09.06.17-1.jpg

June 9, 2017 Uncategorized

Beberapa panduan yang perlu dipatuhi diabetisi agar mampu menjalankan puasa tanpa masalah

  1. Segera berbuka puasa setelah adzan magrib.
  2. Makas sahur secukupnya
  3. Tidak makan berlebihan ketika berbuka, mengurangi makan makanan yang manis
  4. Jika mengalami tanda hipiglikemia, hiperglikemi atau kekurangan air, disarankan untuk segera berbuka puasa.
  5. Kurangi minum kopi atau dapat diganti dengan teh yang encer tdk terlalu pekat.

Contoh Menu Puasa Untuk Diabetisi :

Sahur :
– Nasi Aroma
– Pepes Ayam Kemangi
– Sate Tempe
– Sup Sayuran
– Mixed Fruits

Menjelang Imsak : Puding DM
Tajil : Kurma

Buka :
– Nasi Timbel
– Ikan Bakar Ala Bunda
– Bacem Tahu
– Cah Sayuran
– Pepaya Potong

Setelah Tarawih : Snack DM
Menjelang Tidur : Jus Buah DM

Tips :

  1. Konsultasikan dahulu anak Anda ke dokter Endokrinologi Anak untuk memutuskan apakah anak anda boleh puasa atau tidak.
  2. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter Endokrinologi anak anda untuk penyesuaian regimen dan dosis insulin, diet, aktivitas fisik serta monitoring selama anak puasa.
  3. Konsultasikan ke Ahli Gizi/ Dietisien berkaitan pengaturan makan selama anak berpuasa
  4. Monitor kadar gula darah lebih sering.
  5. Kenali tanda-tanda komplikasi akut, seperti hipoglikemia ataupun tanda-tanda dehidrasi
  6. Jika terdapat hipoglikemia segera minta anak untuk berbuka puasa.

Penulis : Retno Muji Muliany, S.Gz, RD


bmi.jpg

May 15, 2017 Uncategorized

Obesitas pada anak

 

Overweight dan obesitas, atau yang secara keseluruhan dikenal dengan istilah kegemukantidak hanya dapat terjadi pada dewasa tetapi juga dapat terjadi pada anak dan remaja. Angka kejadian kegemukan pada anak dewasa ini kian meningkat dari 20% sampai 50%. Anak yang mengalami obesitas saat kecil cenderung untuk juga mengalami obesitas saat menginjak dewasa.

 

Tanpa diduga, faktor genetic memainkan peran yang cukup besar yaitu sebesar 80%. Artinya,  bila kedua orang tua memiliki bakat obesitas, maka anak memiliki peluang untuk menjadi obesitas sebesar 80%. Selain itu, gaya hidup dan kebiasaan tertentu juga memainkan peran yang sangat besar terhadap terjadinya obesitas. Kebiasaan tersebut tentunya adalah kebiasaan yang cenderung statis, seperti nonton TV berlebihan, main video games berlebihan, dan kebiasan lain dengan gerakan minimal.

 

Mengapa anak dengan obesitas perlu diperhatikan? Karena obesitas pada anak dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit kardiovaskular pada masa yang lebih muda, Diabetes mellitus tipe 2, meningkatkan resiko terjadinya hipertensi, menimbulkan gangguan ortopedi, menyebabkan sleep apnea, penyakit kandung empedu, serta problem psikososial.

 

Bagaimana cara menilai seorang anak mengalami obesitas? Berat badan tinggi atau gemuk saja belum tentu obesitas. Pertama-tama perlu diukur berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) anak, lalu masing-masing di plot ke kurva berat badan terhdadap tinggi badan (BB/TB). Bila kurva BB/TB (dalam hal ini dipakai kurva dari WHO) berada pada standar deviasi diatas 1 berarti anak memiliki resiko terjadinya overweight. Setiap anak yang memiliki kurva BB/TB diatas 1 standar deviasi harus dihitung body mass index-nya(BMI).

 

Cara menghitung BMI adalah Berat badan anak dibagi dengan tinggi badan (dalam satuan meter) dikuadratkan (BB/(TB)2). Hasil BMI tersebut kemudian di plot terhadap usia. Bila kurva BMI terhadap usia (BMI/U) anak berada diatas 2 berarti anak mengalami overweight. Bila kurva BMI/U anak berada diatas 3 standar deviasi berarti anak termasuk obesitas.

Apakah anak anda termasuk dalam overweight atau obesitas?

 

 

Dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A

Klinik AP&AP


07.04.17.jpg

April 10, 2017 Uncategorized

PENGATURAN MAKAN DIABETES MELLITUS
PADA ANAK

TUJUAN KHUSUS PENGELOLAAN MAKAN PADA DM TIPE 1 PADA ANAK

  1. Tumbuh kembang optimal
  1. Perkembangan emosional normal
  2. Kontrol metabolik yang baik tanpa  menimbulkan hipoglikemia.
  3. Pada saatnya mampu mandiri mengelola penyakitnya

Hal Yang Perlu Diperhatikan

  • Ketahui kebutuhan gizi dengan mempertimbangkan umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, aktfitas fisik, masa purbetas
  • Makan teratur sesuai jadwal, jenis & jumlah makanan yang diatur dietisien
  • Gunakan Daftar Penukar untuk variasi makanan dengan menu keluarga (konsultasikan dengan dietisien)
  • Tidak melewatkan waktu makan
  • Konsisten dalam keseimbangan antara diet-aktivitas fisik-insulin
  • Pemakaian gula murni diperhitungkan sebagai energi
  • Gunakan pemanis alternatif
  • Gunakan Bahan Makanan Penukar (konsultasikan dengan dietisien)

Bagi diabetisi yang menggunakan dosis Insulin Konvensional jadwal makan berpatokan pada 3 J, jadwal, jenis dan jumlah makanan pada standar dan konsisten dalam keseimbangan antara diet, aktivitas fisik dan insulin. Pembagian makan pada diet ini berdasarkan persentase energi, sebagai berikut :

Makan Pagi              20% total Energi

Selingan Pagi             10% total Energi

Makan Siang                         30% total Energi

Selingan Sore             10% total Energi

Makan Sore               20% total Energi

Selingan Malam         10% total Energi

 

Penulis : Ibu Retno Muji Muliany, S.Gz


30.03.17.jpg

March 31, 2017 Uncategorized

DIABETES MELITUS PADA ANAK

(Bagian 5)

 

KOMPLIKASI

Komplikasi DM tipe-1 dapat digolongkan sebagai komplikasi jangka dekat (akut) dan komplikasi jangka panjang (kronik). Sebagian besar komplikasi akut bersifat dapat dikembalikan ke fungsi normal sedangkan yang kronik bersifat tidak dapat dikembalikan ke fungsi normal tetapi perjalanan penyakitnya dapat diperlambat melalui intervensi. Secara umum, komplikasi kronik disebabkan kelainan pembuluh darah kecil di daerah mata, saraf, dan ginjal serta kelainan pembuluh darah besar. Perbedaan HbA1c sebesar 1% sudah mengurangi risiko komplikasi sebanyak 25-50%.

 

Komplikasi jangka pendek yang sering terjadi adalah hipoglikemia. Gejala klinis hipoglikemia bervariasi dan dibagi menjadi gejala neurogenik dan gejala neuroglikopenia.

Orangtua dan pengasuh biasanya akan melihat gejala-gejala awal hipoglikemia pada anak berupa perubahan tingkah laku seperti iritabilitas (gampang marah/rewel), pucat, dan berkeringat. Umumnya sebelum berlanjut menjadi hipoglikemia berat, tubuh akan memberikan respon yang cepat apabila diberikan minuman atau makanan dekstrosa/gula melalui mulut.

 

Hipoglikemia dapat dicegah dengan keteraturan pengobatan insulin, pengaturan makan/asupan makanan yang disesuaikan dengan aktivitas atau kegiatan yang dilakukan. Untuk itu edukasi orangtua mengenai pengenalan gejala hipoglikemia, pencegahan hipoglikemia serta pengawasan pada anak diabetes merupakan materi edukasi penting.

 

 

EDUKASI

Pendidikan merupakan unsur penting pengelolaan DM tipe-1, yang harus dilakukan secara terus menerus dan bertahap sesuai tingkat pengetahuan penderita/keluarga. Penderita maupun keluarga harus disadarkan bahwa DM tipe-1 merupakan suatu penyakit seumur hidup yang keberhasilan pengelolaannya sangat bergantung pada kemauan penderita dan keluarganya untuk hidup dengan gaya hidup yang sehat.

 

Tujuan pendidikan adalah:

  1. Menimbulkan pengertian dan pemahaman mengenai penyakit dan komplikasinya.
  2. Memotivasi penderita dan keluarganya agar patuh berobat.
  3. Memberikan ketrampilan penanganan DM tipe-1.
  4. Mengembangkan sikap positif terhadap penyakit sehingga tercermin dalam pola hidup sehari-hari.
  5. Mencapai kontrol metabolik yang baik sehingga terhindar dari komplikasi.
  6. Mengembangkan kemampuan untuk memberikan keputusan yang tepat dan logis dalam pengelolaan sehari-hari.
  7. Menyadarkan penderita bahwa DM tipe-1 bukanlah penghalang untuk mencapai cita-cita.

 

Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan pasien dengan menggunakan kurva pertumbuhan setiap 3 bulan merupakan bagian yang sangat penting dalam perawatan berkelanjutan anak dan remaja dengan diabetes. Pasien dengan kontrol metabolik buruk memperlihatkan kenaikan tinggi badan yang lebih rendah, sementara pasien dengan kontrol metabolik baik dapat mempertahankan kenaikan tinggi badan secara optimal sesuai dengan kurva pertumbuhan ideal.

—- selesai —-

 

Sumber:

Buku KONSENSUS NASIONAL PENGELOLAAN DIABETES MELLITUS TIPE 1 (2009)

 

Penulis : dr. Meida Tanukusumah, Sp.A


23.03.17.jpg

March 23, 2017 Uncategorized

DIABETES MELITUS PADA ANAK

(Bagian 4)

 

PENGATURAN MAKAN

 

Pengaturan makanan pada penderita DM tipe-1 bertujuan untuk mencapai kontrol metabolik yang baik tanpa mengabaikan kalori yang dibutuhkan untuk metabolisme basal, pertumbuhan, pubertas, maupun aktivitas sehari hari. Dengan pengaturan makanan ini diharapkan anak tidak menjadi obes dan dapat dicegah timbulnya hipoglikemia.

 

Jumlah kalori per hari yang dibutuhkan dihitung berdasarkan berat badan ideal. Penghitungan kalori ini memerlukan data umur, jenis kelamin, tinggi badan dan berat badan saat penghitungan, serta data kecukupan kalori yang dianjurkan.

 

Komposisi kalori yang dianjurkan adalah 50-60% dari karbohidrat, 10-15% berasal dari protein, dan 30% dari lemak. Karbohidrat sangat berpengaruh terhadap kadar glukosa darah, dalam 1-2 jam setelah makan 90% karbohidrat akan menjadi glukosa. Jenis karbohidrat yang dianjurkan ialah yang berserat tinggi dan memiliki indeks glikemik dan glycemic load yang rendah, seperti golongan buah-buahan, sayuran, dan sereal yang akan membantu mencegah lonjakan kadar glukosa darah.

 

Pada setiap kunjungan sebaiknya diberikan penjelasan mengenai pengaturan makan agar dapat disesuaikan dengan umur, aktivitas yang dilakukan, masa pubertas, dan sebagainya. Pola makan dan pemberian insulin saling terkait sehingga pemantauan kadar glukosa darah sangat penting untuk evaluasi pengobatan.

 

OLAHRAGA

 

Olahraga sebaiknya menjadi bagian dari kehidupan setiap orang, baik anak, remaja, maupun, dewasa; baik penderita DM atau bukan. Olahraga dapat membantu menurunkan berat badan, mempertahankan berat badan ideal, dan meningkatkan rasa percaya diri. Untuk penderita DM berolahraga dapat membantu untuk menurunkan kadar gula darah, menimbulkan perasaan ‘sehat’ atau ‘well being’, dan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, sehingga mengurangi kebutuhan insulin. Pada beberapa penelitian terlihat bahwa olahraga dapat meningkatkan kapasitas kerja jantung dan mengurangi terjadinya komplikasi DM jangka panjang.

 

Bagi penderita DM tipe-1 ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum, selama, dan setelah berolahraga. Ada beberapa penyesuaian diet, insulin, dan cara monitoring gula darah agar aman berolahraga, antara lain:

 

  1. Sebelum berolah raga

 

  1. Tentukan waktu, lama, jenis, intensitas olahraga. Diskusikan dengan pelatih/guru olah raga dan konsultasikan dengan dokter.
  2. Asupan karbohidrat dalam 1-3 jam sebelum olahraga.
  3. Cek kontrol metabolik, minimal 2 kali sebelum berolahraga.
  4. Kalau Gula Darah (GD) <90 mg/dL dan cenderung turun, tambahkan ekstra karbohidrat.
  5. Kalau GD 90-250 mg/dL, tidak diperlukan ekstra karbohidrat (tergantung lama aktifi tas dan respons individual).
  6. Kalau GD >250 mg/dL dan keton urin/darah (+), tunda olah raga sampai GD normal dengan insulin.
  7. Bila olah raga aerobik, perkirakan energi yang dikeluarkan dan tentukan apakah penyesuaian insulin atau tambahan karbohidrat diperlukan.
  8. Bila olah raga anaerobik atau olah raga saat panas, atau olahraga kompetisi insulin dapat dinaikkan.
  9. Pertimbangkan pemberian cairan untuk menjaga hidrasi (250 mL pada 20 menit sebelum olahraga).

 

  1. Selama berolah raga

 

  1. Monitor GD tiap 30 menit.
  2. Teruskan asupan cairan (250 ml tiap 20-30 menit).
  3. Konsumsi karbohidrat tiap 20-30 menit, bila diperlukan.

 

  1. Setelah berolah raga

 

  1. Monitor GD, termasuk sepanjang malam (terutama bila tidak biasa dengan program olahraga yang sedang dijalani).
  2. Pertimbangkan mengubah terapi insulin.
  3. Pertimbangkan tambahan karbohidrat kerja lambat dalam 1-2 jam setelah olahraga untuk menghindari hipoglikemia awitan lambat. Hipoglikemia awitan lambat dapat terjadi dalam interval 2 x 24 jam setelah latihan.

 

Respons penderita DM tipe-1 terhadap suatu jenis olahraga sangat individual, karena itu acuan di atas merupakan acuan umum.

 

KOMPLIKASI

(bersambung….)

 

Penulis : dr. Meida Tanukusumah, Sp.A


16.03.2017.jpg

March 16, 2017 Uncategorized

DIABETES MELITUS PADA ANAK

(Bagian 3)

 

Dosis Insulin

 

Penyesuaian dosis insulin bertujuan untuk mencapai kontrol metabolik yang optimal, tanpa meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia dan tanpa mengabaikan kualitas hidup penderita baik jangka pendek maupun jangka panjang. Penyesuaian dosis biasanya dibutuhkan pada periode permulaan awal sakit, masa remaja, masa sakit, dan sedang menjalankan pembedahan. Pada dasarnya kebutuhan insulin adalah sesuai dengan kebutuhan metabolisme tubuh.

 

Pada masa remaja, kebutuhan insulin meningkat karena bekerjanya hormon seks steroid, meningkatnya amplitudo dan frekuensi sekresi growth hormone, yang kesemuanya merupakan hormon yang berlawanan dengan kerja insulin.

Pada saat sakit, dosis insulin perlu disesuaikan dengan asupan makanan tetapi jangan menghentikan pemberian insulin.

 

Pada saat terjadi perubahan pola makan untuk jangka tertentu misalnya pada bulan puasa, dosis insulin juga harus disesuaikan hingga 2/3 atau 3/4 dari insulin total harian, serta distribusinya harus disesuaikan dengan porsi dosis sebelum buka puasa lebih besar dari dosis

sebelum makan sahur.

 

Pilihan jenis regimen insulin, dosis penyuntikan dan penyesuaian dosis insulin harus dibicarakan dengan dokter spesialis anak terlebih dahulu. Melakukan pemantauan gula darah harian di rumah selama penggunaan dosis insulin awal untuk memantau kesesuaian dosis dan kecukupan asupan kalori. Membicarakan aktivitas keseharian pasien, sehingga semuanya dapat berjalan lancar tanpa kendala guna mencapai kualitas hidup yang baik.

 

PENYUNTIKAN INSULIN

 

Mengingat sebagian besar waktu penderita berada di luar lingkungan medis dan insulin merupakan obat yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, maka ketrampilan menyuntik harus dikuasai secara benar. Suntikan insulin yang digunakan sebaiknya selalu disesuaikan dengan kekuatan insulin yang dipakai (misal insulin kekuatan 100 U/mL sebaiknya menggunakan jarum suntik 1mL=100U).

 

Untuk mendapatkan efek insulin yang diharapkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyerapan insulin. Faktor-faktor tersebut adalah lokasi (tercepat adalah dinding perut kemudian diikuti berturut-turut lengan, paha dan bokong); kedalaman suntikan (suntikan intramuskular akan mempercepat absorpsi); jenis insulin; dosis insulin (dosis kecil lebih

cepat absorpsinya); kegiatan fisik (olahraga meningkatkan absorpsi); ada tidaknya gangguan tebal/tipisnya kulit (kedua keadaan akan memperlambat absorpsi); dan perbedaan suhu (suhu panas mempercepat absorpsi).

 

Insulin harus disuntikkan secara subkutan dalam dengan melakukan ‘pinched’ (cubitan) dan jarum suntik harus membentuk sudut 450, atau 900 bila jaringan subkutannya tebal. Untuk penyuntikan tidak perlu menggunakan alkohol sebagai tindakan aseptik pada kulit. Penyuntikan ini dapat dilakukan pada daerah yang sama setiap hari tetapi tidak dianjurkan untuk melakukan

penyuntikan pada titik yang sama. Rotasi penyuntikan sangat dianjurkan.

 

PENGATURAN MAKAN

… (bersambung)

 

Penulis : dr. Meida Tanukusumah, Sp.A

 


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2021.