5th ANNIVERSARY CELEBRATION KLINIK AP&AP


Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Aman Bhakti Pulungan, menambahkan “Obesitas adalah penyakit terkait faktor genetik, lingkungan, pola makan, dan aktivitas.”
Dalam riset yang dilakukan oleh Dr. dr. Aman B Pulungan, SpA (K) tahun 2013, dari 92 orang remaja dengan obesitas di Jakarta, 38% di antara nya ada ciri resisten insulin yang bisa menjadi Diabetes karena pola asuh salah.
Dikutip dari Kompas, 11 April 2019

Diabetes Melitus (DM) adalah suatu kondisi gangguan metabolik tubuh dimana gula darah yang beredar di tubuh melebihi normal. Penyakit ini bersifat kronik dan berpotensi menyebabkan komplikasi yang berbahaya.

Diabetes Melitus (DM) lebih dikenal sebagai penyakit yang banyak terjadi pada orang dewasa. Namun, pada kenyataannya DM dapat terjadi pada anak – anak dan kondisi DM dapat mengganggu tumbuh kembang anak.
Berdasarkan data, jumlah anak yang menderita DM pada tahun 1980 sebanyak kurang dari 100 anak. Jumlah ini terus bertambah hingga tercatat sekitar 1000 anak menderita DM pada tahun 2014. Hal ini terjadi karena lebih terpaparnya awam tentang kondisi DM pada anak.

Pada dasarnya, ada 2 jenis DM yang paling banyak terjadi pada anak – anak, yaitu Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2. Diabetes Tipe 1 terjadi karena sel beta pankreas tubuh yang tidak mampu berfungsi secara baik untuk memproduksi insulin yang bertugas mengatur gula darah dalam tubuh. Oleh karena itu, DM Tipe 1 dikontrol dengan pemberian insulin.
Sedangkan, pada DM Tipe 2, kadar insulin yang diproduksi tubuh normal namun terjadi resistensi insulin. Hal ini biasanya disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat dan kondisi obesitas. Oleh karena itu, pengaturan pola hidup yang sehat dan seimbang dapat membantu mengontrol kondisi DM Tipe 2.
Pelanggan yang terhormat,
Terima kasih atas kepercayaan Anda dalam menggunakan layanan kesehatan Klinik Anak AP&AP.
Seluruh manajemen, dokter dan staff AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center mengucapkan
Rahajeng Nyanggra Rahina Nyepi Caka 1941
Salam Hangat, AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center
Dear valued customers,
Thank you for your trust in using AP & AP Clinic’s health services.
All management, doctors and staff wish you
Rahajeng Nyanggra Rahina Nyepi Caka 1941
Warm Regards, AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center
———————————————-
Klinik tutup hari Kamis, 7 Maret 2019, dan akan buka kembali pada hari Jumat, 8 Maret 2019 jam 09.30 WIB
Influenza, yang lebih dikenal dengan sebutan flu, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus RNA dari familiaOrthomyxoviridae (virus influenza), yang menyerang unggas dan mamalia. Gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah menggigil, demam, nyeri tenggorokan, nyeri otot, nyeri kepala berat, batuk, kelemahan, dan rasa tidak nyaman secara umum.[1]
Walaupun sering tertukar dengan penyakit mirip influenza lainnya, terutama selesma, influenza merupakan penyakit yang lebih berat dibandingkan dengan selesma dan disebabkan oleh jenis virus yang berbeda[2] Influenza dapat menimbulkan mual, dan muntah, terutama pada anak-anak,[1] namun gejala tersebut lebih sering terdapat pada penyakit gastroenteritis, yang sama sekali tidak berhubungan, yang juga kadangkala secara tidak tepat disebut sebagai “flu perut.”[3] Flu kadangkala dapat menimbulkan pneumonia viral secara langsung maupun menimbulkan pneumonia bakterial sekunder.[4]
Biasanya, influenza ditularkan melalui udara lewat batuk atau bersin, yang akan menimbulkan aerosol yang mengandung virus. Influenza juga dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan tinja burung atau ingus, atau melalui kontak dengan permukaan yang telah terkontaminasi. Aerosol yang terbawa oleh udara (airborne aerosols) diduga menimbulkan sebagian besar infeksi, walaupun jalur penularan mana yang paling berperan dalam penyakin ini belum jelas betul.[5] Virus influenza dapat diinaktivasi oleh sinar matahari, disinfektan, dan deterjen.[6][7] Sering mencuci tangan akan mengurangi risiko infeksi karena virus dapat diinaktivasi dengan sabun.
Setelah mengetahui tentang demam berdarah dengue serta tanda bahayanya, Ayah Bunda juga perlu mengetahui bagaimana pertolongan pertama yang dapat diberikan jika buah hati Anda terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Berikut pertolongan pertama yang dapat Anda berikan, antara lain :
Jika telah melalukan pertolongan pertama tersebut, akan tetapi tidak ada perubahan atau kondisi Anak semakin memburuk. Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Iklim tropis dan peningkatan curah hujan merupakan salah satu faktor yang mendukung kehidupan virus dengue dan vektor nyamuk, oleh karena itu bulan Januari-Maret 2019 rentan terjadi peningkatan angka kejadian DBD.
Prevalensi penduduk dengan berat badan berlebih dan obesitas terus meningkat. Jika tak segera ditangani secara komprehensif, hal itu akan membebani pembangunan dan ekonomi bangsa.
Kegemukan dan obesitas terjadi akibat tak seimbangnya jumlah asupan kalori ke tubuh dengan kalori yang dibakar lewat aktivitas fisik. Hal itu membuat pencegahan obesitas pada anak menjadi penting. Meski Pemerintah berhasil menekan prevalensi kegemukan anak balita, obesitas pada orang dewasa naik.
Pada anak, obesitas banyak muncul saat anak duduk di bangku sekolah dasar. Menginjak remaja yaitu SMP-SMA, mereka mulai memperhatikan bentuk tubuh sehingga prevalensi obesitasnya turun. Namun, tak jarang remaja terjebak dalam diet yang membahayakan diri.
“Selain akibat kalori dari karbohidrat dan lemak berlebih, anak umumnya mengalami obesitas karena kurang gerak,” ujar Ketua Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Damayanti Rusli Sjarif di Jakarta, Rabu (23/1/2019).
Hari Gizi Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 Januari bisa jadi momentum mencegah diabetes pada anak lewat diet dan aktivitas fisik memadai. Dalam keseharian, anak Indonesia banyak mengonsumsi makanan tinggi lemak dan garam serta minuman tinggi gula. Disaat bersamaan, kemajuan teknologi digital dan gawai membuat anak minim aktivitas fisik.
“Aktivitas fisik jadi komponen utama energy expenditure (pengeluaran energi), yakni 20-50%,” tulis Ayu Aprilia dalam, “Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar” di Majority, jurnal kedokteran Universitas Lampung, Juni 2015.
Penting sekali untuk melakukan pencegahan obesitas pada anak dikarenakan 75% anak gemuk akan jadi obesitas saat dewasa serta berisiko tinggi terkena penyakit, bahkan sampai dengan kematian yang diakibatkan penyakit kardiovaskular dan diabetes. Kegemukan pada anak memicu kian besarnya beban pada otot dan tulang rangka.
Saat ini, Pemerintah bisa menekan prevalensi gemuk pada anak balita dari 11,9% di tahun 2013 menjadi 8% pada tahun 2018. Namun hal itu jauh dari batas yang ditetapkan WHO pada 2010 bahwa suatu negara tak memiliki soal gizi jika anak balita gemuknya kurang dari 5%. Sehingga dibutuhkan kerja keras dari banyak pihak, baik itu dari Pemerintah maupun warga. Kini ada Surat Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah guna mendorong mutu kesehatan siswa di sekolah. Kenyataannya, hanya sekolah yang bisa menyediakan jajanan sehat di sekolah dan aktivitas fisik luar ruang.
Penurunan angka stunting atau anak balita bertubuh pendek akibat kurang gizi kronis yang digarap banyak kementrian beberapa tahun terakhir dapat menjadi contoh. Dengan penanganan komprehensif, obesitas pada anak bisa diatasi.
Diringkas dari Artikel berjudul “Obesitas Jadi Ancaman” pada harian Kompas, Kamis, 24 Januari 2019