IMG_4902-Copy-1200x1235.jpg

Memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan dokter sebelum pergi berlibur akan memberikan banyak manfaat.

Pertama, Bunda dapat memeriksakan kondisi fisik dan mengetahui kesiapan fisik untuk bepergian. Utarakanlah pada dokter bahwa Bunda dan keluarga akan berlibur, jelaskan rencana kegiatan yang akan dilakukan dan konsultasikan apakah kondisi kesehatan Bunda dan sekeluarga kira-kira akan menjadi masalah atau tidak.

Kedua, setelah mengetahui keadaan kesehatan secara persis, mintalah petunjuk apa yang perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya gangguan kesehatan selama bepergian. Bila perlu minta dokter untuk memberikan resep obat-obatan cadangan yang kiranya dapat berguna bila masalah kesehatan muncul. Minta pula penjelasan mengenai tindakan pertolongan pertama apa saja yang harus dilakukan jika hal itu terjadi.

Ketiga, bila Bunda atau anggota keluarga yang ikut bepergian memiliki penyakit khusus yang cukup serius dan mungkin kambuh, Bunda harus mendiskusikannya dengan dokter. Penyakit yang perlu mendapat perhatian antara lain penyakit asma, epilepsi, alergi yang hebat, darah tinggi, kelainan jantung, gangguan pernapasan kronik, kelainan darah dan sebagainya.

Informasikan pula mengenai lokasi berlibur. Perlu diingat, beberapa daerah memiliki risiko penyakit yang berbeda-beda. Bepergian ke beberapa daerah di Indonesia bagian timur memiliki risiko terkena penyakit malaria. Demikian pula bila bepergian ke luar negeri, khususnya ke benua Afrika dan beberapa wilayah Asia yang masih memiliki beberapa penyakit berbahaya. Konsultasikanlah cara pencegahannya dan bila perlu minta dilakukan vaksinasi khusus jika memang telah ada.

Diskusikan juga tentang informasi alamat dan nomor telepon fasilitas medis yang ada di sekitar lokasi berlibur yang dituju. Bila sang dokter tidak keberatan, minta nomor teleponnya yang bisa dihubungi sewaktu-waktu. Ini akan sangat berguna bila Ayah Bunda perlu berkonsultasi masalah kesehatan yang darurat dan tidak menemukan fasilitas kesehatan disekitar lokasi berlibur

Ke mana sebaiknya memeriksakan diri ?

Idealnya Bunda pergi ke travel clinic, yaitu klinik yang memberikan pelayanan kedokteran wisata (travel medicine). Di klinik ini, Bunda dapat berkonsultasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan perjalanan yang direncanakan. Sayangnya, saat ini di Indonesia belum banyak klinik semacam ini, berbeda dari negara maju yah sudah memiliki banyak travel clinic. Sebagai alternatif, Bunda dapat mencari dan berkonsultasi pada dokter yang memiliki kompetensi dalam bidang kedokteran wisata. Jika hal ini juga masih sulit, Bunda juga dapat berkonsultasi dengan dokter keluarga langganan.

Apakah semua rencana bepergian perlu dikonsultasikan?

Jika Bunda hanya pergi 1-2 hari ke daerah yang tidak terlalu jauh, kemungkinan besar tidak perlu berkonsultasi. Lain halnya bila Bunda hendak pergi dalam waktu yang cukup lama dan ke lokasi yang cukup jauh pula, apalagi bila sampai ke negeri orang. Walau bagaimanapun, mencegah lebih mudah dan lebih baik. Lebih baik repot sedikit diawal bepergian daripada rencana liburan menejadi berantakan.

Obat-obatan apa saja yang perlu dipersiapkan ?

Bila si kecil memiliki penyakit khusus atau sedang dalam pengobatan tertentu, Bunda harus meminta kepada dokter untuk meresepkan obat tersebut. Bila perlu, mintalah surat keterangan dari dokter mengenai penyakitnya. Hal ini dapat berguna bila bepergian dengan pesawat atau jika si kecil perlu berkonsultasi dengan dokter di tempat tujuan.

Bila si kecil sehat-sehat saja dan tidak sedang dalam pengobatan tertentu, namun akan bepergian dalam waktu cukup lama, apa yang harus diperhatikan ?

Bawalah perlengkapan kesehatan dan obat-obatan, seperti termometer digital, obat demam, obat antimual-muntah, obat anti alergi, obat anti-diare, serta obat anti-batuk pilek. Bila si kecil memiliki riwayat kejang demam bawalah obat anti-kejang. Hal ini akan sangat membantu untuk pertolongan pertama seandainya si kecil mengalami salah satu gejala diatas.

Bila si kecil sudah menginjak balita bawa juga cairan desinfeksi, kapas, dan plester. Pada usia ini, anak cenderung berlari ke sana kemari untuk mengeksplorasi sekitarnya dan cenderung terjatuh serta mengalami luka pada kulit.

Untuk obat-obatan khusus, perlu dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter. Misal, Bunda akan bepergian ke daerah yang masih endemis malaria, mintalah dokter untuk meresepkan obat pencegahan terhadap malaria. Tentunya Bunda akan diajari cara penggunaan obat tersebut.

Bagaimana jika anak mengalami sakit berkepanjangan di tempat berlibur ?

Jangan ragu untuk membawanya berkonsultasi dengan dokter di tempat tersebut. Kadang, karena terlalu excited, anak bermain berlebihan sehingga ia tidak sadar bahwa dirinya terlalu capai. Keadaan ini dapat menyebabkan anak menjadi mudah sakit.

Bagaimana cara mempersiapkan mental anak sebelum bepergian ?

Pada anak balita, sebelum pergi, ajak ia ikut membereskan koper dan barang-barang yang akan dibawa. Si kecil akan mengerti dan senang. Terangkan juga mengenai hal-hal yang akan ia alami, misalnya saat bepergian dengan mobil, Bunda dapat menceritakan bahwa anak akan berada di mobil dalam waktu lama, atau saat akan bepergian dengan pesawat, Bunda dapat menceritakan tentang kondisi di pesawat dan bahwa ia tidak boleh berteriak-teriak di dalam pesawat. Hal ini dapat membantu anak untuk mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Barang-barang apa saja yang perlu dibawa ?

Pakaian dan perlengkapan lain yang sesuai dengan tempat tujuan harus dipersiapkan matang-matang. Selain perlengkapan tersebut, ingatlah juga untuk membawa hal-hal berikut ini : mainan anak, lagu anak, snack, bantal travel untuk anak, kantong muntah, permen pedas, minyak kayu putih atau minyak lainnya yang berbau segar, dan car seat bila Bunda bepergian dengan mobil dan membawa bayi atau balita. Pertimbangkan pula untuk membawa stroller bila melakukan perjalanan jauh.

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi,Sp.A


dr.-Marissa-1200x854.jpg

Apakah benar anak yang sedang menderita penyakit infeksi tidak boleh bersekolah?
Memang benar bersekolah itu penting, namun kesehatan anak jauh lebih penting dibandingkan bersekolah dalam keadaan sakit. Saat sakit tubuh anak sebenarnya sedang berjuang melawan penyakitnya, sehingga sebaiknya anak beristirahat di rumah agar tubuh dapat berjuang secara maksimal melawan penyakit dikarenakan ketahanan tubuh anak masih rentan. Anak yang sedang sakit tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar. Anak yang sedang mengalami penyakit infeksi dapat menularkan penyakitnya ke anak lain sehingga dapat terjadi wabah di sekolah sebab anak-anak belum memiliki sistem daya tahan tubuh yang kuat
Berikut beberapa penyakit menular pada anak beserta penularannya :
Varisela / cacar air
Menular melalui udara atau kontak langsung. Isolasi dilakukan kira-kira sampai 5 hari, sejak kelainan kulit timbul atau sampai vesikel (bintil di kulit) mengering. Vaksina varisela sudah tersedia dan masuk dalam rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Pencegahan
Cegah dengan vaksinasi. Untuk mencegah kemungkinan terkena atau tertular cacar air dapat diberikan vaksinasi. Kalaupun terkena setelah vaksinasi, biasanya tidak sampai parah.

Vaksinasi biasanya diberkan pada usia satu tahun ke atas. Karena pada usia ini bayi sudah tidak lagi memiliki kekebalan tubuh dari ibunya. Daya lindung vaksin ini bisa mancapai 97% dan dapat diulang saat balita berumur 5 tahun.

Hepatitis B dan C
Sumber penularannya adalah cairan tubuh. Tidak perlu melakukan isolasi total pada penderita Hepatitis B dan C, cukup menghindari kontak dengan cairan tubuh. Pencegahan yang paling penting adalah dengan melakukan vaksinasi Hepatitis B, sementara untuk Hepatitis C belum ada vaksinasinya.
Hepatitis A
Sumber penularannya adalah kontaminasi dari kotoran (feses) penderita, yang kemudian masuk ke dalam saluran cerna, jadi tidak perlu isolasi. Yang perlu dilakukan adalah menjaga kebersihan makanan dan minuman.
Campak
Penularan terjadi melalui udara dan isolasi dilakukan sejak timbul rash (kelainan di kulit) sampai 4 hari setelahnya.
Gondongan atau mumps
Penularan terjadi melalui droplet atau cipatran ludah. Isolasi sebaiknya dilakukan 5 hari sejak munculnya gejala pembengkakan kelenjar ludah. Gondongan biasanya diikuti oleh gejala lain seperti demam, lemas, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, dan nyeri otot. Penyakit menular yang biasa terjadi di sekolah ini tidak membutuhkan pengobatan khusus dan bisa sembuh dalam beberapa minggu. Gondongan dapat dicegah dengan vaksinasi MMR.

Cara Mencegah Terkena Penyakit Menular di Sekolah

Anak-anak lebih rentan tertular karena mereka cenderung melakukan kontak fisik yang dekat satu sama lain dan berbagi barang-barang pribadi dengan teman-temannya. Agar Si Kecil tidak mudah sakit, lakukan pencegahan dan kebiasaan sehat berikut:

  • Ajarkan Si Kecil kebiasaan cuci tangan yang benar
  • Berikan vaksinasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh IDAI
  • Ajarkan anak agar tidak berbagi barang pribadi dengan teman-temannya. Jika anak tinggal di asrama, bekali dia dengan barang pribadi yang cukup, seperti seprai, alat makan, dan handuk, agar tidak perlu meminjam pada anak lain.
  • Jaga kebersihan lingkungan rumah dan sekolah, terutama kebersihan makanan dan toilet.

Berikan Si Kecil makanan bergizi seimbang, termasuk sayuran dan buah-buahan. Menu makanan sehat dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah mengalami penyakit menular yang sering terjadi di sekolah. Jika perlu, konsultasikan kondisi kesehatan Si Kecil pada dokter anak

 

 

Sumber : dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A

alodokter.com


25.09.2018.jpg

Pernahkah ayah dan bunda mendengar tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan? Seribu hari pertama kehidupan dimulai sejak masa kehamilan hingga seorang anak berusia 2 tahun. Masa tersebut merupakan periode emas bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Nutrisi menjadi salah satu pondasi penting dalam mendukung periode ini. Kebutuhan nutrisi harus dipenuhi secara optimal dan seimbang – tidak boleh sampai kekurangan atau bahkan berlebihan.

Kita tentu sering mendengar istilah malnutrisi. Namun tahukah ayah dan bunda, bahwa malnutrisi bukanlah kondisi yang dikaitkan dengan anak bertubuh kurus saja, namun juga bisa dijumpai pada anak gemuk? Malnutrisi adalah kondisi dimana seseorang tidak mendapat zat gizi secara tepat, yang mencakup: obesitas, gizi lebih, gizi kurang, gizi buruk, dan kekurangan mikronutrien.

Seorang anak yang kekurangan zat gizi (terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan) akan tampak lebih kecil (kurus dan pendek) dibanding teman seusianya. Hal ini disebabkan tubuh tidak memiliki nutrisi yang cukup untuk menunjang pertambahan berat badan maupun tinggi badannya. Anak tersebut juga akan menjadi lebih rentan terkena infeksi serta tidak dapat mengembangkan kemampuan otaknya secara optimal. Inilah yang disebut sebagai suatu kondisi gizi buruk yang menyebabkan gagal tubuh.

Kekurangan mikronutrien juga dapat berdampak pada pertumbuhan anak. Sebagai contoh, anak yang menderita kekurangan vitamin D dapat menderita rakitis. Rakitis adalah kondisi dimana terjadi pelunakan tulang sehingga lebih rentan terjadi patah tulang dan kelainan bentuk tulang (bengkok). Pertumbuhan anak tentu akan terganggu dalam keadaan ini.

Pada anak dengan kelebihan zat gizi khususnya obesitas, orangtua biasanya tidak terlalu mengkhawatirkan pertumbuhannya. Banyak yang beranggapan bahwa anak tidak akan kekurangan zat apapun untuk menunjang pertumbuhannya. Hal ini juga ditunjang oleh kecenderungan pada anak yang mengalami obesitas akan memiliki tinggi badan pra-pubertas (sebelum pubertas) yang lebih tinggi dibanding rata-rata teman seusianya. Padahal, pada anak dengan obesitas dapat terjadi perubahan pada hormonal tubuhnya. Anak dapat mengalami masa pacu tumbuh lebih awal namun pada waktu masa pertumbuhan hampir selesai kecepatan ini akan melambat. Pada sebagian kasus, anak tidak dapat mencapai potensi genetik tinggi badan secara optimal saat dewasa.

Ada baiknya orangtua mencegah masalah nutrisi sejak dini. Pemenuhan zat gizi yang optimal harus dimulai saat masa kandungan. Setelah anak lahir, lakukan pemantauan kesehatan dan status gizi secara rutin ke tempat pelayanan kesehatan terpercaya. Bila adanya masalah nutrisi anak dapat dideteksi sejak dini, niscaya kita dapat mencegah kemungkinan adanya gangguan pertumbuhan yang dapat terjadi di masa yang akan datang.

Bila kurang gizi ini dibiarkan, maka status gizi anak bisa menjadi gizi buruk. Penanganan anak gizi buruk harus oleh tenaga terlatih, seperti dokter anak atau dokter umum terlatih atau dietitian anak (ahli gizi anak) yang mengerti tahapan pemberian gizi pada anak dengan gizi buruk. Terdapat formula makanan yang khusus bagi anak gizi buruk.

 

Sumber : dr. Wiranty Ramadhani


10.05.18.jpg

Tidak terasa bulan ramadhan sudah semakin dekat. Tentu saja semua orang ingin menjalankan puasa untuk memenuhi kewajiban agamanya, bergitu juga para diabetisi. Pada artikel minggu lalu, sudah dijelaskan bahwa diabetisi boleh menjalankan puasa walaupun dengan pemantauan. Pertanyaan lain yang sering timbul di benak orang tua adalah : bagaimana cara mengatur makanan yang baik selama berpuasa? Nah, di artikel kali ini kita akan membahas segala hal tentang diet diabetisi selama berpuasa.

Saat berpuasa, secara alami akan terjadi penurunan aktivitas fisik dan asupan makanan. Oleh karena itu, jumlah asupan kalori harus disesuaikan dengan jumlah kebutuhan sehari-hari dengan komposisi 60-65% karbohidrat, 15-20% protein, dan 20-25% lemak. Porsi makan yang diberikan sebagai berikut:

  • 50% total kalori saat berbuka. Sebelum shalat maghrib disarankan mengonsumsi makanan ringan/segar, diikuti makanan padat/besar sebaiknya sesudah shalat maghrib
  • 10% dari total kalori diberikan setelah salat tarawih berupa snack
  • 40% dari total kalori diberikan saat sahur.

Kebutuhan karbohidrat berkisar 60 – 70 % dari energi total yang dibutuhkan. Asupan karbohidrat dipilih dari bahan makanan yang berserat seperti kentang, jagung, beras merah. Konsumsi roti putih dapat dikurangi. Bahan pemanis pengganti gula dapat digunakan asalkan dalam jumlah yang aman.

Jumlah protein sekitar 10 – 15 % dari total kalori. Jenis protein yang dianjurkan adalah yang berasal dari kacang – kacangan seperti kacang kedelai, tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah karena kacang-kacangan tidak hanya kaya protein, melainkan juga tinggi serat dan karbohidrat kompleks. Sementara protein hewani yang dianjurkan adalah ayam tanpa kulit, ikan ( lebih dianjurkan ), daging tanpa lemak / telur ayam kampung.

Lemak berkisar antara 20 – 25 % dari energi total ( pilih lemak tak jenuh ). Diabetisi dianjurkan untuk mengurangi penggunaan santan, mentega, keju, coklat, gajih, krim, mayones, dan minyak goreng dalam pengolahan makanan.

Beberapa panduan yang perlu dipatuhi diabetisi agar mampu menjalankan puasa tanpa masalah, diantaranya :

  1. Harus makan sahur secukupnya.
  2. Segera berbuka puasa setelah adzan magrib.
  3. Tidak makan berlebihan ketika berbuka, mengurangi makan makanan yang manis
  4. Jika mengalami tanda hipiglikemia, hiperglikemi atau kekurangan air, disarankan untuk segera berbuka puasa.
  5. Kurangi minum kopi atau dapat diganti dengan teh yang encer tidak terlalu pekat.

Contoh Menu Puasa Untuk Diabetisi :

Sahur :
– Nasi Aroma
– Pepes Ayam Kemangi
– Sate Tempe
– Sup Sayuran
– Mixed Fruits

Menjelang Imsak : Puding DM
Tajil : Kurma

Buka :
– Nasi Timbel
– Ikan Bakar Ala Bunda
– Bacem Tahu
– Cah Sayuran
– Pepaya Potong

Setelah Tarawih : Snack DM
Menjelang Tidur : Jus Buah DM

Tips :

  1. Konsultasikan dahulu anak Anda ke dokter Endokrinologi Anak untuk memutuskan apakah anak anda boleh puasa atau tidak.
  2. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter Endokrinologi anak anda untuk penyesuaian regimen dan dosis insulin, diet, aktivitas fisik serta monitoring selama anak puasa.
  3. Konsultasikan ke Ahli Gizi/ Dietisien berkaitan pengaturan makan selama anak berpuasa
  4. Monitor kadar gula darah lebih sering.
  5. Kenali tanda-tanda komplikasi akut, seperti hipoglikemia ataupun tanda-tanda dehidrasi
  6. Jika terdapat hipoglikemia segera minta anak untuk berbuka puasa.

Semoga bacaan ini dapat membantu orang tua untuk meyiapkan menu makanan anak selama berpuasa ya. Selamat berpuasa!

Narasumber : Retno Muji Muliany, S.Gz, RD


18.01.2018.jpg

APAKAH VAKSIN AMAN BAGI ANAK ?

Seorang anak usia 6 bulan datang ke klinik dengan keluhan batuk terus menerus. Ketika batuk wajah anak tampak membiru dan terdengar suara melengking saat menarik nafas (whooping). Penyakit batuk ini sering disebut juga sebagai batuk rejan (whooping cough) atau batuk 100 hari, yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis dan menyebar melalui udara. Batuk rejan menyebabkan anak batuk terus menerus sehingga menyebabkan tubuh kekurangan oksigen. Hal ini dapat mengakibatkan komplikasi berupa sesak berat hingga kematian. Pencegahan kematian akibat batuk rejan dapat dicegah dengan memberikan vaksin DPT sesuai jadwal. Namun mitos dan informasi yang salah menjadikan persepsi masyarakat mengenai dampak imunisasi terlihat lebih berbahaya dibandingkan dengan risiko anak yang tidak diberikan vaksin.

 

Vaksin adalah suatu produk yang menghasilkan kekebalan terhadap penyakit dan dapat diberikan melalui jarum suntik, kulit, atau diberikan dengan penyemprotan. Vaksinasi adalah tindakan penyuntikan organisme yang mati atau dilemahkan, selanjutnya akan menghasilkan kekebalan tubuh terhadap organisme tersebut.

 

Tahapan Pembentukan Vaksin

  • Tahap preklinik: riset dilakukan di laboratorium dan pada binatang, termasuk didalamnya:
    • Identifikasi / penemuan antigen
    • Kreasi konsep vaksin
    • Evaluasi khasiat vaksin di laboratorium dan binatang
    • Standar pembuatan vaksin menggunakan standar Good Manufacturing Practice yang dikeluarkan oleh WHO.
  • Tahap klinik : diuji pada manusia
    • Dilakukan bertahun tahun dimulai dari fase I sampai dengan fase IV
    • Berdasarkan prinsip etika yang ketat, dan persetujuan relawan
    • Fokus pada keamanan dan khasiat

Pembuatan vaksin melalui empat tahapan fase, antara lain :

Fase I

Penelitian dengan skala kecil untuk memastikan keamanan vaksin dan respon kekebalan tubuh. Penelitian yang dilakukan di Eropa dan beberapa negara berkembang terbagi menjadi dua subfase. Subfase pertama adalah Fase 1a, pada fase ini vaksin diberikan pada relawan di Eropa. Fase selanjutnya adalah fase 1b yang dilakukan pada populasi di negara berkembang.

Fase II

Uji klinis (clinical trials) guna mengetahui khasiat dan keamanan vaksin.

  1. Skala besar (meliputi beberapa negara)
  2. Terutama untuk khasiat dan keamanan vaksin.

Fase III

  1. Skala luas (meliputi beberapa benua)
  2. Ratusan relawan dibeberapa lokasi, sehingga jumlahnya jadi ribuan
  3. Evaluasi khasiat dalam kondisi alamiah
  4. Bila vaksin aman dan berkhasiat, maka dilakukan lisensi di instansi terkait.

Negara Indonesia memiliki Badan POM sebagai institusi resmi untuk mengkaji nilai etik dan ilmiah dari suatu jenis vaksin hingga akhirnya dapat dipasarkan ke masyarakat secara luas berdasarkan rekomendasi Komnas Obat/Vaksin.

Fase IV

Merupakan tahapan akhir dari tahapan pembentukan vaksin, meliputi :

  1. Setelah vaksin dilisensi dan digunakan
  2. Disebut pula sebagai Post Marketing Surveillance
  3. Bertujuan untuk mendeteki kejadian simpang yang jarang serta memantau keamanan jangka panjang

Kesimpulan : apakah vaksin aman untuk anak ?

  • Vaksin aman dan efektif
  • Proses produksi vaksin melalui riset yang panjang serta menggunakan standar Good Clinical Practive serta berdasar etik yang ketat
  • Meski telah dilisensi, vaksin tetap dipantau baik oleh pemerintah melalui Badan POM, maupun badan independen lain yang kompeten, seperti KOMNAS PP KIPI.

Sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia


30.11.17-1200x1200.jpg

Terapi Insulin Pump Bagi Anak Diabetes

Terapi Insulin Pump mungkin terdengar agak asing bagi masyarakat Indonesia, tapi sesungguhnya terapi ini sudah tersedia secara luas sejak lama bagi penderita Diabetes Melitus (DM) pada negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada, terutama DM type 1 dimana penderitanya bergantung pada injeksi insulin basal-bolus 3-4 kali per hari. Cara kerjanya menyerupai cara kerja pankreas alami dimana hanya menggunakan 1 jenis insulin, yaitu rapid acting, yang dikeluarkan secara terus menerus sesuai kebutuhan; dosis kecil untuk insulin basal dan dosis besar untuk insulin bolus.

Terapi insulin pump menggunakan 4 komponen utama, yaitu: insulin pump, selang infusion set, tabung reservoir dan sensor CGM. Insulin pump ini akan diprogram dosis insulin basalnya sesuai kebutuhan masing-masing pengguna/user, sedangkan dosis basalnya tergantung pada asupan karbohidrat yang dikonsumsi. Selang infusion set dan tabung reservoir merupakan consumables yang perlu diganti secara regular setiap 3 hari sekali, sedangkan sensor CGM nya dapat dipakai lebih lama sampai 6 hari lamanya.

Terapi insulin pump tidak hanya berfungsi sebagai alternatif untuk menghindari rasa sakit penyuntikan insulin secara manual, namun memberi manfaat – manfaat jangka panjang yang bersifat klinis seperti menghindari komplikasi kerusakan organ dan resiko hipoglikemi, maupun non-klinis seperti fleksibilitas waktu makan dan berolah raga. Insulin pump lah yang diatur untuk menyesuaikan aktifitas kita, bukan sebaliknya. Hal-hal ini terasa lebih signifikan manfaatnya pada pasien pediatrik, khususnya bagi tumbuh-kembangnya yang membutuhkan nutrisi yang cukup dan seimbang. Namun penggunaannya pada pasien pediatrik memerlukan pengawasan sehari-hari yang ketat dari orang tua dan kontrol berkala kepada dokter yang meresepkan.

Seperti kita tahu, DM type 1 merupakan kondisi auto-immune dimana organ pankreas sang penderita berhenti menghasilkan hormon insulin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk memproses glukosa sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi. Kondisi ini menyerang secara tiba-tiba dan seringkali terjadi pada anak-anak dan remaja, sehingga amat berbahaya bagi si anak apabila tidak segera ditangani.

Ketika pankreas berhenti memproduksi insulin, seketika itu pula si penderita butuh asupan insulin eksternal yang biasanya diberikan dengan cara menyuntikkan insulin tersebut ke jaringan lemak di bawah kulit menggunakan jarum kecil.


09.11.17.jpg

Professional CGM dan Manfaat Nyata Bagi Anak Diabetes

Professional Continuous Glucose Monitoring (CGM) adalah alat monitoring gula darah pasien yang didesain untuk digunakan oleh tenaga kesehatan professional. Penggunaan alat ini harus diawasi oleh dokter atau perawat, dan hasil laporan monitoring gula darah pasien dikonsultasikan kepada dokter yang menangani. Alat ini dapat memberikan laporan berisi data-data yang dapat dibaca oleh dokter yang sudah terlatih.

Alat Professional CGM menggunakan sebuah sensor yang tertanam di jaringan bawah kulit dan sebuah alat perekam portable. Alat ini akan merekam glukosa pasien secara otomatis setiap 5 menit selama 24 jam, dan dapat dipakai sampai dengan 6 hari penuh. Selama monitoring pasien diminta untuk melakukan aktivitas seperti biasa, dengan tetap melakukan pengecekan Gula Darah Sewaktu (GDS) sebanyak 3-4 kali per hari untuk keperluan kalibrasi data, dan mencatat setiap konsumsi makanan/minuman maupun aktivitas fisik yang dilakukan. Hasil rekaman glukosa kemudian diunduh menggunakan alat docking dan kabel USB ke komputer/laptop untuk digabungkan dengan catatan GDS, konsumsi makanan/minuman, dan kegiatan pasien. Data ini akan diolah menjadi suatu paket laporan hasil  .

Laporan hasil monitoring ini akan mengungkap berbagai hal yang selama ini tersembunyi pada metode pemantauan tradisional, seperti fluktuasi glukosa, pola glikemi berulang, dan juga hipoglikemia/hiperglikemia yang tidak disadari. Dengan demikian, dokter yang merawat mampu melihat lebih detail kondisi yang dialami pasien dan dapat memberikan saran-saran maupun penyesuaian dosis pengobatan yang lebih tepat sasaran dan akurat. Pasien juga akan dapat melihat secara visual dampak dari aktivitas maupun konsumsi makanan/minumannya terhadap glukosa darahnya, sehingga dapat lebih berhati-hati dalam memilih makanan/minuman yang dikonsumsi dan lebih patuh menerapkan saran-saran dari dokter. Tidak hanya itu, melalui hasil laporan monitoring ini diharapkan dokter dan pasien dapat saling lebih memahami tantangan yang dihadapi masing-masing pihak dan dapat bekerja sama lebih baik dalam mencapai tujuan manajemen diabetes.

     
    Tanyakan pada dokter Anak Anda tentang pemantauan CGM apabila Anak Anda sering atau pernah mengalami hal-hal berikut:

  • Hasil pemeriksaan HbA1c anak saya tidak membaik padahal anak saya sudah makan lebih sehat
  • Tes Gula Darah Sewaktu anak saya membaik tapi hasil pemeriksaan HbA1c saya tidak
  • Apakah pengobatan anak saya sekarang sudah tepat dan berhasil ?
  •  


27.07.17-1.jpg

Salah satu vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia adalah vaksinasi Japanese Encephalitis (JE). Bagi orang tua yang belum pernah mendengar vaksin ini atau separuh mendengar tentang vaksin ini, semoga artikel ini dapat membantu pemahaman ayah dan bunda semua.

 

Apakah itu vaksinasi JE ? Vaksinasi  JE adalah vaksinasi untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap virus JE. Virus JE adalah virus yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Culex. Penyebaran penyakit ini terutama pada daerah kawasan pedesaan (rural) Asia. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan adanya laporan kasus penyakit ini di daerah di Bali, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Papua dan Sumatra.

Gejala penyakit yang disebabkan oleh virus JE ini dapat berupa gejala ringan, seperti demam, mual, dan sakit kepala. Namun, dapat pula berat seperti kejang, koma, dan penurunan kesadaran, hingga kematian. Gejala berat ini dikenal sebagai ensefalitis. Sekitar 1 dari 4 penderita ensefalitis JE mengalami kematian, sedangkan setengah penderita yang survive mengalami cacat permanen.

Penyakit ini dapat dicegah. Selain pencegahan terhadap gigitan nyamuk, pencegahan yang dilaporkan sangat efektif adalah pemberian vaksinasi JE. Vaksinasi JE diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian kedaerah endemis tersebut. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun. Jadi untuk ayah-bunda, sekali lagi mencegah lebih baik dari pada mengobati.***

Informasi terkait vaksin untuk orang tua selengkapnya dapat mengunjungi website klinikanakapap.com atau dapat menghubungi kami melalui telepon (021)29667797/98 Hp/Whatsapp: 0857 1566 3038

Penulis : dr. Tartila, Sp.A – Spesialis Anak Klinik AP&AP Pediatric, Growth, and Diabetes Center

 


19.05.17.jpg

Diet ketat seperti pada dewasa tidak disarankan untuk anak dengan obesitas. Anak masih bertumbuh sehingga kebutuhan makannya memang harus dicukupi agar tetap dapat tumbuh optimal dan tidak kekurangan mikronutrien.

Beberapa kebiasaan yang dapat diubah untuk menurunkan atau menahan laju kenaikan berat badan anak dengan obesitas antara lain terapkan pola makan 3 kali makan besar (pagi, siang, malam) dan 2 kali snack. Pola ini cocok untuk anak karena laju pengosongan lambung anak adalah 2-4 jam sehingga anak tidak kelaparan dan tidak craving (makan yang berlebihan karena kelaparan) saat jam makan berikutnya.

 

Berikan buah diawal makan (sebelum anak makan makanan utama). Makan buah diawal makan akan memberikan rasa kenyang sehingga anak tidak makan secara berlebihan. Berikan snack sehat seperti buah atau sayuran selain sehat, buah memiliki kalori yang lebih kecil dibandingkan dengan kue atau biskuit.

 

Cukupi kebutuhan air anak. Anak perlu minum 100ml/kg berat badan dalam 24 jam. Pada saat anak haus, kadang anak berpikir bahwa ia lapar dan malah makan atau mengemil untuk mengatasi rasa ini. Selain itu, cairan merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga kerja organ-organ tubuh.

 

Batasi pemberian susu dan jus. Anak diatas 1 (satu) tahun kebutuhan susunya sudah sangat berkurang yaitu 500 – 600ml/ 24 jam. Pemberian susu yang berlebihan dapat menyebabkan anak mengalami obesitas. Pemberian buah sebaiknya dalam bentuk buah potong bukan jus. Karena minum jus tidak mengatasi kebutuhan akan fase oral anak dan anak akan mulai mengemil untuk mengatasi kebutuhan akan fase oral ini.

 

Ganti piring makan anak dengan piring yang lebih kecil dan potonglah makanan menjadi kecil-kecil. Sebisa mungkin berikan makanan berserat tinggi untuk memberikan rasa lebih kenyang pada anak.

 

Selain mengubah pola makan, tingkatkan aktivitas anak dengan memberikan rutinitas olah raga secara teratur. Daftarkan anak ke club olah raga dapat menjadi solusi yang baik, karena dengan ikut club olah raga anak bergerak dengan tujuan dan waktu yang lebih disiplin.

 

Dalam menatalaksana anak dengan obesitas, seluruh keluarga harus ikut memberikan contoh dengan makan makanan yang sehat. Singkirkan semua snack dari meja makan dan lemari makanan anda. Jangan makan diluar aturan makan anak di depan anak agar anak tidak merasa dihukum dan merasa didukung.

 

Bila orang tua bingung dengan jumlah makanan yang baiknya diberikan untuk anak, baiknya berkonsultasi ke dokter anak dan ahli gizi anak.

 

dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A

Klinik AP&AP Pediatric, Growth and Diabetes


13.04.2017.jpg

Bagi diabetisi (anak penderita diabetes) yang menggunakan Insulin Basal Bolus, pembagian makan berdasarkan perhitungan rasio karbohidrat dengan Insulin bolus ( Konsultasikan dengan dietisien)

Bahan makanan yang mendukung diet sesuai dengan menu seimbang, dengan komposisi Karbohidrat 50-60 % dari total kalori sehari, protein 10 – 15 % dari energi total sehari, lemak 25 – 30 % dari total energi sehari.  Cholesterol kurang dari 300 mg. Serat diberikan denngan tujuan untuk merawat dan mencegah beberapa gangguan gastrointestinal dan serat larut air membantu menurunkan kadar lipida darah. Bahan makanan yang dihindari : gula, sirup, madu, dan bahan makanan yang mengandung gula murni. Gula untuk bumbu masih boleh diberikan.

Sumber Karbohidrat

Nasi putih, nasi merah, kentang, beras jagung, havermut,  jagung, ubi, singkong, sukun, roti tinggi serat

Sumber Protein Hewani

Ayam tanpa kulit, daging sapi, ikan-ikanan, telur ayam, telur puyuh, telur bebek, udang, cumi-cumi, kerang dll.

Sumber Protein Nabati

Tempe, Tahu, Kacang hijau, kacang kedele, kacang merah, kacang tanah, kacang tolo, oncom, sari kedele

Sayur dan Buah

Oyong, timun, buncis, caisim, kembang kol, tomat, wortel

Pisang, bengkoang, belimbing, jambu biji, manggis pepaya, jeruk, nanas, apel, melon, anggur, dll

Sumber Lemak

Minyak almond, minyak jagung, minyak kelapa sawit, minyak kelapa, minyak Zaitun, santan

 

CONTOH MENU PASIEN DM 1900 Kalori :

Pagi     :   Nasi                         150 g

Telur dadar               50 g

Lalapan

Minyak                    5 g

Pk. 09.00 :  Pisang goreng   1 potong (60 g)

Jeruk                  1 buah (100 g)

Siang   :   Nasi                         150 g

Ikan pesmol               50 g

Frikadel tahu             50 g

Sayur asem          100 g

Slada buah pepaya.

Pk. 15.00 :  Kroket            1 buah (50 g)).

Pudding sirsak.

Malam :   Nasi                                100 g

Semur daging                50 g

Tempe goreng tepung  25 g

Tumis kangking          100 g

Pisang raja                    50 g

 

Pk. 21.00 :  Susu non fat    25 g

Crackers           2 buah

Tip untuk menghidari DM :

  • Menjaga berat badan tetap ideal
  • Pola makan sesuai menu seimbang
  • Mempertahankan gaya hidup sehat.

 

Penulis : Ibu Retno Muji Muliany, S.Gz


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2019. Website oleh Equitiga.