15.03.2018-1200x1068.jpg

March 15, 2018 Kesehatan Anak

Hipotiroid adalah keadaan menurun atau tidak berfungsinya kelenjar tiroid. Bila terdapat sejak lahir disebut hipotiroid kongenital  Apa yang menyebabkan kelenjar gondok tidak berfungsi dengan normal?

Penyebab hipotiroid kongenital antara lain karena kelainan primer dari kelenjar gondok :

  1. Kelainan pembentukan kelenjar, yaitu kelenjar tidak dibentuk, kelenjar kecil atau posisi kelenjar tidak pada tempatnya (ektopik)
  2. Gangguan pada pembuatan hormon tiroid
  3. Kekurangan iodium pada ibu hamil

Bila kelenjar gondok tidak berfungsi normal, hormon yang dihasilkan tidak mencukupi kebutuhan tubuh, akibatnya kelenjar hipofisis di otak memproduksi lebih banyak TSH. Dengan demikian bayi- bayi ini mempunyai kadar TSH tinggi, dan sebaliknya kadar TSH tinggi bisa dipakai sebagai petanda bayi menderita hipotiroid karena kelainan kelenjar gondok

Dari paparan diatas jelas bahwa kekurangan hormon tiroid pada bayi dan masa awal kehidupan, bisa mengakibatkan hambatan tumbuh kembang anak, sehingga pengenalan diagnosis) dini sangat diperlukan. Namun sebagian besar ( lebih dari 95%) pada minggu-minggu  pertama setelah lahir  bayi tampak normal karena selama dalam kandungan  mendapatkan hormon tiroid dari ibunya melalui plasenta, oleh karena itu bayi tidak memperlihatkan gejala, sehingga sering luput dari pengamatan dan dianggap bayi tanpa kelainan. Pada bayi tersebut gejala akan jelas beberapa bulan kemudian dan tentu saja  pengobatan jadi terlambat.Tanpa pengobatan gejala HK lambat laun mulai tampak:  bayi kurang aktif, malas menetek, mengalami kuning (ikterus) yang lama, tangan dan kaki kurang bergerak, lidah makin besar sehingga minum sering tersedak, perut bunci sering dengan pusat bodong, kulit kering dan burik, bayi mudah kedinginan, Tanpa pengobatan gejala akan semakin tampak dengan bertambahnya usia; hambatan tumbuh kembang makin nyata.

  1. Tubuh pendek (cebol)
  2. Muka hipotiroid yang khas ( muka sembab, bibir tebal, hidung pesek)
  3. Mental terbelakang, bodoh (IQ dan EQ rendah)/ idiot
  4. Kesulitan bicara dan tidak bisa diajar bicara
  1. Di daerah endemik kekurangan iodium, ibu hamil rentan kekurangan iodium dan hormon tiroid sehingga tidak bisa melindungi bayinya. Bayi akan menunjukkan gejala lebih berat yaitu kretin endemik. Oleh karena itu di daerah kekurangan iodium perlu dilakukan pemeriksaan kadar iodium pada air seni ibu hamil.

Dampak Hipotiroid Kongenital

Hipotiroid pada bayi bisa bersifat permanen (menetap) atau sementara (transien). Disebut sebagai HK transien bila setelah beberapa bulan atau beberapa tahun sejak lahir kelenjar gondok mampu memproduksi sendiri hormon tiroidnya, sehingga pengobatan dapat dihentikan. HK permanen membutuhkan pengobatan seumur hidup dan penanganan khusus.

Dampak HK pada anak yang sangat menyedihkan adalah mental terbelakang yang tidak bisa dipulihkan. Dampak terhadap keluarga, beban ekonomi karena anak HK harus mendapat pendidikan, pengasuhan dan pengawasan khusus. Secara psikososial\ keluarga akan lebih rentan terhadap lingkungan sosial karena rendah diri dan menjadi stigma dalam keluarga dan masyarakat, Selain itu produktifitas keluarga menurun  karena harus mengasuh anak dengan HK. Bila angka kejadian HK diperkirakan 1 diantara 2000-3000 bayi baru lahir, maka dari 5 juta kelahiran di Indonesia, akan lahir lebih dari 1600 penderita HK tiap tahun dan secara kumulatif akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia penerus bangsa. Supaya bayi dengan HK tidak mengalami gangguan tumbuh kembang, satu-satunya cara untuk mengetahui kelainan HK sedini mungkin dan segera mengobatinya (kurang dari umur 1 bulan) adalah dengan melakukan skrining (uji tapis).

Bagaimana melakukan skrining dan pengobatannya ?….

 

sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia


08.03.2018-1200x691.jpg

March 8, 2018 Kesehatan Anak

Testis atau buah zakar adalah kelenjar reproduksi laki-laki yang penting untuk kesuburan. Testis memproduksi sperma dan hormone testosterone  dari pubertas sampai dewasa. Normalnya, testis terbentuk dalam rongga perut dan akan bergerak turun ke lokasinya di kantung zakar selama bayi dalam rahim. Turunnya testis ke kantung zakar (skrotum) sangat penting untuk proses pembentukan sperma karena suhu di skrotum lebih rendah 1,5-2,0 °C dibanding suhu tubuh.

Kelainan Testis Tersebut Dinamakan Kriptorkismus

Kriptorkismus adalah terhentinya proses penurunan satu atau kedua testis di suatu tempat antara rongga perut dengan kantung zakar. Kriptorkismus merupakan gangguan diferensiasi seksual laki-laki yang paling sering dijumpai. Angka kejadiannya saat lahir bervariasi berkisar 3,4% hingga 5-6 % bayi laki-laki mengalami kriptorkismus. Bahkan pada bayi pematur, angkanya mencapai 17-33%. Pada bayi dengan berat badan di bawah 1000 gram mencapai 100% karena testis baru turun pada umur 7 bulan kehamilan ketika berat badan janin sekitar 2000 gram. Sekitar 10% kriptorkismus terjadi pada kedua testis (bilateral). Sekitar 30% ternyata memang tidak ditemukan testis setelah dicari dari rongga perut, jalur menuju kantung zakar, atau dalam kantung zakarnya.

Apa saja komplikasinya?

Komplikasi jangka panjang yang terpenting adalah keganasan (kanker) dan infertilitas (tidak subur). Selain itu, dilaporkan juga komplikasi lain, yaitu terpuntirnya testis (torsio testis) dan hernia.

Bagaimana kriptorkismus dapat diketahui?

Testis yang tidak turun tidak menimbulkan keluhan seperti sakit, jadi sering tidak diketahui kecuali orang tuanya dan dokter teliti memeriksa dan memperhatikan alat kelamin anak. Kriptorkismus perlu dicurigai jika kantung zakar terlihat rata dan kecil yang seharusnya membulat dan terdapat 2 kantung. Biasanya kriptorkismus dapat terdiagnosis saat bayi baru lahir atau pada saat control rutin bulanan ke dokter. Untuk diagnosis harus diperiksa dengan teliti. Setelah itu, dapat dilakukan ultrasonografi (USG) atau pemeriksaan dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Jika perlu juga dilakukan peneropongan ke perut (laparoskopi) dan khusus untuk kriptorkismus bilateral harus dilakukan uji hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG).

Apakah kriptorkismus perlu diobati?

Jelas kriptorkismus harus diobati karena jika testis tidak bergerak turun, akhirnya risiko komplikasi akan meningkat. Pada banyak kasus, testis masih bisa turun sampai umur anak 6 bulan, namun setelah itu harus diberi pengobatan, dan jika tidak turun sampai umur 2 tahun sebaiknya dilakukan penurunan dengan tindakan bedah. Pengobatan kriptorkismus dapat dilakukan dengan pemberian hormon HCG. Jika tidak berhasil, selanjutnya harus dengan tindakan bedah. Tindakan bedah untuk kriptorkismus termasuk operasi kecil.

 

 

Dr. dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K) – Dokter Spesialis Anak Konsultan Endokrinologi


01.03.18-1200x608.jpg

Ada banyak infeksi ditandai dengan gejala demam dan bercak kemerahan pada tubuh. Diantaranya campak (measles), rubela (campak Jerman), eksantema subitum (roseola infantum), eritema infeksiosa, dan cacar air. Meskipun memiliki kesamaan gejala demam dan adanya ruam, tapi masing-masing memiliki karakteristik berbeda-beda.

Pada penyakit campak, selain demam, biasanya diawali gejala mata berair, batuk, dan muncul bercak putih di sisi dalam pipi (bercak Koplik). Meski demikian bercak Koplik sulit ditemukan karena hanya timbul sebentar. Setelah 3-4 hari mengalami gejala demam, mata berair dan kemerahan, akan muncul ruam kemerahan di daerah kepala (di bawah garis rambut). Ruam akan menyebar semakin luas, ke seluruh tubuh dalam 24 jam. Selama penyebaran ruam, demam tetap berlangsung. Setelah demam reda, lesi kulit akan tampak menghitam dan kering seperti bersisik baru setelahnya akan kembali ke kulit normal. Nah, kalau gejala-gejalanya tidak seperti di atas, kemungkinan besar bukanlah campak. Yang cukup sering dikira campak adalah rubela.

Kalau memang dipastikan anak sudah terkena campak, ia tidak perlu imunisasi campak. “Seringkali terjadi, sakit yang diduga “campak” ternyata bukan campak, melainkan penyakit lain (misal campak Jerman). Untuk itulah dianjurkan imunisasi tetap diberikan,” ujar dr. Marissa T.S. Pudjiadi, Sp. A yang juga berpraktek di Klinik AP&AP Pediatric, Growth, and Diabetes Center.

Sering ditemukan kejadian anak dianggap sudah terkena campak (berdasarkan cerita orangtuanya), namun setelah ditelusuri ulang gejala yang pernah dialami ternyata bukan campak yang sesungguhnya. Di sisi lain, bila anak memang benar sudah terkena campak, lalu diberikan imunisasi campak lagi, sebenarnya tidak menjadi masalah. Menurut dr. Marissa, “Imunisasi campak idealnya diberikan saat anak berumur 9 bulan. Namun bila jadwal itu terlewat (misal anak sudah berusia 12-14 bulan), si kecil dapat diberikan imunisasi MMR (mumps-measles-rubela), yaitu imunisasi campak-campak Jerman-dan gondongan.”

Perlu diingat, tidak ada imunisasi yang bisa menjamin 100% anak tidak akan terkena penyakitnya. Prinsip imunisasi adalah membangkitkan sistem kekebalan tubuh terhadap suatu jenis infeksi tertentu sebelum ia terkena infeksi yang sesungguhnya. Dengan pemberian imunisasi tubuh akan memiliki antibodi khusus terhadap penyakit tersebut, sehingga bila anak terkena infeksi yang sesungguhnya, tubuhnya sudah siap melawan.

Pada sebagian besar pasien, imunisasi memang dapat mencegah munculnya penyakit. Namun pada sebagian pasien lain, penyakit tetap terjadi namun dalam derajat keparahan yang jauh lebih rendah. Contoh, pada anak yang tidak mendapat imunisasi campak, saat terkena virus campak akan terjadi infeksi yang berat, misal, sampai terjadi radang paru (pneumonia) atau radang otak (ensefalitis) yang dapat menyebabkan kecacatan berat, bahkan mengancam jiwa. Sedangkan anak yang sudah terimunisasi campak, ketika terkena campak, ia hanya mengalami ruam-ruam yang relatif ringan serta cepat hilang dan tidak terjadi komplikasi berat.

 

Sumber : dr. Marissa T.S. Pudjiadi, Sp.A


22.02.2018-1200x775.jpg

February 22, 2018 Kesehatan Anak

Penyakit “tifus” atau “tipes” merujuk pada ppenyakit demam tifoid yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhosa yang masuk ke dalam tubuh lewat makanan atau minuman. Ini berbeda dengan penyakit typhus yang sesungguhnya (murine, typhus, scrub thypus, dll). Namun dalam konteks yang sering dibicarakan masyarakat awam, yang dimaksud adalah memang demam tifoid.

Gejala utamanya adalah demam 5-7 hari, terutama dirasakan di malam hari. Biasanya juga disertai keluhan di saluran cerna, entah berupa lidah terasa pahit, sakit perut, mual, diare, atau malah sembelit.

Dahulu, tes Widal kerap digunakan sebagai pemeriksaan untuk mendeteksi adanya demam tifoid. Tes Widal yang positif menggambarkan yang bersangkutan pernah terinfeksi kuman salmonella, namun sebenarnya belum tentu sakit demam tifoid. Tingkat kepositifan tes Widal pun masih menjadi perdebatan, sehingga saat ini pemeriksaan tersebut mulai ditinggalkan karena dianggap kurang akurat. Untuk pemeriksaan yang lebih akurat adalah dengan melakukan pemeriksaan IgM anti Salmonella (Tubex[R]).

Namun yang paling pasti adalah melalui biakan darah, urine, atau tinja. Bila ditemukan bakteri Salmonella dalam biakan tersebut, maka anak dipastikan mengidap demam tifoid.

Anak demam tifoid tidak selalu harus dirawat, kecuali jika ditemukan demam tinggi yang menetap, gejala yang berat, atau disertai gangguan asupan makanan atau minuman.

 

Demam tifoid sebenarnya dapat dicegah dengan mudah, yaitu dengan menjaga kebersihan dan pemberian imunisasi. Imunisasi demam tifoid dapat diberikan sejak anak usia 2 tahun.

 

 

 

Sumber : dr. Marissa T.S. Pudjiadi, Sp.A



February 9, 2018 ArtikelKesehatan Anak

Bayi yang baru lahir sudah diberkahi antibodi yang berasal dari sang ibu yang didapat saat masih di dalam kandungan, tapi sayangnya antibodi ini hanya bertahan dalam waktu singkat yakni beberapa minggu atau bulan sajaSetelah itu, bayi akan menjadi mudah terserang berbagai penyakit dan mulai memproduksi antibodi sendiri.

Untuk mencegah kemungkinan si bayi terserang  berbagai penyakit, maka orang tua wajib memberikan imunisasi. Program imunisasi merupakan langkah untuk mencegah penyakit menular dengan cara memberikan vaksin pada seseorang sehingga tubuhnya resisten terhadap penyakit tertentu.

Imunisasi adalah pemberian vaksin (antigen) yang merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh. Manfaat imunisasi bagi anak adalah sebagai upaya untuk menghindari terjadinya sakit atau kejadian yang mengakibatkan seseorang sakit atau menderita cedera dan cacat. Adapun manfaat lainnya yang dirasakan seorang anak adalah sebagai kekebalan atau imunitas tubuh terhadap ancaman penyakit dan pertahanan tubuh yang terbentuk oleh beberapa vaksin akan dibawa seumur hidupnya.

Secara tidak langsung, manfaat imunisasi juga bisa menekan pengeluaran atau menghemat biaya kesehatan. Pemberian imunisasi dimulai sejak usia bayi.

             Lewat imunisasi bayi akan diberikan vaksin yang diisi dengan jenis bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dinonaktifkan untuk membentuk antibodi dan merangsang  sistem imun di dalam tubuh si anak. Cara untuk memberikan vaksin dalam imunisasi bervariasi, mulai dari disuntikkan, ditetesi ke dalam mulut. Ada vaksin yang hanya diberikan satu kali seumur hidup dan ada pula yang yang diberikan secara rutin agar kekebalan tubuh si anak terbentuk dengan baik dan siap menghadapi berbagai serangan penyakit. Reaksi yang serius sangat jarang terjadi, jauh lebih jarang dari pada komplikasi yang timbul apabila terserang penyakit tersebut secara alami. Reaksi yang ditimbulkan setelah imunisasi biasanya masih termasuk ringan seperti demam, pusing, hilang nafsu makan, mual, nyeri atau berbekas kemerahan dibagian yang disuntik.

Bagi para orang tua ada baiknya mempertimbangkan kembali manfaat imunisasi yang efeknya lebih berjangka panjang dari pada hanya melihat efek sampingnya.

Terdapat beberapa jenis vaksin yang wajib diberikan untuk anak Anda sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia yaitu Hepatitis B, Polio, BCG, DTP, Hib, PCV, Rotavirus, Influenza, Campak, MMR, Tifoid, Hepatitis A, Varisela, HPV dan Japanese Enchepalitis.


 


01.02.2018.jpg

February 2, 2018 Kesehatan Anak

“SUDAH bisa apa?” Itulah pertanyaan yang kerap didengar orang tua yang mmeiliki anak balita. Ternyata banyak makna tersirat yang dapat menimbulkan kecemasan dari pertanyaan itu. Terutama bila orang tua tidak yakin apakah tahap perkembangan anaknya sudah sesuai usia.

Selain tubuh yang bertambah tinggi dan besar, perubahan yang dapat dinilai seiring pertambahan usia anak adalah perubahan kemampuannya. Perkembangan didefinisikan sebagai bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih rumit dalam hal kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.

Perkembangan merupakan hasil kematangan dari hubungan berbagai sistem tubuh. Untuk dapat berbicara, misalnya, dibutuhkan kematangan hubungan antara sistem saraf pusat dengan pita suara, otot- otot daerah mulut dan lidah, serta kemampuan untuk memproses kata –kata dan memahaminya.  Perkembangan dimulai dari yang paling sederhana hingga makin kompleks. Anak awalnya akan mengoceh tanpa arti, kemudian mulai mengucap satu kata, serta akhirnya mulai memahami kata –kata lain dan bisa berbicara satu kalimat penuh.

Ada beberapa tahapan perkembangan yang biasanya mudah diingat orang tua. Contohnya, untuk gerak kasar adalah kemampuan bayi tengkurap, duduk, berdiri, kemudian berjalan. Untuk gerak halus adalah kemampuan mata bayi mengikuti gerak benda, kemampuan memegang dan menggenggam, menjimpit hingga kemampuan menulis dan menggambar.

Kemampuan bicara dan bahasa daoat dilihat dari jumlah suku kata yang sudah diketahui anak. Secara kasar, pada usia 9-12 bulan, seorang anak bisa menyebut 2-3 suku kata berulang tanpa arti. Pada usia dua tahun telah mampu merangkai kalimat yang terdiri atas dua kata. Kemudian, kemampuan sosialiasi, dan kemandirian seorang anak dapat dilihat dari apakah ia mengenali anggota keluarganya, takut atau menangis bila melihat orang yang tidak dikenal, hingga mulai belajar untuk makan dan minum sedikit.

Sama seperti pertumbuhan, perkembangan juga penting untuk dipantau. Idealnya setiap anak harus mendapatkan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan dari tenaga medis terlatih secara berkala, untuk mencegah adanya gangguan tumbuh kembang lanjut yang sulit ditangani. Semakin terlambat gangguan dideteksi, semakin sulit penanganannya. Namun, rasio jumlah tenaga medis dan anak di Indonesia yang tidak seimbang menyebabkan kegiatan pemantauan tumbuh kembang belum optimal.

Tersedia kuesioner praskrining perkembangan (KPSP) yang mudah dipahami orangtua dan dapat digunakan untuk memantau perkembangan anak. KPSP adalah instrument pemeriksaan perkembangan anak yang disusun Kementerian Kesehatan RI.Kuesioner ini berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak, sesuai kelompok usianya.

Sekarang KPSP dapat diakses dengan mudah melalui ponsel dengan aplikasi Program IDAI untuk Membangun Anak Indonesia (PRIMA) untuk Orangtua. PRIMA untuk Orangtua adalah aplikasi digital resmi  pertama berbasis smartphone karya Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ini dapat digunakan untuk memantau pertumbuhan, perkembangan, disertai jadwal imunisasi dan berbagai tips penting mengasuh anak.

Dengan aplikasi ini, orangtua dapat melakukan pemantauan perkembangan anaknya secara mandiri. Bila perkembangan meragukan atau ada penyimpangan, segera konsultasi ke dokter. Kini, orangtua dapat dengan yakin menjawab pertanyaan,”Sudah bisa apa?”

 

Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia


18.01.2018.jpg

APAKAH VAKSIN AMAN BAGI ANAK ?

Seorang anak usia 6 bulan datang ke klinik dengan keluhan batuk terus menerus. Ketika batuk wajah anak tampak membiru dan terdengar suara melengking saat menarik nafas (whooping). Penyakit batuk ini sering disebut juga sebagai batuk rejan (whooping cough) atau batuk 100 hari, yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis dan menyebar melalui udara. Batuk rejan menyebabkan anak batuk terus menerus sehingga menyebabkan tubuh kekurangan oksigen. Hal ini dapat mengakibatkan komplikasi berupa sesak berat hingga kematian. Pencegahan kematian akibat batuk rejan dapat dicegah dengan memberikan vaksin DPT sesuai jadwal. Namun mitos dan informasi yang salah menjadikan persepsi masyarakat mengenai dampak imunisasi terlihat lebih berbahaya dibandingkan dengan risiko anak yang tidak diberikan vaksin.

 

Vaksin adalah suatu produk yang menghasilkan kekebalan terhadap penyakit dan dapat diberikan melalui jarum suntik, kulit, atau diberikan dengan penyemprotan. Vaksinasi adalah tindakan penyuntikan organisme yang mati atau dilemahkan, selanjutnya akan menghasilkan kekebalan tubuh terhadap organisme tersebut.

 

Tahapan Pembentukan Vaksin

  • Tahap preklinik: riset dilakukan di laboratorium dan pada binatang, termasuk didalamnya:
    • Identifikasi / penemuan antigen
    • Kreasi konsep vaksin
    • Evaluasi khasiat vaksin di laboratorium dan binatang
    • Standar pembuatan vaksin menggunakan standar Good Manufacturing Practice yang dikeluarkan oleh WHO.
  • Tahap klinik : diuji pada manusia
    • Dilakukan bertahun tahun dimulai dari fase I sampai dengan fase IV
    • Berdasarkan prinsip etika yang ketat, dan persetujuan relawan
    • Fokus pada keamanan dan khasiat

Pembuatan vaksin melalui empat tahapan fase, antara lain :

Fase I

Penelitian dengan skala kecil untuk memastikan keamanan vaksin dan respon kekebalan tubuh. Penelitian yang dilakukan di Eropa dan beberapa negara berkembang terbagi menjadi dua subfase. Subfase pertama adalah Fase 1a, pada fase ini vaksin diberikan pada relawan di Eropa. Fase selanjutnya adalah fase 1b yang dilakukan pada populasi di negara berkembang.

Fase II

Uji klinis (clinical trials) guna mengetahui khasiat dan keamanan vaksin.

  1. Skala besar (meliputi beberapa negara)
  2. Terutama untuk khasiat dan keamanan vaksin.

Fase III

  1. Skala luas (meliputi beberapa benua)
  2. Ratusan relawan dibeberapa lokasi, sehingga jumlahnya jadi ribuan
  3. Evaluasi khasiat dalam kondisi alamiah
  4. Bila vaksin aman dan berkhasiat, maka dilakukan lisensi di instansi terkait.

Negara Indonesia memiliki Badan POM sebagai institusi resmi untuk mengkaji nilai etik dan ilmiah dari suatu jenis vaksin hingga akhirnya dapat dipasarkan ke masyarakat secara luas berdasarkan rekomendasi Komnas Obat/Vaksin.

Fase IV

Merupakan tahapan akhir dari tahapan pembentukan vaksin, meliputi :

  1. Setelah vaksin dilisensi dan digunakan
  2. Disebut pula sebagai Post Marketing Surveillance
  3. Bertujuan untuk mendeteki kejadian simpang yang jarang serta memantau keamanan jangka panjang

Kesimpulan : apakah vaksin aman untuk anak ?

  • Vaksin aman dan efektif
  • Proses produksi vaksin melalui riset yang panjang serta menggunakan standar Good Clinical Practive serta berdasar etik yang ketat
  • Meski telah dilisensi, vaksin tetap dipantau baik oleh pemerintah melalui Badan POM, maupun badan independen lain yang kompeten, seperti KOMNAS PP KIPI.

Sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia


11.01.2018.jpg

SEPUTAR ORI (Outbreak Response Immunization) DIFTERI

 

Anda tinggal di wilayah yang termasuk area ORI, maka Anda sangat perlu melakukan vaksinasi difteri ulang.

 

Saat ini, Sasaran ORI adalah anak usia 1 tahun sampai dengan <19 tahun, diberikan vaksin DPT atau DT atau Td sesuai usia dan dilakukan pada sarana kesehatan pemerintah (Posyandu, Puskesmas, RS Pemerintah).

Untuk orang tua dan dewasa di wilayah ORI yang usianya >19 tahun tetap dianjurkan vaksinasi dengan skema ORI (0,1,6 bulan). Vaksinasi dapat dilakukan di RS/Klinik/Praktek Swasta, namun dengan biaya swadaya/mandiri.

 

Jika Anak dan Orangtua berasal dari wilayah yang TIDAK termasuk wlayah ORI dan ingin vaksinasi difteri, maka :

A.JIKA IMUNISASI BELUM LENGKAP, maka : LENGKAPILAH imunisasi sesuai usia yang diperlukan. Sampai usia 1 tahun minimal 3 dosis DPT. Sampai usia 2 tahun minimal 4 dosis DPT. Sampai usia 5 tahun minimal 5 dosis DPT. Sampai usia <19 tahun minimal 7 dosis DPT. Untuk usia >19 tahun minimal sudah mendapat vaksin yang mengandung difter dalam 10 tahun terakhir.

B.JIKA IMUNISASI SUDAH LENGKAP SESUAI USIA, maka : Jika orangtua menghendaki, dapat diberikan boster ekstra minimal 1 dosis.

C.ORANGTUA DAN DEWASA APAKAH PERLU VAKSIN DIFERI JUGA? : YA, orangtua dan dewasa yang sudah lebih dari 10 tahun belum mendapat vaksin difteri, maka diberikan 1 dosis vaksin Td/Tdap.

 

Sumber : Kementrian Kesehatan dan IDAI


30.11.17-1200x1200.jpg

Terapi Insulin Pump Bagi Anak Diabetes

Terapi Insulin Pump mungkin terdengar agak asing bagi masyarakat Indonesia, tapi sesungguhnya terapi ini sudah tersedia secara luas sejak lama bagi penderita Diabetes Melitus (DM) pada negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada, terutama DM type 1 dimana penderitanya bergantung pada injeksi insulin basal-bolus 3-4 kali per hari. Cara kerjanya menyerupai cara kerja pankreas alami dimana hanya menggunakan 1 jenis insulin, yaitu rapid acting, yang dikeluarkan secara terus menerus sesuai kebutuhan; dosis kecil untuk insulin basal dan dosis besar untuk insulin bolus.

Terapi insulin pump menggunakan 4 komponen utama, yaitu: insulin pump, selang infusion set, tabung reservoir dan sensor CGM. Insulin pump ini akan diprogram dosis insulin basalnya sesuai kebutuhan masing-masing pengguna/user, sedangkan dosis basalnya tergantung pada asupan karbohidrat yang dikonsumsi. Selang infusion set dan tabung reservoir merupakan consumables yang perlu diganti secara regular setiap 3 hari sekali, sedangkan sensor CGM nya dapat dipakai lebih lama sampai 6 hari lamanya.

Terapi insulin pump tidak hanya berfungsi sebagai alternatif untuk menghindari rasa sakit penyuntikan insulin secara manual, namun memberi manfaat – manfaat jangka panjang yang bersifat klinis seperti menghindari komplikasi kerusakan organ dan resiko hipoglikemi, maupun non-klinis seperti fleksibilitas waktu makan dan berolah raga. Insulin pump lah yang diatur untuk menyesuaikan aktifitas kita, bukan sebaliknya. Hal-hal ini terasa lebih signifikan manfaatnya pada pasien pediatrik, khususnya bagi tumbuh-kembangnya yang membutuhkan nutrisi yang cukup dan seimbang. Namun penggunaannya pada pasien pediatrik memerlukan pengawasan sehari-hari yang ketat dari orang tua dan kontrol berkala kepada dokter yang meresepkan.

Seperti kita tahu, DM type 1 merupakan kondisi auto-immune dimana organ pankreas sang penderita berhenti menghasilkan hormon insulin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk memproses glukosa sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi. Kondisi ini menyerang secara tiba-tiba dan seringkali terjadi pada anak-anak dan remaja, sehingga amat berbahaya bagi si anak apabila tidak segera ditangani.

Ketika pankreas berhenti memproduksi insulin, seketika itu pula si penderita butuh asupan insulin eksternal yang biasanya diberikan dengan cara menyuntikkan insulin tersebut ke jaringan lemak di bawah kulit menggunakan jarum kecil.


23.11.17-1200x1200.jpg

November 23, 2017 ArtikelKesehatan Anak

Bagi anak dengan Diabetes Mellitus yang menggunakan insulin eksternal, seluruh kecanggihan teknologi RT-CGM yang sudah kita bahas sebelumnya akan memberi manfaat maksimal apabila dipadukan dengan insulin pump. Dua teknologi yang saling mendukung satu sama lain ini memiliki cara kerja menyerupai fungsi fisiologis pankreas pada tubuh manusia, sehingga pasien dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

Cara kerjanya tetap sama, sensor yang disisipkan pada jaringan lemak di bawah kulit mendeteksi konsentrasi glukosa pada tubuh setiap 5 menit, lalu mengirimkan data glukosa tersebut melalui transmitter menggunakan gelombang frekuensi radio atau Bluetooth ke insulin pump. Pasien dapat melihat data glukosa ini pada layar display monitor insulin pump setiap saat dibutuhkan, bahkan mendapat alarm peringatan ketika terdeteksi glukosa tubuh mencapai batas level maksimum dan minimum yang sudah ditentukan sebelumnya. Disinilah peranan terpenting RT-CGM pada manajemen diabetes seorang anak dengan Diabetes Mellitus.

Pada umumnya anak dengan Diabetes Mellitus tidak menyadari ketika gula darahnya menurun dan baru merasakan gejala-gejala hipoglikemi ketika level gula darahnya sudah melewati batas aman terendah. Dengan RT-CGM anak tersebut dapat mengatur batas terendah dan tertinggi level glukosa yang diinginkan sehingga dapat bereaksi lebih cepat dan terhindar dari resiko hipoglikemi.

Teknologi terbaru dari Insulin Pump dengan RT-CGM telah dirilis di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 2017 ini oleh Medtronic dan diberi nama Hybrid Closed Loop. Insulin pump dan RT-CGM pada insulin pump ini bekerja secara berkesinambungan menjaga level glukosa pemakainya pada batas yang ditentukan. Ketika sensor CGM mendeteksi peningkatan glukosa, pump akan secara otomatis mengeluarkan dosis insulin basal lebih banyak untuk mengoreksinya. Demikian pula sebaliknya, ketika sensor mendeteksi penurunan glukosa, pump akan secara otomatis mengurangi atau bahkan menghentikan dosis pemberian insulinnya agar level glukosa si pengguna pump tidak turun lebih jauh lagi dan tetap berada pada level yang aman. Namun hal ini tidak berlaku untuk pemberian dosis insulin prandial/makan. Pengguna masih harus meng-input estimasi jumlah karbohidrat yang akan dikonsumsi dan memberikan dosis insulin bolus secara manual. Karena itulah teknologi ini disebut hybrid, yang artinya campuran, karena cara kerjanya masih memerlukan input manual dari penggunanya. Tapi teknologi ini sudah satu langkah lebih dekat pada teknologi artificial pancreas yang kita impikan. (KN)


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2021.