03.07.17.jpg

August 4, 2017 ArtikelKesehatan Anak

Apakah hepatitis B itu ?

Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B.

  • Terdapat lebih dari 2 milyar individu dengan infeksi hepatitis B di seluruh dunia. Diantaranya, terdapat 400 juta orang sebagai pembawa virus hepatitis B kronis. Setiap tahun 500.000 sampai 1,2 juta orang akan meninggal karena sirosis dan kanker sel hati akibat hepatitis B.
  • Indonesia merupakan negara endemis hepatitis B ditemukan pada 07-2,1 % ibu hamil. Penularan tersering terjadi dari ibu dengan hepatitis B ke bayi yang dilahirkannya, apabila bayinya tidak mendapat imunisasi dengan vaksin dan imunoglobulin hepatitis B.
  • Bayi baru lahir yang terinfeksi dari ibunya berisiko 90% menjadi kronis dan berpotensi menjadi sirosis hati dan kanker hati.

 

Gejala Hepatitis B

  1. Infeksia Akut

Bayi dan anak kecil yang terinfeksi hepatitis B pada umumnya tidak menunjukkan gejala. Remaja dan dewasa yang terinfeksi hepatitis B dapat mengalami gejala akut berupa :

  • Penurunan nafsu makan
  • Demam
  • Lesu
  • Nyeri pada otot, sendi dan perut
  • Mual, muntah dan diare
  • Kuning pada mata dan kulit
  • Gejala akut biasanya timbul 3-4 bulan setelah infeksi

 

  1. Infeksi Kronis

Kebanyakan individu yang mengalami infeksi kronis sering kali tidak menunjukkan gejala, tetapi infeksi yang terjadi dapat menyebabkan kerusakan hati lanjut (sirosis), kanker hati, dan kematian. Infeksi kronis lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak dibandingkan orang dewasa. Individu dengan infeksi kronis dapat menularkan virus hepatitis B pada orang lain, meskipun mereka tidak merasa sakit.

 

Bagaimana Hepatitis B Dapat Menular ?

Virus hepatitis B dapat menular melalui darah atau cairan tubuh dari orang lain atau kontak dengan objek yang terinfeksi.

Penularan pada bayi dan anak dapat terjadi karena :

  • Bayi lahir dari Ibu yang terinfeksi hepatitis B
  • Kontak dengan darah dan cairan tubuh melalui luka pada kulit
  • Kontak dengan objek yang mengandung darah atau cairan tubuh seperti sikat gigi, alat cukur, alat pemantau gula, dan alat suntik untuk diabetes
  • Menggunakan jarum suntik yang sama dengan orang yang terinfeksi ; atau jarum untuk memasang anting-anting yang tidak steril (terinfeksi)
  • Tertusuk jarum yang sudah pernah digunakan

 

Apa Manfaat Vaksin Hepatitis B ?

Vaksin hepatitis B dapat mencegah infeksi hepatitis B serta komplikasinya. Vaksin hepatitis B dapat diberikan secara tunggal atau kombinasi dengan vaksin lain.

 

Vaksin hepatitis B secara rutin diwajibkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Kementrian Kesehatan RI.

Siapa Yang Harus Mendapat Vaksinasi Hepatitis B Dan Kapan Diberikan ?

  • Bayi mendapat 3 dosis vaksin hepatitis B sebelum usia 6 bulan,

Dosis pertama : saat lahir sebelum usia 12 jam

Dosis kedua : usia 1 – 2 bulan

Dosis ketiga : usia 6 – 12 bulan

  • Apabila bayi mendapat vaksin kombinasi yang mengandung hepatitis B dapat diberikan 4 dosis. Dosis tambahan ini tidak berbahaya.
  • Bayi yang baru lahir dari ibu dengan hepatitis B (HBsAg positif) harus mendapat vaksin hepatitis B dosis pertama sebelum usia 12 jam ditambah imunoglobulin hepatitis B pada saat yang sama pada paha yang berbeda.
  • Pemberian vaksinasi dan imunoglobulin hepatitis B ini diberikan setelah pemberian suntikan vitamin K1. Vaksinasi selanjutnya diberikan sesuai jadwal. Bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B ini perlu diperiksa HBsAg dan antiHBs usia 9-18 bulan.
  • Anak dan remaja yang belum divaksinasi sebelumnya, harus mendapatkan vaksinasi ini sebanyak 3 dosis.

 

Siapa Yang Tidak Boleh Mendapat Vaksin Hepatitis B ?

  • Setiap orang yang pernah mengalami alergi berat terhadap vaksin. Beritahukan kepada dokter anda
  • Setiap orang yang sedang menderita penyakit infeksi berat, harus menunggu sampai sembuh
  • Dokter anda dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai hal ini

 

Apa Risiko Pemberian Vaksin Hepatitis B ?

Vaksin hepatitis B merupakan vaksin yang sangat aman dan hampir tidak ada efek samping berat. Efek samping berat sangat jarang terjadi, yaitu satu dari 1,1 juta dosis.

 

Beberapa efek samping ringan yang telah dilaporkan :

  • Bengkak pada tempat suntikan (pada sekitar 1 dari 4 orang)
  • Suhu badan 37,8°C atau lebih (pada sekitar 1 dari 15 orang)

 

Sumber

  • Center of Disease Control and Prevention http://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/index.html
  • Ranuh IG.N, Suyitno H, Hadinegoro SR, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, penyunting. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ke 5. Jakarta: Badan Penerbit IDAI;2014
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia

14.07.17.jpg

July 14, 2017 ArtikelKesehatan Anak

Apakah campak itu?

Campak merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus morbili. Penyakit ini sangat menular melalui percikan ludah (batuk dan bersin). Campak dapat mengenai anak dan dewasa.

Gejala Campak

Campak diawali dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata kemerahan, kadang-kadang diare. Kemudian timbul ruam kulit kemerahan yang dimulai dari belakang telinga dan menyebar keseluruh tubuh. Ruam akan menghilang dalam jangka waktu seminggu sedangkan batuk dapat berlangsung lebih lama. Beberapa anak dapat menderita kejang dan dehidrasi (kekurangan cairan). Komplikasi campak dapat mengenai paru dan jaringan otak.

Apakah campak merupakan penyakit yang berat?

Campak dapat berbahaya, terutama pada bayi dan anak yang lebih muda. Anak memerlukan perawatan apabila terjadi komplikasi terutama radang paru (pneumonia) dan radang otak (ensefalitis). Di seluruh dunia, sekitar 150.000-170.000 anak meninggal karena campak tiap tahunnya terutama terjadi pada anak-anak dengan gizi buruk yang tidak mendapatkan vaksinasi campak.

Sementara untuk vaksin campak sendiri terdiri dari dua jenis yaitu vaksin campak tunggal dan kombinasi (MMR: measles, mumps, rubella)

Mengapa anak harus pendapatkan vaksinasi campak dan kapan harus diberikan?

  • Semua anak harus mendapat vaksin campak pada umur 9 bulan dan diulang pada umur 2 tahun dan pada saat masuk sekolah SD.
  • Sedangkan vaksin kombinasi MMR diberikan pada umur >12 bulan dan diulang saat anak masuk sekolah SD.

Apakah vaksin campak aman?

Vaksin campak adalah vaksin hidup sehingga harus diberikan pada anak sehat. Reaksi samping yang mungkin timbul seperti: demam 1-3 hari pada umumnya tidak tinggi, ruam kulit –akan menghilang sendiri tanpa perawatan. Bila terjadi reaksi yang serius, hubungi tempat pemberian vaksinasi atau rumah sakit terdekat.

Informasi terkait vaksin untuk orang tua selengkapnya dapat mengunjungi website klinikanakapap.com atau dapat menghubungi kami melalui telepon (021)29667797/98, Handphone/Whatsapp: 0857 1566 3038

 

Sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia

 


06.07.2017.jpg

Fakta yang Harus Anda Ketahui tentang Kanker Serviks

Kanker serviks merupakan momok yang sangat menakutkan bagi kaum wanita. Banyak yang memahami bahwa kanker ini menyerang wanita usia produktif yang aktif secara seksual dengan adanya faktor risiko virus human papilloma (HPV). Namun sesungguhnya, kanker ini muncul setelah hitungan tahun sejak virus HPV tersebut menyerang. Pengobatan bukan menjadi kunci utama, melainkan pencegahan virus HPV yang saat ini sudah diketahui sangat efektif yaitu vaksinasi.

Fakta apa yang saja yang harus diketahui tentang kanker serviks? Pertama, kanker serviks adalah kanker yang menyerang bagian mulut rahim. Sebelum kanker ini muncul, ada proses awal pada mulut rahim yang disebut lesi pre-kanker. Lesi pre-kanker ini selanjutnya berpotensi untuk menjadi kanker serviks.

Fakta kedua, gejala kanker serviks pada stadium awal umumnya tidak bergejala. Wanita umumnya tidak sengaja menemukan adanya potensi kanker serviks atau lesi pre-kanker setelah melakukan pap smear. Pada stadium ini, sangat baik hasilnya bila mendapatkan pengobatan segera. Namun sayangnya, banyak yang menyadari dan baru memeriksakan diri setelah adanya gejala. Gejala yang umum adalah perdarahan dari vagina (diluar siklus menstruasi), nyeri pinggang, atau nyeri pada saat bersenggama. Bila gejala-gejala tersebut dirasakan, kemungkinan besar kanker ini sudah berada tahap lanjut.

Fakta ketiga, terdapat faktor risiko terjadinya kanker serviks. Faktor risiko terbesar adalah virus human papiloma (HPV) yang umumnya didapat pada wanita yang sudah aktif secara seksual. Beberapa faktor risiko lain yang adalah perokok, baik perokok aktif maupun pasif, infeksi HIV, dan penggunaan jangka lama kontrasepsi oral. Namun perlu diketahui, ada sebagian kecil penderita yang justru tidak memiliki faktor-faktor risiko tersebut.

Fakta ke-empat, sudah ada cara pencegahan kanker serviks. Selain menghindari faktor-faktor risiko yang disebutkan tadi, pencegahan penting lainnya adalah dengan vaksinasi. Di Indonesia sendiri vaksinasi HPV ini sudah tersedia dan bisa didapatkan di berbagai pelayanan kesehatan. Vaksinasi HPV ini dilaporkan dapat memberikan efektivitas hingga 90% dalam menurunkan risiko terjadinya kanker serviks. Perlindungan vaksinasi ini mencapai 4-6 tahun  (bahkan ada laporan yang menyebutkan lebih dari 6 tahun) setelah pemberian dan hanya efektif bila diberikan sebelum infeksi HPV terjadi. Oleh karena itu, pemberian vaksinasi ini dimulai pada usia anak. Rekomendasi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) adalah pemberian vaksinasi HPV mulai umur 10 tahun, sebanyak 2-3 dosis tergantung pada jenis vaksin yang diberikan. Tidak perlu khawatir mengenai efek samping dari vaksinasi HPV. Umumnya reaksi yang muncul adalah ringan, diantaranya nyeri di tempat suntikan, sedangkan reaksi yang jarang namun berat adalah bila didapatkan alergi terhadap salah satu komponen vaksin.**

 

dr. Tartila, Sp.A

Dokter Spesialis Anak – Klinik AP&AP Pediatric, Growth, & Diabetes Center


27.04.17.jpg

April 27, 2017 ArtikelKesehatan Anak

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan, yang terjadi ketika konsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan tubuh. Obesitas meliputi beberapa faktor seperti genetik, psikis, dan lingkungan seperti perilaku/pola/ gaya hidup, misalnya apa yang dimakan, berapa kali sehari dia makan, serta apa saja aktivitasnya.

Obesitas kini menjadi masalah yang perlu diwaspadai, tidak hanya bagi orang dewasa tapi juga bagi anak dan remaja. Sebab, konsekuensi dari peningkatan berat badan akan berdampak pada hal lain seperti intoleransi glukosa, dan hipertensi. Berdasarkan data dari New England Journal of Medicine tahun 2010: obesitas, intoleransi glukosa, dan hipertensi pada anak akan menyebabkan kematian usia dini di masa mendatang (di bawah 55 tahun).

Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus tipe 2 di Indonesia tahun 2011 menyebutkan, intoleransi glukosa adalah penyebab yang mendahului timbulnya penyakit diabetes. Intoleransi glukosa diperkenalkan pertama kali pada tahun 2002 oleh Department of Health and Human Services (DHHS), dan The American Diabetes Association (ADA). Setiap tahun, 4-9 persen orang dengan intoleransi glukosa akan menjadi diabetes. Pengidap intoleransi glukosa juga mempunyai risiko timbulnya gangguan kardiovaskular sebesar satu setengah kali lebih tinggi dibanding orang normal.

Data dari Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas tahun 2010) menunjukkan, sebanyak 19, 6 persen anak di DKI jakarta masuk dalam kategori gemuk (obesitas/kelebihan berat badan). Menurut Dr. Aman B. Pulungan, SpA(K), Ketua 2 Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), angka obesitas pada anak di Indonesia sudah sampai pada angka yang mengerikan.

“Dari riset yang kami lakukan pada 182 anak dengan obesitas usia 12-15 tahun menunjukkan 3,8 persen mengalami intoleransi glukosa, sedangkan 93,9 persen menujukkan acanthois nigricans, suatu pertanda resistensi insulin yang terlihat pada kulit yang berupa kehitaman di bagian tengkuk, ketikak, dan tangan,” ujar Dr. Aman dalam Media Fasting Break ‘Preventing Obesity in Children’ yang digelar Zespri di Jakarta, pertengahan Juli 2013. Sebagai wujud kepedulian, Zespri juga menggelar kampanye ‘Feel The Difference’, kampanye edukatif untuk konsumsi buah dan sayur.

Ia menambahkan, pada riset lain yang dilakukan pada tahun 2012 terhadap 92 anak obesitas usia 12-15 tahun, sebanyak 8,7 persen mengalami intoleransi glukosa, dan 71,7 persen menunjukkan acanthosis nigricans. Hasil riset tersebut menyimpulkan bahwa anak yang obesitas memiliki kecenderungan mengalami resisteni insulin yang mengarah pada diabetes. Dari data registry IDAI juga ditemukan kejadian diabetes tipe 2 pada anak cenderung naik di bulan Juni-Juli dan Desember-Januari, yang merupakan masa liburan panjang bagi anak sekolah.

Untuk itu, orang tua disarankan menjaga asupan nutrisi anak, terutama di masa-masa liburan sekolah. Sebab, obesitas seringkali disebabkan oleh asupan makanan anak yang tidak terkontrol, terutama makanan cepat saji dan tinggi lemak.

Berikut tip dari Dr. Aman yang bisa dilakukan untuk mencegah obesitas pada anak:
1. Konsumsi buah (salah satunya Kiwi) 2 porsi sehari, dan sayur 5 porsi sehari.
2. Jangan duduk lebih dari 2 jam.
3. Lakukan aktivitas fisik minimal satu jam setiap hari.
4. Melakukan olahraga selama 20 menit sebanyak 3 kali seminggu.
5. Batasi konsumsi gula, dan lebih banyak minum air mineral.

Penulis : Tenni Purwanti


anak-kegemukan.jpg

October 15, 2016 Artikel

Anak tergolong kegemukan atau overweight? Hati-hati, Ma, banyak ancaman kesehatan yang menghantui anak kegemukan

“Di Indonesia, obesitas sudah digolongkan sebagai penyakit. Karena itu, hal ini tidak boleh dibiarkan, melainkan harus diatasi,” kata dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K) dari AP&AP Pediatric, Growth and Diabetes Center.


pantau-pertumbuhan-anak.jpg

September 20, 2016 Artikel

2 tahun pertama pertumbuhan Si Kecil, atau kerap disebut golden age, merupakan masa di mana pertumbuhan anak sangat pesat, sehingga perhatian orangtua pada periode itu sangatlah dibutuhkan. Namun bukan berarti setelah masa 2 tahun terlewati lalu perhatian Anda pada anak jadi berkurang ya, Mamas. Karena pertumbuhan anak tak berhenti sampai disitu saja. Setidaknya Anda harus tetap memantau masa pertumbuhan anak hingga usia pubertas.


membujuk-anak-makan.jpg

September 19, 2016 Artikel

Ada anak yang memiliki nafsu makan tinggi dan ada pula yang tidak. Sikap anak yang terakhir ini paling sering membuat ibu pusing. Sebab, anak-anak membutuhkan nutrisi untuk menunjang tumbuh kembangnya. Bila tidak makanan, lantas dari mana kebutuhan gizinya terpenuhi?


anak-anda-pendek.jpg

September 16, 2016 Artikel

Beberapa masalah kesehatan terkait pertumbuhan anak dapat di diagnosis sejak lahir. Namun dalam beberapa kasus, diagnosis baru bisa didapat setelah orangtua, dokter spesialis anak, atau guru mengamati bahwa seorang anak mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dari teman sebayanya.


olahraga-bisa-bikin-tubuh-tinggi.jpg

September 15, 2016 Artikel

Banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan berolahraga. Salah satunya yang sudah diketahui adalah mendapatkan tubuh yang bugar. Namun, ada juga mitos yang berkembang bahwa olahraga tertentu seperti basket dan renang juga bisa menambah tinggi badan seseorang.


imunisasi.jpg

May 4, 2015 Artikel

Imunisasi masih bersifat pro kontra di Indonesia. Sebagian masyarakat memberikannya pada anak mereka, sebagian lagi tidak. Tak hanya di Indonesia, di dunia pun pemberian imunisasi masih belum disepakati semua pihak.

Padahal imunisasi penting diberikan pada anak untuk mencegah penyakit, menurunkan angka morbiditas, dan mortalitas pada anak. Lalu imunisasi apa saja yang harus diberikan kepada anak?


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2021.