17.05.18.jpg

May 17, 2018 Uncategorized

Bulan puasa tahun ini sudah dimulai. Setiap muslim tentunya ingin memenuhi kewajibannya untuk berpuasa, tak lain hal nya juga para penyandang DM Tipe 1. Diabetes tidak menghalangi anak untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Namun, diperlukan strategi khusus, baik dari pengaturan insulin, makanan, maupun aktivitas fisik agar kadar gula darah tetap stabil dan terpantau selama berpuasa. Dengan pengaturan yang baik, diharapkan anak-anak terhindar dari komplikasi dan tetap terjaga kesehatannya.

Syarat utama pada penyandang DM Tipe 1 untuk berpuasa adalah kondisi gula darah yang terkontrol. Pada keadaan gula darah yang tidak terkontrol, dapat terjadi beberapa komplikasi, seperti ketoasidosis dan poliuria (bertambahnya pengeluaran urin). Bila poliuria terus terjadi disertai dengan kondisi berpuasa (kurangnya asupan cairan) maka dapat menyebabkan kondisi dehidrasi. Oleh karena itu, pemantauan kadar gula darah sebelum berpuasa sangat disarankan.

Hal pertama yang dapat dimodifikasi selama bulan puasa adalah pla diet. Prinsip diet yang perlu dijalankan adalah menyesuaikan jumlah kalori yang dikonsumsi dengan jumlah kalori yang diipakai selama aktivitas berpuasa. Pembahasan khusus mengenai pola diet ini dapat dipelajari lebih lanjut pada artikel https://klinikanakapap.com/serba-serbi-diet-anak-dm-tipe-1-selama-berpuasa/

Hal kedua yang dapat dimodikfikasi adalah aktivitas fisik. Anak dapat melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa. Namun, anak disarankan untuk beristirahat sejenak setelah zuhur dan berolahraga ringan setelah tarawih. Selama beraktivitas, perlu diperhatikan risiko hipoglikemia. Tanda-tanda hipoglikemia, antara lain lemas, keringat dingin, pandangan kabur, berdebar-debar. Bila terdapat tanda- tanda hipoglikemia, anak harus menghentikan kegiatannya dan membatalkan puasa nya dengan segera mengonsumsi snack atau minuman manis.

Hal terakhir yang perlu disesuaikan adalah dosis insulin. Bila ingin berpuasa, setiap anak penyandang DM Tipe 1 wajib berkonsultasi dahulu kepada dokter untuk menyesuaikan dosis insulin yang tepat. Biasanya, dosis insulin yang diberikan dikurangi sebanyak 25&-20% dari dosis harian. Hal ini dilakukan guna mencegah kondisi hipoglikemia.

Mengingat banyaknya komplikasi yang dapat terjadi, setiap anak penyandang DM Tipe 1 tidak dapat memaksakan dirinya untuk berpuasa. Konsultasi dengan dokter merupakan hal yang sangat disarankan sebelum berpuasa. Bila anak berpuasa, lakukanlah puasa yang aman yaitu dengan manajemen diaet yang baik, pengaturan aktivitas fisik yang tepat, dan penentuan dosis insulin yang tepat.

Penulis : dr. Maria Gita Merisa

 


03.05.18-1.jpg

May 3, 2018 Uncategorized

Pertanyaan ini sangat sering ditanyakan orang tua. Banyak orang tua yang takut kondisi berpuasa dapat membuat kadar gula anak menjadi tidak terkontrol. Menurut para ahli, diabetes tidak menghalangi anak untuk menjalankan ibadah puasa ramadhan. Hanya saja diperlukan strategi khusus agar kadar gula darah tetap stabil dan terpantau selama berpuasa, sehingga mereka tetap sehat dan terhindar dari komplikasi.  

Puasa yang berlangsung 12-13 jam tidak akan mengganggu kesehatan bagi orang sehat maupun penyandang diabetes melitus (DM) tipe 1 yang kadar gula darahnya terkontrol. Namun pada diabetes yang tidak terkontrol, risiko ketoasidosis (salah satu komplikasi akibat kadar gula darah yang tinggi) meningkat. Di samping itu, gula darah yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan poliuria (bertambahnya pengeluaran air kemih) yang berujung pada dehidrasi. Oleh karena itu, puasa hanya disarankan bagi penyandang diabetes yang memilih kontrol gula darah yang baik.

Tujuan pengaturan makanan (Diet) yang tepat di bulan ramadhan diantaranya adalah mencegah hipoglikemi / hiperglikemi, menjaga berat badan agar tetap normal, dan mencegah dehidrasi sehingga diabetisi dapat beraktifitas seperti biasa. Untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan jadwal dan jumlah makan, diabetisi dapat melakukan latihan berpuasa selama 2 s/d 3 hari sebelum puasa. Selama berpuasa, diabetisi dianjurkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur. Hindari pula mengonsumsi makanan secara berlebihan, khususnya gula murni. Selain itu, disarankan juga untuk menjaga asupan cairan lebih kurang 1500-2000ml sehari

Tidak berbeda dengan diet di hari – hari biasa, prinsip makan sehat bagi diabetisi adalah mengikuti pola 3J yaitu tepat Jumlah, tepat Jadwal dan tepat Jenis dalam pemilihan bahan makanan yang akan dikonsumsi. Jumlah makanan yang harus dikonsumsi tetap mengikuti pola menu seimbang dengan kombinasi makanan yang baik.

Nah, jadi sudah terjawab yaaa bahwa penyandang DM Tipe 1 boleh berpuasa selama bulan ramadhan selama gula darahnya terkontrol dan diet yang dilakukan pun sesuai dengan prinsip 3J. Namun, ada baiknya bila berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mulai berpuasa.

 

Narasumber : Retno Muji Muliany, S.Gz, RD


dr.-aman.jpg

April 5, 2018 Uncategorized

dr. Aman Bhakti Pulungan adalah seorang Dokter Spesialis Anak dengan keahlian khusus di bidang Endokrinologi Anak,  suatu ilmu tentang seluk beluk kerja hormon dan kelainan-kelainannya. Beberapa penyakit endokrin anak yang mungkin sudah dikenal diantaranya adalah Diabetes Mellitus Tipe 1, Hiperplasia Adrenal Kongenital, krisis adrenal, perawakan pendek varian normal dan patologis, disorder of sexual development, gangguan pubertas, gangguan tiroid, osteogenesis imperfecta dll.

Dalam kurun waktu 8 – 10 tahun terakhir dr. Aman banyak terlibat didalam berbagai program Diabetes di tingkat nasional maupun regional, antara lain menjadi Project Leader World Diabetes Foundation – DM type 1 in Indonesia. Selain itu juga menjadi anggota Dewan Penasehat Physician International Society for Pediatric and Adolescent Diabetes.

Dr. Aman Pulungan menggagas berdirinya IKADAR, suatu organisasi yang anggotanya terdiri dari pasien dan keluarga penderita DM tipe 1, dokter dan edukator.  Beliau juga mempunyai peran penting dalam pembentukan KAHAKI untuk para keluarga penderita Hiperplasia Adrenal Kongenital, FOSTEO – forum keluarga osteogenesis imperfekta, dan TSI (Turner Society Indonesia).

Saat ini dr. Aman Pulungan menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia untuk periode kedua kalinya. Juga sebagai Kepala Divisi Endokronologi Departemen Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo/ FKUI, bertugas di Kementerian Kesehatan didalam komite untuk penempatan dokter spesialis.  Dan di tingkat internasional beliau adalah President-Elect of Asia Pacific Pediatric Association, Standing Committee International Pediatric Association, Past president of Asia Pacific Paediatric Endocrine Society.

Sebagai praktisi dan ilmuwan, dr. Aman Pulungan menjadi anggota berbagai organisasi seperti APPES, ESPE, ISPAD, International Fellow of American Academy of Pediatrics, GPED, DOHAD Society, Endocrine Society, dan Dewan Editorial Jurnal Internasional Endokrinologi Anak.

Tentunya beliau juga berpraktek di AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center di area Kuningan, Jakarta Selatan. dr. Aman praktek setiap hari Senin, Selasa, dan Kamis mulai jam 16.00 – 18.00 WIB dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu.

                    


15.03.2018-1-1200x1068.jpg

March 22, 2018 Uncategorized

Dampak Hipotiroid Kongenital

Hipotiroid pada bayi bisa bersifat permanen (menetap) atau sementara (transien). Disebut sebagai HK transien bila setelah beberapa bulan atau beberapa tahun sejak lahir kelenjar gondok mampu memproduksi sendiri hormon tiroidnya, sehingga pengobatan dapat dihentikan. HK permanen membutuhkan pengobatan seumur hidup dan penanganan khusus.

Dampak HK pada anak yang sangat menyedihkan adalah mental terbelakang yang tidak bisa dipulihkan. Dampak terhadap keluarga, beban ekonomi karena anak HK harus mendapat pendidikan, pengasuhan dan pengawasan khusus. Secara psikososial\ keluarga akan lebih rentan terhadap lingkungan sosial karena rendah diri dan menjadi stigma dalam keluarga dan masyarakat, Selain itu produktifitas keluarga menurun  karena harus mengasuh anak dengan HK. Bila angka kejadian HK diperkirakan 1 diantara 2000-3000 bayi baru lahir, maka dari 5 juta kelahiran di Indonesia, akan lahir lebih dari 1600 penderita HK tiap tahun dan secara kumulatif akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia penerus bangsa. Supaya bayi dengan HK tidak mengalami gangguan tumbuh kembang, satu-satunya cara untuk mengetahui kelainan HK sedini mungkin dan segera mengobatinya (kurang dari umur 1 bulan) adalah dengan melakukan skrining (uji tapis)

 

Skrining Hipotiroid Kongenital

Skrining HK paling baik dilakukan saat bayi berumur 48-72 jam atau sebelum bayi pulang. Sedikit darah bayi diteteskan di atas kertas saring khusus, dikeringkan kemudian bercak darah dikirim ke laboratorium

Di laboratorim kadar hormon TSH diukur dan hasilnya dapat diketahui dalam waktu kurang dari 1 minggu. Bila hasil tes tidak normal, bayi akan diperiksa oleh Tim Konsultan Program Skrining Bayi Baru Lahir. Skrining HK telah merupakan prosedur rutin di Negara maju sejak tahun 1970 an. Di Indonesia baru dilaksanakan sejak tahun 2000 dan sampai tahun 2014, baru diskrining kurang dari 1% dari jumlah seluruh bayi baru lahir

Pengobatan

Bayi yang sudah ditetapkan menderita HK, segera diberi  pengobatan dengan  pengganti hormon tiroid yaitu berupa tablet tiroksin yang bisa digerus kemudiaan dicampur ASI atau air diberikan satu kali sehari. Khasiat obat sama seperti hormon yang dihasilkan oleh kelenjar gondok. Obat tiroksin mudah didapat dan mudah pemberiannya, harga obat tidak mahal.

Kesimpulan

Skrining hipotiroid kongenital bertujuan untuk mendeteksi kelainan sedini mungkin guna mencegah kerusakan otak yang permanen dengan memberikan pengobatan sebelum anak berusia 1 bulan. Selama obat diberikan dengan takaran yang benar secara teratur, anak dengan hipotiroid akan memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan seperti anak normal bisa sekolah dan bekerja

Skrining HK akan sangat menguntungkan bagi anak, keluarga dan bangsa dan seyogyanya didukung oleh semua petugas kesehatan dan masyarakat.

 

Sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia


15.02.2018-1-1200x989.jpg

February 15, 2018 Uncategorized

Untuk dapat memberikan perlindungan kesehatan bagi Anak, mulai dari Anak lahir sampai dengan dewasa. Sangat penting bagi orang tua memberikan imunisasi sesuai dengan jadwalnya. Terdapat 15 macam imunisasi wajib yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia. Beberapa vaksin diantaranya memerlukan pengulangan (BOOSTER) juga tersedia dalam bentuk kombinasi, yaitu 3 – 6 macam antigen dalam satu kali penyuntikan.

Berikut beberapa vaksin yang dianjurkan untuk bayi dan anak :

BCG

  • Vaksin BCG berguna untuk mencegah infeksi terutama TB berat
  • Semua bayi harus mendapat vaksinasi BCG pada usia <3 bulan
  • Menimbulkan bisul pada bagian ketiak, leher bagian bawah atau pangkal paha pada 3-6 minggu setelah penyuntikan dan akan sembuh sendiri tanpa perlu diobati à bekas parut

Difteri, Tetanus, Pertusis (DPT/DTP)

Imunisasi DTP/DPT ini adalah kombinasi vaksin untuk melindungi dari difteritetanus, dan pertusis. Difteri dulunya merupakan penyebab utama penyakit dan kematian anak. Tetanus adalah penyakit serius yang menyebabkan rasa sakit pada otot rahang. Sedangkan pertusis juga dikenal sebagai batuk rejan, infeksi pernafasan yang sangat menular.

Waktu Pemberian Imunisasi :

  • Bayi (0-11 bulan) :3 dosis DTPà usia 2,3,4 atau 2,4,6
  • Usia 18 bulan :1 dosis DTP
  • Usia 5 tahun :1 dosisi DT (kelas 1)
  • Usia 10-12 tahun :1 atau 2 dosis Td (kelas 2 dan kelas 5)
  • Usia 18 tahun :1 dosis Td
  • Vaksinasi Td atau Tdap, diulang setiap 10 tahun sekali

3 Jenis vaksin untuk imunisasi Difteri:

  • Vaksin DTwP/DTaP-HB-Hib : umur <5 tahun
  • Vaksin DT/DTaP : umur 5-7 tahun
  • Vaksin Td/Tdap : umur >7 tahun

Hib (Haemophilus influenza tipe b)

Hib adalah penyebab meningitis dan yang sering terjadi pada bayi dan anak dibawah 5 tahun. Anak dengan Hib bisa menderita kerusakan otak permanen atau komplikasi serius. Vaksin Hib diberikan 4 dosis pada usia 2,4, dan 6 bulan, kemudian diulang pada usia 12 – 15 bulan. Vaksin Hib ini dapat pula diberikan sebagai vaksin kombinasi.

Polio

Imunisasi polio bertujuan mencegah penyakit polio, yang bila mewabah bisa membunuh dan melumpuhkan ribuan orang. Vaksin polio yang ada saat ini dapat diberikan secara oral (OPV) ataupun disuntik (IPV).

Hepatitis B (HepB)

Penyakit Hepatitis B disebabkan oleh virus Hepatitis B yang dapat menular melalui darah atau cairan tubuh. Penyakit Hepatitis B merupakan penyakit liver yang dapat menjadi kronis yang bisa memicu gagal liver dan kanker.

Seorang bayi yang baru lahir dari ibu dengan HBsAg positif harus mendapatkan vaksin hep B dosis pertama sebelum usia 12 jam ditambah dengan imunoglobulin hepatitis B pada saat yang sama dan disuntikkan pada paha yang berbeda.

Waktu pemberian vaksin HepB pada bayi baru lahir :

  • Dosis pertama : sebelum usia bayi 12 jam
  • Dosis kedua : usia 1 – 2 bulan
  • Dosisi ketiga : usia 6 – 12 bulan

Rotavirus

Rotavirus merupakan virus yang menyebar dengan mudah pada bayi dan anak kecil. Virus bisa menyebabkan diare parah, muntah, demam, dan nyeri perut. Anak yang terkena penyakit rotavirus bisa mengalami dehidrasi dan perlu dirawat di rumah sakit.

Imunisasi rotavirus jadi cara terbaik untuk melindungi anak dari penyakit rotavirus. Kebanyakan anak (9 dari 10 anak) yang menerima imunisasi ini terlindungi dari penyakit rotavirus yang parah. Sedang sekitar 7 dari 10 anak akan terlindungi dari penyakit rotavirus. Imunisasi rotavirus diberikan melalui mulut (oral), bukan dengan injeksi (suntik).

Di Indonesia terdapat dua jenis vaksin, yaitu vaksin yang diberikan pada usia dua bulan, empat bulan, dan enam bulan,  serta dosis yang diberikan pada usia 2 dan 4 bulan. Dosis pertama paling efektif bila diberikan sebelum anak berusia 15 minggu. Anak juga perlu menerima semua dosis imunisasi rotavirus sebelum berusia 8 bulan.

Influenza

Pemberian vaksin Influenza merupakan perlindungan yang paling baik terhadap flu dan komplikasinya, serta dapat mencegah penyebaran flu terhadap orang sekitar. Pemberian vaksin ini dapat diberikan setiap tahun sejak anak berusia 6 bulan.

Pneumokokus (PCV)

Mencegah Streptococcus pneumoniae, penyakit yang bisa menjadi sangat serius bahkan memicu kematian. Streptococcus pneumoniae menyebabkan infeksi darah atau sepsisinfeksi telinga, meningitis, dan pneumonia pada anak. Vaksin diberikan pada bayi usia 2,4,6, dan 12-15 bulan.

Campak

Imunisasi ini bertujuan mencegah penyakit campak. Campak disebabkan oleh virus morbili. Ketika orang yang memiliki virus ini bersin atau batuk, semburan cairan yang mengandung virus menyebar ke udara. Cairan ini tetap aktif selama dua jam di udara. Bayi bisa terinfeksi bila kontak dengan cairan ini. Ia juga bisa terkena campak dari kontak kulit dengan orang yang terkena virus. Wajib campak usia 9 bulan dan diulang pada umur 2 tahun dan pada saat masuk sekolah SD. Vaksin kombinasi MMR diberikan pada umur >12 bulan dan diulang saat anak masuk sekolah SD.

MMR (measles, mumps, rubella)

Campak, gondongan, dan rubella.

  • Measles

Demam tinggi, ruam kulit kemerahan, batuk, pilek, iritasi di mata

  • Mumps

Demam, nyeri otot, nafsu makan berkurang, KGB leber membesar

  • Rubella

Demam ringan, kemerahan kulit, nyeri sendi à hati2 wanita hamil

Dosis pertama: usia 12-15 bulan

Dosis kedua: usia 4-6 tahun

Ketiganya merupakan penyakit berbahaya yang bisa menyebabkan ruam dan demam serta memicu kondisi serius seperti pneumonia, meningitis, seizure, dan gangguan pendengaran.

HPV (Human Papilloma Virus)

  • Kanker serviks merupakan manifestasi klinis dari infeksi HPV
  • Faktor risiko: aktivitas seksual, seks ganti pasangan, riwayat infeksi, merokok, faktor genetik
  • Vaksin HPV diberikan mulai usia 10 tahun. Vaksin HPV bivalen diberikan 3x (0-1-6). Vaksin HPV tetravalen (0-2-6). Apabila diberikan pada usia 10-13 tahun pemberian cukup 2x, dengan interval 6-12 bulan

Japanese Ensefalitis (JE)

  • Ditularkan melalui nyamuk. Pejamu utama burung dan babi
  • Ditemukan di Asia dan sebagian Pasifik à Vietnam, Kamboja, Sarawak (Malaysia), India, Nepal, Cina, Korea, (Indonesia?? Bali?)
  • JE sebagai penyebab ensefalitis 2%-18%
  • Vaksin JE diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis.
  • Pemberian 1x, untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun berikutnya

Varisela

Mencegah cacar air. Beberapa anak yang telah divaksin bisa tetap terkena cacar air tapi biasanya sangat ringan dan sembuh lebih cepat. Risiko cacar air antara lain demam dan ruam parah. Komplikasi dari cacar air berupa infeksi bakteri pada kulit, bengkak pada otak, dan pneumonia. Vaksin diberikan pada usia : 12 – 15 bulan dan 4 – 6 tahun.

Hepatitis A

Melindungi dari Hepatitis A, penyakit yang menyebabkan peradangan liver. Anak kecil biasanya tidak menunjukkan gejala jadi sering kali penyakit ini tidak dikenali hingga pengasuh anak jatuh sakit.

Waktu pemberian

  • Usia 12 – 23 bulan
  • Dosis kedua pada 6 bulan setelah diberikan dosis pertama

Imunisasi tidak menjadi jaminan 100 persen anak tidak akan sakit, tapi imunisasi menjadi pertahanan terbesar anak untuk melawan penyakit. Bila anak menerima imunisasi influenza, ia tetap bisa terkena flu tapi kemungkinan kondisinya tidak parah. Ketika anak menerima imunisasi cacar air, imunisasi ini 80 persen efektif mencegah infeksi dan 100 persen efektif melindunginya dari penyakit serius ini.

Semakin banyak anak yang diimunisasi, semakin besar kemungkinan mereka terlindungi, termasuk orang yang tidak menerima imunisasi karena faktor usia, kesehatan, serta alasan agama.

 

Sumber :

  • Dikutip dari presentasi dr. Meida Tanukusumah, Sp.A pada seminar kesehatan “Tanya Jawab Seputar Vaksinasi Anak” pada 2 februari 2018 di Klinik AP&AP
  • https://www.ibupedia.com/artikel/balita/12-imunisasi-wajib-anjuran-idai-untuk-anak

25.01.2018.jpg

January 25, 2018 Uncategorized

PENTINGNYA MEMANTAU PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK (BAGIAN 1)

Sejak anak dilahirkan, pertumbuhan badan adalah perubahan yang mudah terlihat. Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai pertambahan ukuran, jumlah sel, dan jaringan pembentuk tubuh lainnya sehingga ukuran fisik dan bentuk tubuh bertambah sebagian atau keseluruhan. Pertumbuhan dapat dinilai dengan mengukur tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala.

Masa pertumbuhan tercepat seorang anak adalah 1000 hari pertama kehidupan (1.000 HPK), yang dinilai sejak awal kehamilan hingga ulang tahun kedua seorang anak. Pada masa ini terjadi pembentukan otak dan organ penting lainnya. Potensi tinggi badan seorang anak sangat bergantung pada kecukupan nutrisi yang didapat selama masa ini. Adanya gangguan pertumbuhan yang tidak terdeteksi dan tidak diintervensi menyebabkan efek jangka panjang yang dapat menurunkan kualitas hidupnya.

 

Cara mudah mengetahui pertumbuhan bayi usia satu tahun normal atau tidak adalah berat badan mencapai tiga kali berat lahir, panjang badan naik 50 persen dari panjang lahir, dan lingkar kepala naik sekitar 10 cm. Walau begitu, setiap anak akan bertumbuh dengan kecepatan yang berbeda sehingga perlu pengukuran berkala untuk memastikan tidak ada kelainan. Frekuensi pengukuran yang disarankan adalah setiap bulan sampai usia satu tahun, setiap 3 bulan sampai usia 3 tahun, setiap 6 bulan sampai usia 6 tahun, dan 1 tahun sekali pada tahun-tahun berikutnya.

Acuan yang digunakan untuk tiap kelompok usia dapat berbeda. Saat ini Indonesia menggunakan kurva pertumbuhan milik Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan kurva dari Center for Disease Control Prevention (CDC,2000).Indikator yang umum digunakan di Indonesia adalah berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), meski ada juga indicator lain seperti tinggi badan menurut usia (TB/U), dan berat badan menurut usia (BB/U).

Indikator BB/TB menentukan status gizi anak dengan membandingkan berat dengan berat ideal menurut tinggi badannya, kemudian dapat diinterpretasikan sebagai obesitas, gizi lebih, gizi baik, gizi kurang, dan gizi buruk. Indikator TB/U membandingkan tinggi badan seorang anak dengan anak yang sama jenis kelamin seusianya. Interpretasinya adalah tinggi, normal, perawakan pendek, dan perawakan sangat pendek. Adapun indicator BB/U membagi anak menjadi berat badan normal, berat badan kurang, dan berat badan berlebih. Indicator ini membandingkan berat badan seorang anak dengan anak seusianya.

Pengukuran yang sering terlupa oleh orang tua adalah lingkar kepala. Pengukuran ini setiap tiga bulan sampai usia satu tahun, dan setiap 6 bulan sampai usia 6 tahun. Dari hasilnya, lingkar kepala dapat dibagi menjadi normal, kecil (mikrosefali), dan besar (makrosefali).Lingkar kepala yang kecil ataupun besar dapat disebabkan gangguan pertumbuhan otak.

Untuk memastikan pertumbuhan sesuai dengan acuan, bawalah anak secara teratur ke layanan kesehatan. Bila curiga ada kelainan pertumbuhan, segera bawa anak ke dokter. Pastikan setiap kali anak diukur berat, panjang/tinggi badan, dan lingkar kepalanya, data diplot di kurva pertumbuhan yang sesuai agar dapat dinilai keadaannya saat ini. Bisa saja anak memiliki pertumbuhan normal sampai usia tertentu, tetapi terjadi gangguan setelahnya. Misalnya, seorang anak usia satu tahun tergolong gizi baik dengan tinggi badan sesuai usia, tepai kemudian mengalami infeksi berat sehingga pertumbuhan setelah usia satu tahun terhambat.

Banyak orang tua menganggap, perawakan pendek atau kurus anaknya normal dan dapat dikejar saat mencapai pubertas. Padahal, masa awal kehidupan, terutama 1.000 HPK, adalah masa pertumbuhan paling penting. Keterlambatan penanganan dapat mengakibatkan kesakitan yang menetap.

Sumber Ikatan Dokter Anak Indonesia


11.01.2018.jpg

SEPUTAR ORI (Outbreak Response Immunization) DIFTERI

 

Anda tinggal di wilayah yang termasuk area ORI, maka Anda sangat perlu melakukan vaksinasi difteri ulang.

 

Saat ini, Sasaran ORI adalah anak usia 1 tahun sampai dengan <19 tahun, diberikan vaksin DPT atau DT atau Td sesuai usia dan dilakukan pada sarana kesehatan pemerintah (Posyandu, Puskesmas, RS Pemerintah).

Untuk orang tua dan dewasa di wilayah ORI yang usianya >19 tahun tetap dianjurkan vaksinasi dengan skema ORI (0,1,6 bulan). Vaksinasi dapat dilakukan di RS/Klinik/Praktek Swasta, namun dengan biaya swadaya/mandiri.

 

Jika Anak dan Orangtua berasal dari wilayah yang TIDAK termasuk wlayah ORI dan ingin vaksinasi difteri, maka :

A.JIKA IMUNISASI BELUM LENGKAP, maka : LENGKAPILAH imunisasi sesuai usia yang diperlukan. Sampai usia 1 tahun minimal 3 dosis DPT. Sampai usia 2 tahun minimal 4 dosis DPT. Sampai usia 5 tahun minimal 5 dosis DPT. Sampai usia <19 tahun minimal 7 dosis DPT. Untuk usia >19 tahun minimal sudah mendapat vaksin yang mengandung difter dalam 10 tahun terakhir.

B.JIKA IMUNISASI SUDAH LENGKAP SESUAI USIA, maka : Jika orangtua menghendaki, dapat diberikan boster ekstra minimal 1 dosis.

C.ORANGTUA DAN DEWASA APAKAH PERLU VAKSIN DIFERI JUGA? : YA, orangtua dan dewasa yang sudah lebih dari 10 tahun belum mendapat vaksin difteri, maka diberikan 1 dosis vaksin Td/Tdap.

 

Sumber : Kementrian Kesehatan dan IDAI


04012018.jpg

January 4, 2018 Uncategorized

Istilah “vaksin tanpa demam”, apakah benar ?

Beberapa vaksin yang dikatakan tidak demam, memiliki arti sebenarnya adalah vaksin tersebut menimbulkan kejadian demam (suhu tubuh >38⁰C) yang lebih rendah atau lebih jarang. Salah satu contoh yang paling banyak digunakan adalah kombinasi vaksin DPT. Vaksin kombinasi yang tersedia di pasaran cukup beragam. Orangtua sebaiknya mengetahui jenis vaksin yang akan diberikan kepada anak. Saat ini vaksin kombinasi yang paling banyak tersedia berupa kombinasi dari vaksin DTaP (difteri-tetanus-pertusis) + Hib + IPV (polio). Vaksin jenis seperti ini memiliki beberapa merek dagang. Terdapat pula vaksin buatan dalam negeri dengan kombinasi pentavalen, terdiri dari DTwP + Hib + HepB (hepatitis B). Vaksin yang akan digunakan disesuaikan dengan keperluan klinis anak, jadwal imunisasi, dan ketersediaan produk vaksin.

Apakah perbedaan vaksin DTaP dan DTwP? Vaksin DTaP memberikan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) baik lokal maupun sistemik lebih rendah daripada DTwP. Yang paling mudah dimengerti adalah sebagai berikut: salah satu KIPI adalah demam >38⁰C. Pada vaksin DTaP terdapat kejadian demam 72 dari 1000 anak, lebih sedikit dibanding DTwP sebesar 406 dari 1000 anak dan biasanya akan terjadi pada satu hingga tiga hari setelah pemberian vaksin. Akan tetapi jika demam belum reda setelah lewat dari tiga hari atau jika anak menunjukkan gejala – gejala yang mengkhawatirkan setelah pemberian vaksin segera konsultasikan ke dokter atau bawa ke klinik atau rumah sakit terdekat.

Klinik AP & AP menyediakan produk vaksin DTaP (difteri-tetanus-pertusis) + Hib + IPV (polio), vaksin yang menimbulkan kejadian demam yang lebih rendah.


20.07.2017.jpg

July 20, 2017 Uncategorized

VAKSIN HIB

 

Apa infeksi Hib ?

Haemophilus influenza tipe b (Hib) merupakan bakteri yang berbahaya, penyebab tersering dari meningitis dan pneumonia pada bayi dan anak di bawah 5 tahun.

Banyak anak-anak dan dewasa sehat membawa bakteri Hib di tenggorokan mereka tanpa disadarinya, sehingga menularkan ke orang lain atau anak-anak. Bakteri Hib masuk ke dalam aliran darah, paru-paru, selaput otak, dan menyebabkan masalah yang serius.

 

Penyakit Hib dapat menyebabkan:

  • Radang selaput otak atau meningitis
  • Radang paru atau pneumonia
  • Bengkak yang hebat pada tenggorokan yang menyebabkan sulit bernafas
  • Infeksi darah, sendi, tulang, dan selaput jantung
  • Kematian

 

Vaksin Hib

 

Vaksin Hib diberikan 3 atau 4 dosis, tergantung dari umur anak.

Vaksin Hib dapat mencegah dari penyakit Hib. Sejak vaksin mulai digunakan, jumlah kasus penyakit Hib menurun lebih dari 99%.

Vaksin Hib direkomendasikan pada umur 2, 4, 6 bulan dan diulang pada umur 12 sampai 15 bulan.

Vaksin Hib aman dan dapat diberikan sebagai bagian dari vaksin kombinasi yang disatukan menjadi satu suntikan. Anak yang berusia lebih dari 5 tahun tidak membutuhkan vaksin Hib, kecuali bila anak atau orang dewasa akan menjalani operasi pengangkatan limpa atau setelah transplantasi sumsum tulang belakang.

 

Ada beberapa orang yang tidak boleh diberikan vaksin ini

Vaksin Hib tidak boleh diberikan pada bayi yang berusia kurang dari 6 minggu.

Beritahukan kepda dokter anda:

  • Apabila anak anda pernah mengalami reaksi alergi berat setelah pemberian 1 dosis vaksin Hib, atau menderita alergi berat terhadap salah satu komponen vaksin.
  • Apabila anak merasa tidak enak badan, dokter akan menyarankan penundaaan vaksinasi hingga anak merasa lebih baik.

 

Reaksi efek samping vaksin Hib

Efek samping vaksin Hib ringan dan dapat menghilang dengans sendirinya. Kebanyakan orang yang mendapat vaksin Hib tidak mengalami efek samping sama sekali. Efek samping serius sangat jarang. Efek samping yang dapat terjadi setelah pemberian vaksin Hib yaitu: kemerahan, rasa panas atau bengkak pada lokasi suntikan, dan demam.

Efek samping yang ringan ini dapat terjadi segera setelah vaksin disuntikan dan berlangsung selama 2 sampai 3 hari.

 

Bagaimana bila terjadi reaksi yang serius?

 

Tanda-tanda apa yang harus saya amati?

  • Perhatikan terjadinya tanda-tanda yang mengkhawatirkan, seperti tanda-tanda reaksi alergi berat atau demam yang sangat tinggi.
  • Tanda-tanda reaksi alergi berat dapat meliputi gatal-gatal, bengkak pada wajah dan tenggorokan, sulit bernapas, denyut jantung yang cepat, pusing dan rasa lemas. Gejala-gejala ini dapat timbul beberapa menit sampai beberapa jam setelah vaksinasi.

 

Apa yang harus saya lakukan

 

Bila menurut anda terjadi reaksi alergi berat atau kegawatdaruratan lain, bawa anak ke rumah sakit terdekat. Anda dapat juga menghubungi dokter anda.

 

Informasi terkait vaksin untuk orang tua selengkapnya dapat mengunjungi website klinikanakapap.com atau dapat menghubungi kami melalui telepon (021)29667797/98 Hp/Whatsapp: 0857 1566 3038

 

Sumber :

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Center of Disease Control and Prevention http://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/index.html

Ranuh IG.N, Suyitno H, Hadinegoro SR, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, penyunting. Pedomana Imunisasi di Indonesia. Edisi ke-5. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2014

 


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2021.