Saat duduk di bangku sekolah dasar (SD) biasanya pola tidur anak mulai sedikit mengalami perubahan mengingat kegiatannya di sekolah makin bertambah. Tak jarang ada anak yang bisa tidur terlalu larut dan justru bangun kesiangan.
Menanggapi hal ini, dr Marissa TS Pudjiadi mengatakan jumlah kebutuhan tidur pada anak usia SD kurang lebih 10-12 jam perhari. Sehingga, kebiasaan tidur perlu dibentuk sesuai dengan ritme yang benar.
“Ritme yang benar yaitu tidur tidak terlalu malam dan bangun pada pagi hari, karena siklus tersebut mengikuti ritme sirkandian pada manusia,” kata dr Marissa.
Dikatakan dr Marissa, waktu tidur yang kurang pada anak bisa berpengaruh pada perkembangan dan risiko obesitas. Sebab kebutuhan tidur yang tidak tercukupi bila berlangsung lama akan menumpuk menjadi hutang tidur.
Nah, utang tidur ini harus ‘dibayar’ untuk memenuhi kebutuhan tidur seorang anak. Bila anak mengalami kekurangan tidur yang kronis, saat waktu produktif misalnya disekolah anak tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, demikian diungkapkan dr Marissa.
“Dari sisi pertumbuhan, anak mengalami pertumbuhan saat anak tidur dalam. Jika anak kekurangan tidur terus menerus secara otomatis pertumbuhannya akan terganggu,” lanjut lulusan Fakultas Kedokteran UI ini.
Tidak tercukupinya waktu tidur bisa membuat anak obesitas karena saat kurang tidur, metabolisme badan manusia akan menurun untuk menjaga keseimbangan dari kekurangan istirahat. Penurunan metabolisme inilah yang bisa mengakibatkan anak obesitas karena kalori yang dibakar menjadi lebih sedikit.
“Selain itu, bergadang akan meningkatkan rasa lapar yang akhirnya meningkatkan asupan kalori dalam sehari,” tutup dr Marissa.
Radian Nyi Sukmasari – detikHealth
Tinggi badan anak di bawah rata-rata anak seusianya dikhawatirkan akan berdampak pada gangguan perkembangan otak, kemampuan kognitif dan metabolisme. Yuk, kenali tanda awal anak beresiko tumbuh pendek.
Tampaknya sepele, namun hal kecil yang diabaikan bisa menimbulkan dampak yang tidak main-main. Misalnya saja kebiasaan-kebiasaan yang justru berdampak pada tinggi badan anak. Kebiasaan seperti apa?
Mengetahui apakah tumbuh kembang anak sesuai dengan kurva pertumbuhan normal dapat dilakukan lewat cara sederhana seperti mengukur tinggi badan.
“Gagal tumbuh” atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Failure to Thrive digunakan untuk menggambarkan seorang anak yang tumbuh lebih lambat dibandingkan anak-anak lain pada usia yang sama.Gagal tumbuh adalah keadaan pada bayi atau anak yang berhubungan dengan kegagalan anak untuk tumbuh baik secara mental, fisik, maupun emosional yang tidak dapat mencapai potensi pertumbuhan sesuai dengan usianya.
Pada dasarnya tidak ada gejala yang pasti ketika bayi mengalami growth spurt. Hal tersebut hanya dapat diketahui dengan pemantauan berkala pertumbuhan sang bayi. Setiap orang tua harus melihat dan memonitor pertumbuhan sang bayi dengan melakukan plot ke dalam kurva pertumbuhan.