Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/klinikanakapap/public_html/assets/plugins/social-networks-auto-poster-facebook-twitter-g/inc/nxs_functions_engine.php on line 266
Artikel – Page 4 – Klinik Anak AP&AP Jakarta
13.09.2018.jpg

September 13, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Penyakit  CAMPAK dan RUBELLA sangat menular Imunisasi MR melindungi kita dari penularan penyakit CAMPAK dan RUBELLA

1. Apakah penyakit Campak dan Rubella

Campak dan Rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran nafas yang disebabkan oleh virus. Anak dan orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi Campak dan Rubella atau yang belum pernah mengalami penyakit ini beresiko tinggi tertular.

2. Apa bahaya dari penyakit ini ?

Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti diare, radang paru pneumonia, radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk dan bahkan kematian. Rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak, akan tetapi bila menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan.

3. Seperti apa gejala penyakit Campak dan Rubella ?

Gejala penyakit Campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit disertai dengan batuk, pilek dan mata merah (konjungtivitis). Gejala penyakit Rubella tidak spesifik bahkan bisa tanpa gejala. Gejala umum berupa demam ringan, pusing, pilek, mata merah, dan nyeri di persendian. Mirip gejala flu.

4. Bagaimana agar terlindung dari penyakit Campak dan Rubella ?

Tidak ada pengobatan untuk penyakit Campak dan Rubella namun penyakit ini dapat dicegah. Imunisasi dengan vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk penyakit Campak dan Rubella. Satu vaksin mencegah dua penyakit sekaligus.

5. Apakah vaksin MR ?

Vaksin MR adalah kombinasi vaksin Campak atau Measles (M) dan Rubella (R) untuk perlindungan terhadap penyakit Campak dan Rubella.

6. Apakah vaksin MR aman ?

Vaksin yang digunakan telah mendapat rekomendasi dari WHO dan izin edar dari Badan POM. Vaksin MR efektif untuk mencegah penyakit Campak dan Rubella. Vaksin ini aman dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia.

7. Siapa saja yang harus mendapatkan Imunisasi MR ?

Imunisasi MR diberikan untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama kampanye Imunisasi MR. Selanjutnya, imunisasi MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat menggantikan imunisasi Campak.

8. Apakah imunisasi MR memiliki efek samping ?

Tidak ada efek samping dalam imunisasi. Demam ringan, ruam merah, bengkak ringan dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi adalah reaksi normal yang akan menghilang dalam 2-3 hari. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi yang serius sangat jarang terjadi.

9. Apabila anak telah diimunisasi Campak, apakah perlu mendapat imunisasi MR ?

Ya, untuk mendapat kekebalan terhadap Rubella. Imunisasi MR aman bagi anak yang telah mendapat 2 dosis imunisasi Campak.

10. Apakah perbedaan vaksin MR dan MMR ?

Vaksin MR mencegah penyakit Campak dan Rubella.

Vaksin MMR mencegah penyakit Campak, Rubella, dan Gondongan.

11. Mengapa yang diberikan adalah vaksin MR bukan MMR ?

Saat ini pemerintah memprioritaskan pengendalian Campak dan Rubella karena bahaya komplikasinya yang berat dan mematikan.

12. Apabila anak telah mendapat imunisasi MMR, apakah masih perlu mendapat imunisasi MR ?

Ya, untuk memastikan kekebalan penuh terhadap penyakit Campak dan Rubella. Imunisasi MR aman diberikan kepada anak yang sudah mendapat vaksin MMR.

13. Apakah benar vaksin MR dapat menyebabkan autisme ?

Tidak benar. Sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung bahwa imunisasi jenis apapun dapat menyebabkan autisme.

14. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 tahun 2016.

Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya penyakit tertentu. Dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.

 

 

 

 

Sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia


19.07.18.jpg

July 19, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Campak atau yang biasa disebut dengan Morbili atau Rubeola merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Seperti hal nya sifat virus pada umumnya, campak sangat mudah menular dan dapat ditularkan melalui batuk dan bersin. Gejala awal dari campak adalah demam tinggi, batuk dan/atau pilek, serta mata merah (konjungtivitis).  Setelah beberapa hari, akan mulai muncul bercak merah yang biasanya muncul pertama kali di sekitar wajah dan leher lalu menyebar ke seluruh tubuh. Selain tu, dapat muncul pula bercak putih di dalam mulut yang disebut bercak Koplik. Komplikasi yang dpat terjadi akibat campak, antara lain pneumonia, diare, meningitis, kebutaan, dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Awitan penyakit campak dapat terjadi hingga 10-12 hari. Penyakit ini sangat berpotensi menjadi wabah apabila cakupan imunisasi rendah dan kekebalan kelompok/herd immunity tidak terbentuk. Ketika seseorang terkena campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum kebal terhadap campak. Seseorang dapat kebal jika telah diimunisasi atau terinfeksi virus campak.

 

Pada tahun 2000, lebih dari 562.000 anak per tahun meninggal di seluruh dunia karena komplikasi penyakit campak. Dengan pemberian imunisasi campak dan berbagai upaya yang telah dilakukan, maka pada tahun 2014 kematian akibat campak menurun menjadi 115.000 per tahun, dengan perkiraan 314 anak per hari atau 13 kematian setiap jamnya.

 

Sama seperti campak, Rubella juga merupakan penyakit akibat infeksi virus. Rubella biasa disebut dengan campak Jerman. Berbeda dengan campak yang dapat menginfeksi dalam jangka waktu panjang dan menimbulkan komplikasi, Rubella cenderung lebih ringan dan bersifat akut. Biasanya awitan Rubella kurang lebih sekitar 3 hari, oleh karena itu sering juga disebut dengan campak tiga hari. Rubella sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Akan tetapi yang menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah efek teratogenik apabila rubella ini menyerang pada wanita hamil pada trimester pertama. Infeksi rubella yang terjadi sebelum konsepsi dan selama awal kehamilan dapat menyebabkan abortus, kematian janin atau sindrom rubella kongenital (Congenital Rubella Syndrome/CRS) pada bayi yang dilahirkan. Sebelum dilakukan imunisasi rubella, insidens CRS bervariasi antara 0,1-0,2/1000 kelahiran hidup pada periode endemik dan antara 0,8-4/1000 kelahiran hidup selama periode epidemi rubella. Angka kejadian CRS pada negara yang belum mengintroduksi vaksin rubella diperkirakan cukup tinggi. Pada tahun 1996 diperkirakan sekitar 22.000 anak lahir dengan CRS di regio Afrika, sekitar 46.000 di regio Asia Tenggara dan 12.634 di regio Pasifik Barat. Insiden CRS pada regio yang telah mengintroduksi vaksin rubella selama tahun 1996-2008 telah menurun. Di Indonesia, rubella merupakah salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan upaya pencegahan efektif. Data surveilans selama lima tahun terakhir menunjukan 70% kasus rubella terjadi pada kelompok usia <15 tahun. Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella/Congenital Rubella Syndrome (CRS) pada tahun 2020. Strategi yang dilakukan untuk mencapai target tersebut adalah:

  1. Penguatan imunisasi rutin untuk mencapai cakupan imunisasi campak ≥95% merata di semua tingkatan
  2. Pelaksanaan Crash program Campak pada anak usia 9 – 59 bulan di 185 kabupaten/kota pada bulan Agustus – September 2016
  3. Pelaksanaan kampanye vaksin MR pada anak usia 9 bulan hingga 15 tahun secara bertahap dalam 2 fase sebagai berikut :
  • Fase 1 à bulan Agustus-September 2017 di seluruh Pulau Jawa
  • Fase 2 à bulan Agustus-September 2018 di seluruh Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua
  1. Introduksi vaksin MR ke dalam program imunisasi rutin pada bulan Oktober 2017 dan 2018
  2. Surveilans Campak Rubella berbasis kasus individu/ Case Based Measles Surveillance (CBMS)
  3. Surveilance sentinel CRS di 13 RS
  4. KLB campak diinvestigasi secara penuh (fully investigated)

 

Berdasarkan data surveilans dan cakupan imunisasi, maka imunisasi campak rutin saja belum cukup untuk mencapai target eliminasi campak. Sedangkan untuk akselerasi pengendalian rubella/CRS maka perlu dilakukan kampanye imunisasi tambahan sebelum introduksi vaksin MR ke dalam KAMPANYE IMUNISASI MEASLES RUBELLA MR 5 imunisasi rutin. Untuk itu diperlukan kampanye pemberian imunisasi MR pada anak usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun dengan cakupan tinggi (minimal 95%) dan merata diharapkan akan membentuk imunitas kelompok (herd immunity), sehingga dapat mengurangi transmisi virus ke usia yang lebih dewasa dan melindungi kelompok tersebut ketika memasuk usia reproduksi.

 

 

 

Sumber : Kementrian Kesehatan & Ikatan Dokter Anak Indonesia



February 9, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Bayi yang baru lahir sudah diberkahi antibodi yang berasal dari sang ibu yang didapat saat masih di dalam kandungan, tapi sayangnya antibodi ini hanya bertahan dalam waktu singkat yakni beberapa minggu atau bulan saja. Setelah itu, bayi akan menjadi mudah terserang berbagai penyakit dan mulai memproduksi antibodi sendiri.

Untuk mencegah kemungkinan si bayi terserang  berbagai penyakit, maka orang tua wajib memberikan imunisasi. Program imunisasi merupakan langkah untuk mencegah penyakit menular dengan cara memberikan vaksin pada seseorang sehingga tubuhnya resisten terhadap penyakit tertentu.

Imunisasi adalah pemberian vaksin (antigen) yang merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh. Manfaat imunisasi bagi anak adalah sebagai upaya untuk menghindari terjadinya sakit atau kejadian yang mengakibatkan seseorang sakit atau menderita cedera dan cacat. Adapun manfaat lainnya yang dirasakan seorang anak adalah sebagai kekebalan atau imunitas tubuh terhadap ancaman penyakit dan pertahanan tubuh yang terbentuk oleh beberapa vaksin akan dibawa seumur hidupnya.

Secara tidak langsung, manfaat imunisasi juga bisa menekan pengeluaran atau menghemat biaya kesehatan. Pemberian imunisasi dimulai sejak usia bayi.

             Lewat imunisasi bayi akan diberikan vaksin yang diisi dengan jenis bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dinonaktifkan untuk membentuk antibodi dan merangsang  sistem imun di dalam tubuh si anak. Cara untuk memberikan vaksin dalam imunisasi bervariasi, mulai dari disuntikkan, ditetesi ke dalam mulut. Ada vaksin yang hanya diberikan satu kali seumur hidup dan ada pula yang yang diberikan secara rutin agar kekebalan tubuh si anak terbentuk dengan baik dan siap menghadapi berbagai serangan penyakit. Reaksi yang serius sangat jarang terjadi, jauh lebih jarang dari pada komplikasi yang timbul apabila terserang penyakit tersebut secara alami. Reaksi yang ditimbulkan setelah imunisasi biasanya masih termasuk ringan seperti demam, pusing, hilang nafsu makan, mual, nyeri atau berbekas kemerahan dibagian yang disuntik.

Bagi para orang tua ada baiknya mempertimbangkan kembali manfaat imunisasi yang efeknya lebih berjangka panjang dari pada hanya melihat efek sampingnya.

Terdapat beberapa jenis vaksin yang wajib diberikan untuk anak Anda sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia yaitu Hepatitis B, Polio, BCG, DTP, Hib, PCV, Rotavirus, Influenza, Campak, MMR, Tifoid, Hepatitis A, Varisela, HPV dan Japanese Enchepalitis.


 


23.11.17-1200x1200.jpg

November 23, 2017 ArtikelKesehatan Anak

Bagi anak dengan Diabetes Mellitus yang menggunakan insulin eksternal, seluruh kecanggihan teknologi RT-CGM yang sudah kita bahas sebelumnya akan memberi manfaat maksimal apabila dipadukan dengan insulin pump. Dua teknologi yang saling mendukung satu sama lain ini memiliki cara kerja menyerupai fungsi fisiologis pankreas pada tubuh manusia, sehingga pasien dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

Cara kerjanya tetap sama, sensor yang disisipkan pada jaringan lemak di bawah kulit mendeteksi konsentrasi glukosa pada tubuh setiap 5 menit, lalu mengirimkan data glukosa tersebut melalui transmitter menggunakan gelombang frekuensi radio atau Bluetooth ke insulin pump. Pasien dapat melihat data glukosa ini pada layar display monitor insulin pump setiap saat dibutuhkan, bahkan mendapat alarm peringatan ketika terdeteksi glukosa tubuh mencapai batas level maksimum dan minimum yang sudah ditentukan sebelumnya. Disinilah peranan terpenting RT-CGM pada manajemen diabetes seorang anak dengan Diabetes Mellitus.

Pada umumnya anak dengan Diabetes Mellitus tidak menyadari ketika gula darahnya menurun dan baru merasakan gejala-gejala hipoglikemi ketika level gula darahnya sudah melewati batas aman terendah. Dengan RT-CGM anak tersebut dapat mengatur batas terendah dan tertinggi level glukosa yang diinginkan sehingga dapat bereaksi lebih cepat dan terhindar dari resiko hipoglikemi.

Teknologi terbaru dari Insulin Pump dengan RT-CGM telah dirilis di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 2017 ini oleh Medtronic dan diberi nama Hybrid Closed Loop. Insulin pump dan RT-CGM pada insulin pump ini bekerja secara berkesinambungan menjaga level glukosa pemakainya pada batas yang ditentukan. Ketika sensor CGM mendeteksi peningkatan glukosa, pump akan secara otomatis mengeluarkan dosis insulin basal lebih banyak untuk mengoreksinya. Demikian pula sebaliknya, ketika sensor mendeteksi penurunan glukosa, pump akan secara otomatis mengurangi atau bahkan menghentikan dosis pemberian insulinnya agar level glukosa si pengguna pump tidak turun lebih jauh lagi dan tetap berada pada level yang aman. Namun hal ini tidak berlaku untuk pemberian dosis insulin prandial/makan. Pengguna masih harus meng-input estimasi jumlah karbohidrat yang akan dikonsumsi dan memberikan dosis insulin bolus secara manual. Karena itulah teknologi ini disebut hybrid, yang artinya campuran, karena cara kerjanya masih memerlukan input manual dari penggunanya. Tapi teknologi ini sudah satu langkah lebih dekat pada teknologi artificial pancreas yang kita impikan. (KN)


16.11.17-1200x1200.jpg

November 16, 2017 ArtikelKesehatan Anak

RT-CGM Teknologi Manajemen Diabetes Terkini Untuk Anak Diabetes

Real-Time Continuous Glucose Monitoring (RT-CGM) adalah salah satu teknologi manajemen diabetes terkini. Seperti layaknya Professional CGM, RT-CGM menggunakan sebuah sensor glukosa yang ditanam pada jaringan bawah kulit. Perbedaan terletak pada proses pengiriman hasil pemeriksaan glukosa pasien. Pada Professional CGM, hasil dikirimkan pada suatu alat perekam, sementara pada RT-CGM sensor terhubung dengan alat transmitter yang akan mengirimkan hasil pemeriksaan glukosa setiap 5 menit kepada alat display monitor (melalui jaringan bluetooth ataupun gelombang radio frekuensi).

RT-CGM memungkinkan pasien untuk mengetahui kondisi glukosa tubuhnya secara langsung (real time) sehingga pasien dapat menentukan langkah yang harus diambil dengan cepat dan terhindar dari risiko hipoglikemia maupun hiperglikemia.

Alat display monitor pada RT-CGM berukuran kecil dan saat ini telah terintegrasi dengan insulin pump maupun aplikasi pada smartphone. Beberapa RT-CGM juga memiliki fitur dimana pasien dapat mengatur batas maksimum dan minimum glukosa yang diinginkan, lalu memberikan tanda peringatan apabila glukosa darah mencapai batas-batas tersebut. Hal ini memungkinkan pasien untuk menjaga kadar glukosa darahnya pada batas yang diinginkan sehingga intervensi atau koreksi dapat dilakukan sedini mungkin, bahkan sebelum pasien merasakan gejala apa pun.

Pasien yang menggunakan RT-CGM tetap perlu melakukan pengecekan gula darah sewaktu (GDS) setidaknya 2 kali sehari (setiap 12 jam) dalam rentang waktu 24 jam. Hal ini dibutuhkan untuk kalibrasi alat, yakni untuk menjaga akurasi pengukuran agar tetap maksimal.

Selain RT-CGM, ada pula metode pengecekan glukosa tubuh serupa yang dinamakan Intermittently Scanned CGM (IS-CGM) atau Flash-CGM. Alat ini tidak memberikan input kadar glukosa terus menerus, melainkan hanya on-demand ketika pasien mendekatkan alat display monitor yang sekaligus alat scanner pada sensor. Di luar negeri alat ini cukup populer karena tidak memerlukan pengecekan Gula Darah Sewaktu (GDS) untuk kalibrasi. Namun karena alasan yang sama pula banyak pihak meragukan akurasinya, terutama pada saat kadar gula yang sangat rendah atau sangat tinggi.


Publication1-1200x1193.jpg

November 3, 2017 ArtikelKesehatan Anak

CGM: Continuous Glucose Monitoring

Teknologi Tinggi Pemantau Gula Darah Pada Anak Dengan Diabetes (Part 1)

 

Dalam rangka hari Diabetes Sedunia yang jatuh pada tanggal 14 November 2017, Klinik AP&AP Pediatric, Growth, and Diabetes Center memberikan edukasi seputar penanganan diabetes terutama pada anak melalui pemberian edukasi pada masyarakat sehingga kesadaran masyarakat akan resiko penyakit diabetes pada anak akan meningkat.

Kunci kesuksesan terapi diabetes terletak pada baik atau tidaknya kontrol glukosa seorang penderita Diabetes Mellitus (DM). Kontrol glukosa yang baik dapat menghindarkan mereka dari penyakit-penyakit komplikasi. Metode Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) menjadi standar utama yang wajib dilakukan penyandang DM.

Continuous Glucose Monitoring (CGM) adalah sebuah terobosan teknologi yang revolusioner dalam pemantauan gukosa yang telah memberikan harapan baru bagi para penyandang diabetes. CGM menjadi dasar pengembangan teknologi lainnya yang mengarah pada tercapainya penemuan teknologi artificial pancreas, dimana para penyandang diabetes dapat menikmati hidup layaknya orang dengan fungsi pankreas yang sehat.

Teknologi CGM menggunakan sebuah sensor yang ditanam pada jaringan lemak bawah kulit pasien dan dihubungkan dengan sebuah alat portabel kecil yang berfungsi sebagai penerima sinyal. Alat ini digunakan untuk merekam data pengukuran glukosa pasien secara otomatis. Data pengukuran yang telah terekam dapat diunduh dan dijadikan laporan berupa grafik-grafik yang menunjukkan siklus glukosa harian pasien secara detail saat pasien mengonsumsi makanan tertentu maupun melakukan kegiatan tertentu. Laporan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi dokter untuk menyesuaikan terapi dan membantu meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi (dengan lebih menjaga pola makan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang dapat mempengaruhi kadar gula darah).

Saat ini telah ada teknologi Real-Time Continuous Glucose Monitoring (RT-CGM) – suatu alat portabel yang dapat memantau pergerakan glukosa secara real-time dengan menggunakan gelombang frekuensi radio. Teknologi RT-CGM yang dikombinasikan dengan terapi insulin pump (pompa insulin) adalah standar baru dalam manajemen DM pada pasien yang menggunakan insulin eksternal. Data glukosa real-time memungkinkan pasien untuk dapat melakukan langkah korektif langsung pada pompa insulin sehingga terhindar dari risiko hiperglikemia maupun hipoglikemia. Teknologi terbaru pompa insulin telah memiliki fitur koreksi basal otomatis dimana pompa secara otomatis akan memberi dosis koreksi insulin ketika sensor CGM mendeteksi adanya peningkatan kadar glukosa maupun mengurangi atau bahkan menghentikan laju insulin basal ketika sensor CGM mendeteksi adanya penurunan kadar glukosa. Inilah masa depan dari teknologi manajemen Diabetes Melitus (DM).


hpv-campaign-oktober.jpg

September 28, 2017 ArtikelKesehatan Anak

Vaksinasi HPV bisa untuk mencegah Kanker Mulut Rahim / Serviks. Vaksin diberikan dengan 3 (tiga) kali suntikan, pada wanita yang sudah menikah ataupun yang belum aktif seksual. Ikatan Dokter Indonesia merekomendasikan vaksinasi HPV sejak anak berusia 10 tahun. Lakukan vaksinasi HPV sedini mungkin untuk melindungi buah hati Anda dari bahaya penyakit Kanker Serviks.

Informasi terkait vaksin untuk orang tua selengkapnya dapat mengunjungi website klinikanakapap.com atau dapat menghubungi kami melalui telepon (021)29667797/98 Hp/Whatsapp: 0857 1566 3038


IMG-20170907-WA0000-1200x1200.jpg

September 7, 2017 ArtikelPertumbuhan

Pentingnya Peranan Dokter UKS dalam Pemantauan Pertumbuhan Anak

Saat memasuki jenjang sekolah dasar, orang tua, guru ataupun dokter perlu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan usia mereka. Ada berbagai penyebab kegagalan pertumbuhan pada anak, beberapa diantaranya bisa jadi kondisi medis yg serius.
Menyikapi hal tsbt Klinik Anak AP & AP turut mengundang “tenaga kesehatan sekolah” untuk mendapatkan pelatihan tentang bagaimana memantau pertumbuhan anak2, seminar tsbt merupakan rangkain kegiatan untuk mendukung Growth Awareness Week 2017
Seminar mini bertemakan “Pentingnya Peranan Dokter UKS dalam Pemantauan Pertumbuhan Anak” akan diadakan pd 14 September 2017 pukul 12.00-14.00 WIB di Klinik Anak AP&AP
Untuk info lebih lanjut dpt menghubung : 087885191228/081382202326(Fania) atau dapat pula mengunjungi website klinikanakapap.com
#GrowthAwarenessWeek2017 #growthawarenessday #childrengrowthawareness #morethanheight #endokrinologi #klinikendokrinanak #klinikanak #pediatricclinic

24.08.17.jpg

August 24, 2017 ArtikelKesehatan Anak

VAKSIN CACAR AIR

 

Apakah Cacar Air Itu ?

Cacar air (juga disebut varisela) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster . Penyakit ini biasanya ringan, namun dapat menjadi berat pada bayi dan orang dewasa.

 

Apa Gejala Cacar Air ?

  • Cacar air diawali demam yang tidak tinggi, diikuti keluar lepuh (bintil) di kulit yang gatal terutama di punggung dan dada, menjalar ke muka dan anggota badan.
  • Pada infeksi yang berat dapat menyebabkan radang paru (pneumonia).
  • Virus cacar air dapat menular dari orang ke orang lain melalui udara atau dari cairan yang berasal dari lepuh cacar air.
  • Orang yang sudah pernah menderita cacar air setelah beberapa tahun dapat mengalami ruam kembali yang nyeri, yang disebut cacar ular (herpes zozter) apabila sistem kekebalan tubuhnya menurun.

Vaksin cacar air dapat mencegah infeksi dan penularan cacar air.

Siapa Yang Harus Mendapatkan Vaksin Cacar Air Dan Kapan Vaksinasi Tersebut Harus Diberikan ?

  • Anak-anak yang belum pernah menderita cacar air harus diberikan vaksin cacar air pada umur 12-15 bulan.
  • Anak yang berusia 13 tahun ke atas (yang belum pernah menderita cacar air atau belum pernah mendapat vaksin cacar air) harus diberikan dua dosis dengan interval sekurang-kurangnya 28 hari.
  • Vaksinasi cacar air dapat diberikan pada setiap orang yang belum mendapat vaksinasi atau belum pernah menderita cacar air. Vaksinasi diberikan dua dosis.
  • Vaksinasi cacar air dapat diberikan bersamaan dengan vaksin-vaksin lainnya.

 

Siapa Yang Tidak Dapat Divaksinasi Atau Vaksinasi Harus Ditunda ?

  • Menderita sakit berat pada saat jadwal vaksinasi, maka harus menunggu sembuh.
  • Wanita hamil dan tidak boleh hamil dalam waktu 1 bulan setelah mendapat vaksin cacar air.
  • Keadaan yang menurunkan kekebalan tubuh.
  • Menderita HIV/AIDS atau penyakit lain yang mempengaruhi sistem imun.
  • Sedang mendapat terapi dengan obat yang mempengaruhi sistem imun.
  • Menderita Kanker dan sedang menjalani pengobatan
  • Baru menerima transfusi darah atau produk darah lainnya, vaksinasi perlu ditunda 2 minggu.

Mintalah informasi lebih lanjut pada dokter Anda.

 

Apa reaksi samping vaksin cacar air ?

Mendapat vaksin cacar air jauh lebih aman dibandingkan dengan terjangkit penyakit cacar air. Kebanyakan orang yang mendapat vaksin cacar air tidak mengalami efek samping. Reaksi yang dapat timbul adalah,

  • Bengkak dan nyeri didaerah suntikan (pada sekitar 1 dari 5 anak dan pada sekitar 1 dari 3 dewasa)
  • Demam (pada 1 dari 10 orang)
  • Ruam ringan
  • Kejang yang disebabkan oleh demam
  • Alergi dapat berupa gatal, bengkak, atau sulit bernapas

 

Bila terjadi reaksi atau efek samping, orang tua disarankan untuk segara menghubungi tempat pemberian vaksin atau Rumah Sakit terdekat.

Informasi terkait vaksin untuk orang tua selengkapnya dapat mengunjungi website klinikanakapap.com atau dapat menghubungi kami melalui telepon (021)29667797/98 Hp/Whatsapp: 0857 1566 3038.

 

 

 

Sumber :

  • Center of Disease Control and Prevention http://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/index.html
  • Ranuh IG.N, Suyitno H, Hadinegoro SR, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, penyunting. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ke-5. Jakarta: Badan Penerbit IDAI: 2014

18.08.17-1.jpg

August 18, 2017 ArtikelKesehatan Anak

FAKTA TENTANG VAKSIN MR YANG WAJIB DIKETAHUI

 

  1. Vaksin MMR mencegah penyakit penyakit mumps (gondongan), measles (campak) dan rubella, sedangkan Vaksin MR untuk mencegah penyakit measles (campak) dan rubella. Kedua vaksin sama baiknya namun penggunaannya akan menyesuaikan dengan insiden penyakit di negara tersebut. Saat ini yang menjadi masalah di Indonesia adalah campak dan rubella, sehingga diputuskan untuk melaksanakan kampanye imunisasi MR.

 

  1. Vaksin MR yang digunakan sangat aman dan berkualitas, karena sudah mempunyai ijin edar dari BPOM, mendapatkan pra qualifikasi dari badan kesehatan dunia (WHO) dan digunakan sejak tahun 1989 di lebih dari 140 negara, termasuk negara Islam, dan lebih dari 1 miliar dosis.

 

  1. Secara umum vaksin MR sangat aman, seperti pemberian imunisasi lainnya, dapat timbul nyeri ringan pada lokasi tempat suntikan 24 jam setelah vaksinasi. Demam ringan dapat terjadi pada 5-15% penerima vaksin yang timbul pada hari ke 7 sampai hari ke 12 setelah vaksinasi. Demam ringan dapat terjadi selama 1 sampai 2 hari. Ruam (kemerahan pada kulit) dapat terjadi sekitar 2% timbul pada hari ke 7 sampai ke 10 setelah vaksinasi dan berlangsung selama 2 hari. Nyeri sendi dapat terjadi sebanyak 0-3% pada anak-anak.

 

  1. Pemberian vaksin MR agar ditunda apabila anak menderita demam tinggi, flu berat, diare berat atau bila anak tidak sehat dapat berkonsultasi ke petugas kesehatan.

 

  1. Sampai saat ini tidak ada bukti yang menunjukan bahwa imunisasi jenis apapun dapat menyebabkan Autisme.

 

  1. Vaksin MR dalam kampanye imunisasi Nasional ini diberikan pada bayi usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun

 

  1. Vaksin MR program Pemerintah yang dimulai pada Agustus 2017 aman diberikan lagi tanpa memperhitungkan status imunisasi sebelumnya.

 

  1. Vaksin MR diberikan pada bayi usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun, dan tidak boleh diberikan pada wanita hamil.

 

  1. Vaksin MR dapat diberikan secara bersamaan dengan vaksin lainnya seperti vaksin DTP, HEP B, HIB, TT, Td, DT, OPV, dan IPV.

 

  1. Jarak minimal pemberian vaksin MR dengan pemberian vaksin lain adalah 1 bulan.

 

Sumber : www.infoimunisasi.com


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2021.