WhatsApp-Image-2018-12-03-at-19.17.21.jpeg

October 29, 2018 Kesehatan Anak

 


25.10.2018.jpg

October 25, 2018 Kesehatan Anak

2. Pubertas Tarda

Pubertas Terlambat atau pubertas tarda yaitu tidak muncul sama sekali karakteristik seksual sekunder sebelum usia 13 tahun, menars tidak ada setelah mencapai usia 18 tahun. Penyebabnya karena ada gangguan di daerah hipotalamus, atau adanya penyakit sistemik, kurang gizi, atau gangguan fungsi endokrin yang lain.

Pada anak laki-laki, pubertas terlambat lebih sering terjadi dan didefinisikan sebagai

  • tidak adanya pembesaran testis pada usia 14 tahun
  • waktu lebih dari 5 tahun antara mulai perkembangan genital hingga sempurna

Pada anak perempuan, pubertas terlambat adalah

  • tidak adanya pertumbuhan payudara pada usia 13 tahun
  • waktu lebih dari 5 tahun antara mulai pertumbuhan payudara hingga menstruasi
  • anak belum menstruasi pada usia 16 tahun

Penyebab keterlambatan pubertas dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan status gonadotropin:

1. Keadaan hipergonadotropin ( kegagalan gonad primer )

Kromosomal, kelainan genetik dan sindrom: defek sintesis enzim androgen, sindrom insensitivitas androgen partial dan komplet, sindrom 46.XX, 47.XYY, galaktosemia. Sindrom Klinefelter (47.XXY), campuran 45. X/46, disgenesis XY, sindrom multipel X-Y, sindrom multipel Y, distropia miotonik, sindrom Noonan, disgenesis gonadal 46 XY murni, defisiensi a reduktase, sindrom ovari resisten, sindrom Turner.

Akuisita: autoimun, kemoterapi, infeksi (coxsackie, mumps), pembedahan, torsi, traumatik.

2. Keadaan hipogonadotropin (hipothalamus-hipofise).

  • Defisiensi gonadotropin kongenital

Defisiensi gonadotropin kongenital berhubungan dengan kelainan-kelainan dari serebral, hipotalamus atau terganggunya fungsi hipofise atau kelainan yang terisolasi. Kelainan kongenital dari formasi hipotalamus-hipofise berupa kelainan-kelainan midline. Terganggunya fungsi hipotalamus secara congenital berhubungan dengan disfungsi neuroendokrin, diantaranya sindrom Prader-Willi dan sindrom Laurence-Moon-Biedl. Defisiensi gonadotropin juga berhubugan dengan anosmia pada sindrom Kallmann.

  • Defisiensi hormon tropik yang multiple
  • Anak-anak dengan defisiensi hormon tropik yang multiple biasanya terjadi keterlambatan pertumbuhan disertai hormon infantil. Hal ini dikarenakan defisiensi hormon pertumbuhan (growth hormon/ GH) atau thyroid stimulating hormon (TSH) atau keduanya. Keadaan ini akan mempengaruhi keterlambatan pubertas. Hipopituitarisme biasanya disebabkan oleh defek hipotalamus yang idiopatik, termasuk tumor atau lesi struktur pada midline.
  • Defesiensi hormon pertumbuhan (GH) yang isolated

Penderita dengan defisiensi GH-isolated akan diikuti dengan pubertas terlambat, disamping itu terjadi gangguan sekresi dari tirotropin, adrenocorticotropic hormon (ACTH) dan gonadotropin. Kebanyakan pasien mengalami penyakit idiopatik dan kelihatan sebagai remaja dengan gagal pertumbuhan. Defisiensi GH-isolated yang idiopatik kebanyakan dari tipe hipopituarisme selama remaja dan kejadiannya 1:4000 kelahiran. Beberapa penderita dengan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan karena adanya gangguan sekresi GH

  • Defisiensi gonadotropin isolated

Defisiensi gonadotropin tanpa disertai gangguan hormon lain pada hipofise anterior kebanyakan merupakan kelainan genetik. Seperti defek pada bulbus olfaktorius (sindrom Kallmann). Defisiensi dari gonadotropin bervariasi dalam bentuk klasik, rendahnya kadar FSH dan LH dan tidak adanya tanda maturasi hormon.

  • Beberapa sindrom yang berhubungan dengan hypogonadotropin hypogonadism

Sindrom Prader Willi : terjadi secara sporadik dan berhubungan hipotonia fetal dan infantil, perawakan pendek, obesitas masif, wajah yang khas dengan mata berbentuk almond-shape, tangan dan kaki kecil, retardasi mental, dan emosi yang tidak stabil, menarche yang lambat pada perempuan, mikropenis dan kriptorkismus pada pria. sering terjadi osteoporosis pada pasien ini selama usia remaja, tapi terapi penggantian dengan hormon steroid dengan indikasi dapat membantu.

Sindrom Laurence-Moon-Biedl : Kondisi autosomal resesif ini memiliki karakteristik seperti: obesitas, perawakan pendek, retardasi mental, dan retinitis pigmentosa.

Sindroma Kallmann : Merupakan bentuk defisiensi isolated gonadotropinyang paling sering dijumpai. Defisiensi gonadotropin pada pasien ini berhubungan dengan hipoplasi atau agenesis dari bulbus olfaktorius sehingga terjadi hiposmia atau anosmia. Terjadi defisiensi GnRH, kriptorkismus, mikrophalus serta kelainan midline yang lain. Kejadiannya 1:7500 laki-laki atau 1:50.000 perempuan, secara sporadik, X-linked autosomal dominan atau resesif.

Keadaan sistemik yang sering dijumpai oleh pubertas terlambat adalah, seperti gagal ginjal, hipotiroid, anoreksia nervosa, penyakit radang usus dan penyakit celiac, infeksi berulang dan penyakit neoplasma, penyakit psikosomatik yang serius.

 

Keterlambatan atau penundaan fungsi

  • Constitutional delay of growt and puberty
  • Penyakit kronik [kardia, hematologik (penyakit sikle cell)] keganasan, pulmonal (cystic fibrosis, ginjal)
  • Penyalahgunaan obat
  • Pengeluaran energi yang berlebihan pada latihan
  • Obesitas eksogen
  • Endokrinopati: diabetes melitus, defisiensi growth hormon, kelebihan glukokortikoid, hiperproklatinemia, hipotirodisme
  • Malnutrisi
  • Kelainan psikiatri (anoreksia nervosa, psikososial)

 

DIAGNOSIS

Diagnosis didasarkan pada:

  • anamnesis: anak belum menstruasi atau belum mengalami mimpi basah
  • hasil pemeriksaan fisik
  • berbagai pemeriksaan laboratorium
  • xray usia tulang
  • dan jika diperlukan, analisis kromosom dan MRI.

 

TERAPI

Tata laksana pubertas terlambat tergantung pada penyebabnya. Untuk remaja yang terlambat secara alami sebenarnya tidak membutuhkan pengobatan. Namun jika remaja tersebut sangat stres akibat tertundanya pubertas maka dokter dapat memberikan terapi hormon seks tambahan untuk memulai proses pubertasnya lebih cepat.

Pengobatan ini lebih sering dilakukan kepada anak laki-laki. Anak laki-laki yang belum menunjukkan tanda pubertas pada usia 14 tahun dapat diberikan testosteron selama 4-6 bulan. Pada dosis rendah testosteron memulai pubertas, menyebabkan perkembangan beberapa ciri maskulin dan tidak mencegah remaja tersebut mencapai tinggi badan optimalnya. Pada anak perempuan, estrogen dosis rendah dapat diberikan dengan pil atau skin patch.

 

Rini Mustika Sari Blogspot

http://www.askfionamd.com


18.10.2018.jpg

October 18, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Remaja merupakan periode terakhir dari masa anak-anak. Pada tahap ini seorang anak akan memasuki masa pubertas yang menyebabkan perubahan, baik fisik mau pun mental. Akan tetapi perubahan tersebut berlangsung bertahap.
Pada anak perempuan, pubertas terjadi sejak usia 8 sampai 13 tahun. Sementara anak laki-laki mengalami pubertas sejak usia 9 sampai 14 tahun. Selama pubertas, ukuran dan bentuk badan berubah dari ciri khas anak ke bentuk dewasa.
Selama pubertas, ukuran dan bentuk badan berubah dari ciri khas anak ke bentuk dewasa.

 

Ciri tubuh anak sudah mulai memasuki usia puber

Puber atau pubertas merupakan tanda anak sudah mulai memasuki usia remaja. Pada saat ini, anak mengalami berbagai perubahan, terutama perubahan fisiknya. Perubahan fisik anak laki-laki dan perempuan saat memasuki usia pubertas berbeda, usia mulai pubertas juga berbeda antar keduanya. Biasanya, anak perempuan lebih cepat memasuki usia pubertas dibandingkan dengan laki-laki.

Pubertas pada anak perempuan

Tanda pertama pubertas

Tanda pertama pada anak perempuan pubertas biasanya adalah puting payudara yang mulai muncul. Bagian payudara biasanya menjadi sangat lembut dan mulai membesar setelah beberapa bulan. Selain itu, rambut pada kemaluan juga sudah mulai tumbuh, diikuti dengan pertumbuhan rambut pada ketiak.

Jika anak sudah mengalami pertumbuhan payudara dan pertumbuhan rambut pada kemaluan dan ketiak, tandanya sebentar lagi anak akan mencapai puncak pertumbuhannya dan juga akan mengalami menarche.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Kurang lebih setelah 1-2 tahun tanda-tanda pertama pubertas tersebut muncul, kemudian tubuh anak akan mulai membangun lemak, terutama di dada dan sekitar pinggul dan paha, mengarah seperti perempuan dewasa. Tubuh anak akan mulai membesar, terutama pada lengan, paha, tangan, dan kaki anak. Pada saat ini, berat badan anak perempuan akan bertambah.

Selain tubuh anak yang mulai besar karena terjadi peningkatan lemak dan berat badan, tinggi anak juga bertambah. Ingat, puncak pertumbuhan tinggi badan pada perempuan terjadi sebelum anak perempuan mendapatkan menarche. Oleh karena itu, sebelum anak perempuan mendapatkan menarche, penting bagi Anda untuk selalu mencukupi kebutuhan nutrisinya untuk membantu memaksimalkan pertumbuhan tinggi badan anak.

Banyak orang berpikir bahwa tanda anak perempuan sudah memasuki usia pubertas adalah pada saat ia sudah mendapatkan menstruasi pertamanya (menarche). Namun, jauh sebelum itu, ketika tubuh anak sudah menunjukkan berbagai perubahan menuju ke bentuk tubuh seperti perempuan dewasa, sebenarnya anak sudah memasuki usia puber.

Menarche biasanya dimulai sekitar 18 bulan sampai 2 tahun setelah anak menunjukkan tanda-tanda pubertas pertamanya. Pada umumnya, anak perempuan mendapatkan menstruasi pertamanya pada usia 13 tahun, tapi ini sangat bervariasi.

 

Pubertas pada anak laki-laki

Berbeda dengan anak perempuan, pubertas pada anak laki-laki biasanya mulai lebih lambat. Pada umumnya, anak laki-laki akan menunjukkan tanda-tanda pubertas pertamanya pada usia 10-16 tahun, usia ini juga sangat bervariasi antar anak.

Tanda pertama pubertas

Pada laki-laki, tanda pertama yang menunjukkan bahwa ia sudah mulai memasuki masa pubertas adalah pembesaran ukuran testis. Umumnya,  hal ini terjadi rata-rata pada usia 11 tahun. Setelah itu, diikuti dengan pembesaran ukuran penis. Berikutnya, rambut keriting pada kemaluan mulai tumbuh, juga pada ketiak anak.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Testis dan penis akan terus membesar sampai mencapai ukuran dewasa. Saat proses ini, anak laki-laki sudah bisa mengalami ereksi dan juga ejakulasi. Ejakulasi pertama kali atau spermarche biasanya menjadi tanda pubertas pada laki-laki yang paling mudah dikenali. Hal ini biasanya terjadi antara usia 12-16 tahun, tapi juga bervariasi antar anak. Ejakulasi ini biasanya ditandai dengan mimpi basah, tapi ereksi sendiri bisa secara spontan terjadi saat anak bangun tidur tanpa alasan yang jelas.

Pada anak laki-laki, puncak pertumbuhan akan terjadi sekitar 2 tahun setelah tanda-tanda pertama pubertas muncul. Pada saat ini, anak laki-laki akan mengalami puncak pertumbuhan tinggi badan dan berat badannya secara bersama-sama. Jika perempuan akan memiliki massa lemak yang lebih besar, maka laki-laki akan memiliki massa otot yang lebih besar. Bentuk dada laki-laki juga akan lebih lebar, mengarah seperti lelaki dewasa.

Beberapa anak mungkin mengalami pembesaran jaringan payudara atau biasa disebut dengan ginekomastia. Namun, jangan khawatir, biasanya hal tersebut akan hilang dalam waktu 6 bulan atau lebih dan ini hal yang normal terjadi.

Kumis atau jenggot mungkin akan tumbuh pada beberapa anak. Selain itu, juga terjadi perubahan pada suara laki-laki menjadi lebih berat. Jerawat juga bisa bermunculan di wajah, ini adalah hal yang umum, tidak hanya pada anak laki-laki tetapi juga pada anak perempuan. Jerawat bisa disebabkan oleh hormon pubertas yang memicu kelenjar di bawah kulit untuk memproduksi minyak/ sebum lebih banyak, sehingga bisa menyumbat pori-pori.

 

 

 

dikutip dari beberapa sumber

28.09.2018-1.jpg

September 28, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Dalam beberapa literatur ilmiah maupun populer kita dapat menemukan informasi mengenai begitu banyaknya kemungkinan penyebab dari suatu gangguan pertumbuhan pada seorang anak.  Untuk memudahkan, ada yang membagi ke dalam istilah penyebab gangguan pertumbuhan primer dan sekunder. Apakah yang membedakan keduanya? Gangguan pertumbuhan primer terjadi pada tingkat genetik, dan berlangsung sejak seorang anak masih dalam kandungan. Termasuk di antaranya adalah kelainan kromosom, kelainan tulang, dan pertumbuhan janin terhambat. Sementara itu, gangguan pertumbuhan sekunder terjadi akibat adanya faktor dari luar yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan dan fungsi tubuh anak. Termasuk di antaranya adalah faktor gizi (malnutrisi), kelainan hormonal, penyakit kronik, dan penyebab lain yang telah disebutkan dalam artikel sebelumnya.

Berikut ini merupakan beberapa contoh yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan primer pada anak:

1. Kelainan kromosom

a. Sindrom Down

Merupakan kelainan genetik pada kromosom 21. Tanda dan gejala sindrom ini dapat terlihat dari tubuh yang relatif pendek, bentuk kepala relatif kecil (mikrosefali), dengan bentuk wajah menyerupai orang Mongoloid (hidung datar, mata menyipit, sudut tengah mata membentuk lipatan). Bentuk mulut kecil dan lidah seringkali seperti terjulur keluar (lebih tampak pada bayi). Pada pasien dengan sindrom ini dapat terjadi gangguan mental, kecerdasan, jantung maupun pencernaan.

b. Sindrom Turner

Merupakan kelainan pada wanita akibat kehilangan satu kromosom X (normalnya terdapat sepasang: XX). Tanda dan gejala yang sering dijumpai adalah tubuh pendek dan organ reproduksi yang tidak berkembang sempurna. Terkadang dapat pula dijumpai adanya kelainan jantung, ginjal, kelenjar tiroid, telinga, dan tulang.

c. Sindrom Noonan

Merupakan penyakit yang dapat diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Adanya mutasi genetik yang menyebabkan protein terus aktif, sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembelahan sel tubuh. Sindrom ini ditandai dengan abnormalitas (ketidaknormalan) bentuk wajah, perawakan pendek (50-70% kasus), gangguan jantung, kelainan darah, serta kelainan bentuk tulang. Secara fisik terlihat dahi lebar dan menonjol, jarak antar mata lebar, rahang kecil, posisi telinga rendah, serta leher pendek (dan tampak ada lipatan-lipatan kulit).

d. Sindrom Prader-Willi

Merupakan kelainan pada kromosom 15 yang menyebabkan gangguan pada hipotalamus – bagian otak yang berfungsi mengatur pelepasan hormon dan nafsu makan. Ditandai dengan otot yang lemah, bentuk wajah khas (bibir seperti orang cemberut), tubuh pendek, perkembangan organ seksual terhambat, IQ rendah, gangguan tingkah laku dan gangguan tidur.

e. Sindrom Silver-Russell

Diduga berkaitan dengan kelainan pada kromosom 7 dan 11. Pada sindrom ini dapat ditemukan riwayat pertumbuhan janin terhambat (berat badan lahir rendah), bentuk wajah seperti segitiga terbalik (meruncing ke dagu yang kecil), terdapat perbedaan panjang antara sisi kiri-kanan tangan dan kaki, jari melengkung, tubuh pendek (gagal tumbuh), serta masalah ginjal dan pencernaan.

2. Berat badan lahir lebih rendah atau kecil dibanding masa kehamilan dan gagal catch up pertumbuhan.

3. Gangguan pertumbuhan tulang congenital (bawaan): tubuh kerdil (dwarfism) pada akondroplasia dan hipokondroplasia

 

Pada beberapa kasus, gangguan pertumbuhan primer dapat dideteksi dini segera setelah bayi lahir (atau bahkan dapat ditemukan pada pemeriksaan kehamilan). Untuk menegakkan diagnosis, diperlukan pemeriksaan oleh tenaga medis yang ahli di bidangnya. Semakin cepat penanganan tentu akan memberikan hasil yang lebih baik.

 

 

Sumber : dr. Wiranty Ramadhani


25.09.2018.jpg

Pernahkah ayah dan bunda mendengar tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan? Seribu hari pertama kehidupan dimulai sejak masa kehamilan hingga seorang anak berusia 2 tahun. Masa tersebut merupakan periode emas bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Nutrisi menjadi salah satu pondasi penting dalam mendukung periode ini. Kebutuhan nutrisi harus dipenuhi secara optimal dan seimbang – tidak boleh sampai kekurangan atau bahkan berlebihan.

Kita tentu sering mendengar istilah malnutrisi. Namun tahukah ayah dan bunda, bahwa malnutrisi bukanlah kondisi yang dikaitkan dengan anak bertubuh kurus saja, namun juga bisa dijumpai pada anak gemuk? Malnutrisi adalah kondisi dimana seseorang tidak mendapat zat gizi secara tepat, yang mencakup: obesitas, gizi lebih, gizi kurang, gizi buruk, dan kekurangan mikronutrien.

Seorang anak yang kekurangan zat gizi (terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan) akan tampak lebih kecil (kurus dan pendek) dibanding teman seusianya. Hal ini disebabkan tubuh tidak memiliki nutrisi yang cukup untuk menunjang pertambahan berat badan maupun tinggi badannya. Anak tersebut juga akan menjadi lebih rentan terkena infeksi serta tidak dapat mengembangkan kemampuan otaknya secara optimal. Inilah yang disebut sebagai suatu kondisi gizi buruk yang menyebabkan gagal tubuh.

Kekurangan mikronutrien juga dapat berdampak pada pertumbuhan anak. Sebagai contoh, anak yang menderita kekurangan vitamin D dapat menderita rakitis. Rakitis adalah kondisi dimana terjadi pelunakan tulang sehingga lebih rentan terjadi patah tulang dan kelainan bentuk tulang (bengkok). Pertumbuhan anak tentu akan terganggu dalam keadaan ini.

Pada anak dengan kelebihan zat gizi khususnya obesitas, orangtua biasanya tidak terlalu mengkhawatirkan pertumbuhannya. Banyak yang beranggapan bahwa anak tidak akan kekurangan zat apapun untuk menunjang pertumbuhannya. Hal ini juga ditunjang oleh kecenderungan pada anak yang mengalami obesitas akan memiliki tinggi badan pra-pubertas (sebelum pubertas) yang lebih tinggi dibanding rata-rata teman seusianya. Padahal, pada anak dengan obesitas dapat terjadi perubahan pada hormonal tubuhnya. Anak dapat mengalami masa pacu tumbuh lebih awal namun pada waktu masa pertumbuhan hampir selesai kecepatan ini akan melambat. Pada sebagian kasus, anak tidak dapat mencapai potensi genetik tinggi badan secara optimal saat dewasa.

Ada baiknya orangtua mencegah masalah nutrisi sejak dini. Pemenuhan zat gizi yang optimal harus dimulai saat masa kandungan. Setelah anak lahir, lakukan pemantauan kesehatan dan status gizi secara rutin ke tempat pelayanan kesehatan terpercaya. Bila adanya masalah nutrisi anak dapat dideteksi sejak dini, niscaya kita dapat mencegah kemungkinan adanya gangguan pertumbuhan yang dapat terjadi di masa yang akan datang.

Bila kurang gizi ini dibiarkan, maka status gizi anak bisa menjadi gizi buruk. Penanganan anak gizi buruk harus oleh tenaga terlatih, seperti dokter anak atau dokter umum terlatih atau dietitian anak (ahli gizi anak) yang mengerti tahapan pemberian gizi pada anak dengan gizi buruk. Terdapat formula makanan yang khusus bagi anak gizi buruk.

 

Sumber : dr. Wiranty Ramadhani


17.10.2018.jpg

September 17, 2018 Kesehatan Anak

“Anak dengan perawakan pendek tak hanya beresiko menjadi seorang dewasa yang bertubuh pendek, namun perlu diwaspadai kemungkinan adanya gangguan pada perkembangan otak, kemampuan kognitif (kecerdasan), serta adanya gangguan metabolisme tubuh lain yang menyertai.”

 

Pertumbuhan tinggi dan berat badan merupakan indikator untuk menilai kesehatan, status nutrisi, dan latar belakang genetik seorang anak. Penyimpangan dari pertumbuhan dapat menunjukkan adanya masalah kesehatan pada anak. Untuk memantau pertumbuhan anak kita dapat menggunakan kurva pertumbuhan yang telah disesuaikan menurut kelompok usia dan jenis kelamin anak.

 

Perawakan pendek merupakan suatu keadaan dimana tinggi badan seseorang di bawah ukuran normal sesuai umur dan jenis kelamin.

Seseorang dikatakan berperawakan pendek bila tinggi badan di bawah 2 standard deviasi (SD) dari rata-rata populasi atau di bawah persentil 3 kurva pertumbuhan.

 

Dalam menangani kasus anak berperawakan pendek, kita harus berhati-hati dan menilai kasus secara individual. Hal ini disebabkan perawakan tinggi badan anak dapat dipengaruhi banyak faktor. Secara umum, kelompok anak berperawakan pendek dibedakan menjadi :

  • Variasi normal

Terjadi karena faktor keturunan, constitutional delay of growth and puberty, atau idiopatik (tidak diketahui penyebabnya).

  • Gangguan pertumbuhan primer

Adanya riwayat pertumbuhan janin terhambat, kelainan pertumbuhan tulang, atau kelainan kromosom.

  • Gangguan pertumbuhan sekunder

Akibat malnutrisi atau penyakit kronis.

  • Kelainan hormonal

Dapat terjadi akibat kekurangan hormon pertumbuhan, kekurangan hormon tiroid, diabetes melitus, atau kelebihan hormon kortikosteroid.

 

WHO memperkirakan jumlah balita pendek di dunia mencapai 162 juta pada tahun 2012 – sekitar 56% diantaranya terdapat di wilayah Asia. Dibandingkan negara-negara tetangga di wilayah Asia Tenggara, prevalensi balita pendek di Indonesia adalah yang tertinggi.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 di Indonesia menunjukkan 37,2% balita termasuk kategori pendek dan sangat pendek. Data di DKI Jakarta menunjukkan ada sekitar 27,5% balita yang masuk dalam kategori ini.

 

Deteksi dini pada kelainan pertumbuhan anak membutuhkan peran aktif dari orangtua. Kriteria awal untuk memeriksakan anak pendek, jika :

  • Tinggi badan anak di bawah persentil 3 atau di bawah tinggi rata-rata populasi
  • Kecepatan tumbuh kurang dari 4cm/tahun untuk anak usia 4-10 tahun
  • Perkiraan tinggi dewasa di bawah potensi tinggi genetik
  • Kecepatan tumbuh melambat setelah umur 3 tahun menyilang garis persentilnya pada kurva tinggi badan

 

Segera lakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah perawakan pendek anak termasuk dalam variasi normal atau akibat adanya suatu gangguan.

Keterlambatan diagnosis dan pengobatan dari penyebab perawakan pendek akan menyebabkan kegagalan untuk mencapai potensi genetik anak.


13.09.2018.jpg

September 13, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Penyakit  CAMPAK dan RUBELLA sangat menular Imunisasi MR melindungi kita dari penularan penyakit CAMPAK dan RUBELLA

1. Apakah penyakit Campak dan Rubella

Campak dan Rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran nafas yang disebabkan oleh virus. Anak dan orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi Campak dan Rubella atau yang belum pernah mengalami penyakit ini beresiko tinggi tertular.

2. Apa bahaya dari penyakit ini ?

Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti diare, radang paru pneumonia, radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk dan bahkan kematian. Rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak, akan tetapi bila menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan.

3. Seperti apa gejala penyakit Campak dan Rubella ?

Gejala penyakit Campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit disertai dengan batuk, pilek dan mata merah (konjungtivitis). Gejala penyakit Rubella tidak spesifik bahkan bisa tanpa gejala. Gejala umum berupa demam ringan, pusing, pilek, mata merah, dan nyeri di persendian. Mirip gejala flu.

4. Bagaimana agar terlindung dari penyakit Campak dan Rubella ?

Tidak ada pengobatan untuk penyakit Campak dan Rubella namun penyakit ini dapat dicegah. Imunisasi dengan vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk penyakit Campak dan Rubella. Satu vaksin mencegah dua penyakit sekaligus.

5. Apakah vaksin MR ?

Vaksin MR adalah kombinasi vaksin Campak atau Measles (M) dan Rubella (R) untuk perlindungan terhadap penyakit Campak dan Rubella.

6. Apakah vaksin MR aman ?

Vaksin yang digunakan telah mendapat rekomendasi dari WHO dan izin edar dari Badan POM. Vaksin MR efektif untuk mencegah penyakit Campak dan Rubella. Vaksin ini aman dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia.

7. Siapa saja yang harus mendapatkan Imunisasi MR ?

Imunisasi MR diberikan untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama kampanye Imunisasi MR. Selanjutnya, imunisasi MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat menggantikan imunisasi Campak.

8. Apakah imunisasi MR memiliki efek samping ?

Tidak ada efek samping dalam imunisasi. Demam ringan, ruam merah, bengkak ringan dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi adalah reaksi normal yang akan menghilang dalam 2-3 hari. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi yang serius sangat jarang terjadi.

9. Apabila anak telah diimunisasi Campak, apakah perlu mendapat imunisasi MR ?

Ya, untuk mendapat kekebalan terhadap Rubella. Imunisasi MR aman bagi anak yang telah mendapat 2 dosis imunisasi Campak.

10. Apakah perbedaan vaksin MR dan MMR ?

Vaksin MR mencegah penyakit Campak dan Rubella.

Vaksin MMR mencegah penyakit Campak, Rubella, dan Gondongan.

11. Mengapa yang diberikan adalah vaksin MR bukan MMR ?

Saat ini pemerintah memprioritaskan pengendalian Campak dan Rubella karena bahaya komplikasinya yang berat dan mematikan.

12. Apabila anak telah mendapat imunisasi MMR, apakah masih perlu mendapat imunisasi MR ?

Ya, untuk memastikan kekebalan penuh terhadap penyakit Campak dan Rubella. Imunisasi MR aman diberikan kepada anak yang sudah mendapat vaksin MMR.

13. Apakah benar vaksin MR dapat menyebabkan autisme ?

Tidak benar. Sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung bahwa imunisasi jenis apapun dapat menyebabkan autisme.

14. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 tahun 2016.

Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya penyakit tertentu. Dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.

 

 

 

 

Sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia


19.07.18.jpg

July 19, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Campak atau yang biasa disebut dengan Morbili atau Rubeola merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Seperti hal nya sifat virus pada umumnya, campak sangat mudah menular dan dapat ditularkan melalui batuk dan bersin. Gejala awal dari campak adalah demam tinggi, batuk dan/atau pilek, serta mata merah (konjungtivitis).  Setelah beberapa hari, akan mulai muncul bercak merah yang biasanya muncul pertama kali di sekitar wajah dan leher lalu menyebar ke seluruh tubuh. Selain tu, dapat muncul pula bercak putih di dalam mulut yang disebut bercak Koplik. Komplikasi yang dpat terjadi akibat campak, antara lain pneumonia, diare, meningitis, kebutaan, dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Awitan penyakit campak dapat terjadi hingga 10-12 hari. Penyakit ini sangat berpotensi menjadi wabah apabila cakupan imunisasi rendah dan kekebalan kelompok/herd immunity tidak terbentuk. Ketika seseorang terkena campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum kebal terhadap campak. Seseorang dapat kebal jika telah diimunisasi atau terinfeksi virus campak.

 

Pada tahun 2000, lebih dari 562.000 anak per tahun meninggal di seluruh dunia karena komplikasi penyakit campak. Dengan pemberian imunisasi campak dan berbagai upaya yang telah dilakukan, maka pada tahun 2014 kematian akibat campak menurun menjadi 115.000 per tahun, dengan perkiraan 314 anak per hari atau 13 kematian setiap jamnya.

 

Sama seperti campak, Rubella juga merupakan penyakit akibat infeksi virus. Rubella biasa disebut dengan campak Jerman. Berbeda dengan campak yang dapat menginfeksi dalam jangka waktu panjang dan menimbulkan komplikasi, Rubella cenderung lebih ringan dan bersifat akut. Biasanya awitan Rubella kurang lebih sekitar 3 hari, oleh karena itu sering juga disebut dengan campak tiga hari. Rubella sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Akan tetapi yang menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah efek teratogenik apabila rubella ini menyerang pada wanita hamil pada trimester pertama. Infeksi rubella yang terjadi sebelum konsepsi dan selama awal kehamilan dapat menyebabkan abortus, kematian janin atau sindrom rubella kongenital (Congenital Rubella Syndrome/CRS) pada bayi yang dilahirkan. Sebelum dilakukan imunisasi rubella, insidens CRS bervariasi antara 0,1-0,2/1000 kelahiran hidup pada periode endemik dan antara 0,8-4/1000 kelahiran hidup selama periode epidemi rubella. Angka kejadian CRS pada negara yang belum mengintroduksi vaksin rubella diperkirakan cukup tinggi. Pada tahun 1996 diperkirakan sekitar 22.000 anak lahir dengan CRS di regio Afrika, sekitar 46.000 di regio Asia Tenggara dan 12.634 di regio Pasifik Barat. Insiden CRS pada regio yang telah mengintroduksi vaksin rubella selama tahun 1996-2008 telah menurun. Di Indonesia, rubella merupakah salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan upaya pencegahan efektif. Data surveilans selama lima tahun terakhir menunjukan 70% kasus rubella terjadi pada kelompok usia <15 tahun. Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella/Congenital Rubella Syndrome (CRS) pada tahun 2020. Strategi yang dilakukan untuk mencapai target tersebut adalah:

  1. Penguatan imunisasi rutin untuk mencapai cakupan imunisasi campak ≥95% merata di semua tingkatan
  2. Pelaksanaan Crash program Campak pada anak usia 9 – 59 bulan di 185 kabupaten/kota pada bulan Agustus – September 2016
  3. Pelaksanaan kampanye vaksin MR pada anak usia 9 bulan hingga 15 tahun secara bertahap dalam 2 fase sebagai berikut :
  • Fase 1 à bulan Agustus-September 2017 di seluruh Pulau Jawa
  • Fase 2 à bulan Agustus-September 2018 di seluruh Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua
  1. Introduksi vaksin MR ke dalam program imunisasi rutin pada bulan Oktober 2017 dan 2018
  2. Surveilans Campak Rubella berbasis kasus individu/ Case Based Measles Surveillance (CBMS)
  3. Surveilance sentinel CRS di 13 RS
  4. KLB campak diinvestigasi secara penuh (fully investigated)

 

Berdasarkan data surveilans dan cakupan imunisasi, maka imunisasi campak rutin saja belum cukup untuk mencapai target eliminasi campak. Sedangkan untuk akselerasi pengendalian rubella/CRS maka perlu dilakukan kampanye imunisasi tambahan sebelum introduksi vaksin MR ke dalam KAMPANYE IMUNISASI MEASLES RUBELLA MR 5 imunisasi rutin. Untuk itu diperlukan kampanye pemberian imunisasi MR pada anak usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun dengan cakupan tinggi (minimal 95%) dan merata diharapkan akan membentuk imunitas kelompok (herd immunity), sehingga dapat mengurangi transmisi virus ke usia yang lebih dewasa dan melindungi kelompok tersebut ketika memasuk usia reproduksi.

 

 

 

Sumber : Kementrian Kesehatan & Ikatan Dokter Anak Indonesia


10.05.18.jpg

Tidak terasa bulan ramadhan sudah semakin dekat. Tentu saja semua orang ingin menjalankan puasa untuk memenuhi kewajiban agamanya, bergitu juga para diabetisi. Pada artikel minggu lalu, sudah dijelaskan bahwa diabetisi boleh menjalankan puasa walaupun dengan pemantauan. Pertanyaan lain yang sering timbul di benak orang tua adalah : bagaimana cara mengatur makanan yang baik selama berpuasa? Nah, di artikel kali ini kita akan membahas segala hal tentang diet diabetisi selama berpuasa.

Saat berpuasa, secara alami akan terjadi penurunan aktivitas fisik dan asupan makanan. Oleh karena itu, jumlah asupan kalori harus disesuaikan dengan jumlah kebutuhan sehari-hari dengan komposisi 60-65% karbohidrat, 15-20% protein, dan 20-25% lemak. Porsi makan yang diberikan sebagai berikut:

  • 50% total kalori saat berbuka. Sebelum shalat maghrib disarankan mengonsumsi makanan ringan/segar, diikuti makanan padat/besar sebaiknya sesudah shalat maghrib
  • 10% dari total kalori diberikan setelah salat tarawih berupa snack
  • 40% dari total kalori diberikan saat sahur.

Kebutuhan karbohidrat berkisar 60 – 70 % dari energi total yang dibutuhkan. Asupan karbohidrat dipilih dari bahan makanan yang berserat seperti kentang, jagung, beras merah. Konsumsi roti putih dapat dikurangi. Bahan pemanis pengganti gula dapat digunakan asalkan dalam jumlah yang aman.

Jumlah protein sekitar 10 – 15 % dari total kalori. Jenis protein yang dianjurkan adalah yang berasal dari kacang – kacangan seperti kacang kedelai, tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah karena kacang-kacangan tidak hanya kaya protein, melainkan juga tinggi serat dan karbohidrat kompleks. Sementara protein hewani yang dianjurkan adalah ayam tanpa kulit, ikan ( lebih dianjurkan ), daging tanpa lemak / telur ayam kampung.

Lemak berkisar antara 20 – 25 % dari energi total ( pilih lemak tak jenuh ). Diabetisi dianjurkan untuk mengurangi penggunaan santan, mentega, keju, coklat, gajih, krim, mayones, dan minyak goreng dalam pengolahan makanan.

Beberapa panduan yang perlu dipatuhi diabetisi agar mampu menjalankan puasa tanpa masalah, diantaranya :

  1. Harus makan sahur secukupnya.
  2. Segera berbuka puasa setelah adzan magrib.
  3. Tidak makan berlebihan ketika berbuka, mengurangi makan makanan yang manis
  4. Jika mengalami tanda hipiglikemia, hiperglikemi atau kekurangan air, disarankan untuk segera berbuka puasa.
  5. Kurangi minum kopi atau dapat diganti dengan teh yang encer tidak terlalu pekat.

Contoh Menu Puasa Untuk Diabetisi :

Sahur :
– Nasi Aroma
– Pepes Ayam Kemangi
– Sate Tempe
– Sup Sayuran
– Mixed Fruits

Menjelang Imsak : Puding DM
Tajil : Kurma

Buka :
– Nasi Timbel
– Ikan Bakar Ala Bunda
– Bacem Tahu
– Cah Sayuran
– Pepaya Potong

Setelah Tarawih : Snack DM
Menjelang Tidur : Jus Buah DM

Tips :

  1. Konsultasikan dahulu anak Anda ke dokter Endokrinologi Anak untuk memutuskan apakah anak anda boleh puasa atau tidak.
  2. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter Endokrinologi anak anda untuk penyesuaian regimen dan dosis insulin, diet, aktivitas fisik serta monitoring selama anak puasa.
  3. Konsultasikan ke Ahli Gizi/ Dietisien berkaitan pengaturan makan selama anak berpuasa
  4. Monitor kadar gula darah lebih sering.
  5. Kenali tanda-tanda komplikasi akut, seperti hipoglikemia ataupun tanda-tanda dehidrasi
  6. Jika terdapat hipoglikemia segera minta anak untuk berbuka puasa.

Semoga bacaan ini dapat membantu orang tua untuk meyiapkan menu makanan anak selama berpuasa ya. Selamat berpuasa!

Narasumber : Retno Muji Muliany, S.Gz, RD


29.03.2018.jpg

March 29, 2018 Kesehatan Anak

Diabetes Melitus tipe satu pada anak merupakan penyakit metabolik kronis yang belum bisa disembuhkan. Kasus pada anak – anak meningkat. Anak – anak penderita diabetes tetap bisa beraktifitas normal dengan syarat menjaga kontrol metabolik. Caranya, rajin memantau kadar gula darah, mengatur pola makan, olah raga, dan pemberian insulin dengan dosis tepat.

Diabetes melitus (DM) tipe 1 menjadi penyakit tersering pada anak – anak dan remaja di dunia. Di Indonesia terjadi peningkatan jumlah penderita lebih dari 500 persen dalam 5 tahun terakhir. Data register unit kerja khusus Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2017 diperoleh 1.179 kasus DM tipe 1 pada anak dengan kelompok usia terbanyak 5 – 6 tahun dan 11 tahun.

DM tipe 1 disebabkan kekurangan insulin karena kerusakan pada sel beta pankreas. “Salah satu penyebabnya, auto imun atau antibodi menyerang sel beta pankreas. Selain itu faktor genetik dan lingkungan”, ungkap Dr. dr. Aman Bakti Pulungan, Sp.A(K).

Gejalanya frekuensi kencing meningkat di malam hari, sering merasa haus, lapar, dan berat badan turun drastis dalam 2 – 6 minggu. Bagi anak – anak penderita DM tipe 1, kontrol metaboliknya harus baik. Tujuannya adalah agar kadar gula darah dalam batas normal atau mendekati normal. Caranya, pemberian insulin dengan dosis tepat, rajin memantau kadar gula darah, mengatur pola makan dan olah raga.

Kadar gula tinggi dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan komplikasi, seperti gangguan pertumbuhan, gangguan pada pembuluh darah jantung dan otak, serta gangguan fungsi ginjal. Jika pasien mengalami kerusakan ginjal, transplantasi mampu meningkatkan harapan dan kualitas hidup mereka.

 

 

Sumber : Kompas, 28 Maret 2018


note: Dr. dr. Aman Bakti Pulungan, Sp.A(K) berpraktek di AP&AP Pediatric, Growth and Diabetes Center pada hari Senin, Selasa, Kamis jam 16.00 – 18.00 WIB


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2021.