16.11.17-1200x1200.jpg

November 16, 2017 ArtikelKesehatan Anak

RT-CGM Teknologi Manajemen Diabetes Terkini Untuk Anak Diabetes

Real-Time Continuous Glucose Monitoring (RT-CGM) adalah salah satu teknologi manajemen diabetes terkini. Seperti layaknya Professional CGM, RT-CGM menggunakan sebuah sensor glukosa yang ditanam pada jaringan bawah kulit. Perbedaan terletak pada proses pengiriman hasil pemeriksaan glukosa pasien. Pada Professional CGM, hasil dikirimkan pada suatu alat perekam, sementara pada RT-CGM sensor terhubung dengan alat transmitter yang akan mengirimkan hasil pemeriksaan glukosa setiap 5 menit kepada alat display monitor (melalui jaringan bluetooth ataupun gelombang radio frekuensi).

RT-CGM memungkinkan pasien untuk mengetahui kondisi glukosa tubuhnya secara langsung (real time) sehingga pasien dapat menentukan langkah yang harus diambil dengan cepat dan terhindar dari risiko hipoglikemia maupun hiperglikemia.

Alat display monitor pada RT-CGM berukuran kecil dan saat ini telah terintegrasi dengan insulin pump maupun aplikasi pada smartphone. Beberapa RT-CGM juga memiliki fitur dimana pasien dapat mengatur batas maksimum dan minimum glukosa yang diinginkan, lalu memberikan tanda peringatan apabila glukosa darah mencapai batas-batas tersebut. Hal ini memungkinkan pasien untuk menjaga kadar glukosa darahnya pada batas yang diinginkan sehingga intervensi atau koreksi dapat dilakukan sedini mungkin, bahkan sebelum pasien merasakan gejala apa pun.

Pasien yang menggunakan RT-CGM tetap perlu melakukan pengecekan gula darah sewaktu (GDS) setidaknya 2 kali sehari (setiap 12 jam) dalam rentang waktu 24 jam. Hal ini dibutuhkan untuk kalibrasi alat, yakni untuk menjaga akurasi pengukuran agar tetap maksimal.

Selain RT-CGM, ada pula metode pengecekan glukosa tubuh serupa yang dinamakan Intermittently Scanned CGM (IS-CGM) atau Flash-CGM. Alat ini tidak memberikan input kadar glukosa terus menerus, melainkan hanya on-demand ketika pasien mendekatkan alat display monitor yang sekaligus alat scanner pada sensor. Di luar negeri alat ini cukup populer karena tidak memerlukan pengecekan Gula Darah Sewaktu (GDS) untuk kalibrasi. Namun karena alasan yang sama pula banyak pihak meragukan akurasinya, terutama pada saat kadar gula yang sangat rendah atau sangat tinggi.


09.11.17.jpg

Professional CGM dan Manfaat Nyata Bagi Anak Diabetes

Professional Continuous Glucose Monitoring (CGM) adalah alat monitoring gula darah pasien yang didesain untuk digunakan oleh tenaga kesehatan professional. Penggunaan alat ini harus diawasi oleh dokter atau perawat, dan hasil laporan monitoring gula darah pasien dikonsultasikan kepada dokter yang menangani. Alat ini dapat memberikan laporan berisi data-data yang dapat dibaca oleh dokter yang sudah terlatih.

Alat Professional CGM menggunakan sebuah sensor yang tertanam di jaringan bawah kulit dan sebuah alat perekam portable. Alat ini akan merekam glukosa pasien secara otomatis setiap 5 menit selama 24 jam, dan dapat dipakai sampai dengan 6 hari penuh. Selama monitoring pasien diminta untuk melakukan aktivitas seperti biasa, dengan tetap melakukan pengecekan Gula Darah Sewaktu (GDS) sebanyak 3-4 kali per hari untuk keperluan kalibrasi data, dan mencatat setiap konsumsi makanan/minuman maupun aktivitas fisik yang dilakukan. Hasil rekaman glukosa kemudian diunduh menggunakan alat docking dan kabel USB ke komputer/laptop untuk digabungkan dengan catatan GDS, konsumsi makanan/minuman, dan kegiatan pasien. Data ini akan diolah menjadi suatu paket laporan hasil  .

Laporan hasil monitoring ini akan mengungkap berbagai hal yang selama ini tersembunyi pada metode pemantauan tradisional, seperti fluktuasi glukosa, pola glikemi berulang, dan juga hipoglikemia/hiperglikemia yang tidak disadari. Dengan demikian, dokter yang merawat mampu melihat lebih detail kondisi yang dialami pasien dan dapat memberikan saran-saran maupun penyesuaian dosis pengobatan yang lebih tepat sasaran dan akurat. Pasien juga akan dapat melihat secara visual dampak dari aktivitas maupun konsumsi makanan/minumannya terhadap glukosa darahnya, sehingga dapat lebih berhati-hati dalam memilih makanan/minuman yang dikonsumsi dan lebih patuh menerapkan saran-saran dari dokter. Tidak hanya itu, melalui hasil laporan monitoring ini diharapkan dokter dan pasien dapat saling lebih memahami tantangan yang dihadapi masing-masing pihak dan dapat bekerja sama lebih baik dalam mencapai tujuan manajemen diabetes.

     
    Tanyakan pada dokter Anak Anda tentang pemantauan CGM apabila Anak Anda sering atau pernah mengalami hal-hal berikut:

  • Hasil pemeriksaan HbA1c anak saya tidak membaik padahal anak saya sudah makan lebih sehat
  • Tes Gula Darah Sewaktu anak saya membaik tapi hasil pemeriksaan HbA1c saya tidak
  • Apakah pengobatan anak saya sekarang sudah tepat dan berhasil ?
  •  


Publication1-1200x1193.jpg

November 3, 2017 ArtikelKesehatan Anak

CGM: Continuous Glucose Monitoring

Teknologi Tinggi Pemantau Gula Darah Pada Anak Dengan Diabetes (Part 1)

 

Dalam rangka hari Diabetes Sedunia yang jatuh pada tanggal 14 November 2017, Klinik AP&AP Pediatric, Growth, and Diabetes Center memberikan edukasi seputar penanganan diabetes terutama pada anak melalui pemberian edukasi pada masyarakat sehingga kesadaran masyarakat akan resiko penyakit diabetes pada anak akan meningkat.

Kunci kesuksesan terapi diabetes terletak pada baik atau tidaknya kontrol glukosa seorang penderita Diabetes Mellitus (DM). Kontrol glukosa yang baik dapat menghindarkan mereka dari penyakit-penyakit komplikasi. Metode Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) menjadi standar utama yang wajib dilakukan penyandang DM.

Continuous Glucose Monitoring (CGM) adalah sebuah terobosan teknologi yang revolusioner dalam pemantauan gukosa yang telah memberikan harapan baru bagi para penyandang diabetes. CGM menjadi dasar pengembangan teknologi lainnya yang mengarah pada tercapainya penemuan teknologi artificial pancreas, dimana para penyandang diabetes dapat menikmati hidup layaknya orang dengan fungsi pankreas yang sehat.

Teknologi CGM menggunakan sebuah sensor yang ditanam pada jaringan lemak bawah kulit pasien dan dihubungkan dengan sebuah alat portabel kecil yang berfungsi sebagai penerima sinyal. Alat ini digunakan untuk merekam data pengukuran glukosa pasien secara otomatis. Data pengukuran yang telah terekam dapat diunduh dan dijadikan laporan berupa grafik-grafik yang menunjukkan siklus glukosa harian pasien secara detail saat pasien mengonsumsi makanan tertentu maupun melakukan kegiatan tertentu. Laporan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi dokter untuk menyesuaikan terapi dan membantu meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi (dengan lebih menjaga pola makan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang dapat mempengaruhi kadar gula darah).

Saat ini telah ada teknologi Real-Time Continuous Glucose Monitoring (RT-CGM) – suatu alat portabel yang dapat memantau pergerakan glukosa secara real-time dengan menggunakan gelombang frekuensi radio. Teknologi RT-CGM yang dikombinasikan dengan terapi insulin pump (pompa insulin) adalah standar baru dalam manajemen DM pada pasien yang menggunakan insulin eksternal. Data glukosa real-time memungkinkan pasien untuk dapat melakukan langkah korektif langsung pada pompa insulin sehingga terhindar dari risiko hiperglikemia maupun hipoglikemia. Teknologi terbaru pompa insulin telah memiliki fitur koreksi basal otomatis dimana pompa secara otomatis akan memberi dosis koreksi insulin ketika sensor CGM mendeteksi adanya peningkatan kadar glukosa maupun mengurangi atau bahkan menghentikan laju insulin basal ketika sensor CGM mendeteksi adanya penurunan kadar glukosa. Inilah masa depan dari teknologi manajemen Diabetes Melitus (DM).


JE.jpg

October 19, 2017 Kesehatan AnakTraveling

Part I

Japanese encephalitis (JE) adalah penyakit radang otak disebabkan oleh virus Japanese ensefalitis yang termasuk golongan Flavivirus dan paling banyak terjadi di kawasan Asia termasuk di Indonesia. Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menunjukkan, Indonesia sebagai negara tropis juga merupakan salah satu dari banyak negara Asia yang menjadi daerah endemis virus Japanese encephalitis (JE).

Penyakit JE merupkan salah satu penyakit yang cukup berbahaya. Diperkirakan  Japanese Encephalitis adalah penyebab utama dari kejadian encephalitis di dunia. Japanese encephalitis dapat menyerang segala usia, namun lebih sering terjadi pada anak-anak. Penularan virus ini terjadi jika manusia tergigit nyamuk Culex tritaeniorhynchus, babi, dan atau burung sawah/ladang yang terinfeksi. Nyamuk golongan Culex ini biasanya banyak terdapat di persawahan dan area irigasi, serta aktif di malam hari. Kejadian penyakit ini pada manusia biasanya meningkat di musim hujan.

continue…


hpv-campaign-oktober.jpg

September 28, 2017 ArtikelKesehatan Anak

Vaksinasi HPV bisa untuk mencegah Kanker Mulut Rahim / Serviks. Vaksin diberikan dengan 3 (tiga) kali suntikan, pada wanita yang sudah menikah ataupun yang belum aktif seksual. Ikatan Dokter Indonesia merekomendasikan vaksinasi HPV sejak anak berusia 10 tahun. Lakukan vaksinasi HPV sedini mungkin untuk melindungi buah hati Anda dari bahaya penyakit Kanker Serviks.

Informasi terkait vaksin untuk orang tua selengkapnya dapat mengunjungi website klinikanakapap.com atau dapat menghubungi kami melalui telepon (021)29667797/98 Hp/Whatsapp: 0857 1566 3038


24.08.17.jpg

August 24, 2017 ArtikelKesehatan Anak

VAKSIN CACAR AIR

 

Apakah Cacar Air Itu ?

Cacar air (juga disebut varisela) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster . Penyakit ini biasanya ringan, namun dapat menjadi berat pada bayi dan orang dewasa.

 

Apa Gejala Cacar Air ?

  • Cacar air diawali demam yang tidak tinggi, diikuti keluar lepuh (bintil) di kulit yang gatal terutama di punggung dan dada, menjalar ke muka dan anggota badan.
  • Pada infeksi yang berat dapat menyebabkan radang paru (pneumonia).
  • Virus cacar air dapat menular dari orang ke orang lain melalui udara atau dari cairan yang berasal dari lepuh cacar air.
  • Orang yang sudah pernah menderita cacar air setelah beberapa tahun dapat mengalami ruam kembali yang nyeri, yang disebut cacar ular (herpes zozter) apabila sistem kekebalan tubuhnya menurun.

Vaksin cacar air dapat mencegah infeksi dan penularan cacar air.

Siapa Yang Harus Mendapatkan Vaksin Cacar Air Dan Kapan Vaksinasi Tersebut Harus Diberikan ?

  • Anak-anak yang belum pernah menderita cacar air harus diberikan vaksin cacar air pada umur 12-15 bulan.
  • Anak yang berusia 13 tahun ke atas (yang belum pernah menderita cacar air atau belum pernah mendapat vaksin cacar air) harus diberikan dua dosis dengan interval sekurang-kurangnya 28 hari.
  • Vaksinasi cacar air dapat diberikan pada setiap orang yang belum mendapat vaksinasi atau belum pernah menderita cacar air. Vaksinasi diberikan dua dosis.
  • Vaksinasi cacar air dapat diberikan bersamaan dengan vaksin-vaksin lainnya.

 

Siapa Yang Tidak Dapat Divaksinasi Atau Vaksinasi Harus Ditunda ?

  • Menderita sakit berat pada saat jadwal vaksinasi, maka harus menunggu sembuh.
  • Wanita hamil dan tidak boleh hamil dalam waktu 1 bulan setelah mendapat vaksin cacar air.
  • Keadaan yang menurunkan kekebalan tubuh.
  • Menderita HIV/AIDS atau penyakit lain yang mempengaruhi sistem imun.
  • Sedang mendapat terapi dengan obat yang mempengaruhi sistem imun.
  • Menderita Kanker dan sedang menjalani pengobatan
  • Baru menerima transfusi darah atau produk darah lainnya, vaksinasi perlu ditunda 2 minggu.

Mintalah informasi lebih lanjut pada dokter Anda.

 

Apa reaksi samping vaksin cacar air ?

Mendapat vaksin cacar air jauh lebih aman dibandingkan dengan terjangkit penyakit cacar air. Kebanyakan orang yang mendapat vaksin cacar air tidak mengalami efek samping. Reaksi yang dapat timbul adalah,

  • Bengkak dan nyeri didaerah suntikan (pada sekitar 1 dari 5 anak dan pada sekitar 1 dari 3 dewasa)
  • Demam (pada 1 dari 10 orang)
  • Ruam ringan
  • Kejang yang disebabkan oleh demam
  • Alergi dapat berupa gatal, bengkak, atau sulit bernapas

 

Bila terjadi reaksi atau efek samping, orang tua disarankan untuk segara menghubungi tempat pemberian vaksin atau Rumah Sakit terdekat.

Informasi terkait vaksin untuk orang tua selengkapnya dapat mengunjungi website klinikanakapap.com atau dapat menghubungi kami melalui telepon (021)29667797/98 Hp/Whatsapp: 0857 1566 3038.

 

 

 

Sumber :

  • Center of Disease Control and Prevention http://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/index.html
  • Ranuh IG.N, Suyitno H, Hadinegoro SR, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, penyunting. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ke-5. Jakarta: Badan Penerbit IDAI: 2014

18.08.17-1.jpg

August 18, 2017 ArtikelKesehatan Anak

FAKTA TENTANG VAKSIN MR YANG WAJIB DIKETAHUI

 

  1. Vaksin MMR mencegah penyakit penyakit mumps (gondongan), measles (campak) dan rubella, sedangkan Vaksin MR untuk mencegah penyakit measles (campak) dan rubella. Kedua vaksin sama baiknya namun penggunaannya akan menyesuaikan dengan insiden penyakit di negara tersebut. Saat ini yang menjadi masalah di Indonesia adalah campak dan rubella, sehingga diputuskan untuk melaksanakan kampanye imunisasi MR.

 

  1. Vaksin MR yang digunakan sangat aman dan berkualitas, karena sudah mempunyai ijin edar dari BPOM, mendapatkan pra qualifikasi dari badan kesehatan dunia (WHO) dan digunakan sejak tahun 1989 di lebih dari 140 negara, termasuk negara Islam, dan lebih dari 1 miliar dosis.

 

  1. Secara umum vaksin MR sangat aman, seperti pemberian imunisasi lainnya, dapat timbul nyeri ringan pada lokasi tempat suntikan 24 jam setelah vaksinasi. Demam ringan dapat terjadi pada 5-15% penerima vaksin yang timbul pada hari ke 7 sampai hari ke 12 setelah vaksinasi. Demam ringan dapat terjadi selama 1 sampai 2 hari. Ruam (kemerahan pada kulit) dapat terjadi sekitar 2% timbul pada hari ke 7 sampai ke 10 setelah vaksinasi dan berlangsung selama 2 hari. Nyeri sendi dapat terjadi sebanyak 0-3% pada anak-anak.

 

  1. Pemberian vaksin MR agar ditunda apabila anak menderita demam tinggi, flu berat, diare berat atau bila anak tidak sehat dapat berkonsultasi ke petugas kesehatan.

 

  1. Sampai saat ini tidak ada bukti yang menunjukan bahwa imunisasi jenis apapun dapat menyebabkan Autisme.

 

  1. Vaksin MR dalam kampanye imunisasi Nasional ini diberikan pada bayi usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun

 

  1. Vaksin MR program Pemerintah yang dimulai pada Agustus 2017 aman diberikan lagi tanpa memperhitungkan status imunisasi sebelumnya.

 

  1. Vaksin MR diberikan pada bayi usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun, dan tidak boleh diberikan pada wanita hamil.

 

  1. Vaksin MR dapat diberikan secara bersamaan dengan vaksin lainnya seperti vaksin DTP, HEP B, HIB, TT, Td, DT, OPV, dan IPV.

 

  1. Jarak minimal pemberian vaksin MR dengan pemberian vaksin lain adalah 1 bulan.

 

Sumber : www.infoimunisasi.com


10.08.17.jpg

August 10, 2017 Kesehatan Anak

VAKSIN BCG

 

Apakah Tuberkulosis Itu ?

 

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi disebabkan Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paling sering mengenai paru, namun dapat pula mengenai selaput otak, tulang, kelenjar dan lain-lain. Infeksi TB ditularkan melalui percikan ludah dari orang yang menderita TB aktif (terutama orang serumah).

Angka kejadian TB pada anak belum diketahui secara tepat, namun angka perawatan TB berat masih tinggi. Di dunia, sekitar 200 anak meninggal setiap harinya akibat TB atau 70.000 anak setiap tahun (data WHO). Pemberian vaksin BCG berguna untuk infeksi terutama TB berat.

 

Siapa Yang Harus Divaksinasi Dengan BCG dan Kapan diberikannya ?

 

Semua bayi harus mendapat vaksinasi BCG pada usia <3 bulan. Apabila usia >3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. Vaksinasi BCG diberikan apabila hasil uji tuberkulin negatif. Tempat penyuntikan yang dianjurkan adalah lengan kanan atas.

 

Kapan Vaksinasi BCG Tidak Boleh Diberikan ?

Pada keadaan berikut tidak disarankan untuk mendapat vaksinasi BCG :

  • Reaksi uji tuberkulin >10 mm
  • Pada saat kekebalan tubuh menurun seperti, menderita infeksi HIV atau dengan risiko menderita HIV atau menderita penyakit keganasan
  • Menderita gizi buruk
  • Pernah sakit tuberkulosis
  • Kehamilan

 

Reaksi Samping Apa Yang Dapat Timbul Setelah Divaksinasi BCG ?

Penyuntikan BCG dilakukan di dalam kulit sehingga akan menimbulkan bisul pada 3 – 6 minggu setelah penyuntikan. Bisul akan sembuh sendiri dalam 2 – 3 bulan  dan meninggalkan bekas luka (jaringan parut) bulat dengan diameter 4 – 8 mm. Kadang – kadang dijumpai peradangan kelenjar getah bening di ketiak (teraba benjolan di ketiak) yang akan sembuh sendiri.

 

Apabila terjadi reaksi samping sehubungan dengan vaksinasi BCG, kemana harus berobata ?

  • Segera bawa anak ke tempat vaksinasi diberikan atau rumah sakit terdekat
  • Tanyakan kepada dokter anda apabila ada hal yang ingin diketahui lebih lanjut

 

Informasi terkait vaksin untuk orang tua selengkapnya dapat mengunjungi website klinikanakapap.com atau dapat menghubungi kami melalui telepon (021)29667797/98 Hp/Whatsapp: 0857 1566 3038

 

Sumber :

  • Center of Disease Control and Prevention http://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/index.html
  • Ranuh IG.N, Suyitno H, Hadinegoro SR, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, penyunting. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ke-5. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2014.

03.07.17.jpg

August 4, 2017 ArtikelKesehatan Anak

Apakah hepatitis B itu ?

Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B.

  • Terdapat lebih dari 2 milyar individu dengan infeksi hepatitis B di seluruh dunia. Diantaranya, terdapat 400 juta orang sebagai pembawa virus hepatitis B kronis. Setiap tahun 500.000 sampai 1,2 juta orang akan meninggal karena sirosis dan kanker sel hati akibat hepatitis B.
  • Indonesia merupakan negara endemis hepatitis B ditemukan pada 07-2,1 % ibu hamil. Penularan tersering terjadi dari ibu dengan hepatitis B ke bayi yang dilahirkannya, apabila bayinya tidak mendapat imunisasi dengan vaksin dan imunoglobulin hepatitis B.
  • Bayi baru lahir yang terinfeksi dari ibunya berisiko 90% menjadi kronis dan berpotensi menjadi sirosis hati dan kanker hati.

 

Gejala Hepatitis B

  1. Infeksia Akut

Bayi dan anak kecil yang terinfeksi hepatitis B pada umumnya tidak menunjukkan gejala. Remaja dan dewasa yang terinfeksi hepatitis B dapat mengalami gejala akut berupa :

  • Penurunan nafsu makan
  • Demam
  • Lesu
  • Nyeri pada otot, sendi dan perut
  • Mual, muntah dan diare
  • Kuning pada mata dan kulit
  • Gejala akut biasanya timbul 3-4 bulan setelah infeksi

 

  1. Infeksi Kronis

Kebanyakan individu yang mengalami infeksi kronis sering kali tidak menunjukkan gejala, tetapi infeksi yang terjadi dapat menyebabkan kerusakan hati lanjut (sirosis), kanker hati, dan kematian. Infeksi kronis lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak dibandingkan orang dewasa. Individu dengan infeksi kronis dapat menularkan virus hepatitis B pada orang lain, meskipun mereka tidak merasa sakit.

 

Bagaimana Hepatitis B Dapat Menular ?

Virus hepatitis B dapat menular melalui darah atau cairan tubuh dari orang lain atau kontak dengan objek yang terinfeksi.

Penularan pada bayi dan anak dapat terjadi karena :

  • Bayi lahir dari Ibu yang terinfeksi hepatitis B
  • Kontak dengan darah dan cairan tubuh melalui luka pada kulit
  • Kontak dengan objek yang mengandung darah atau cairan tubuh seperti sikat gigi, alat cukur, alat pemantau gula, dan alat suntik untuk diabetes
  • Menggunakan jarum suntik yang sama dengan orang yang terinfeksi ; atau jarum untuk memasang anting-anting yang tidak steril (terinfeksi)
  • Tertusuk jarum yang sudah pernah digunakan

 

Apa Manfaat Vaksin Hepatitis B ?

Vaksin hepatitis B dapat mencegah infeksi hepatitis B serta komplikasinya. Vaksin hepatitis B dapat diberikan secara tunggal atau kombinasi dengan vaksin lain.

 

Vaksin hepatitis B secara rutin diwajibkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Kementrian Kesehatan RI.

Siapa Yang Harus Mendapat Vaksinasi Hepatitis B Dan Kapan Diberikan ?

  • Bayi mendapat 3 dosis vaksin hepatitis B sebelum usia 6 bulan,

Dosis pertama : saat lahir sebelum usia 12 jam

Dosis kedua : usia 1 – 2 bulan

Dosis ketiga : usia 6 – 12 bulan

  • Apabila bayi mendapat vaksin kombinasi yang mengandung hepatitis B dapat diberikan 4 dosis. Dosis tambahan ini tidak berbahaya.
  • Bayi yang baru lahir dari ibu dengan hepatitis B (HBsAg positif) harus mendapat vaksin hepatitis B dosis pertama sebelum usia 12 jam ditambah imunoglobulin hepatitis B pada saat yang sama pada paha yang berbeda.
  • Pemberian vaksinasi dan imunoglobulin hepatitis B ini diberikan setelah pemberian suntikan vitamin K1. Vaksinasi selanjutnya diberikan sesuai jadwal. Bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B ini perlu diperiksa HBsAg dan antiHBs usia 9-18 bulan.
  • Anak dan remaja yang belum divaksinasi sebelumnya, harus mendapatkan vaksinasi ini sebanyak 3 dosis.

 

Siapa Yang Tidak Boleh Mendapat Vaksin Hepatitis B ?

  • Setiap orang yang pernah mengalami alergi berat terhadap vaksin. Beritahukan kepada dokter anda
  • Setiap orang yang sedang menderita penyakit infeksi berat, harus menunggu sampai sembuh
  • Dokter anda dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai hal ini

 

Apa Risiko Pemberian Vaksin Hepatitis B ?

Vaksin hepatitis B merupakan vaksin yang sangat aman dan hampir tidak ada efek samping berat. Efek samping berat sangat jarang terjadi, yaitu satu dari 1,1 juta dosis.

 

Beberapa efek samping ringan yang telah dilaporkan :

  • Bengkak pada tempat suntikan (pada sekitar 1 dari 4 orang)
  • Suhu badan 37,8°C atau lebih (pada sekitar 1 dari 15 orang)

 

Sumber

  • Center of Disease Control and Prevention http://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/index.html
  • Ranuh IG.N, Suyitno H, Hadinegoro SR, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, penyunting. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ke 5. Jakarta: Badan Penerbit IDAI;2014
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia

27.07.17-1.jpg

Salah satu vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia adalah vaksinasi Japanese Encephalitis (JE). Bagi orang tua yang belum pernah mendengar vaksin ini atau separuh mendengar tentang vaksin ini, semoga artikel ini dapat membantu pemahaman ayah dan bunda semua.

 

Apakah itu vaksinasi JE ? Vaksinasi  JE adalah vaksinasi untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap virus JE. Virus JE adalah virus yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Culex. Penyebaran penyakit ini terutama pada daerah kawasan pedesaan (rural) Asia. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan adanya laporan kasus penyakit ini di daerah di Bali, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Papua dan Sumatra.

Gejala penyakit yang disebabkan oleh virus JE ini dapat berupa gejala ringan, seperti demam, mual, dan sakit kepala. Namun, dapat pula berat seperti kejang, koma, dan penurunan kesadaran, hingga kematian. Gejala berat ini dikenal sebagai ensefalitis. Sekitar 1 dari 4 penderita ensefalitis JE mengalami kematian, sedangkan setengah penderita yang survive mengalami cacat permanen.

Penyakit ini dapat dicegah. Selain pencegahan terhadap gigitan nyamuk, pencegahan yang dilaporkan sangat efektif adalah pemberian vaksinasi JE. Vaksinasi JE diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian kedaerah endemis tersebut. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun. Jadi untuk ayah-bunda, sekali lagi mencegah lebih baik dari pada mengobati.***

Informasi terkait vaksin untuk orang tua selengkapnya dapat mengunjungi website klinikanakapap.com atau dapat menghubungi kami melalui telepon (021)29667797/98 Hp/Whatsapp: 0857 1566 3038

Penulis : dr. Tartila, Sp.A – Spesialis Anak Klinik AP&AP Pediatric, Growth, and Diabetes Center

 


Klinik Anak AP&AP Jakarta © 2021.