10.01.2019.jpg

January 10, 2019 Artikel

‘Readiness for school’ atau yang biasa dikenal sebagai ‘Kesiapan Sekolah’. ‘Apakah itu kesiapan sekolah?’ atau ‘apakah anak saya sudah siap masuk sekolah?’ Terutama bagi anda yang memiliki anak menjelang usia 6 tahun. ‘Apakah sebenarnya yang termasuk dalam kesiapan sekolah?’ Banyak sekali orang tua yang bertanya-tanya dan mencari tau apakah anaknya sudah siap masuk sekolah. Sebenarnya apakah kesiapan sekolah itu?

 

Menurut Berk (2012), kesiapan sekolah seorang anak dapat dilihat melalui pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku dalam mengikuti kegiatan di sekolah (terutama jenjang Sekolah Dasar). Kesiapan sekolah mencakup perkembangan holistik dari seorang anak, yang meliputi kemampuan social emosi, perkembangan fisik, kognitif dan komunikasi. Kemampuan tersebut digunakan oleh anak untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan anak lain, memahami instruksi dan mengutarakan keinginan mereka di dalam kelas. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa seorang anak lebih berhasil saat ia memiliki criteria kesiapan sekolah tersebut, dibandingkan dengan anak yang belum memiliki criteria kesiapan sekolah. Anak yang tergolong memiliki kriteria kesiapan sekolah juga menjadi anak yang percaya diri.

 

Perilaku dan kemampuan anak yang menunjukkan kesiapannya untuk masuk sekolah dasar, antara lain:

  • Fisik – memiliki kesehatan yang baik, serta memiliki perkembangan motorik halus dan kasar sesuai dengan
  • Sosial Emosi – anak mampu berinteraksi dan bermain dengan anak lain, memiliki perilaku yang baik (tidak agresif atau tidak memiliki perilaku yang tidak sesuai atau tidak beralasan). Dari aspekemosi, anak mampu menyesuaikan diri dengan suasana kelas yang berbeda, mampu memahami instruksi dan mengutarakan keinginannya pada guru, serta mampu mengikuti peraturan dan mengatasi perasaan kecewa yang dialaminya.
  • Bahasa – memiliki komunikasi dua arah yang baik pada teman dan guru. Memahami cerita (storytelling) dengan baik dan mampu mengenali
  • Kognitif – anak mampu memahami angka, logika sederhana, dan menunggu giliran
  • Kemandirian – mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru secara mandiri, menguasai toilet training, mampu memakai baju, sepatu, dan barang-barang milikinya secara

 

Ditulis oleh: Anggita Hapsari, MPsi, Psikolog

Anggita-Hapsari.jpg

January 3, 2019 Kesehatan Anak

Anggita Hapsari, yang akrab disapa  Ghea, lahir di Jakarta. Beliau menyelesaikan pendidikannya dalam bidang psikologi di Massey University, Auckland, Selandia Baru. Kemudian  mendapatkan gelar Magister Psikologi khususnya Psikologi Klinis Anak dari Universitas Indonesia (UI). Untuk menajamkan dan meningkatkan kemampuannya, Ibu Ghea mengikuti banyak pelatihan diantaranya adalah DIR Floor Time, Therapeutic Listening, Symposium Child Health & Mental Institution, Training for Trainers Sex Education, Emotional Movement Desentization Regulation, Play Therapy, Theraplay.

 

Sebagai psikolog anak, Ibu Ghea memberikan konsultasi dan pendampingan pada anak dan remaja pada umumnya, maupun pada anak yang mengalami Autistic Spectrum Disorder, Asperger Syndrome, Learning Disorder, Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD), gangguan perilaku, masalah perilaku, masalah emosi, masalah depresi dan kecemasan, dan masih banyak lagi masalah psikologis lainnya.

 

Pengalaman beliau sebagai klinisi, konsultan, pengajar, pembicara, narasumber di berbagai institusi dan kegiatan, telah membentuk ibu Ghea menjadi psikolog anak yang memiliki kekuatan pada pemberian bimbingan & konseling yang menenangkan, dan mendidik anak-anak, sekaligus memberikan edukasi kepada orang tua tentang cara-cara mendidik  dari aspek psikologis. Ayah Bunda dapat berkonsultasi seputar permasalahan psikologi anak kepada Ibu Ghea dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu di Klinik AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center setiap hari Rabu.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami melalui nomer telepon (021) 22057020/22 atau Hp/Whatsapp 0857 1566 3038.


IMG_4902-Copy-1200x1235.jpg

Memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan dokter sebelum pergi berlibur akan memberikan banyak manfaat.

Pertama, Bunda dapat memeriksakan kondisi fisik dan mengetahui kesiapan fisik untuk bepergian. Utarakanlah pada dokter bahwa Bunda dan keluarga akan berlibur, jelaskan rencana kegiatan yang akan dilakukan dan konsultasikan apakah kondisi kesehatan Bunda dan sekeluarga kira-kira akan menjadi masalah atau tidak.

Kedua, setelah mengetahui keadaan kesehatan secara persis, mintalah petunjuk apa yang perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya gangguan kesehatan selama bepergian. Bila perlu minta dokter untuk memberikan resep obat-obatan cadangan yang kiranya dapat berguna bila masalah kesehatan muncul. Minta pula penjelasan mengenai tindakan pertolongan pertama apa saja yang harus dilakukan jika hal itu terjadi.

Ketiga, bila Bunda atau anggota keluarga yang ikut bepergian memiliki penyakit khusus yang cukup serius dan mungkin kambuh, Bunda harus mendiskusikannya dengan dokter. Penyakit yang perlu mendapat perhatian antara lain penyakit asma, epilepsi, alergi yang hebat, darah tinggi, kelainan jantung, gangguan pernapasan kronik, kelainan darah dan sebagainya.

Informasikan pula mengenai lokasi berlibur. Perlu diingat, beberapa daerah memiliki risiko penyakit yang berbeda-beda. Bepergian ke beberapa daerah di Indonesia bagian timur memiliki risiko terkena penyakit malaria. Demikian pula bila bepergian ke luar negeri, khususnya ke benua Afrika dan beberapa wilayah Asia yang masih memiliki beberapa penyakit berbahaya. Konsultasikanlah cara pencegahannya dan bila perlu minta dilakukan vaksinasi khusus jika memang telah ada.

Diskusikan juga tentang informasi alamat dan nomor telepon fasilitas medis yang ada di sekitar lokasi berlibur yang dituju. Bila sang dokter tidak keberatan, minta nomor teleponnya yang bisa dihubungi sewaktu-waktu. Ini akan sangat berguna bila Ayah Bunda perlu berkonsultasi masalah kesehatan yang darurat dan tidak menemukan fasilitas kesehatan disekitar lokasi berlibur

Ke mana sebaiknya memeriksakan diri ?

Idealnya Bunda pergi ke travel clinic, yaitu klinik yang memberikan pelayanan kedokteran wisata (travel medicine). Di klinik ini, Bunda dapat berkonsultasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan perjalanan yang direncanakan. Sayangnya, saat ini di Indonesia belum banyak klinik semacam ini, berbeda dari negara maju yah sudah memiliki banyak travel clinic. Sebagai alternatif, Bunda dapat mencari dan berkonsultasi pada dokter yang memiliki kompetensi dalam bidang kedokteran wisata. Jika hal ini juga masih sulit, Bunda juga dapat berkonsultasi dengan dokter keluarga langganan.

Apakah semua rencana bepergian perlu dikonsultasikan?

Jika Bunda hanya pergi 1-2 hari ke daerah yang tidak terlalu jauh, kemungkinan besar tidak perlu berkonsultasi. Lain halnya bila Bunda hendak pergi dalam waktu yang cukup lama dan ke lokasi yang cukup jauh pula, apalagi bila sampai ke negeri orang. Walau bagaimanapun, mencegah lebih mudah dan lebih baik. Lebih baik repot sedikit diawal bepergian daripada rencana liburan menejadi berantakan.

Obat-obatan apa saja yang perlu dipersiapkan ?

Bila si kecil memiliki penyakit khusus atau sedang dalam pengobatan tertentu, Bunda harus meminta kepada dokter untuk meresepkan obat tersebut. Bila perlu, mintalah surat keterangan dari dokter mengenai penyakitnya. Hal ini dapat berguna bila bepergian dengan pesawat atau jika si kecil perlu berkonsultasi dengan dokter di tempat tujuan.

Bila si kecil sehat-sehat saja dan tidak sedang dalam pengobatan tertentu, namun akan bepergian dalam waktu cukup lama, apa yang harus diperhatikan ?

Bawalah perlengkapan kesehatan dan obat-obatan, seperti termometer digital, obat demam, obat antimual-muntah, obat anti alergi, obat anti-diare, serta obat anti-batuk pilek. Bila si kecil memiliki riwayat kejang demam bawalah obat anti-kejang. Hal ini akan sangat membantu untuk pertolongan pertama seandainya si kecil mengalami salah satu gejala diatas.

Bila si kecil sudah menginjak balita bawa juga cairan desinfeksi, kapas, dan plester. Pada usia ini, anak cenderung berlari ke sana kemari untuk mengeksplorasi sekitarnya dan cenderung terjatuh serta mengalami luka pada kulit.

Untuk obat-obatan khusus, perlu dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter. Misal, Bunda akan bepergian ke daerah yang masih endemis malaria, mintalah dokter untuk meresepkan obat pencegahan terhadap malaria. Tentunya Bunda akan diajari cara penggunaan obat tersebut.

Bagaimana jika anak mengalami sakit berkepanjangan di tempat berlibur ?

Jangan ragu untuk membawanya berkonsultasi dengan dokter di tempat tersebut. Kadang, karena terlalu excited, anak bermain berlebihan sehingga ia tidak sadar bahwa dirinya terlalu capai. Keadaan ini dapat menyebabkan anak menjadi mudah sakit.

Bagaimana cara mempersiapkan mental anak sebelum bepergian ?

Pada anak balita, sebelum pergi, ajak ia ikut membereskan koper dan barang-barang yang akan dibawa. Si kecil akan mengerti dan senang. Terangkan juga mengenai hal-hal yang akan ia alami, misalnya saat bepergian dengan mobil, Bunda dapat menceritakan bahwa anak akan berada di mobil dalam waktu lama, atau saat akan bepergian dengan pesawat, Bunda dapat menceritakan tentang kondisi di pesawat dan bahwa ia tidak boleh berteriak-teriak di dalam pesawat. Hal ini dapat membantu anak untuk mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Barang-barang apa saja yang perlu dibawa ?

Pakaian dan perlengkapan lain yang sesuai dengan tempat tujuan harus dipersiapkan matang-matang. Selain perlengkapan tersebut, ingatlah juga untuk membawa hal-hal berikut ini : mainan anak, lagu anak, snack, bantal travel untuk anak, kantong muntah, permen pedas, minyak kayu putih atau minyak lainnya yang berbau segar, dan car seat bila Bunda bepergian dengan mobil dan membawa bayi atau balita. Pertimbangkan pula untuk membawa stroller bila melakukan perjalanan jauh.

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi,Sp.A


dr.-Marissa-1200x854.jpg

Apakah benar anak yang sedang menderita penyakit infeksi tidak boleh bersekolah?
Memang benar bersekolah itu penting, namun kesehatan anak jauh lebih penting dibandingkan bersekolah dalam keadaan sakit. Saat sakit tubuh anak sebenarnya sedang berjuang melawan penyakitnya, sehingga sebaiknya anak beristirahat di rumah agar tubuh dapat berjuang secara maksimal melawan penyakit dikarenakan ketahanan tubuh anak masih rentan. Anak yang sedang sakit tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar. Anak yang sedang mengalami penyakit infeksi dapat menularkan penyakitnya ke anak lain sehingga dapat terjadi wabah di sekolah sebab anak-anak belum memiliki sistem daya tahan tubuh yang kuat
Berikut beberapa penyakit menular pada anak beserta penularannya :
Varisela / cacar air
Menular melalui udara atau kontak langsung. Isolasi dilakukan kira-kira sampai 5 hari, sejak kelainan kulit timbul atau sampai vesikel (bintil di kulit) mengering. Vaksina varisela sudah tersedia dan masuk dalam rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Pencegahan
Cegah dengan vaksinasi. Untuk mencegah kemungkinan terkena atau tertular cacar air dapat diberikan vaksinasi. Kalaupun terkena setelah vaksinasi, biasanya tidak sampai parah.

Vaksinasi biasanya diberkan pada usia satu tahun ke atas. Karena pada usia ini bayi sudah tidak lagi memiliki kekebalan tubuh dari ibunya. Daya lindung vaksin ini bisa mancapai 97% dan dapat diulang saat balita berumur 5 tahun.

Hepatitis B dan C
Sumber penularannya adalah cairan tubuh. Tidak perlu melakukan isolasi total pada penderita Hepatitis B dan C, cukup menghindari kontak dengan cairan tubuh. Pencegahan yang paling penting adalah dengan melakukan vaksinasi Hepatitis B, sementara untuk Hepatitis C belum ada vaksinasinya.
Hepatitis A
Sumber penularannya adalah kontaminasi dari kotoran (feses) penderita, yang kemudian masuk ke dalam saluran cerna, jadi tidak perlu isolasi. Yang perlu dilakukan adalah menjaga kebersihan makanan dan minuman.
Campak
Penularan terjadi melalui udara dan isolasi dilakukan sejak timbul rash (kelainan di kulit) sampai 4 hari setelahnya.
Gondongan atau mumps
Penularan terjadi melalui droplet atau cipatran ludah. Isolasi sebaiknya dilakukan 5 hari sejak munculnya gejala pembengkakan kelenjar ludah. Gondongan biasanya diikuti oleh gejala lain seperti demam, lemas, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, dan nyeri otot. Penyakit menular yang biasa terjadi di sekolah ini tidak membutuhkan pengobatan khusus dan bisa sembuh dalam beberapa minggu. Gondongan dapat dicegah dengan vaksinasi MMR.

Cara Mencegah Terkena Penyakit Menular di Sekolah

Anak-anak lebih rentan tertular karena mereka cenderung melakukan kontak fisik yang dekat satu sama lain dan berbagi barang-barang pribadi dengan teman-temannya. Agar Si Kecil tidak mudah sakit, lakukan pencegahan dan kebiasaan sehat berikut:

  • Ajarkan Si Kecil kebiasaan cuci tangan yang benar
  • Berikan vaksinasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh IDAI
  • Ajarkan anak agar tidak berbagi barang pribadi dengan teman-temannya. Jika anak tinggal di asrama, bekali dia dengan barang pribadi yang cukup, seperti seprai, alat makan, dan handuk, agar tidak perlu meminjam pada anak lain.
  • Jaga kebersihan lingkungan rumah dan sekolah, terutama kebersihan makanan dan toilet.

Berikan Si Kecil makanan bergizi seimbang, termasuk sayuran dan buah-buahan. Menu makanan sehat dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah mengalami penyakit menular yang sering terjadi di sekolah. Jika perlu, konsultasikan kondisi kesehatan Si Kecil pada dokter anak

 

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A

alodokter.com


IMG_4884-1200x835.jpg

December 11, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Kejang demam selalu menjadi momok bagi ayah bunda. Fenomena yang terjadi pada saat anak kejang, yaitu mata mendelik, kaku-kelojotan, dan lidah tergigit, tak ayal membuat orangtua panik. Namun benarkah kejang demam berbahaya? Apa saja yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang demam?

Kejang atau yang sering disebut oleh awam sebagai stuip sering menyebabkan kepanikan orangtua. Defini kejang demam adalah kejang yang terjadi pada anak usia di atas 1 bulan akibat demam (tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut, dan anak tidak pernah mengalami kejang tanpa demam sebelumnya). Dapat dikatakan kejang ini terjadi semata-mata karena proses demam itu sendiri.

Kapan kejang demam dapat terjadi ?

Kejang demam dapat terjadi pada anak usia 1 bulan hingga 5 tahun. Namun tidak semua anak mengalaminya. Adanya riwayat kejang demam dalam keluarga akan meningkatkan risiko terjadinya kejang demam pada anak. Anak yang pernah mengalami kejang demam sebelumnya juga memiliki risiko mengalami kejang kembali di kemudian hari saat demam.

Apa yang harus dilakukan saat anak mengalami kejang ?

  • Letakkan anak di tempat aman (jauhkan dari barang-barang yang berbahaya)
  • Longgarkan pakaian anak. Bila menggunakan jaket lepaskan
  • Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut (termasuk sendok, jari tangan, minuman atau kopi)
  • Berikan diazepam supposutoria (obat antikejang yang diberikan lewat dubur) sesuai dosis. (Lihat cara pemberian supposutoria di halaman 93)
  • Tunggu 5 menit
  • Bila kejang masih berlangsung berikan diazepam supposutoria 1 kali lagi
  • Bila kejang masih juga berlangsung segera bawa ke rumah sakit

Bagaimana cara memberikan obat kejang di rumah ?

Ingat,  diazepam supposutoria hanya boleh diberikan 2x selama di rumah. Bila sudah 2 kali pemberian dan anak masih kejang kemungkinan anak memerlukan obat anti kejang melalui jalur suntikan intravena. Dosis pemberian diazepam supposutoria adalah 5 mg untuk anak berbobot 5-10 kg dan 10 mg untuk anak dengan bobot >10kg, atau dosis lain yang diberikan oleh dokter anak,

Apa yang harus diperhatikan saat anak mengalami kejang ?

  • Suhu anak sebelum kejang
  • Berapa lama kejang berlangsung
  • Kejang yang terjadi seperti apa. Apakah seluruh tubuhnya atau hanya gerakan tangan/kaki yang berulang-ulang saja, ataukah gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Apakah kejang terjadi berulang dalam 24 jam? Bila berulang apakah diantara kejang anak bangun seperti biasa atau lebih cenderung tidur ?
  • Apakah terdapat kelainan setelah kejang, mulut anak menjadi mencong, misalnya

Kapan sebaiknya anak dibawa ke rumah sakit pada keadaan kejang demam ?

  • Bila kejang terjadi pada anak < 6 bulan
  • Bila anak baru pertama kalinya mengalami kejang
  • Kejang berlangsung >10 menit
  • Kejang didahului dengan gerakan tangan/kaki yang kemudian disusul ke seluruh tubuh
  • Kejang berulang dalam 24 jam
  • Bila diantara kejang anak cenderung tidur terus
  • Bila terdapat kelainan setelah kejang, seperti mulut anak menjadi mencong

Apakah si kecil yang mengalami kejang demam perlu dirawat inap ?

Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam. Apabila terjadi kejang disertai demam di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, maka perlu disingkirkan penyebab kejang lainnya, misalnya epilepsi atau radang otak. Jika sesudah kejang anak tidak segera sadar kembali, lebih banyak tidur, atau tidak dapat mengadakan kontak dengan baik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab kejang lain, terutama radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis). Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan apabila anak pernah kejang tanpa demam. Keputusan perlu tidaknya perawatan inap akan diberikan oleh dokter spesialis anak yang menilai langsung keadaan anak.

 

Klinik AP & AP Pediatric, Growth and Diabetes Center yang merupakan salah klinik anak di Jakarta. Konsultasikan kesehatan anak anda dengan dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu setiap hari Sabtu jam 10.00-12.00 WIB

 

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A


Hari-Kartini-2.jpg

December 7, 2018 Uncategorized

Kapan seorang anak disebut demam?

normal manusia adalah 36,5 – 37,5°C. Diatas suhu normal anak disebut demam.


Apa saja gejala yang menyertai demam ?

Saat suhu mulai naik, sering kali anak merasa kedinginan dan menggigil. Ini merupakan suatu proses normal. Yang terjadi saat itu adalah peningkatan set point suhu di otak sehingga tubuh merasa kedinginan dan tubuh berusaha menghangatkan kembali dengan cara menggigil. Saat demam, anak seringkali merasa lemas, tidak aktif, gelisah, dan cenderung ingin tidur. Anak yang sedang mengalami demam biasanya tidak memiliki nafsu makan. Jumlah pernapasan juga meningkat sehingga anak terlihat bernapas lebih cepat.


Apa yang dapat terjadi saat anak mengalami demam tinggi ?

Saat demam tinggi, sebagian anak dapat mengalami kejang demam. Namun tidak semua anak mengalaminya. Demam tinggi juga dapat membuat anak mengalami lemas dan dehidrasi karena jumlah asupan yang berkurang disertai penguapan tubuh yang meningkat lebih banyak.


Kapan anak memerlukan obat panas ?

Pada suhu diatas 38°C. Jenis obat panas yang dapat diberikan antara lain parasetamol atau ibuprofen. Dosis pemberian parasetamol adalah 10-15 mg/kg berat badan/kali sedangkan ibuprofen 5-10 mg/kg berat badan/kali, atau sesuai anjuran dokter.Pemberian parasetamol dapat diulang setiap 4 jam bila suhu masih di atas 38°C. Obat dapat diberikan baik sebelum maupun sesudah makan/minum susu. Obat-obat jenis ini tersedia dalam bentuk drop, sirop, tablet, dan suppositoria. Setelah memberikan obat pada anak, tunggulah 30 menit – 1 jam baru kemudian cek ulang suhu anak karena obat memerlukan waktu untuk bekerja menurunkan panas anak. Sementara itu, bantu dengan mengompres anak.


Apa itu obat supposituria ?

Obat suppositoria adalah sediaan obat yang diberikan melalui anus (dubur). Umumnya diberikan bila suhu anak mencapai 39,5°C dan pemberian dan pemberian secara oral sulit dilakukan (misal anak tidur atau muntah). Pemberian obat supposituria memiliki kecepatan menurunkan demam lebih cepat dibandingkan pemberian secara oral. Obat supposituria ada 2 jenis, yang berbentuk seperti peluru dan bentuk cair seperti kemasan.

Bagaimana cara pemberian obat supposituria berbentuk peluru ?

  • Buka tutup kemasan
  • Masukkan ke dalam dubur anak sesuai dosis
  • Tutup dubur anak (dengan merapatkan kedua bokong) dan tahan 1 menit agar obat tidak keluar kembali

Bagaimana cara pemberian obat suppositoria berbentuk cair dalam kemasan ?

  • Buka tutup kemasan 
  • Masukkan ke dalam dubur anak sesuai dosis
  • Pencet badan kemasan agar cairan obat keluar
  • Tarik kemasan dalam posisi kemasan masih terpencet
  • Tutup dubur anak (dengan merapatkan kedua bokong) dan tahan 1 menit agar obat tidak mengalir keluar
  • Lepaskan pencetan pada kemasan dan buang kemasan tersebut

Bagaimana cara menyimpan obat suppositoria ?

Obat-obat suppositoria harus disimpan di dalam lemari es tetapi bukan di dalam freezer.

Bagaimana cara mengompres yang benar ?

  • Rendam kain pembasuh atau handuk dalam air hangat
  • Gunakan kain pembasuh yang masih hangat tersebut untuk mengompres tempat-tempat yang dilalui pembuluh darah besar seperti leher, ketiak, dan selangkangan atau bisa juga dengan membasuh seluruh tubuh anak
  • Bila kain sudah mulai dingin, segeralah angkat dan ganti dengan kain lain yang masih hangat. Jangan biarkan kain pembasuh yang sudah dingin menempel pada tubuh anak
  • Bila sudah selesai, keringkan tubuh anak dan ganti pakaian atau seprei yang basah

Penulis dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A


IMG_4933-Copy-2-1200x1366.jpg

November 30, 2018 ArtikelLiputan

dr. Marissa adalah dokter spesialis anak lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta. Gelar dokter umum diperoleh sebelumnya dari Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Jakarta. Setelah lulus menjadi dokter spesialis anak, dr. Marissa sempat menjadi Gastaerztin (dokter tamu) di Hannover Medical School, Germany.

Tak hanya membagikan ilmunya kepada pasien yang datang, dokter cantik dengan nama lengkap dr. Marissa T.S Pudjiadi, Sp.A ini juga berbagi ilmu lewat tulisan-tulisannya. Berbekal ilmu dan pengalamannya, ia telah menerbitkan buku yang kini menjadi pegangan bagi para orangtua saat menghadapi masalah kesehatan pada anaknya. Buku berjudul ‘250 Tanya Jawab Kesehatan Anak’ yang diterbitkan pada tahun 2013 ini diharapkan menjadi panduan sekaligus informasi agar para orangtua menjadi lebih pintar dan bisa mencari jawaban sendiri jika tidak ada akses langsung ke dokter saat harus menghadapi masalah kesehatan anak. Meski demikian, ia juga berpesan walau buku ini telah menjawab masalah kesehatan anak, namun bila ada keraguan, orangtua disarankan untuk tetap bertanya pada dokter. Sebab setiap anak memiliki keadaan klinis yang berbeda-beda satu sama lain.  Dr. Marissa juga aktif dalam berbagai seminar ataupun talkshow seputar kesehatan anak.

Untuk dapat bertemu dengan dr. Marissa T.S. Pudjiadi, Sp.A di Klinik Anak AP&AP Jakarta, Ayah Bunda dapat datang setiap hari Sabtu jam 09.00 – 12.00 WIB atau bisa melakukan appointment terlebih dahulu melalui no.tlp (021) 2205 7020.22 atau Hp: 0857 1566 3038


download-1.jpg

November 16, 2018 Uncategorized

Tahukah Mom? Bahwa Klinik AP&AP Pediatric, Growth and Diabetes Center bekerjasama dengan sekolah – sekolah dalam program Medical Check Up (MCU) Skrining Perkembangan Anak dan Pemeriksaan Kesehatan.

Klinik AP&AP sebagai salah satu Klinik Anak di Jakarta menjadi salah satu tempat yang dipilih dari Proklamasi School and Daycare untuk dilakukannya skrining perkembangan anak dan pemeriksaan kesehatan. Acara ini dilaksanakan selama 2 hari tanggal 6 & 7 November 2018.

        

Lalu apa aja sih yang dilakukan selama anak – anak Proklamasi School di  Klinik AP&AP ?

Pertama-tama murid-murid akan dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan oleh tim medis kami. Lalu kemudian akan dilakukan pemeriksaan oleh dr. Wiranty Ramadhani juga dr. Maria Gita Merisa. Medical Check up yang dilakukan di Klinik AP&AP Jakarta ini, pastinya sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Pelayanan Kesehatan lainnya, karena bukan hanya pemeriksaan fisik tetapi juga ada tim medis kami akan melakukan Skrining Perkembangan Anak, sehinggan sesuai dengan usia anak tersebut.

        

        

Selain dilakukan pemeriksaan, Klinik juga menyediakan arena bermain untuk anak-anak dan pemutaran film untuk anak. Terlihat antusiasme yang sangat besar dari murid-murid dan mereka juga tidak takut saat bertemu dengan dokter.

       

Jika anda tertarik menjadikan sekolah si kecil menjadi sekolah partner kami. Anda dapat menghubungi kami melalui email : apap_pediatric@yahoo.com. Tim kami siap membantu untuk memberikan informasi lebih lanjut.



November 12, 2018 AcaraLiputan

Memperingati Hari Diabetes Sedunia 2018, klinik AP&AP Pediatric, Growth and Diabetes Center ikut berpartisipasi dlm kegiatan yg diadakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan IKADAR di CFD Fx Sudirman hari Minggu, 11 November 2018. Acara bertemakan Keluarga Sehat Bebas Diabetes ini menarik banyak perhatian pengunjung yg datang. Tujuan diadakannya acara ini agar para orang tua lebih aware akan gejala diabetes pd anak sehingga anak2 bisa dapat ditangani dg baik. #WDD2018

       Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang tersenyum, orang berdiri                         Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri dan luar ruangan

Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2021.