Kapan sebaiknya anak dibawa ke rumah sakit pada keadaan kejang demam ?

  • Bila kejang terjadi pada anak < 6 bulan
  • Bila anak baru pertama kalinya mengalami kejang
  • Kejang berlangsung >10 menit
  • Kejang didahului dengan gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Kejang berulang dalam 24 jam
  • Bila diantara kejang anak cenderung tidur terus
  • Bila terdapat kelainan setelah kejang, seperti mulut anak menjadi mencong

Apakah si kecil yang mengalami kejang demam perlu dirawat inap ?

Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam. Apabila terjadi kejang disertai demam di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, maka perlu disingkirkan penyebab kejang lainnya, misalnya epilepsi atau radang otak. Jika sesudah kejang anak tidak segera sadar kembali, lebih banyak tidur, atau tidak dapat mengadakan kontak dengan baik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab kejang lain, terutama radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis). Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan apabila anak pernah kejang tanpa demam. Keputusan perlu tidaknya perawatan inap akan diberikan oleh dokter spesialis anak yang menilai langsung keadaan anak.

 

Klinik AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center yang merupakan salah klinik anak di Jakarta. Konsultasikan kesehatan anak anda dengan dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu setiap hari Sabtu jam 10.00-12.00 WIB

 

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A


WhatsApp-Image-2018-12-03-at-19.17.21.jpeg

October 29, 2018 Kesehatan Anak

 


25.10.2018.jpg

October 25, 2018 Kesehatan Anak

2. Pubertas Tarda

Pubertas Terlambat atau pubertas tarda yaitu tidak muncul sama sekali karakteristik seksual sekunder sebelum usia 13 tahun, menars tidak ada setelah mencapai usia 18 tahun. Penyebabnya karena ada gangguan di daerah hipotalamus, atau adanya penyakit sistemik, kurang gizi, atau gangguan fungsi endokrin yang lain.

Pada anak laki-laki, pubertas terlambat lebih sering terjadi dan didefinisikan sebagai

  • tidak adanya pembesaran testis pada usia 14 tahun
  • waktu lebih dari 5 tahun antara mulai perkembangan genital hingga sempurna

Pada anak perempuan, pubertas terlambat adalah

  • tidak adanya pertumbuhan payudara pada usia 13 tahun
  • waktu lebih dari 5 tahun antara mulai pertumbuhan payudara hingga menstruasi
  • anak belum menstruasi pada usia 16 tahun

Penyebab keterlambatan pubertas dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan status gonadotropin:

1. Keadaan hipergonadotropin ( kegagalan gonad primer )

Kromosomal, kelainan genetik dan sindrom: defek sintesis enzim androgen, sindrom insensitivitas androgen partial dan komplet, sindrom 46.XX, 47.XYY, galaktosemia. Sindrom Klinefelter (47.XXY), campuran 45. X/46, disgenesis XY, sindrom multipel X-Y, sindrom multipel Y, distropia miotonik, sindrom Noonan, disgenesis gonadal 46 XY murni, defisiensi a reduktase, sindrom ovari resisten, sindrom Turner.

Akuisita: autoimun, kemoterapi, infeksi (coxsackie, mumps), pembedahan, torsi, traumatik.

2. Keadaan hipogonadotropin (hipothalamus-hipofise).

  • Defisiensi gonadotropin kongenital

Defisiensi gonadotropin kongenital berhubungan dengan kelainan-kelainan dari serebral, hipotalamus atau terganggunya fungsi hipofise atau kelainan yang terisolasi. Kelainan kongenital dari formasi hipotalamus-hipofise berupa kelainan-kelainan midline. Terganggunya fungsi hipotalamus secara congenital berhubungan dengan disfungsi neuroendokrin, diantaranya sindrom Prader-Willi dan sindrom Laurence-Moon-Biedl. Defisiensi gonadotropin juga berhubugan dengan anosmia pada sindrom Kallmann.

  • Defisiensi hormon tropik yang multiple
  • Anak-anak dengan defisiensi hormon tropik yang multiple biasanya terjadi keterlambatan pertumbuhan disertai hormon infantil. Hal ini dikarenakan defisiensi hormon pertumbuhan (growth hormon/ GH) atau thyroid stimulating hormon (TSH) atau keduanya. Keadaan ini akan mempengaruhi keterlambatan pubertas. Hipopituitarisme biasanya disebabkan oleh defek hipotalamus yang idiopatik, termasuk tumor atau lesi struktur pada midline.
  • Defesiensi hormon pertumbuhan (GH) yang isolated

Penderita dengan defisiensi GH-isolated akan diikuti dengan pubertas terlambat, disamping itu terjadi gangguan sekresi dari tirotropin, adrenocorticotropic hormon (ACTH) dan gonadotropin. Kebanyakan pasien mengalami penyakit idiopatik dan kelihatan sebagai remaja dengan gagal pertumbuhan. Defisiensi GH-isolated yang idiopatik kebanyakan dari tipe hipopituarisme selama remaja dan kejadiannya 1:4000 kelahiran. Beberapa penderita dengan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan karena adanya gangguan sekresi GH

  • Defisiensi gonadotropin isolated

Defisiensi gonadotropin tanpa disertai gangguan hormon lain pada hipofise anterior kebanyakan merupakan kelainan genetik. Seperti defek pada bulbus olfaktorius (sindrom Kallmann). Defisiensi dari gonadotropin bervariasi dalam bentuk klasik, rendahnya kadar FSH dan LH dan tidak adanya tanda maturasi hormon.

  • Beberapa sindrom yang berhubungan dengan hypogonadotropin hypogonadism

Sindrom Prader Willi : terjadi secara sporadik dan berhubungan hipotonia fetal dan infantil, perawakan pendek, obesitas masif, wajah yang khas dengan mata berbentuk almond-shape, tangan dan kaki kecil, retardasi mental, dan emosi yang tidak stabil, menarche yang lambat pada perempuan, mikropenis dan kriptorkismus pada pria. sering terjadi osteoporosis pada pasien ini selama usia remaja, tapi terapi penggantian dengan hormon steroid dengan indikasi dapat membantu.

Sindrom Laurence-Moon-Biedl : Kondisi autosomal resesif ini memiliki karakteristik seperti: obesitas, perawakan pendek, retardasi mental, dan retinitis pigmentosa.

Sindroma Kallmann : Merupakan bentuk defisiensi isolated gonadotropinyang paling sering dijumpai. Defisiensi gonadotropin pada pasien ini berhubungan dengan hipoplasi atau agenesis dari bulbus olfaktorius sehingga terjadi hiposmia atau anosmia. Terjadi defisiensi GnRH, kriptorkismus, mikrophalus serta kelainan midline yang lain. Kejadiannya 1:7500 laki-laki atau 1:50.000 perempuan, secara sporadik, X-linked autosomal dominan atau resesif.

Keadaan sistemik yang sering dijumpai oleh pubertas terlambat adalah, seperti gagal ginjal, hipotiroid, anoreksia nervosa, penyakit radang usus dan penyakit celiac, infeksi berulang dan penyakit neoplasma, penyakit psikosomatik yang serius.

 

Keterlambatan atau penundaan fungsi

  • Constitutional delay of growt and puberty
  • Penyakit kronik [kardia, hematologik (penyakit sikle cell)] keganasan, pulmonal (cystic fibrosis, ginjal)
  • Penyalahgunaan obat
  • Pengeluaran energi yang berlebihan pada latihan
  • Obesitas eksogen
  • Endokrinopati: diabetes melitus, defisiensi growth hormon, kelebihan glukokortikoid, hiperproklatinemia, hipotirodisme
  • Malnutrisi
  • Kelainan psikiatri (anoreksia nervosa, psikososial)

 

DIAGNOSIS

Diagnosis didasarkan pada:

  • anamnesis: anak belum menstruasi atau belum mengalami mimpi basah
  • hasil pemeriksaan fisik
  • berbagai pemeriksaan laboratorium
  • xray usia tulang
  • dan jika diperlukan, analisis kromosom dan MRI.

 

TERAPI

Tata laksana pubertas terlambat tergantung pada penyebabnya. Untuk remaja yang terlambat secara alami sebenarnya tidak membutuhkan pengobatan. Namun jika remaja tersebut sangat stres akibat tertundanya pubertas maka dokter dapat memberikan terapi hormon seks tambahan untuk memulai proses pubertasnya lebih cepat.

Pengobatan ini lebih sering dilakukan kepada anak laki-laki. Anak laki-laki yang belum menunjukkan tanda pubertas pada usia 14 tahun dapat diberikan testosteron selama 4-6 bulan. Pada dosis rendah testosteron memulai pubertas, menyebabkan perkembangan beberapa ciri maskulin dan tidak mencegah remaja tersebut mencapai tinggi badan optimalnya. Pada anak perempuan, estrogen dosis rendah dapat diberikan dengan pil atau skin patch.

 

Rini Mustika Sari Blogspot

http://www.askfionamd.com


18.10.2018.jpg

October 18, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Remaja merupakan periode terakhir dari masa anak-anak. Pada tahap ini seorang anak akan memasuki masa pubertas yang menyebabkan perubahan, baik fisik mau pun mental. Akan tetapi perubahan tersebut berlangsung bertahap.
Pada anak perempuan, pubertas terjadi sejak usia 8 sampai 13 tahun. Sementara anak laki-laki mengalami pubertas sejak usia 9 sampai 14 tahun. Selama pubertas, ukuran dan bentuk badan berubah dari ciri khas anak ke bentuk dewasa.
Selama pubertas, ukuran dan bentuk badan berubah dari ciri khas anak ke bentuk dewasa.

 

Ciri tubuh anak sudah mulai memasuki usia puber

Puber atau pubertas merupakan tanda anak sudah mulai memasuki usia remaja. Pada saat ini, anak mengalami berbagai perubahan, terutama perubahan fisiknya. Perubahan fisik anak laki-laki dan perempuan saat memasuki usia pubertas berbeda, usia mulai pubertas juga berbeda antar keduanya. Biasanya, anak perempuan lebih cepat memasuki usia pubertas dibandingkan dengan laki-laki.

Pubertas pada anak perempuan

Tanda pertama pubertas

Tanda pertama pada anak perempuan pubertas biasanya adalah puting payudara yang mulai muncul. Bagian payudara biasanya menjadi sangat lembut dan mulai membesar setelah beberapa bulan. Selain itu, rambut pada kemaluan juga sudah mulai tumbuh, diikuti dengan pertumbuhan rambut pada ketiak.

Jika anak sudah mengalami pertumbuhan payudara dan pertumbuhan rambut pada kemaluan dan ketiak, tandanya sebentar lagi anak akan mencapai puncak pertumbuhannya dan juga akan mengalami menarche.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Kurang lebih setelah 1-2 tahun tanda-tanda pertama pubertas tersebut muncul, kemudian tubuh anak akan mulai membangun lemak, terutama di dada dan sekitar pinggul dan paha, mengarah seperti perempuan dewasa. Tubuh anak akan mulai membesar, terutama pada lengan, paha, tangan, dan kaki anak. Pada saat ini, berat badan anak perempuan akan bertambah.

Selain tubuh anak yang mulai besar karena terjadi peningkatan lemak dan berat badan, tinggi anak juga bertambah. Ingat, puncak pertumbuhan tinggi badan pada perempuan terjadi sebelum anak perempuan mendapatkan menarche. Oleh karena itu, sebelum anak perempuan mendapatkan menarche, penting bagi Anda untuk selalu mencukupi kebutuhan nutrisinya untuk membantu memaksimalkan pertumbuhan tinggi badan anak.

Banyak orang berpikir bahwa tanda anak perempuan sudah memasuki usia pubertas adalah pada saat ia sudah mendapatkan menstruasi pertamanya (menarche). Namun, jauh sebelum itu, ketika tubuh anak sudah menunjukkan berbagai perubahan menuju ke bentuk tubuh seperti perempuan dewasa, sebenarnya anak sudah memasuki usia puber.

Menarche biasanya dimulai sekitar 18 bulan sampai 2 tahun setelah anak menunjukkan tanda-tanda pubertas pertamanya. Pada umumnya, anak perempuan mendapatkan menstruasi pertamanya pada usia 13 tahun, tapi ini sangat bervariasi.

 

Pubertas pada anak laki-laki

Berbeda dengan anak perempuan, pubertas pada anak laki-laki biasanya mulai lebih lambat. Pada umumnya, anak laki-laki akan menunjukkan tanda-tanda pubertas pertamanya pada usia 10-16 tahun, usia ini juga sangat bervariasi antar anak.

Tanda pertama pubertas

Pada laki-laki, tanda pertama yang menunjukkan bahwa ia sudah mulai memasuki masa pubertas adalah pembesaran ukuran testis. Umumnya,  hal ini terjadi rata-rata pada usia 11 tahun. Setelah itu, diikuti dengan pembesaran ukuran penis. Berikutnya, rambut keriting pada kemaluan mulai tumbuh, juga pada ketiak anak.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Testis dan penis akan terus membesar sampai mencapai ukuran dewasa. Saat proses ini, anak laki-laki sudah bisa mengalami ereksi dan juga ejakulasi. Ejakulasi pertama kali atau spermarche biasanya menjadi tanda pubertas pada laki-laki yang paling mudah dikenali. Hal ini biasanya terjadi antara usia 12-16 tahun, tapi juga bervariasi antar anak. Ejakulasi ini biasanya ditandai dengan mimpi basah, tapi ereksi sendiri bisa secara spontan terjadi saat anak bangun tidur tanpa alasan yang jelas.

Pada anak laki-laki, puncak pertumbuhan akan terjadi sekitar 2 tahun setelah tanda-tanda pertama pubertas muncul. Pada saat ini, anak laki-laki akan mengalami puncak pertumbuhan tinggi badan dan berat badannya secara bersama-sama. Jika perempuan akan memiliki massa lemak yang lebih besar, maka laki-laki akan memiliki massa otot yang lebih besar. Bentuk dada laki-laki juga akan lebih lebar, mengarah seperti lelaki dewasa.

Beberapa anak mungkin mengalami pembesaran jaringan payudara atau biasa disebut dengan ginekomastia. Namun, jangan khawatir, biasanya hal tersebut akan hilang dalam waktu 6 bulan atau lebih dan ini hal yang normal terjadi.

Kumis atau jenggot mungkin akan tumbuh pada beberapa anak. Selain itu, juga terjadi perubahan pada suara laki-laki menjadi lebih berat. Jerawat juga bisa bermunculan di wajah, ini adalah hal yang umum, tidak hanya pada anak laki-laki tetapi juga pada anak perempuan. Jerawat bisa disebabkan oleh hormon pubertas yang memicu kelenjar di bawah kulit untuk memproduksi minyak/ sebum lebih banyak, sehingga bisa menyumbat pori-pori.

 

 

 

dikutip dari beberapa sumber

28.09.2018-1.jpg

September 28, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Dalam beberapa literatur ilmiah maupun populer kita dapat menemukan informasi mengenai begitu banyaknya kemungkinan penyebab dari suatu gangguan pertumbuhan pada seorang anak.  Untuk memudahkan, ada yang membagi ke dalam istilah penyebab gangguan pertumbuhan primer dan sekunder. Apakah yang membedakan keduanya? Gangguan pertumbuhan primer terjadi pada tingkat genetik, dan berlangsung sejak seorang anak masih dalam kandungan. Termasuk di antaranya adalah kelainan kromosom, kelainan tulang, dan pertumbuhan janin terhambat. Sementara itu, gangguan pertumbuhan sekunder terjadi akibat adanya faktor dari luar yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan dan fungsi tubuh anak. Termasuk di antaranya adalah faktor gizi (malnutrisi), kelainan hormonal, penyakit kronik, dan penyebab lain yang telah disebutkan dalam artikel sebelumnya.

Berikut ini merupakan beberapa contoh yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan primer pada anak:

1. Kelainan kromosom

a. Sindrom Down

Merupakan kelainan genetik pada kromosom 21. Tanda dan gejala sindrom ini dapat terlihat dari tubuh yang relatif pendek, bentuk kepala relatif kecil (mikrosefali), dengan bentuk wajah menyerupai orang Mongoloid (hidung datar, mata menyipit, sudut tengah mata membentuk lipatan). Bentuk mulut kecil dan lidah seringkali seperti terjulur keluar (lebih tampak pada bayi). Pada pasien dengan sindrom ini dapat terjadi gangguan mental, kecerdasan, jantung maupun pencernaan.

b. Sindrom Turner

Merupakan kelainan pada wanita akibat kehilangan satu kromosom X (normalnya terdapat sepasang: XX). Tanda dan gejala yang sering dijumpai adalah tubuh pendek dan organ reproduksi yang tidak berkembang sempurna. Terkadang dapat pula dijumpai adanya kelainan jantung, ginjal, kelenjar tiroid, telinga, dan tulang.

c. Sindrom Noonan

Merupakan penyakit yang dapat diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Adanya mutasi genetik yang menyebabkan protein terus aktif, sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembelahan sel tubuh. Sindrom ini ditandai dengan abnormalitas (ketidaknormalan) bentuk wajah, perawakan pendek (50-70% kasus), gangguan jantung, kelainan darah, serta kelainan bentuk tulang. Secara fisik terlihat dahi lebar dan menonjol, jarak antar mata lebar, rahang kecil, posisi telinga rendah, serta leher pendek (dan tampak ada lipatan-lipatan kulit).

d. Sindrom Prader-Willi

Merupakan kelainan pada kromosom 15 yang menyebabkan gangguan pada hipotalamus – bagian otak yang berfungsi mengatur pelepasan hormon dan nafsu makan. Ditandai dengan otot yang lemah, bentuk wajah khas (bibir seperti orang cemberut), tubuh pendek, perkembangan organ seksual terhambat, IQ rendah, gangguan tingkah laku dan gangguan tidur.

e. Sindrom Silver-Russell

Diduga berkaitan dengan kelainan pada kromosom 7 dan 11. Pada sindrom ini dapat ditemukan riwayat pertumbuhan janin terhambat (berat badan lahir rendah), bentuk wajah seperti segitiga terbalik (meruncing ke dagu yang kecil), terdapat perbedaan panjang antara sisi kiri-kanan tangan dan kaki, jari melengkung, tubuh pendek (gagal tumbuh), serta masalah ginjal dan pencernaan.

2. Berat badan lahir lebih rendah atau kecil dibanding masa kehamilan dan gagal catch up pertumbuhan.

3. Gangguan pertumbuhan tulang congenital (bawaan): tubuh kerdil (dwarfism) pada akondroplasia dan hipokondroplasia

 

Pada beberapa kasus, gangguan pertumbuhan primer dapat dideteksi dini segera setelah bayi lahir (atau bahkan dapat ditemukan pada pemeriksaan kehamilan). Untuk menegakkan diagnosis, diperlukan pemeriksaan oleh tenaga medis yang ahli di bidangnya. Semakin cepat penanganan tentu akan memberikan hasil yang lebih baik.

 

 

Sumber : dr. Wiranty Ramadhani


25.09.2018.jpg

Pernahkah ayah dan bunda mendengar tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan? Seribu hari pertama kehidupan dimulai sejak masa kehamilan hingga seorang anak berusia 2 tahun. Masa tersebut merupakan periode emas bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Nutrisi menjadi salah satu pondasi penting dalam mendukung periode ini. Kebutuhan nutrisi harus dipenuhi secara optimal dan seimbang – tidak boleh sampai kekurangan atau bahkan berlebihan.

Kita tentu sering mendengar istilah malnutrisi. Namun tahukah ayah dan bunda, bahwa malnutrisi bukanlah kondisi yang dikaitkan dengan anak bertubuh kurus saja, namun juga bisa dijumpai pada anak gemuk? Malnutrisi adalah kondisi dimana seseorang tidak mendapat zat gizi secara tepat, yang mencakup: obesitas, gizi lebih, gizi kurang, gizi buruk, dan kekurangan mikronutrien.

Seorang anak yang kekurangan zat gizi (terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan) akan tampak lebih kecil (kurus dan pendek) dibanding teman seusianya. Hal ini disebabkan tubuh tidak memiliki nutrisi yang cukup untuk menunjang pertambahan berat badan maupun tinggi badannya. Anak tersebut juga akan menjadi lebih rentan terkena infeksi serta tidak dapat mengembangkan kemampuan otaknya secara optimal. Inilah yang disebut sebagai suatu kondisi gizi buruk yang menyebabkan gagal tubuh.

Kekurangan mikronutrien juga dapat berdampak pada pertumbuhan anak. Sebagai contoh, anak yang menderita kekurangan vitamin D dapat menderita rakitis. Rakitis adalah kondisi dimana terjadi pelunakan tulang sehingga lebih rentan terjadi patah tulang dan kelainan bentuk tulang (bengkok). Pertumbuhan anak tentu akan terganggu dalam keadaan ini.

Pada anak dengan kelebihan zat gizi khususnya obesitas, orangtua biasanya tidak terlalu mengkhawatirkan pertumbuhannya. Banyak yang beranggapan bahwa anak tidak akan kekurangan zat apapun untuk menunjang pertumbuhannya. Hal ini juga ditunjang oleh kecenderungan pada anak yang mengalami obesitas akan memiliki tinggi badan pra-pubertas (sebelum pubertas) yang lebih tinggi dibanding rata-rata teman seusianya. Padahal, pada anak dengan obesitas dapat terjadi perubahan pada hormonal tubuhnya. Anak dapat mengalami masa pacu tumbuh lebih awal namun pada waktu masa pertumbuhan hampir selesai kecepatan ini akan melambat. Pada sebagian kasus, anak tidak dapat mencapai potensi genetik tinggi badan secara optimal saat dewasa.

Ada baiknya orangtua mencegah masalah nutrisi sejak dini. Pemenuhan zat gizi yang optimal harus dimulai saat masa kandungan. Setelah anak lahir, lakukan pemantauan kesehatan dan status gizi secara rutin ke tempat pelayanan kesehatan terpercaya. Bila adanya masalah nutrisi anak dapat dideteksi sejak dini, niscaya kita dapat mencegah kemungkinan adanya gangguan pertumbuhan yang dapat terjadi di masa yang akan datang.

Bila kurang gizi ini dibiarkan, maka status gizi anak bisa menjadi gizi buruk. Penanganan anak gizi buruk harus oleh tenaga terlatih, seperti dokter anak atau dokter umum terlatih atau dietitian anak (ahli gizi anak) yang mengerti tahapan pemberian gizi pada anak dengan gizi buruk. Terdapat formula makanan yang khusus bagi anak gizi buruk.

 

Sumber : dr. Wiranty Ramadhani


17.10.2018.jpg

September 17, 2018 Kesehatan Anak

“Anak dengan perawakan pendek tak hanya beresiko menjadi seorang dewasa yang bertubuh pendek, namun perlu diwaspadai kemungkinan adanya gangguan pada perkembangan otak, kemampuan kognitif (kecerdasan), serta adanya gangguan metabolisme tubuh lain yang menyertai.”

 

Pertumbuhan tinggi dan berat badan merupakan indikator untuk menilai kesehatan, status nutrisi, dan latar belakang genetik seorang anak. Penyimpangan dari pertumbuhan dapat menunjukkan adanya masalah kesehatan pada anak. Untuk memantau pertumbuhan anak kita dapat menggunakan kurva pertumbuhan yang telah disesuaikan menurut kelompok usia dan jenis kelamin anak.

 

Perawakan pendek merupakan suatu keadaan dimana tinggi badan seseorang di bawah ukuran normal sesuai umur dan jenis kelamin.

Seseorang dikatakan berperawakan pendek bila tinggi badan di bawah 2 standard deviasi (SD) dari rata-rata populasi atau di bawah persentil 3 kurva pertumbuhan.

 

Dalam menangani kasus anak berperawakan pendek, kita harus berhati-hati dan menilai kasus secara individual. Hal ini disebabkan perawakan tinggi badan anak dapat dipengaruhi banyak faktor. Secara umum, kelompok anak berperawakan pendek dibedakan menjadi :

  • Variasi normal

Terjadi karena faktor keturunan, constitutional delay of growth and puberty, atau idiopatik (tidak diketahui penyebabnya).

  • Gangguan pertumbuhan primer

Adanya riwayat pertumbuhan janin terhambat, kelainan pertumbuhan tulang, atau kelainan kromosom.

  • Gangguan pertumbuhan sekunder

Akibat malnutrisi atau penyakit kronis.

  • Kelainan hormonal

Dapat terjadi akibat kekurangan hormon pertumbuhan, kekurangan hormon tiroid, diabetes melitus, atau kelebihan hormon kortikosteroid.

 

WHO memperkirakan jumlah balita pendek di dunia mencapai 162 juta pada tahun 2012 – sekitar 56% diantaranya terdapat di wilayah Asia. Dibandingkan negara-negara tetangga di wilayah Asia Tenggara, prevalensi balita pendek di Indonesia adalah yang tertinggi.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 di Indonesia menunjukkan 37,2% balita termasuk kategori pendek dan sangat pendek. Data di DKI Jakarta menunjukkan ada sekitar 27,5% balita yang masuk dalam kategori ini.

 

Deteksi dini pada kelainan pertumbuhan anak membutuhkan peran aktif dari orangtua. Kriteria awal untuk memeriksakan anak pendek, jika :

  • Tinggi badan anak di bawah persentil 3 atau di bawah tinggi rata-rata populasi
  • Kecepatan tumbuh kurang dari 4cm/tahun untuk anak usia 4-10 tahun
  • Perkiraan tinggi dewasa di bawah potensi tinggi genetik
  • Kecepatan tumbuh melambat setelah umur 3 tahun menyilang garis persentilnya pada kurva tinggi badan

 

Segera lakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah perawakan pendek anak termasuk dalam variasi normal atau akibat adanya suatu gangguan.

Keterlambatan diagnosis dan pengobatan dari penyebab perawakan pendek akan menyebabkan kegagalan untuk mencapai potensi genetik anak.


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2018. Website oleh Equitiga.

Free WordPress Themes